Part 11

1194 Words
Siang ini di kantor, Zaka tak berhentinya memikirkan Tara. Padahal sebelumnya, ingat saja dia tidak, bahkan hampir melupakan, bahwa mempunyai istri dua. Fokusnya hanya pada Mei seorang, kini Mei sudah berangsur pulih, walaupun masih sedih dengan kehilangan bayi mereka yg menginjak usia enam bulan. Zaka ingat beberapa kali berhubungan dengan Tara, meskipun sudah pernah melahirkan, tapi Zaka sebagai lelaki akui, bahwa Tara dapat merawat tubuhnya dengan baik, meskipun Tara tidak berkulit putih seperti Mei, tapi melihat Tara rebahan saja sudah membuat Zaka menegang. Saat ini saja dadanya berdesir, bila ingat masa-masa mencumbu Tara. Apakah Tara hamil ya? Beep..beep.. Pesan singkat berbunyi, Zaka melihat pengirimnya Sayangku. Pastilah itu Mei. "Mas, aku di resto kantor kamu. Kita makan yuk, ada yang mau aku bicarakan." "Oke, tunggu sebentar ya sayang." Zaka memasukkan ponsel ke dalam sakunya. Dan bergegas keluar ruangannya untuk bertemu dengan Mei. Zaka mendapati Mei duduk di meja pojok restoran sunda itu. Mei tersenyum melihat kehadiran Zaka, senyuman Mei selalu saja membuat Zaka terpesona, tubuhnya tinggi semampai, kulitnya putih, rambutnya lurus, bulu matanya lentik, sosok yang sempurna di mata Zaka. "Hai sayang, belum lamakan?" Zaka mencium pipi kanan dan kiri Mei. "Belum Mas, " jawabnya sambil tersenyum. "Udah pesan makan?" tanya Zaka pada Mei. " Sudah Mas, sebentar lagi diantar." "Apa yang mau dibicarakan sayang?" tanya Zaka antusias, ia berharap istrinya punya kabar baik, entah apapun itu. "Mmm...tadi pagi aku ke rumah Tara, Mas. Tapi yang menempati orang lain, katanya Tara sudah lama tidak disitu, Mas ga tahu?" "Hah?Mm..itu yang...Mas tahu Tara pergi, ga tau tapi kemana?" "Mas kok ga cerita?" "Mas ga mau ganggu kondisi kamu yang lagi hamil sayang." "Mas perhatikan kamu selalu bete, kalau Mas sebut nama Tara, padahal Mas nikahin dia juga atas izin kamu lho yang." Mei tersenyum lega, jauh di hatinya benar-benar bersyukur Tara pergi dengan sendirinya dari kehidupan suaminya. "Mmm..kalau gitu, status hubungan Mas dan Tara sudah selesai dong ya?" tanya Mei dengan senyum bahagia, akhirnya suaminya hanya miliknya seorang. "Kan Mas belum talak." jawab Zaka. "Tapi kan sudah beberapa bulan ini Mas ga ada hubungan apapun dengan dia kan?nafkahinnya juga sudah engga kan?" Mei meyakinkan suaminya. Zaka mengangguk. "Tandanya begitu sudah jatuh talak, Mas. Apalagi cuma nikah siri, cerai pake pesan aja sah kok." kata Mei lagi. Zaka terdiam tak menjawab, ia tak ingin sebenarnya menalak Tara, apalagi jika teringat Fia, belakangan ini gadis kecil itu membuatnya rindu. "Mei sudah coba telpon tapi ga diangkat, udah kirim pesan juga tapi kayaknya ga dibaca." ucap Mei, kemudian tersenyum pada pelayan yang baru saja meletakkan makanan di atas mejanya. "Mas, harus menalak Tara, apalagi dia sudah meninggalkan Mas begitu saja, dosa lho Mas." ucap Mei memanasi. "Apa jangan-jangan dia punya pacar Mas sebenarnya? atau bisa jadi dia selingkuh dari kamu gitu Mas, dapat yang kaya mungkin, makanya dia pergi, dia ga perlu Mas lagi apalagi Mas cuma main-main dengannya." Entah kenapa Zaka tak suka dengan ucapan Mei, tapi Zaka juga membenarkan, bisa jadi seperti itu. Hati Zaka seketika panas. "Kirim pesan saja pada Tara, Mas." "Talak Tara, lewat pesan." suara Mei terdegar memaksa. Dengan cepat Mei mengambil ponsel suaminya yang terletak di meja. Membuka kunci lalu membuka ketik pesan. "Nih." Mei memberikan pada Zaka. Bagai kerbau dicucuk hidungnya, Zaka menuruti ucapan Mei. Kamu kemana saja, Tara? Tidak ada kabar berbulan-bulan. Kamu saya talak, mulai saat ini kamu dan saya sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi. Salam untuk Fia, semoga kalian selalu sehat. Sebelum memencet tombol kirim, Zaka terlebih dahulu menunjukkan ketikan pesannya untuk Tara. Mei membaca dengan seksama, lalu Mei menghapus kalimat terakhir. "Mereka pasti baik-baik saja, Mas. Apalagi kalau sudah dapat yang kaya." ucap Mei sambil tersenyum sinis. Klik.. Mei memencet tombol kirim. "Semoga Tara baca ya Mas." "Ayo sekarang kita makan." Mei menyantap makanannya dengan lahap, sedangkan Zaka sudah tak bernafsu, hatinya mendadak perih, membayangkan Tara pergi dengan lelaki lain. Benarkah Tara berselingkuh? **** Disaat yang bersamaan, setelah menyusui Yusuf dan menyuapi Fia, iseng Tara membuka ponselnya yang sudah lama tidak dia aktifkan. Tara berharap Zaka mencarinya, jika Zaka benar-benar mencarinya, biarlah dia mengalah pulang, kembali pada Zaka. Apalagi sekarang ada Yusuf, buah dari pernikahan siri mereka. Mungkin dengan hadirnya Yusuf, Zaka bisa sedikit lebih memperhatikannya. Jujur Tara pun merindukan suaminya. Ponsel kekinian yang bermerk S****G itu pun menyala, sedikit senyumnya mengembang, menanti-nanti apakah ada pesan masuk dari Zaka. Loadingmya cukup lama, apalagi memang sudh tujuh bulan ini tidak dia aktifkan. Satu persatu pesan masuk, paling banyak dari operator, ada dari bu Yosi tetangganya, bu RT dan murid lesnya, Tara membuka satu persatu pesannya. Membalas singkat pesan mereka, hatinya senang membaca pesan singkat dari mereka. Semakin Tara menggeser layarnya ke atas, semakin bertambah pesan masuk, ada dari Zaka dan Mei. Senyumnya terbit, Zaka ternyata mencarinya, hatinya seketika berbunga, saat membaca pesan Zaka yang menanyakan dirinya ada dimana. "Saya akan pulang Mas." gumamnya pelan, sambil melirik Yusuf yang tertidur pulas. "Tak lama lagi, kamu akan bertemu kembaranmu Mas." Tara mengulum senyum. Baru saja hendak mematikan ponselnya lagi, tiba-tiba. Cliing. Pesan masuk lagi dari Zaka. Mata Tara berbinar. Dengan gemetar Tara membukanya. "Kamu ke mana saja, Tara? Tidak ada kabar berbulan-bulan. Kamu saya talak, mulai saat ini kamu dan saya sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi." Praaakk! Ponsel Tara terlepas dari tangannya, dan tergeletak mengenaskan di lantai kamarnya. Tara memegang dadanya sakit. Tara sesegukan luruh di lantai kamarnya, semua sudah berakhir, bahkan Zaka tidak akan pernah tahu dia memiliki seorang anak yang sangat tampan. Tara meringkuk di atas ranjang. "Raaa ... pamanmu pulang!" teriak bapak Tara dari luar kamar. Biasanya sore gini, saat pamannya pulang dari kebun sawit, Tara akan bergegas menyiapkan teh dan cemilan ubi rebus. Suara isakan Tara terdengar sayup-sayup di balik pintu, pak Danu kaget, lalu pelan membuka pintu kamar anaknya, dan menatap kaget melihat Tara meringkuk di atas ranjang, bahkan Yusuf menangis kencang, Tara tetap tersedu. Erik yang baru saja sampai rumah, ikut melihat kejadian itu dari depan pintu. Bapak menghampiri Tara, "Kamu kenapa, Nduk?" bapak mengusap kepala Tara yang tidak tertutup jilbab, rambut ikal hitam panjang bergelombang terpampang nyata di depan mata Erik. Erik belum pernah melihat rambut Tara selama ini, membuat hatinya semakin berbunga, saat tak sengaja melihat mahkota keponakannya itu. "Mas Zaka menceraikan Tara, Pak. Lewat HP," lirih Tara semakin terisak. "Apa?" Pak Danu memegang dadanya sakit,. Brruug... Pak Danu jatuh pingsan. "Baapaaakk!" jerit Tara. **** Pusara ayahnya kini sudah tertutup. Ya, Pak Danu terkena serangan jantung saat mendengar ucapan Tara. Dan tak tertolong, saat di rumah sakit, hanya bertahan setengah jam, lalu pak Danu pergi meninggalkan Tara juga kedua cucunya untuk selama-lamanya. "Pak, maafin Tara, semua karena Tara. Tara selalu menyusahkan Bapak. Maafin Tara Pak. Ya Allah ... Bapak jangan tinggalin Tara dan anak-anak, Tara gak punya siapa-siapa lagi Pak, bangun Pak, ya Allah Bapaaak! jangan pergi, Tara ikut Pak, Tara jangan ditinggal ... ya Allah ya Allah!" Tara mengoceh histeris di depan pusara pak Danu, sambil memukul dadanya. Erik tampak menggendong Fia, sambil sesekali menyeka air matanya. Para tetangga datang melayat ke kuburan, bahkan Pak Lurah yang biasa memakai jasa Pak Danu untuk menyupir luar kota, ikut datang dan ikut menguburkan Pak Danu. Para tetangga menatap iba pada Tara dan anak-anaknya. Pandangan Tara mengabur, ia pingsan memeluk pusara Pak Danu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD