Gejolak Jiwa

1091 Words
Hari itu tepatnya pukul 04.30 wib tepatnya waktu sholat subuh terlihat ada seorang pria berambut agak panjang dengan kumis dan brewok atau jenggot yang lumayan panjang dengan khusuknya melakukan sholat subuh di sebuah kamar yang besar dan tertata rapi, ia mengenakan gamis hitam panjang dan ia tampak dengan tenang menyelesaikan sholatnya. Tak berapa lama kemudian pria tersebut telah menyelesaikan kan sholatnya, ia pada saat itu tidak langsung beranjak dari dari sajadahnya tapi ia tetap duduk di atas sajadahnya terlihat ia sedang berdzikir, dan ternyata pria itu adalah Rahadian. Rahadian terlihat sangat khusyuk sekali dalam melafazkan dzikirnya dan sesekali ia terlihat menarik nafas panjang dan menghembuskannya kembali tampak sekali ia sedang melepaskan beban yang berat dan sesak yang menumpuk di dadanya, tapi mulutnya tetap melafazkan dzikir. Tak lama kemudian Rahadian mulai mengangkat kedua tangannya dan terlihat ia sedang berdoa, pada saat berdoa itu tanpa terasa Rahadian menitikan air mata, tampaknya ia masih belum bisa melupakan kejadian tiga bulan yang lalu terutama sekali tentang kejadian bunuh dirinya Arlita sang calon istrinya. Dengan perlahan Rahadian mengucapkan doa dengan perlahan sambil menadahkan kedua tangannya ia tampak sekali khusyu' dan benar-benar berharap doanya dikabulkan oleh Allah. Tak berapa lama kemudian Rahadian sudah menyelesaikan doanya dan matanya masih terlihat berair karena ia memang di saat berdoa tadi meneteskan air mata. Tapi pada saat itu Rahadian memang tidak beranjak dari sajadahnya tapi ia tetap duduk di atas sajadahnya, sesekali ia menarik nafas panjang tanda ia masih merasakan sesak di dadanya. Dalam hati Rahadian berkata "Ya Allah kenapa aku sulit sekali menghilangkan bayangan Arlita… tapi kenapa di saat seperti ini engkau hadirkan wanita cantik bernama Azizi Nur Safa… Ya Allah kenapa hati ini selalu bergetar kala melihat wajahnya… apakah cinta yang ada di dalam jiwa ini harus hadir kembali…??? Jujur hamba takut ya Allah… hamba masih takut akan kehilangan dan hamba juga belum siap jika harus kehilangan…". Tampaknya Rahadian sedang bimbang dengan hadirnya sosok Azizi Nur Safa dan ia sama sekali belum siap untuk merasakan cinta yang hadir ke dirinya, dan ia merasakan ada getaran cinta saat ia melihat sosok Azizi kemarin, tapi disisi lain ia masih trauma dengan kejadian yang ia alami tiga bulan yang lalu di mana ia harus kehilangan orang yang dicintai dengan begitu cepat. Kembali Rahadian berbicara dari dalam hati "Aku tahu ya Allah jika cinta itu adalah anugerah… tapi kembali lagi aku ini manusia ya Allah dimana aku masih mempunyai rasa trauma dan rasa takut kehilangan… dan saat ini wajah Azizi selalu hadir dan hamba tidak bisa menolaknya Ya Allah… … tapi hamba juga belum bisa menerima kehilangan akan Arlita… apa yang mesti hamba lakukan ya Allah… kenapa cinta itu selalu datang dan pergi…?". Rahadian tampaknya merasakan rasa cinta hadir kembali di dalam jiwanya dan ia benar-benar tidak bisa menolak takdir cinta yang hadir di dalam dirinya, bahkan ia selalu terbayang wajah Azizi Nur Safa hadir di dalam jiwanya, tapi ia masih belum melupakan sosok Arlita yang sudah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya. Rahadian masih duduk termenung di atas sajadahnya tampaknya ia masih belum mau beranjak dari duduknya, karena rasa gundah dan galau yang saat ini ia rasakan, Rahadian tampak sekali sedang perang batin dimana rasa cinta hadir dan tumbuh masih berperang dengan rasa cinta masa lalunya, dua rasa itu terus bergejolak di dalam jiwanya, dimana ia rasa cinta yang tumbuh ke Azizi dan rasa cintanya ke Arlita terus silih berganti masuk ke lubuk hati dan jiwanya yang paling dalam, bahkan wajah Arlita dan Azizi silih berganti bhadir bermain-main di pikirannya. Tak berapa lama kemudian Rahadian pun akhirnya beranjak berdiri, dan ia perlahan melipat sajadahnya lalu ia taruh sajadahnya ke sebuah lemari besar miliknya, dan ia pun langsung mengganti baju gamis nya dengan baju kaos pendek dan celana pendek. Kemudian Rahadian keluar dari kamarnya dan ia menuju ke ruang kerjanya, telah sampai di ruang kerjanya terlihat di sana sebuah meja kerja yang besar dan elegan tidak lupa juga di sana di samping meja kerjanya ada sebuah PC (Personal Computer) yang sangat canggih, tapi di meja kerja Rahadian terlihat banyak sekali tumpukan berkas-berkas yang selama tiga bulan tidak disentuh sama sekali bahkan ia biarkan begitu saja. Melihat berkas-berkas yang begitu banyak dan menumpuk, Rahadian berbicara dari dalam hati "Gila berkas-berkas itu sama sekali tidak gue sentuh… gue benar-benar belum bisa bangkit dan sama sekali tidak ada semangat untuk gue lihat berkas-berkas itu… kenapa gue jadi kayak gini ya… padahal dulu gue ini gila sekali kerja… rasanya kalau tidak kerja ngurus kerjaan pasti gue bakal kebingungan… tapi sekarang justru gue males banget buat menyentuh berkas-berkas itu… jujur gue merasa bersalah sama Anwar karena selama ini semua urusan perusahaan dia yang handle… tapi rasa malas ini masih belum bisa gue kalahin… dan melihat tumpukan berkas ini saja gue sudah malas untuk melihatnya…". Rahadian tampaknya juga baru tersadar dan kaget karena selama tiga bulan terakhir ia sama sekali tidak mengurus perusahaannya bahkan sama sekali ia tidak peduli dengan perusahaannya karena kejadian yang sedang ia alami, dan meninggalnya Arlita memang benar-benar membuat Rahadian terpuruk, jangankan perusahaan bahkan dirinya sendiri saja tidak ia urus, terlihat dari penampilan Rahadian yang amburadul tidak menampakkan dirinya seorang CEO dari Perusahaan IT besar dan terkenal, cinta memang unik bisa merubah seseorang menjadi baik dan cinta juga bisa merubah seseorang menjadi hancur terpuruk tidak karuan salah satu contohnya Rahadian, karena rasa cinta yang terlalu dalam terhadap Arlita membuat dirinya benar-benar hancur dan terpuruk karena harus kehilangan Arlita untuk selamanya. Sepertinya Radian belum bisa menaklukkan rasa malasnya dan ia justru malah pergi meninggalkan ruang kerjanya karena kaget melihat berkas-berkas yang sudah menumpuk tinggi bak gunung Himalaya, dan ia pun langsung menuju ke ruang balkon apartemennya sambil membawa secangkir kopi yang barusan dibuat setelah ia keluar dari ruang kerjanya dan tidak lupa ia membawa sebungkus rokok. Setibanya di ruang balkon apartemennya, Rahadian langsung duduk dan menghirup udara pagi yang begitu menyegarkan, sembari ia menyeruput kopi hitamnya dan ia juga langsung menghidupkan rokoknya. Suasana di pagi itu memang begitu cerah dan kicauan burung bersahutan menyambut pagi cerah, Rahadian juga tampak menikmati pagi cerah itu dengan segelas kopi dan sebungkus rokok kesukaannya, walaupun rasa kehilangan Arlita belum juga sembuh tapi tampak sekali di raut wajahnya Rahadian menikmati sekali cerahnya pagi itu, entah sampai kapan Rahadian akan seperti ini bayang kelam masa lalu yang sulit sekali ia lupakan, bayang Arlita calon istrinya yang meninggalkan dirinya untuk selamanya, apakah rasa cinta yang baru saja hadir bisa mengalahkan atau menghapus kenangan kelam bersama Arlita…? Dan apakah rasa cinta yang baru saja hadir ini mampu membuat Rahadian untuk bangkit dari keterpurukannya…? Apakah hadirnya Azizi di dalam hidup Rahadian mampu menghapus bayang-bayang Arilta…??? Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD