Fenny masih berdiam di meja kerjanya. Ia masih tak percaya ingatan yang selama ini berusaha untuk dikubur sedalam mungkin akhirnya naik ke permukaan. Dan ia juga tak percaya telah mengatakan semuanya pada Pak Dika. Orang yang bahkan bukan keluarganya. Lelaki itu, lelaki yang selalu mengikutinya di masa lalu. Ia bahkan tak pernah mengenalnya, nama pun ia tak tau. BRUKK “Fen, udahan dong ngelamunnya! Pulang nih! Pulang!”, suara berisik Dista akhirnya datang juga. Suara yang selalu bisa membuatnya tak kesepian. Karena suara seorang Dista sendiri sama seperti tiga orang yang bicara bersamaan! Beberapa dokumen yang baru saja diletakkan Dista di depannya membuatnya menghela nafas. Ia sadar, bahwa sejak tadi Distal ah yang mengerjakan beberapa pekerjaanny. Ia memang sahabat yang terbaik. “Ma

