37

1282 Words
“Aku muak kalau kamu mau tahu. Pada dunia yang isinya orang-orang sok bijak. Sedangkan aku, nggak pandai dalam hal apa pun. Itu adalah rasa di mana aku mau mati.” Itu adalah momen di mana Alara Senja kembali bertatap muka dengan adiknya—Mosa. Setelah sekian hari menunggu datangnya hari ini dan Lara malas untuk bertandang ke rumah keluarganya. Sayang, prosesi ijab kabul akan di laksanakan di sini. Jadi mau tidak mau, memang harus Lara paksakan ke sini. “Kenapa?” Respons Mosa tak cukup membuat Lara puas. Yang terlukis di wajah Mosa justru kepura-puraan dan rasa tak bersalah hadir di sana. Rasanya sungguh memuakkan. Sama seperti perasaannya dulu kala mengetahui Prabu memilih Mosa. “Kamu lebih tahu.” Tertohok. Mosa tampilkan senyum senyaman mungkin. Tidak di pungkiri rasa canggung membelenggu. Ini … bagaimana pun menjadi obrolan pertama setelah sekian lama tak bertatap muka secara langsung. Dan mendengar keluhan Lara yang belum Mosa ketahui sepenuhnya … cukup mengejutkan hatinya. “Bukan artinya aku mengerti secara menyeluruh.” Lara tahu, Mosa hanya berkilah. Sedang mengulur waktu untuk mengorek lebih dalam tentang apa maksud ucapannya. Dan untuk itu, Lara pun mengurusinya. Dengan senyum menawan dan tangan yang meraup seluruh rambut panjangnya. “Kamu … menurut kamu apa artinya menikah?” Oh, baik. Pembahasan yang ingin Lara bahas sedikit banyaknya mulai Mosa ketahui alurnya. Intinya tidak jauh dari pernikahan dan apa tujuannya. “Entahlah. Mungkin karena aku butuh suami atau memang lingkungan yang memberi tuntutan untuk aku segera menikah. Sekurang-kurangnya, aku tidak begitu suka dengan ikatan pernikahan. Tapi bakal lebih aneh kalau aku juga nggak nikah. Pandangan mereka warga julid bakal ekstrem banget.” Agaknya hanya Alara Senja saja yang memandang serius sebuah pernikahan. Karena mendengar jawaban yang lebih kepada pernyataan dari Mosa, Lara tahu untuk sekadar menghargai keputusannya saja. Sedang Lara sendiri, menikah tidaklah sesederhana ‘kamu’ sudah mengenal pasanganmu. Tidak sesederhana kamu yang sudah berusia matang dan memang sudah seharusnya di wajibkan untuk menikah. Selain sudah adanya pekerjaan mapan dan karir yang menunjang masa depan. Faktanya, yang namanya menikah dan ingin menjejaki dunia pernikahan, butuh kesiapan dalam berbagai hal. Tidak semata-mata mental saja namun juga tuntutan yang akan di ketemui kemudian hari. Kadang, apa yang kita ekspektasikan hari ini, belum tentu menjadi nyata saat hari sudah berganti. “Bagiku, pernikahan seperti sebuah rumah. Sebuah tempat yang terserah ingin kutaruh apa di dalamnya kecuali racun dalam rumah tangga.” Lara sengaja memberi sindiran yang mana memucatkan wajah ceria Mosa. “Tempat teraman dari serangan dan dunia yang aman serta hangat. Juga untuk satu benda yang bisa aku pandangi lama-lama.” Yang bila di pikir-pikir lagi; apakah memang Lara membutuhkan benda ini? Namun jika tak ada, pasti akan sangat aneh. Dan kondisi rumah gersang. Lampu menyala tapi terasa gelap. Foto pernikahan. Itu saja yang ingin Lara pandangi lama-lama. Atau mungkin memang Alara saja yang terlalu kaku memaknai pernikahan? “Apa?” Katakanlah Mosa penasaran mengenai benda yang ingin Lara pandangi lama-lama. “Nikah dan pernikahan itu kewajiban. Bahkan kayaknya tertulis di Al-Qur’an.” Lara nyengir. Menyampirkan rambut panjangnya ke belakang dan mematut dirinya di cermin. “Membentuk keluarga. By the way, kamu kapan ada rencana program bayi.” “Oh …” Tercekat. Tenggorokan Mosa sarat akan sesuatu yang mengganjal. Seolah pula pertanyaan yang di lempar Lara sudah di persiapkan sejak lama. “Aku belum siap.” “Kayaknya Prabu ngebet punya anak. Aku ingat dulu pernah punya obrolan buat bikin anak banyak-banyak. Ngebentuk tim sepak bola kalau perlu.” Wah … Alara Senja penuh kejutan. Mulut Mosa sampai ternganga dan percikan kemarahan terlihat jelas dari sorot matanya. Setidaknya … jangan di perjelas soal anak yang diinginkan Prabu mentang-mentang Lara mengenalnya secara apik. “Ribet. Aku belum siap kalau badan aku rusak karena hamil dan setelahnya menyusui. Belum lagi suara berisik dan malam begadang terus. Bisa-bisa wajah aku nggak terawat.” Ternyata sesimpel itu. Ya, karena setiap orang punya pemikiran yang berbeda pun dengan cara pandangnya. Lara tak punyai hak dan wewenang untuk berceramah. Hanya saja … sangat di sayangkan dengan pilihan Prabu yang jauh dari kata baik. Bila sudah begitu, Lara yakini tak ada kebahagiaan di dalam rumah tangga Mosa dan Prabu. Bukan sok tau apa lagi menjadi cenayang dadakan. Lara mengenal Prabu tidak sehari dua hari. Namun tahunan. Padahal bahagia itu sederhana. Cukup di tanya dengan ‘sudah makan belum?’. Itu sudah cukup membuat pasangan kita di perhatikan dan di miliki. Meski itu hanya berlangsung sebentar untuk kemudian menghilang. Mungkin, Mosa dan Prabu termasuk yang demikian. Lara namai rotasi karena sebuah hubungan pun bisa memiliki pasang surutnya. “Aku nggak pernah suka gagasan menikah—pada awalnya,” ucap Lara yang mengatupkan kembali mulut Mosa. “Aku pikir apa yang kamu bilang memang benar; ribet. Kadang, aku pun nggak pernah tahu gimana caranya memahami diri sendiri. Alih-alih mengetahui apa yang aku mau. Ternyata sulit.” “Kenapa dengan menikah?” Jujur, Mosa tidak pernah seserius ini kala berbincang dengan Lara. Sepanjang hidupnya, tak pernah sekali pun ada obrolan berat kecuali urusan masing-masing. “Tapi …” Mosa menggantungkan kalimat lanjutannya. Bingung dengan cara pikir Lara yang cukup mengejutkan. “Karena aku butuh. Aku perlu punya pasangan buat masa tua aku. Aku butuh di lindungi walaupun tanpa pendamping aku bisa mengurus diri sendiri. Tapi aku bakal egois kalau semisal bersikap kayak gitu. Mirisnya, aku nggak bakal bisa bahagia.” Lara pernah menjadi orang bodoh dengan memohon. Waktu itu, saat tahu Prabu lebih memilih Mosa, dengan kotor Lara memohon kepada ayah ibunya. Untuk mau berbelas kasihan kepadanya dan mau mengembalikan Prabu. Sayangnya, kebodohan Lara dengan bertindak gegabah seperti itu, memberi dampak buruk untuk kepercayaan dirinya sendiri. Bahkan, dengan lancarnya Lara bertanya; apa kurangnya aku sehingga aku tidak menjadi baik untuk di jadikan sebuah pilihan. Sekarang … sejak Bahtiar Gema hadir dan menjunjung tinggi harga dirinya, Lara tidak lagi mempertanyakan harga dirinya atas orang lain. Karena Lara cukup yakin dengan apa yang Gema berikan. Bahwa Lara memang pilihannya yang telah Gema tetapkan. Kadang yang berjuang mati-matian, justru yang akan terbuang. Begitu kata Gema. Lara benarkan lantaran itu terjadi pada dirinya sendiri. Jadi, apakah Prabu menyesal sudah melepas Lara demi Mosa? Oke, lupakan. Pernah Lara dengar kata-kata bahwa penyesalan adalah jahanamnya dunia. So, yang sudah Lara pelajari sejauh ini ialah, caranya terbiasa dan baik-baik saja tanpa orang yang kala itu baik-baik saja tanpa adanya Lara di hidupnya. Bukankah dengan begitu, Lara sudah berhasil membalas Prabu? “Oh ya …” Lara tak jadi melangkahkan kakinya. “Perut kamu sedikit buncit.” “Dua bulan.” Wajah Lara semringah. Berbanding terbalik dengan Mosa yang menampilkan raut terkejut. Lara usapi permukaan perutnya yang menonjol. “Kamu cepetan program deh. Biar tahu rasanya ada yang hidup di sini.” Mosa menggeleng. Lara bertanya, “yang kamu takutin apa sih, Sa? Kalau cuma badan yang melar, itu bisa olahraga. Kamu atur pola makannya dan istirahat yang cukup. Soal anak, nggak bisa di bebankan jadi tugas kamu saja. Ada peran Prabu juga. Kamu lupa? Terbentuknya karakter anak pun ada sosok ayah yang menemani.” Justru karena itu … “Aku masih muda. Banyak yang aku kejar. Aku harus menyetabilkan keuangan dulu baru aku bisa memutuskan.” “Kolot kamu. Jadi aneh pernikahan kamu sama Prabu di percepat tapi—” “Kamu jangan sok peduli lah. Soal hamil dan anak itu urusan aku—” “Oke.” Dan Lara hengkang dari sana. Sejak dulu, yang membuat Lara malas berhubungan dengan Mosa adalah ucapan perempuan itu terlalu nyelekit. Menyakitkan namun bila di balas tak terima. Zaman sekarang, orang mana yang suka di perlakukan baik saat mendapatkan perlakuan buruk? Tidak bacok-bacokan saja masih untung. Karena Lara pun punya sisi temperamental yang tak terlihat. Dan terkuasai dengan baik oleh caranya menahan emosi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD