Bertemu dengan calon adik ipar

1821 Words
Hari ini Lindsay memintaku untuk menemaninya ke sebuah bridal butik yang cukup ternama di kota Chicago untuk fitting gaun pengantinnya dan juga gaun untukku sebagai pendamping pengantin wanita. Kami berangkat bersama-sama dan Lindsay begitu bahagia sepanjang perjalanan. Senyum cantik tak lepas di wajahnya yang secerah pagi. Aku sebagai kakak tentu saja ikut bahagia melihat senyum di wajahnya yang secerah pagi itu. Sungguh beruntung Lindsay mendapatkan banyak cinta dalam hidupnya, sejak kecil memang hidup Lindsay tak pernah kekurangan cinta, terlepas dari kekurangan yang dimilikinya dengan kelainan jantung yang sejak lahir ia miliki. Berbeda denganku yang tak beruntung dalam urusan cinta dan kasih sayang, namun selama menjadi keluarga Mckent tak pernah sedikitpun aku mengeluh dengan keadaanku. Karena aku tahu dan mencoba mengerti kalau Lindsay, adikku adalah gadis yang spesial ia pantas mendapatkan kebahagiaan itu dalam hidupnya. Aku sebagai kakak hanya mendukung apa yang terbaik untuk dirinya. "Kak, hari ini calon suamiku akan datang aku harap kakak bisa bertemu dan berkenalan dengannya nanti ya. Karena dia selalu mengatakan ingin mengenal dengan baik semua anggota keluargaku, terutama kau sebagai kakak kandungku satu-satunya," ucap Lindsay seraya tersenyum padaku. "Oh, baiklah. Aku rasa dia memang calon suami yang baik dan pantas untukmu, Lindsay," jawabku dengan senyum tipisku. "Ya, kak kau benar. Aku sangat beruntung dapat mengenalnya, karena dia adalah segalanya bagiku. Dia pria yang baik dan bertanggung jawab. Kakak tahu? kami hanya berkenalan dalam hitungan minggu dan kemudian dia datang berkunjung ke rumah untuk menemui Dad sengaja untuk melamarku! Bukankah itu sangat menakjubkan?!" Lindsay bercerita girang dengan senyumnya yang sumringah. "Benarkah?? Sungguh pria gentleman yang langka, aku jadi tak sabar ingin bertemu dengan calon adik iparku nanti," sahutku ikut senang. *** Hampir setengah jam berlalu, Lindsay masih sibuk dengan fitting gaun pengantinnya, aku yang merasa agak bosan hanya menunggunya duduk dengan santai sembari membaca majalah di sofa. "Selamat pagi, maaf aku terlambat datang hari ini," sapa seseorang tiba-tiba mengejutkanku sebuah suara yang familier kudengar, aku yang saat itu sibuk dengan majalah yang k****a pun detik itu juga langsung mengalihkan tatapanku pada sumber suara itu dan langsung terkejut dengan apa yang kulihat di depan mataku sekarang ini. "Chris?! Akhirnya kau datang juga!" Lindsay menyahut senang dengan wajah berseri-seri di tengah fitting gaun pengantinnya di depanku. "Chris Raven...???" Tanpa kusadari aku mengucapkan nama itu dengan nafas tertahan dan tatapan masih tak percaya dengan apa yang kulihat kini. "Kak, ini Chris Raven, yang aku ceritakan tadi," tutur Lindsay mencoba memperkenalkanku. "Hay, apakah kau kakak dari Lindsay? Perkenalkan aku Chris Raven, calon suami Lindsay. Senang bisa berkenalan dan bertemu secara langsung denganmu, Lindsay banyak menceritakan tentangmu selama ini," pria bernama Chris Raven itu memperkenalkan diri dengan wajah tampannya yang memikat, ia mengulurkan telapak tangannya padaku untuk berjabat tangan. Aku yang sejak tadi masih melongo tak percaya dengan apa yang terjadi berusaha sebaik mungkin bersikap tenang dan baik-baik saja. "Ohh, hay. Senang berjumpa denganmu juga, Chris." Susah payah aku mengucapkan kalimat itu di bibirku yang terasa kelu dan membalas jabatan tangannya padaku. Kemudian tanpa mengucapkan apa pun, Chris beralih menghampiri Lindsay yang tak jauh di depannya. "Kau sangat cantik sayang, aku sungguh beruntung memiliki kau sebagai calon istriku" sanjung Chris seraya mengecup bibir Lindsay lembut dan Lindsay hanya tersenyum tersipu dengan wajah bahagia. Entah kenapa aku hanya menatap kemesraan pasangan di depanku ini seperti orang bodoh. Seribu tanya ada dalam pikiran dan otakku sekarang. Seolah masih tak percaya dengan apa yang kini kulihat di depan mataku. Bagaimana bisa Chris ada di sini dan menjadi calon suami dari adikku sendiri? Dan dia bersikap seolah tak mengenalku? Bagaimana dia bisa seperti itu?? Oh, Tuhan apakah ini kebetulan atau bukan aku tak tahu, yang jelas aku belum bisa menguasai perasaanku sendiri saat ini. Setelah selesai mencoba gaun pengantin kini Lindsay menyuruhku masuk agar aku mau mencoba beberapa gaun untukku di pesta pernikahannya nanti. Aku yang merasa enggan karena suasana hatiku yang kini berubah terpaksa harus menyanggupi permintaan Lindsay yang memang tak bisa kutolak. Gaun panjang warna putih berenda bermodel simple, namun elegan dengan bahu yang terbuka kini melekat erat di tubuhku yang ramping, aku sedikit tak nyaman saat memakainya apalagi saat kulihat tatapan mata Chris saat menatapku kini dengan penuh arti, seakan aku ingin segera menghampirinya dan menampar wajah tampannya itu sekarang. "Kau cantik sekali, kak!! Sepertinya orang-orang di pesta nanti akan menyangka kalau kau adalah mempelai wanitanya, hahaha...!! Bukankah itu benar Chris?" puji Lindsay ekspresif seraya bergelayut manja di lengan Chris yang kokoh. Aku susah payah berusaha menelan salivaku sendiri saat ini. "Terima kasih, tapi aku rasa pujian itu terlalu berlebihan untukku, Lindsay," sahutku dengan nada enggan. "Kau memang cantik, kak Natalie. Kurasa kau memang pantas menjadi mempelai wanita," ucapan Chris membuatku terkejut setengah mati. Sedetik kemudian, kulihat Chris dan Lindsay pun tertawa gembira seakan pujian itu benar-benar mereka ucapkan atau hanya bermaksud untuk menggodaku. *** Setelah pertemuanku dengan Chris Raven yang masih meninggalkan beribu tanya di otakku, aku tak bisa berhenti berpikir tentangnya walau sedetikpun. Apa maksudnya semua ini? Sikapnya yang seolah tak mengenal aku sama sekali, dan ucapannya di bridal butik pagi tadi yang bagiku penuh dengan teka-teki. Dalam hati aku berpikir apakah ia sengaja melakukannya agar aku kesal karena mencampakkannya 6 tahun silam? Tapi jika begitu kenapa ia mau menjadi menantu dari keluarga Mckent? Bukankah dia dulu sangat membencinya? Entahlah, kepalaku sakit jika memikirkan hal itu hingga sebuah bunyi pesan di ponselku membuatku beralih melihat siapa sang pengirim pesan. Sebuah nomor yang tak dikenal dan isi dalam pesan itu pun semakin membuatku terkejut untuk kedua kalinya. [ Temui aku di Cerise Rooftop di pusat kota malam ini juga ] [ Ku tunggu kau di sana ] [ Kau akan tahu jawaban dari semuanya ] Astaga ada apa ini? Apakah ini pesan dari Chris? Tak ada nama sama sekali, tapi aku yakin ini pesan darinya, besar kemungkinan dia tahu nomor ponselku dari Lindsay. Setelah banyak berpikir dan menimbang banyak hal akupun terpaksa menyanggupi isi dalam pesan itu. Karena memang aku harus tahu jawabannya. Malam itu sesuai yang dijanjikan akupun datang ke Cerise Rooftop. Cerise Rooftop adalah salah satu bar dan klub mewah di Chicago City. Aku tak habis pikir kenapa ia memilih tempat itu untuk bertemu denganku? Apalagi sehari lagi adalah hari pernikahannya dengan Lindsay. Mungkinkah dia mengadakan pesta bujangan ditempat ini dengan teman-temannya? Jika iya, kenapa ia harus melibatkan aku sebagai calon kakak iparnya di tempat ramai seperti ini. Sungguh aku tak tahu apa yang ada dipikirannya, Chris Raven yang dulu kukenal santun dan baik dalam waktu enam tahun telah banyak berubah. Malam ini aku mengenakan dress merah selutut yang simple, namun tidak menutup bentuk indah tubuhku yang ramping. Dengan hati dan jantung sedikit berdebar aku mencoba sebaik mungkin mengatur nafasku agar kembali normal. Kukirim pesan pada nomor Chris. [ Aku sudah ada di sini, kau di mana? ] Sambil menunggu jawaban dari pesanku, aku berjalan masuk di bar dengan langkah canggung, sengaja aku memilih tempat yang nyaman dan memesan minuman pada bartender karena memang aku tak terbiasa berkunjung ke sebuah bar ataupun klub sejak dulu, walaupun kehidupanku selama enam tahun ini berada di kota besar New York. Suasana dalam bar yang memang ramai, membuatku kurang nyaman. "Hay, Miss. kau datang seorang diri? Mau kutemani?" tawar seorang pria bertubuh atletis mendekatiku, ia menampilkan senyum yang begitu sempurna seolah mencoba menggodaku. "Tidak, terima kasih. Aku sedang menunggu seorang teman," aku menjawab singkat sebagai bentuk kesopanan. "Sepertinya temanmu itu akan terlambat datang, bagaimana kalau kau kutemani minum sambil menunggu temanmu itu datang?" Sahutnya keras kepala, tanpa menunggu jawaban dariku pria berambut pirang itu kini duduk di sebelahku dan menawarkan diri untuk berjabat tangan. "Perkenalkan, namaku Paul Dougles. Kalau boleh tahu siapa namamu cantik?" Tuturnya percaya diri. Belum sempat aku ingin menolaknya, sebuah suara di belakangku mengejutkanku saat itu juga. "Dia teman kencanku malam ini. Jadi aku rasa kau tak perlu repot-repot menemaninya, bung," Sebuah suara yang familier kini tampak mendominasi. Chris Raven kini tampak berdiri di sampingku, dengan memakai setelan jas abu dengan beberapa kancing kemeja yang terbuka di bagian atas membuat tampilannya semakin terlihat maskulin dan garang ketika tatapan tajamnya jatuh pada pria bernama Paul itu. "Oh, ma-af kalau begitu. Baiklah aku permisi dulu, kalian lanjutkan saja kesenangan kalian." Pria bernama Paul Dougles itu pun segera bangkit beranjak meninggalkan kami berdua. Aku dan Chris. "Teman kencan? What?!" seruku memprotes. Namun Chris tampak acuh dengan sikapnya yang dingin ia menggandeng tanganku begitu saja keluar dari bar itu. "Hey, kau belum menjawabku Chris! Kenapa kau bilang pada pria itu tadi aku adalah teman kencanmu?!" tanyaku kesal. "Dan lepaskan tanganku dari tanganmu itu! Setidaknya hormatilah aku sebagai calon kakak iparmu!" aku berseru mengingatkan. Maka saat itu juga, Chris pun menghentikan langkah kakinya setelah kami sampai dihalaman parkir dan kini dengan tatapannya yang tajam ia menatapku penuh arti. "Aku rasa kau seharusnya berterima kasih padaku karena kau bisa selamat dari godaan p****************g tadi. Kecuali kau sebenarnya ingin berkencan dengan pria itu tadi di sana..," ucapnya seraya menyunggingkan senyum mengejek padaku. Kesal dengan ucapannya yang tampak melecehkan itu maka saat itu juga akupun melepas kasar tangannya di tanganku. "Jaga ucapanmu, Chris Raven! Kau harus tahu batasanmu! Jika bukan karena kau sendiri yang memintaku untuk datang ke Bar itu aku tidak akan menemui kesialan ini!" sahutku marah. "Apa aku juga yang memintamu untuk mengenakan gaun seksi dengan memamerkan auratmu itu pada tiap laki-laki, begitu?" ucap Chris tak mau kalah, pandangannya menyapu seluruh tubuhku dengan balutan gaun pendek yang aku kenakan sekarang. "Kau tidak berhak mengaturku!!" dengusku kesal. "Baiklah, terserah apa maumu. Sekarang seperti yang kujanjikan, jika kau mau sebuah jawaban ikuti aku sekarang sebelum teman-temanku di dalam sana menyadari kepergianku di bachelor partyku," Chris berkata dengan wajah serius kini. Mau tidak mau, aku pun akhirnya mengikuti Chris dan masuk ke mobil miliknya sekarang. Entah ia akan membawaku kemana, aku tak tahu yang pasti sepertinya memang sekarang ia mencoba untuk lari dari pestanya malam ini karena dapat kucium bau alkohol yang menusuk saat aku berada di dekatnya saat ini. "Kau tidak dalam keadaan mabuk kan Chris? Karena aku tak mau mati konyol bersama denganmu sekarang," sindirku. Dengan acuh ia menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. "Tenang saja, aku masih waras Nat. Jika tidak aku tidak mungkin bisa kabur dari mereka sekarang," sahutnya tenang dengan tatapan tetap fokus menyetir. Sekitar 15 menit perjalanan, Chris pun kini menghentikan mobilnya di sebuah villa di tengah kota. Sepertinya villa ini milik seorang yang kaya, karena bangunan villa itu tampak megah dengan taman yang luas memperindah tampilannya walaupun di malam hari. "Kenapa kau membawaku kesini? Ingat Chris kau jangan macam-macam denganku karena aku adalah calon kakak iparmu sekarang!" ancamku terus mengingatkan. "Heh, jika kau mau aku bisa membawaku ke tempat ramai sekarang. Itu pun kalau kau sudah siap dengan hujatan banyak orang jika melihat kita bersama sehari sebelum hari pernikahanku," jawabnya acuh. Mendengar ucapannya aku pun mendelik seketika. "Kau memang sialan!" makiku kesal. "Aku anggap itu sebuah pujian, Natalie" sahutnya enteng. Astaga! Sejak kapan pria ini berubah menjadi menyebalkan?! Dia benar-benar berbeda dengan Chris Raven yang kukenal dulu, pria yang pernah kucintai. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD