SEPULUH

1043 Words
Arka semakin kesal ketika Aiko yang terang-terangan menyatakan suka dengan suara keras, rekan-rekan di sekitar ruangannya jadi mendengar. "Aiko, aku tidak tertarik padamu. Kita baru saling mengenal." "Kalau tidak salah, ada namanya kenal setelah menikah. Aku tidak keberatan." "Memangnya apa yang diberikan nenekku kepada orang tuamu?" "Ya?" "Tidak mungkin kamu seperti ini jika tidak ada sesuatu." Aiko menggigit bibir bawahnya, enggan bicara yang sebenarnya. "Aku hanya jatuh hati saat pandangan pertama, aku hanya ingin mengejar cinta pertamaku." Arka tahu kebohongan Aiko lalu menghubungi temannya. "Aku mau ke tempat klien, bisa tolong urusi tamu yang tidak diundang ini?" "Arka, kamu keterlaluan." Aiko menjadi sedih. Arka tidak peduli dan segera membereskan mejanya, tidak lupa membawa bekal makan dari ibu mertua. Aiko berdiri dan menghalangi Arka. "Kenapa kamu keras kepala seperti ini? Harusnya terima saja semua yang akan diberikan nenek kamu. Aku-" "Tidak perlu ikut campur masalah orang lain," ucap Arka dengan dingin lalu pergi meninggalkan Aiko. Aiko berteriak. "Kamu akan menyesalinya!" Arka tidak peduli. ------ Nina mengerutkan kening ketika melihat Arka duduk di depannya dan makan dengan lahap. "Kenapa kamu di sini? Bukannya malah kerja. Katanya mau nyenengin aku." "Ya makanya itu aku ke sini, menunjukkan batang hidungku saja bisa buat kamu pamer. Seumur hidup jomlo kan?" Nina menusuk daging ayamnya dengan kesal. "Kamu malah buat aku kesal." Arka tidak peduli dan konsentrasi makan, siang ini dia sudah menyuap penjaga sekolah supaya bisa makan siang bersama Nina di seberang sekolah. Nina memperhatikan notifikasi handphone dan tersenyum lebar. "Hei, aku baru saja ditransfer uang. Kamu mau apa? Aku bisa traktir kamu." Arka menggeleng ngeri dengan mulut menggembung penuh, setelah mengunyahnya sampai habis, dia mulai mengomeli Nina. "Kamu gila ya? Makanan manapun kalah dengan buatan mertua, kamu harus bersyukur punya mama yang bisa masak." "Hm." "Tidak usah pesan-pesan makanan, cukup makan ini saja sudah memuaskan batinku." "Kalau begitu nikah saja sama mama." Arka melotot ngeri. Nina terkekeh geli. "Kenapa? Kan kamu suka makanannya." "Tidak!" Nina tertawa. Arka menyadari sesuatu di hidung Nina lalu cepat-cepat mengambil tisu dan mengelapnya. "Kamu mimisan." Nina terkejut dan cepat-cepat menutupinya. Arka menjadi panik. "Kita ke dokter sekarang." Nina menggeleng. "Ini hal biasa, aku mudah lelah jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan." "Tapi-" "Tidak apa-apa." Arka kembali duduk dan menatap cemas Nina. "Sejak kapan?" "Hm?" "Sejak kapan kamu mulai mimisan begitu?" "Mungkin sejak aku mengejar tulisan di novel. Ah, menyebalkan juga sih tapi ada senangnya kalau sudah dapat uang." Tangan Arka yang panjang, menepuk kepala Nina dengan lembut. "Jangan capek-capek, ada suami yang selalu setia di sini." Nina menepis tangan Arka. "Aku sudah terbiasa, jangan coba-coba menjadi pahlawan kesiangan." Arka tidak mencoba berdebat. Dia akan mecoba dekati Nina perlahan-lahan supaya tidak seperti ini lagi. Biar bagaimana pun perceraian adalah pilihan terakhir dan siapa tahu dia bisa mendidik Nina dengan baik. "Nin." "Hm?" "Kok hm? Yang sopan dong." Nina bergidik ngeri mendengar ucapan Arka. "Hei, tidak usah bersikap seperti itu. Aku cuma mau bilang, sekarang kan sudah punya suami meskipun belum resmi secara negara. Jadi kalau kamu ingin pose-pose begitu, lakukan padaku saja." Nina menyemburkan tawanya. "Kita ini musuhan, terus gencatan senjata di tempat tidur?" Arka menggeleng pasrah. Pemikiran Nina tidak seperti anak-anak remaja lainnya, lagipula mereka pasti sedang dalam masa senang melakukan ini itu terutama soal s*x. "Boleh, kalau begitu." Arka tidak percaya dengan pendengarannya. "Tapi aku tidak mau kehilangan perawan sebelum resmi menikah secara negara." Arka memberikan hormat ala tentara. "Siap." Nina dan Arka tertawa bersama. Kebahagiaan Arka tidak berlangsung lama ketika melihat ibunya kembali berlutut di depan sang nenek lalu kakak laki-lakinya sudah pulang dan duduk berlutut di belakang ibu bersama istrinya, Aiko berdiri di belakang sofa nenek. Tadinya Arka tidak ingin pulang ke runah, tapi kenapa perasaannya berubah gelisah ketika ibunya tidak bisa dihubungi. Nenek tersenyum ramah ketika melihat Arka. "Cucuku, kamu sudah pulang?" Arka tidak peduli pada neneknya lalu segera membantu ibunya berdiri. "Bu." Ibu Arka tersenyum. "Tidak apa, ibu yang salah karena tidak tahu posisi kamu tadi siang." "Apa?" "Itu-" Nenek Arka menghela napas dramatis. "Aiko bilang, kamu meninggalkannya untuk bekerja, padahal itu jam makan siang." Arka menatap tajam Aiko yang mengerut di belakang sofa nenek Arka. "Dia punya niat baik dan nenek tidak bisa menghentikannya tapi tidak disangka kamu seperti itu, nenek hanya bertanya kepada ibumu dan ternyata tidak tahu. Sebagai seorang ibu, seharusnya dia tahu posisi keberadaan putranya yang gila kerja." Arka membantu ibunya duduk di sofa lalu berkata kepada Arya. "Kenapa kakak ikut duduk? Kapan kakak pulang?" Arya segera membantu istrinya berdiri lalu duduk di sofa seberang. "Begitu pulang, aku melihat ibu dihukum nenek. Aku sendiri tidak tahu kamu dimana jadi lebih baik menjaga ibu dari belakang." Nenek mereka berdua tersenyum penuh arti. "Kalian berdua sangat menyayangi ibu tapi memiliki jalan pemikiran yang berbeda. Arka, kapan kamu bekerja di tempat nenek?" Arka duduk di samping ibunya dan tidak menjawab, menatap Arya yang peduli pada istrinya sementara istri Arya sesekali melirik Arka. Arka mengalihkan tatapannya ke nenek. "Kenapa sampai melibatkan ibu sejauh ini? Nenek, ibu tidak tahu apapun." "Tidak mungkin dia tidak tahu apapun, menikah dengan ayah kamu saja, dia tahu siapa ayah kamu. Jangan bersikap seolah ibumu adalah wanita suci." Arka menatap benci neneknya. "Aku ingin melihat wanita yang bernama Nina ini, dia pengarang komik terkenal bukan?" Arka terkejut. "Kenapa? Kamu terkejut?" Bukan, bukan itu yang membuat Arka terkejut, kenapa neneknya yang memiliki kekuasaan dan kekayaan besar di Indonesia malah tidak tahu siapa sebenarnya Nina? Bukankah Nina juga penulis novel erotis cukup terkenal? Atau jangan-jangan neneknya ini menjadikan hal itu sebagai ancaman? Sementara Nina yang melihat laptop dan bergambar cctv rumah Arka, menatap dingin wanita tua yang sudah menghancurkan keluarganya. Sampai kapan pun wanita tua itu tidak akan berani menghadapi mamanya karena takut akan diungkit kembali. Nina jadi paham jalan pikiran tante Ayu untuk melindungi Arka. "Laki-laki yang dilindungi wanita? Lucu juga!" Tidak lama muncul gambar wajah. "Sudah cukup?" Nina nyengir. "Terima kasih ya, Ka." "Hal sepele, lagipula tidak ada kode keamanan rumit di rumahnya jadi mudah aku retas. Aku jemput adik dulu, kamu hati-hati." "Ya." Layar laptop kemudian mati. Nina menghabiskan segelas coca cola dan bersendawa keras lalu merebahkan badannya dan menatap langit kamar. Jaka dan Nina bisa dibilang teman sejak sd, hanya teman satu sekolah. Tapi persamaan mereka adalah satu, mereka berdua sama-sama korban dari salah satu perusahaan besar yang dipimpin nenek Arka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD