14

1389 Words
TikTok Message: Bapak Negara: Abang hari ini pergi ke luar kota ya, Ra. Luv: Kut. Luv: Kut. Luv: Kut. Luv: Ikut. Luv: Ikut. Luv: Ikut. Adalah balasan Alara yang entah dari mana asalnya membuat Bahtiar Gema tercengang di tempatnya. Maksudnya, Alara tidak pernah bersikap demikian. Yang artinya lagi, itu bukan Alara Senja sekali. Bukan sama sekali. Maka untuk memastikan mesti waktu sudah kian mengejar, Gema sempatkan untuk membalas. Bapak Negara: Kamu kenapa, deh. Luv: Ikut pokoknya. Jemput sekarang aku sudah siap. Ini tidak biasanya. Sungguh luar biasa. Gema sampai menggaruk pelipisnya. Atau bahkan jika bisa ingin menggaruk otaknya yang mendadak gatal. Eh tapi, ada kah yang sadar dengan kontak nama milik Alara di ponsel Gema? Asli, bikin gemas sekali Bund. Abang dudanya sudah dalam mode bucin alias b***k cinta akut plus parah. Sejak kapan coba? Aih, ternyata duda pun bisa ya di bikin klepek-klepek. Bapak Negara: Iya oke, Abang jemput sekarang. Sedang Alara di tempatnya sudah bergerak dengan lincah. Semua persiapan telah berpindah tempat ke depan pintu. Tinggal menunggu Gema yang datang menjemput dan mengangkutnya. Ehm, rasanya sesenang itu bisa ngintilin calon dinas. Bukan dinas sebenarnya. Berhubung kantor pengacara milik Bahtiar Gema secara pribadi, maka bisa di bilang ini pertemuan biasa antara klien dan konsultannya. Anggap saja begitu. Alara tidak paham apa lagi tahu-menahu perkara dunia hukum yang sesungguhnya. Oke, sip. Tinggal tunggu abangnya jemput, baiknya Lara berselancar saja ke dunia per-t****k-an. Di sana banyak konten lucu dan menggemaskan yang bisa menghibur kegabutannya. Terlebih, banyak duda-duda muda nan ganteng yang potensial sedang mempromosikan dirinya. Entah untuk konsumsi macam mana, Alara penting terhibur saja. Itu lebih dari cukup. “Kamu Abang panggilin kenapa nggak nyaut?” “Ngagetin, ih!?” Yeu, yang aturan misuh-misuh itu Gema. Ini malah Alara. Sudah gitu main nyelonong saja. Kok akhlakless sekali calon istrinya ini. “Abang ayo!” Gema bengong di tempatnya. Sedikit ngeri dan takut-takut untuk mengatakan apa yang di lihatnya. Tapi kalau tidak di sampaikan, pasti jadi musibah. Bukan apa-apa, Alara kalau marah suka pakai merepet sepanjang masa. “Ra … Kamu nggak lupa ini hari apa?” tanya Gema setelah berdiri di sisi pintu penumpang. Bukannya menuju ke bagian pengemudi. Detak jantungnya juga nggak santai. Gini, hei! Ini Gema sudah berpengalaman, loh. Aturan mah santai saja. “Senin.” Iya, sih senin. Gema pun salah bertanya. “Tanggal berapa? Kamu nggak lupa, 'kan?” “Lupa apa? Abang katanya buru-buru. Kenapa nggak langsung tancap gas saja. Abang tanya kayak gini sudah buang-buang waktu—” “Kamu tembus.” “Hah? Apa?” Mata Alara melotot lucu—di mata Gema saja. “Sumpah Bang? Demi apa?” Ini baru horor. Tubuh Gema limbung ke samping—untungnya tidak terjungkal—sampai iya, aduh malu, Hyung! “Abang tungguin. Aku ikut. Ganti bentar.” Tanpa di minta Gema tetap akan menunggu. Perjalanan bertemu klien hari ini sekalian pulang menuju rumahnya. Itu seharusnya di langsungkan weekend minggu lalu. Namun mendadak ada berkas yang harus Alara dan Gema urus secepatnya agar tidak tertunda masuk entry pengadilan. “Malu banget aku.” Begini posisinya. Wanita itu makhluk istimewa. Sejak lahir mereka sudah memiliki label tersebut. Dan lebihnya memang harus di agungkan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Kaum wanita paling suka jika di nomor satukan sehingga tidak akan menimbulkan kerungsingan yang berkelanjutan. Yang ingin Gema bahas di sini adalah soal hormon. Jadi mengerikannya wanita ialah ketika masa periodenya dan hamilnya. Mood mereka menjadi swing yang melesakkan semua kaum pria ke dasar bumi. Di turuti salah, tidak di turuti menjadi-jadi. Mereka punya mulut untuk berbicara tapi enggan untuk bersuara. Sedang para pria bukanlah cenayang. Pria hanya di bekali napsu tanpa kelebihan firasat guna meraba perasaan. “Ngapain malu?” “Abang sudah lihat soalnya.” “Kenapa memangnya?” Gema bahkan sudah melihat keseluruhan di diri Alara Senja secara real. Jadi kalau cuma darah haid … ya nggak punya pengaruh apa-apa. “Abang nggak jijik?” Gema menggeleng. Jujur apa adanya. Tidak ada rasa seperti itu. “Alah bohong.” Kan, belum juga ke pertengahan konflik sudah terjadi aksi tegang-menegangkan kalau konsep ‘tegang’ lainnya, Gema sih suka saja—ekhm. Apa lagi jika sudah sampai puncak? Bisa-bisa