Nina menutup wajahnya dengan kedua tangan, malu dengan perbuatan mereka tadi sementara Arka moodnya sudah membaik dan tersenyum lebar, dia membelikan istrinya es krim di drive thru.
"Apakah semua pria selalu seperti itu?"
"Ya, kamu bisa masukan ke dalam rekomendasi novel. Pria pemarah akan tenang jika wanitanya membuka baju."
"Apakah kamu melakukannya dengan semua mantan kekasih kamu?" tuduh Nina.
"Tidak, aku tidak terlalu nafsu. Kami hanya berciuman dan berpelukan."
"Hah? Kenapa?"
"Karena tubuhku hanya untuk istriku."
Nina menatap tidak percaya Arka.
Arka tertawa. "Yah, silahkan menilai aku sepuasnya. Memang aku tidak suka memberikan tubuhku kepada wanita lain, aku tidak mau seperti ayah yang suka menebar benih."
Nina mengacak rambut Arka yang sudah berantakan. "Kamu memang berbeda dari dia sejak awal."
Wajah Arka berubah cemberut lalu merapikan rambutnya. "Aku memang berbeda dari dia."
"Tapi setidaknya kamu tidak menyakiti hati wanita, kamu selalu tegas menyatakan tidak suka."
Arka terkejut lalu suara klakson mobil belakang mengingatkannya, pegawai sudah menyiapkan semua pesanannya.
Nina bersandar di kursi. "Masalah saham yang anjlok-"
Arka menjalankan mobilnya lalu parkir tidak jauh, menoleh ke Nina. "Kamu tahu mengenai saham?"
Nina memutar bola mata. "Aku masih SMA tapi aku juga tidak buta soal saham, setidaknya aku rajin membaca dan belajar."
Arka menatap tidak mengerti Nina.
"Apakah kamu tahu cerita mengenai ayah kandungku?"
"Tidak, ibu juga tidak pernah cerita."
"Ayahku dulu punya perusahaan. Membuat sistem untuk wartel, hotel, rumah sakit dan perusahaan dagang lainnya. Sempat dikatakan satu-satunya orang Indonesia yang mampu bersaing dengan perusahaan software luar negeri." Nina meregangkan badannya ke depan. "Ayahku bukan orang yang jenius tapi orang yang ulet."
Arka sepertinya pernah mendengar hal ini.
"Hingga pada akhirnya dia bertemu dengan seorang wanita yang bekerja di perusahaan asing dan jatuh cinta lagi lalu meninggalkan ibu, aku dan adik."
Arka mengerutkan kening.
"Wanita itu adalah asisten kesayangan nenek kamu, Arka."
Arka terkejut.
"Tentu saja nenek setuju dan membantu wanita itu, menyelidiki latar belakang keluarga untuk menekan kami yang ternyata menjadi senjata makan tuan untuk dia."
"Kenapa bisa begitu?"
"Kakekku adalah sepupu jauh nenek kamu yang hartanya tiba-tiba direbut saat kedua orang tuanya meninggal dan tidak punya keluarga dekat, itu berarti keluarga Tsoejipto dari awal milik keluargaku." Nina menatap tajam Arka.
Mulut Arka menganga lebar setelah mendengar cerita dari Nina.
"Dengan kata lain, aku juga bisa memiliki motif untuk menghancurkan nenek tua itu dan mengambil alih atau menghancurkan perusahaan. Awalnya aku tidak masalah jika wanita tua itu mengambil perusahaan keluarga kakek dan mendepaknya ke militer tapi ternyata aku salah."
"Semakin aku diam, semakin semena-mena wanita tua itu. Dia bahkan berani menyentuh ayah kandungku dan menyuruhnya membuat pilihan. Harta atau keluarga, ayahku yang sudah dibutakan dengan harta tentu saja memilih pilihan pertama."
Arka bertanya ke Nina. "Berarti- alasan nenek tidak bisa menyentuh keluarga kalian adalah-"
"Karena dia akan selalu mengingat dosa terbesar keluarganya yang sudah mengusir anak yatim piatu dari rumahnya sendiri, semua anak-anaknya menjadi tidak beres karena karma buruk yang dia jalani. Bukan berarti aku menyumpahi keluarga kamu."
"Nina, kamu ingin merebut harta keluarga nenek?" tanya Arka tidak percaya. "Nenek sudah membangun pondasi di Indonesia dan tidak mungkin bisa diusir begitu saja."
"Aku akui nenek sangat cerdas dalam bisnis dan politik, aku juga tidak sebodoh itu. Tiba-tiba ingin merebut semua harta keluarga kalian." Nina mengangkat kedua bahu dengan santai.
"Jadi kamu sengaja menghindar untuk-"
"Aku tidak ingin melibatkan orang lain, apalagi kamu punya trauma sendiri."
Arka merasa ide Nina sangat keren, menatap takjub istri mungilnya. "Ternyata otak kamu tidak hanya soal erotis."
Nina memutar kedua bola mata lalu teringat dengan es krim dan segera menghabiskannya. "Aku membaca novel erotis bukan berarti ingin praktik langsung."
"Praktik ke aku tidak apa, sudah halal." Arka tertawa keras.
Nina menjadi malu dan mengalihkan perhatiannya ke jendela kaca.
"Jadi, kamu sudah sampai mana?"
Nina menoleh cepat ke Arka. "Kamu percaya semua ceritaku?"
"Tadi itu bohong?" Arka bertanya balik.
"Tidak bohong sih-" Nina menutup mulut dengan gugup. "Jadi kamu percaya semua ceritaku?"
Arka jadi bingung dengan reaksi Nina. "Bukankah kamu sengaja cerita supaya aku tahu?"
"Aku cerita hanya iseng saja, maksudku- aku tidak menyangka kamu percaya-"
"Apakah seharusnya semua yang kamu bicarakan rahasia?"
Nina mengangguk pelan.
Arka menyemburkan tawanya. "Bodoh!"
Nina menghabiskan es krimnya dengan gugup.
"Jika aku ikut ke dalam rencana kamu, boleh?"
Nina menatap ngeri Arka. "Tidak, jangan. Lebih baik tidak."
"Kenapa? Apakah karena aku cucu nenek?"
"Bukan, itu karena-"
"Jangan beritahu siapapun, siapa sebenarnya aku."
"Aku hanya ingin balas dendam kepada mereka yang sudah menyakiti keluargaku!"
Nina menggigit bibir bawahnya ketika mengingat kalimat itu.
"Kamu tidak bisa cerita?" tanya Arka. "Tidak masalah, suatu hari aku akan tahu semuanya."
Justru bahaya jika kamu mengetahuinya! teriak Nina di dalam hati.
Sampai akhir, Nina tidak cerita ataupun mengiyakan permintaan Arka untuk ikut ke dalam misinya.
Arka anak tunggal, jika terjadi sesuatu- tante Ayu pasti akan sedih sementara mama punya dua anak, jika terjadi sesuatu padaku- masih ada adik.
-----------
"Aiko, sudah sampai tahap mana hubunganmu dengan pewaris Tsoejipto?"
Aiko tersadar dari lamunan lalu menoleh ke ayahnya. "Ya?"
Ayah Aiko menatap tidak suka putrinya. "Kita sedang makan, bicara bersama keluarga. Kenapa kamu malah melamun?"
"Maaf."
Takeo tertawa. "Sudah, sudah. Aiko masih kecil, jangan terlalu ditekan."
Ayah Aiko menghabiskan sake di gelas mungilnya. "Kakak sepupu, Aiko masih jauh dari Reiko dan Fumiko. Aku ingin putriku memiliki sifat tegas mereka berdua sehingga tidak salah memilih."
Takeo mengedipkan mata ke Aiko. "Kita keturunan Jepang harus bertindak hati-hati di Indonesia, lagipula siapa yang berani menyakiti keponakanku?"
Ayah Aiko menegur putrinya di depan umum dengan suara keras. "Aiko, dengarkan paman kamu ini. Apakah kamu ingin menjadi anak perempuan tidak berguna?"
Reiko dan Fumiko saling bertatapan lalu menoleh ke ibu Aiko yang sedang memuji dan menjilat ibu mereka berdua. Mereka berdua menggeleng miris.
"Kakak sepupu, aku ingin menjadi kakak yang hebat. Aku merasa tidak mampu mengurus keluargaku sendiri."
"Haduh, jangan bicara seperti itu. Kita masih keluarga dan saling terhubung, jika Aiko benar-benar mencintai seorang pria, paman ini bersedia membantu."
"Kamu dengar itu, Aiko? Jangan kecewakan pamanmu!" tegur ayah Aiko. "Beritahu pamanmu jika ada masalah."
Aiko mengangguk pelan sambil menundukkan kepala, tidak berani membantah perintah sang ayah.
Reiko bertanya pada Fumiko dengan suara rendah. "Keluarga penjilat ini- apakah mereka sedang ingin pamer karena berhasil menjalin hubungan dengan keluarga Tsoejipto?"
Fumiko mengangguk kecil. "Terlihat jelas jadi tidak perlu ditanyakan lagi."