Jika biasa diperlakukan buruk lalu ada yang bersikap baik, bagaimana perasaanmu?
♥♥♥
"Yuk, Kak." Adikku sudah bersiap dengan kemeja slim fit dan celana jeans hitam. Membuat penampilannya semakin memukau. Wajahnya pun terlihat segar dengan rambut sedikit basah. Sepertinya aku harus mulai terbiasa dengan pemandangan ini.
Aku melirik bajuku sendiri. Duh, kalau jalan sama dia bisa-bisa aku dikira pembantunya.
"Kenapa, Kak? Kok diem?"
"Kakak nggak usah ikut, deh. Maluu," ucapku sambil menunduk.
Ia mendekatiku dan memangkas jarak. Aroma maskulinnya terasa menusuk hidung. Ia mengangkat daguku hingga netra kami bertubrukan. "Kenapa harus malu, Hemm?"
Dengan jarak sedekat ini membuatku sedikit tergagap. Aku hanya sebatas bahunya sehingga harus mendongak untuk menatapnya. "Penampilan Kakak jelek begini ...."
"Makanya kita belanja. Kakak pilih baju apapun yang kakak mau. Yuk." Jemariku digenggamnya lembut lalu menarikku masuk ke mobil. Memasangkan safety belt dan mulai menjalankan mobil. Aku hanya pasrah saja akan di bawa ke mana. Berdebat pun percuma.
Setelah berjibaku dengan jalanan, akhirnya kami sampai di tempat yang dituju. Adikku menuntunku dengan jemari kami yang masih terpaut. Perlakuannya membuat darahku berdesir. Tak pernah ada lelaki yang memperlakukanku seperti ini. Membuatku merasa tersanjung dan spesial.
Namun dengan segera aku menepisnya jauh-jauh perasaan aneh ini. Sungguh rasa ini adalah rasa yang seharusnya tak boleh ada. Jangan sampai berkembang dan mengacaukan segalanya. Bisa gawat untuk kesehatan jantungku nanti.
Kami pun memasuki sebuah butiq yang terlihat mewah. Membuatku sedikit norak saat melihat barang yang terjejer rapi begitu indah dengan bahan yang lembut. Tapi saat melihat harganya cukup membuat mataku terbelalak seketika. Satu harga baju saja cukup untuk biaya makanku berbulan-bulan. Kenapa Al harus mengajakku ke tempat seperti ini. Untuk memegang bajunya saja aku tak berani.
"Kakak pilih saja baju mana yang disuka. Gih."
Ia mendorongku untuk masuk lebih dalam ke ruangan lain dan dengan santainya ia malah duduk di sofa. Aku yang baru pertama ke tempat seperti ini jadi merasa kikuk. Bingung harus melakukan apa. Mana setiap ada baju yang kusuka lalu melihat harga selalu membuatku terlonjak kaget. Sehingga tak ada satu pun barang yang bisa aku ambil. Takut si adik tidak bisa membayar. Kan kasihan dan tak enak jadinya. nanti dikira aku aji mumpung pula mentang-mentang nggak bayar malah seenaknya ngambil barang yang mahal. Aku jadi garuk-garuk kepala. Bingung.
"Loh, mana hasil pilihannya, Kak? Emang nggak ada yang disuka?" Tiba-tiba lelaki muda yang tadi duduk santai itu, kini malah sudah berdiri dihadapanku. Sehingga membuat jantungku serasa copot dengan kehadirannya yang mendadak.
"Astaga! Kamu ngagetin, ih."
"Mana hasilnya?" tanyanya mengulang pertanyaan yang belum sempat kujawab. Ia menatapku dengan pandangan penuh tanya.
Aku hanya meringis dan menggaruk rambut yang tak gatal. "Hemm, anu ... itu."
Ia hanya menggelengkan kepala dengan tingkahku. "Yaudah.Kakak duduk manis saja. Biar aku yang carikan."
Ia pun mulai beraksi mencari dan mengambil satu-satu baju yang ada di sana tanpa ragu. Aku hanya terduduk diam sambil memperhatikan. Ia terlihat luwes sekali. Sepertinya memang sudah terbiasa ke tempat ini. Dalam sekejap tangannya sudah penuh dengan baju yang menumpuk. Yang membuatku heran emang dia bisa tahu ukuran pakaian yang kupakai darimana? Kok bisa pede sekali nyomot sana-sini tanpa bertanya dengan detail terhadapku dulu. Aneh sekali.
setelah selesai Al berjalan ke arah kasir, lalu meletakkan semua barang belanjaan di meja. Dengan cekatan si kasir memindai harga dengan wajah riang. Saat penghitungan selesai, lagi-lagi aku hanya bisa mengelus d**a dengan nominalnya. Coba kalau beli di pasar atau di Tanah Abang, bisa berkodi-kodi baju yang aku dapatkan. Aku jadi semakin tidak enak.
"Dek, kenapa nggak beli di pasar biasa saja? Kan sayang itu duitnya," ucapku saat kami sudah memasuki mobil.
"Baju dengan harga sedikit mahal bahannya juga beda, Kak. Lebih nyaman di pakai dan tahan lama. Buat penampilan sendiri masa hitungan," ucapnya santai.
"Tapi kan uangnya sayang, Dek. Kalau beli di tempat biasa pasti dapat baju lebih banyak lagi."
"Udah jangan mikirin itu." Al memencet hidungku dengan gemas. Membuatku sedikit meringis dengan kelakuannya.
Setelah aku cek ulang ternyata aku dibelikan beberapa sepatu dan tas. Heran deh. Dari mana Al bisa tahu ukuran kakiku? Luar biasa sekali memang bocah satu ini. Ck.
"Ayok, sekarang kita ke salon. Biar penampilan kakak makin seger," ucapnya sambil tersenyum manis. Aku pun hanya menurut saja tak mampu melawan. Mengikuti semua keinginannya. Al lebih ngerti fashion daripada aku yang sedikit katro. Siapa tau aku jadi semakin mempesona setelah di rombak penampilan olehnya dan siapa tahu pula aku jadi bisa menemukan jodohku. Yang hingga saat ini belum ketahuan hilalnya.
***
Setelah berbelanja, ke salon dan makan, kami pun sampai di rumah lepas isya. Penat juga rasanya setelah berkeliling.
Rambutku dipotong sebahu agar terlihat fresh dan lebih muda. Bahkan sedari keluar salon, adikku sudah mencuri-curi pandang terus. Katanya aku semakin cantik setelah dipotong pendek. Ucapannya membuatku malu saja.
"Makasih, ya, untuk hari ini," ucapku sambil tersenyum. Lelaki muda itu sempat mengerjap beberapa kali sehingga membuatku terheran.
Aku berbalik dan memutar kenop pintu kamar. Saat hendak memasuki kamar, ia berseru, "Kak!"
Aku menoleh daan ...
Cup!
Bibirku dikecup. Kejadiannya begitu cepat sehingga aku tidak bisa menghindar. Pelakunya saja sudah kabur memasuki kamarnya sendiri.
Alih-alih marah, aku mengusap bibirku dan malah tersenyum kecil.
Manis sekali dia.
***