terjadi perpecahan kepala masing-masing. “Sudah biasa Abang tuh lihat yang model kayak gitu.” Bukan artinya Gema seenak jidat menilik kepunyaan para wanita di luar sana. Pengalaman pribadi yang Bahtiar Gema punyai lewat kakak perempuan dan para keponakannya yang sejenis. Jadi wajar Gema tahu dan menganggap ini hal yang lumrah. Nyatanya jawaban Gema yang apa adanya memang tidak memuaskan hati Alara. Sehingga perempuan itu terdiam dengan tangan terlipat di d**a. Gema pun menjeda. Memberi waktu sembari mengemudikan mobilnya memasuki kawasan tol. Jakarta selalu macet bahkan di jam-jam kerja mulai. Tidak ada kata tanpa macet meski ingin mengumpat sekotor apa pun. “Mau es krim, Ra?” tawar Gema begitu melihat logo terkenal andalan. “Atau mau chicken wings?” Itu kesukaan Alara. Seingat Gema pun, ada beberapa trik mengembalikan mood yang anjlok. Oke, Lara sedang di fase mood swings. Itu, loh yang moodnya berubah-ubah. Dan Lara tipe perempuan moody-an. Jadi wajar … sip Gema pahami itu. Es krim atau makanan manis lainnya akan dengan mudah mengembalikan mood yang memburuk. Ada juga pisang cokelat yang bisa mengatasi nyeri haid. “Nggak.” Singkat. Jelas. Padat. Sabar dan kuat ya, Yah. Nggak apa-apa. Bayinya lagi ngidam. Karena di tolak, tidak Gema belokkan mobilnya ke sana. Tapi melihat ekspresi Alara yang semakin cemberut, Gema bingung. Terlebih ketika kafe itu terlewati dan mata Alara tidak beranjak dari sana. “Kok nggak berhenti, sih?!” Maygat! Gema kaget dan mengembuskan napas. Alara Senja sungguh sesuatu yang maksimal bukan sekali lagi. Perempuan ini bisa merubah Gema jadi ironman dadakan dan ingin rasanya memakan Odading Mang Oleh. “Tadi katanya nggak mau.” Salah. Fix! Tanya yang tak seharusnya Gema ajukan. Bibirnya duh … harimau banget. “Nggak mau itu artinya iya.” “Kamu ribet, Ra.” Embusan napas Gema terdengar sedikit gusar dan menahan kekesalan. Tapi tahukah kalian wahai para penduduk bumi. Pokoknya nggak tahu kenapa Gema b aja gitu. Padahal dulu waktu mantan istrinya merengek minta ini itu, akan dengan sangat kesal Gema merasa di jatuhkan. Namun dengan seorang Alara Senja dengan jelas-jelas sedang membuat harga dirinya terkoyak, tidak ada rasa sakit di dalamnya. Atau memang begini melambungnya rasa akan seseorang yang mencintai kita terlebih dahulu? Daebak sekali jika itu memang benar. “Abang yang nggak peka.” “Besok lagi—” “Nggak mau besok-besok. Maunya sekarang!” Yasalam. Gema ingin membenturkan diri ke kaca samping. Tapi masih sayang nyawa. Ini pun masih pagi. Ya kali pagi-pagi sudah kepancing. Dan benar. Teramat sangat Gema benarkan. Bucin akut dirinya ini. “Lainnya mau, ya?” Gema mengalah. Tahu rasanya seperti apa masa periode yang jelas menggangu. Terlebih kepergok olehnya sendiri. Alara pasti merasa minder—mungkin. “Tapi Ra …” Melegut ludahnya yang terasa kelat di tenggorokannya. “Kalau kamu sekarang saja kedatangan tamu, yang kemarin nggak jadi, ya?” Sumpah wei! Muka Alara sudah merah kayak kepiting rebus di guyur saus tiram. Aduh enak. “Apaan, sih!?” “Serius, Ra? Abang minta lagi nanti kalau sudah selesai.” Cari alternatif aman meski nggak aman-aman banget. ETA MULUT. Sejak kapan ini, sejak kapan? Kok bisa-bisanya si Bapak Negara berubah se—hng—ini? “Kok diam, Ra?” Wajah Alara sudah amblas ke dalam neraka. Otaknya saja sudah nyangkut di j*****m. Ketika Bahtiar Gema angkat topik tentang ‘itu’ secepat kilat Alara berjalan-jalan ke tempat yang seharusnya. “Pakai gaya baru, Ra.” Tancap gas terus nggak apa-apa kok abang duda yang bentar lagi sold out. Gerus terus saja ini muka Alara. Ikhlas lahir batin hayati mah. Meski begitu, Alara tersenyum kecil di balik wajahnya yang memaling. Nampak lebih indah saja pemandangan di luar jendela mobil. Padahal cuma lalu lalang mobil. Dan Alara Senja jatuh terlalu dalam pada pesona duda matang bernama Bahtiar Gema. Lelaki ini paling tahu mengetuk hati Alara yang sudah sekeras batu. Tidak dengan merendahkan walau tahu seburuk apa pun masa lalunya. Tidak memberi hujatan sekotor apa pun dirinya. Gema … mengangkat derajatnya lewat status pernikahan yang sebentar lagi akan terselenggara. Dan memang seperti itu sebuah hubungan. Selayaknya pasangan lain yang saling mengikat untuk tidak pernah kehilangan. Agar saling mencintai dan menaruh percaya satu sama lain. Patutnya Alara bersyukur memasuki ruangan Bahtiar Gema hari itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD