“Pa, Zahra nebeng ke kampus boleh, ya?” tanya gadis cantik yang telah siap untuk pergi ke kampus. Gadis itu menggulung rambutnya yang menampilkan leher jenjang miliknya. Mereka akan sarapan bersama. Kegiatan yang tak boleh dilewatkan oleh semua anggota keluarga. Dan ini sudah peraturan dari Vanya yang tak bisa diganggu gugat.
Deka pun menoleh kepada putrinya yang selalu terlihat cantik seperti biasanya. Gadis itu sedang memilih sarapan apa yang akan dia makan kali ini. “Maaf, Sayang, Papa nggak bisa antar kamu ke kampus. Pagi ini Papa harus siapkan bahan untuk meeting nanti,” jawab Deka.
Mendengar nada penolakan dari sang papa membuat gadis itu refleks menoleh. Haruskah dia naik grab? Padahal saat ini dia sedang berhemat karena ingin membeli barang yang sangat dia inginkan. Meskipun dia tahu jika Deka dan Vanya bisa saja membelikan barang itu, namun dia merasa tak enak dengan kedua orang tua angkatnya itu.
“Yahh. Kan, ada Om Septian, Pa. Kenapa Papa yang siapin bahan meeting?” tanya gadis itu mengingat sosok sekretaris yang selalu ada di samping papanya itu.
“Om Septian sedang menemani istrinya yang akan melahirkan. Papa ijinkan dia ambil cuti selama dua minggu. Jadi, selama itu pula Papa akan handle semua pekerjaan dia,” jelas Deka.
“Mwo? Istrinya Om Septian akan melahirkan? Yang istrinya dari Korea itu? seriusan, Pa?” tanya gadis itu beruntun. Mendengar pertanyaan dari putrinya membuat Deka seketika tertawa ringan. Putrinya ini memang sangat antusias sekali jika menyangkut negara yang terkenal dengan K-POP itu.
“Iya.”
“Wah! Ini berita bagus, Pa!” pekik gadis itu. “Zahra nggak bisa bayangin bakal gimana wajah anak mereka. Pasti imut dan lucu,” imbuh Zahra dengan raut wajah berbinarnya. Melihat hal itu membuat Vanya dan Deka terkekeh geli.
“Selamat pagi, Ma, Pa,” sapa sebuah suara membuat keceriaan yan tadi ada perlahan memudar. Zahra pun memilih diam karena tak ingin membuat pemuda itu marah lagi. Devan telah siap dengan setelan jasnya. Pemuda ini memang sudah diberi kepercayaan oleh Deka untuk memegang salah satu perusahaan mereka. Kadangkala Devan juga akan berada di perusahaan pusat untuk menggantikan papanya ketika Deka tidak bisa meng-handle perusahaannya sendiri.
Vanya pun mengambilkan putranya sarapan. Hal ini sudah wanita itu lakukan bertahun lamanya meskipun terkadang Devan sudah meminta sang mama untuk tidak melakukan hal itu mengingat dirinya sudah dewasa. Akan tetapi, bagi Vanya kedua anaknya tetaplah seperti anak kecil.
“Devan ... sebelum ke kantor kamu antar Zahra dulu ke kampus,” perintah Deka. Mendengar perintah sang papa membuat pergerakan pemuda itu yang akan menyendokkan makanannya pun terhenti. Zahra yang melihat wajah pemuda itu yang selalu dingin pun membuatnya menjadi gugup. Pasti Devan akan sangat membenci dirinya lagi.
“Nggak usah, Pa. Zahra bisa naik ojol atau grab,” tolak Zahra sebelum pemuda itu semakin marah. Gadis ini cukup tahu diri dan paham betul tabiat dari kakaknya itu bahwa Devan sangat anti untuk berdekatan dengannya.
“Tidak, Zahra. Kamu berangkat sama Devan saja,” balas Deka. “Devan, kamu mau antar Zahra ke kampus, bukan?” tanya pria itu beralih kepada sang anak. Deka tahu bahwa putranya itu tidak akan menolak perintahnya.
“Hmm.” Hanya sebuah deheman, namun mampu membuat gadis itu dilanda kegelisahaan. Entah mengapa ketika berada di dekat Devan dia selalu merasa takut, mungkin karena aura yang dikeluarkan oleh pemuda itu yang mana membuatnya seperti ini.
Mereka pun makan dalam diam. Zahra diam-diam memikirkan hal apa yang akan dia lakukan nanti ketika berada satu mobil dengan pemuda ini. Ditambah lagi dia harus kuat dengan segala kata-kata pedas yang menyakitkan dari kakaknya ini.
Setelah mereka selesai makan, Zahra segera mengikuti langkah Devan menuju ke mobilnya. Sejauh ini dia masih mencoba berada di zona aman. Ini terlalu pagi untuk mendengar nada pedas dari kakaknya. Devan pun mulai mengendarai mobilnya meninggalkan rumah dengan mobil Deka yang lebih dulu berangkat di depan mereka.
“Devan ... bolehkah kita berhenti sebentar di tukang bubur di depan komplek?” tanya Zahra. Dia mengingat pesanan dosen menyebalkannya itu. Lihatlah sekarang dia harus melihat keterdiaman Devan yang mana membuatnya menjadi takut sendiri. Gadis ini berada di posisi yang teramat salah. Maju salah, mundur pun juga salah. Jika dia tidak membelikan dosennya bubur, maka nilainyalah yang menjadi taruhannya. Dia sendiri tak yakin jika Farhan mau mendengar alasannya ini. Namun, jika dia membelikan dosennya itu bubur, maka dia harus berhadapan dengan Devan. Memang seharusnya dia naik ojol saja tadi.
“Atau aku turun di depan komplek saja. Setelahnya aku akan pesan ojol, kamu ke kantor saja. Lagi pula Papa nggak akan tau,” imbuh gadis itu yang masih saja tak dijawab oleh Devan. Pemuda itu fokus dengan jalanan kompleknya hingga ketika mobil itu keluar dari jalanan komplek, Devan memberhentikan mobilnya. Seakan mengerti bahwa dia harus segera turun, Zahra pun bergegas turun.
“Terim kasih. Aku janji nggak akan bilang ke Papa,” kata gadis itu sebelum keluar.
“Aku tunggu.”
Gerakan Zahra seketika terhenti ketika mendengar perkataan kakaknya itu. sepertinya ada yang salah dengan Devan. Namun, tak ingin membuat pemuda itu semakin marak, Zahra pun segera memesan bubur yang diminta dosennya. Besok-besok dia tidak akan membeli bubur ketika bersama dengan Devan karena hal itu membuatnya menjadi gugup dan takut. Untungnya belum ada orang yang beli sehingga Zahra tak butuh waktu lama untuk menunggu buburnya. Setelahnya dia segera masuk ke mobil lagi dan Devan segera menjalankan mobilnya kembali. Tak ada percakapan di antara keduanya bahkan ketika mereka telah sampai di area kampus. Kampus ini adalah tempat yang sama di mana Devan kuliah, jadi dia sudah sangat hapal.
“Terima kasih atas tumpangannya dan maaf sudah merepotkan,” ucap Zahra kepada Devan yang sama sekali tidak pemuda itu balas. Zahra pun segera keluar dari mobil dan menajuh dari Devan, namun pemuda itu bukannya segera berangkat, dia malah memperhatikan gadis itu.
“Zahra Adia Putri.”
Panggilan itu membuat si gadis berhenti melangkah dan Devan sendiri juga mendengar ketika nama sang adik disebut. Terlihat seorang pria muda dengan kemeja serta celana bahan miliknya menghampiri tempat gadis itu berdiri.
“Kamu sudah membelikan saya bubur?” tanya Farhan yang sama seperti Zahra baru saja sampai di kampus.
“Sudah, Pak. Ini bubur yang Anda pesan,” ucap Zahra sambil menyerahkan kantong kresek yang berisi bubur milik dosennya ini. Devan yang melihat itu dibalik kaca mobilnya pun tersenyum remeh. Ternyata gadis itu sudah berani menggoda dosen di sini. Tentunya dia tidak akan membiarkan keluarganya mendapat cap buruk hanya karena tindakan bodoh gadis tak tahu diri ini. Dengan segera Devan meninggalkan area kampus. Dia akan memberi gadis itu pelajaran nanti.