PART 18

1089 Words
"Sam, aku mau bicara sebentar bisa? Di sini aja ngga apa kok." Dengan ragu Sam mengangguk. Jo menutup pintu kelas Sam dari dalam lalu berjalan ke arah Sam yang baru saja selesai menbersihkan papan tulis. "Kamu kenapa Sam?" Tanya Jo heran melihat Sam sedikit takut menatapnya. "Ngga apa kok kak," Sam memaksa tersenyum. "Kamu jangan bohong, kakak tau belakangan ini kamu menjaga jarak dari kakak, apa karena kejadian waktu itu? Atau Sammy udah banyak cerita ke kamu?" Sam hanya terdiam dengan wajah menunduk. "Sam, kamu percaya kan orang bisa berubah?" "Dia sempat bilang menyesal dan akan berubah saat gue berusaha menjauhi dia setelah dia berbuat kasar ke gue, namun kenyataannya itu hanya omongannya saja." Tiba-tiba Sam teringat ucapan Dara dua hari lalu saat Sam menceritakan sulitnya dia menjauhi Jo. "Kakak suka sama kamu Sam," Jo memegang kedua pundak Sam dan membuat Sam bersandar di papan tulis, "jadi kakak mohon jangan jauhi kakak seperti ini, kakak janji ngga akan berbuat hal seperti yang dikatakan Sammy, kakak tahu kamu juga suka kan sama kakak?" Sam terdiam sebentar, "maaf kak, tapi Sam ngga bisa balas perasaan suka kakak." Jawab Sam masih menundukan wajahnya. "Kenapa? Karena ucapan Sammy? Kakak akan berubah Sam! Kakak janji ngga akan berbuat kasar sama kamu! Kamu percaya kan?" "Bukan, bukan karena itu kak," Sam memberanikan diri menatap Jo, "tapi Sam memang ngga pernah ada perasaan spesial ke kakak!" "Bohong," ekspresi Jo berubah, "kamu pasti bohong kan? Kakak tahu kamu suka kan sama kakak tapi karena bualan Sammy kamu jadi bilang begini, ya kan Sam?!" "Ngga kak! Kak Sam ngga ada hubungannya dengan jawaban Sam tadi! Ngga sama sekali!" "Oke, kakak akan pastikan sendiri." Jo mendekatkan wajahnya dan akan mencium Sam namun Sam mengelak. Sam tidak menyangka kalau Jo akan senekat itu. "Jangan Kak!" Sam mulai merasa takut namun Jo masih mengunci kedua pundaknya. "Izinin kakak buat menyadarkanmu Sam kalau kamu juga punya perasaan yang sama ke kakak Sam!" "Ngga kak! Sam berkata jujur! Sam memang nyaman dekat sama kakak tapi bukan perasaan yang seperti kak Jo pikirkan!" Jo menggeleng, "ngga, ngga mungkin, kamu pasti bohong!" "HEH!" Jo dan Sam menatap ke arah pintu kelas bersamaan. "Kakak." Gumam Sam. "Lo apain adek gue hah?!" Zio melepaskan cengkraman Jo dipundak Sam. "Gu–Gue cuma bicara dengan Sam." "Bicara ngga harus diruang tertutup gini kan pake acara deket-deket, ayo Sam kita pulang." Zio menggandeng pergelangan tangan Sam lalu membawa adiknya pergi. Sebelum masuk ke mobil, Zio memeluk erat Sam, "kamu ngga diapa-apain kan sama cowo itu?" Sam membalas pelukan kakaknya dan menggeleng, "ngga kok kak." Zio bernafas lega lalu membawa Sam masuk ke dalam mobil. . . Sudah ada Sammy dan Arga di rumah Sam saat kakak adik ini sampai. "Gue kangen banget deh sama Sam!" Arga akan memeluk Sam namun segera dicegah oleh Zio. "Jaga jarak lo!" Perintah Zio. "Orang gue kangen masa ngga boleh sih?!" Protes Arga. "Adek gue punya alergi sama playboy." Arga berdecih kesal. "Kak Arga kemana aja? Kok ngga pernah kelihatan?" Tanya Sam setelah duduk disamping Zio. Arga langsung tersenyum sumringah, "Sam kangen ya sama kakak?" "Ngga sih, malah sempet lupa." Jawab Sam dengan wajah polos, Zio dan Sammy menahan diri untuk tidak menertawakan Arga yang langsung lesu. "Orang cantik mulutnya bisa pedes juga yah." Gumam Arga dengan nada lesu. "Kejujuran itu terkadang menyakitkan Ga." Celetuk Sammy. "Diem lo!" Arga sudah menekuk wajahnya. Sammy terkekeh pelan begitu juga Zio. Sam langsung berpamitan ke kamar untuk berganti pakaian. "Oh iya Sam, tadi gue ketemu Jo, gue ngga tau dia apain Sam tapi kayaknya Sam takut waktu gue temuin dia lagi berdua Jo." Ucap Zio. "Jo?" Gumam Arga. "Iya Jo, dia mantan adek gue." Jelas Sam. Arga mengangguk, "memang itu anak bermasalah?" "Dia anaknya kasar, kelihatannya manis tapi emosian." "Dan adek lo pernah dikasarin sama dia?" Sam mengangguk. "Sekarang Sam juga deket sama dia?" Ganti Zio yang mengangguk. "Wah ngga bener nih, lo harus jaga baik-baik si Sam Zi, jangan sampe kenapa-kenapa." "Emang kayak gitu Ga! Cuma karena mereka sudah sempet deket jadi agak sulit untuk Sam menjauhi begitu saja si Jo." "Iya juga sih, gue mau deh jadi penjaga adek lo, jadi penjaga hatinya juga mau." Ucap Arga dengan senyum sumringah. "Ngga rela gue!" Sewot Zio. "Dih pelit bener." "Jangan berani lo deketin adek gue." Ancam Zio. "Kalo Sam yang deket diizinin, giliran gue susah bener." "Beda cerita!" "Yaelah Zi, gue kan udah bilang tobat kalo dapetin adek lo, beneran deh." "Ngga akan gue izinin sampe bikini bottom pindah ke selat sunda, ngga akan!" Arga memanyunkan bibirnya. "Udah debatnya? Gue laper nih." Sammy berdiri lalu mendahului Zio dan Arga ke ruang makan. . . Sejak kejadian di kelas saat itu, Sam mulai lebih menjaga jaraknya dengan Jo, Dewi juga membantu setelah Zio menjelaskan pada Dewi. Berkat bantuan Dewi dan Raka, Sam jadi tidak pernah lagi bertemu Jo dalam beberapa hari ini. Namun Sam tetap harus waspada karena Dewi dan Raka tidak bisa berada disampingnya selama seharian penuh. Seperti sekarang ini, Dewi harus menemui penjaga perpustakaan saat jam pulang sekolah dan Raka ada rapat OSIS. Maka Sam harus melindungi dirinya sendiri pada jam pulang sekolah. "Sam tolong bantu bawakan buku tugas ini ya ke meja Ibu." Pinta seorang guru sebelum meninggalkan kelas karena bel pulang sudah berbunyi. "Baik bu." Sam membawa tumpukan buku mengikuti gurunya ke ruang guru. Setelah menaruh di meja yang ditunjukan, Sam segera keluar dengan langkah cepat karena ia yakin kakaknya sudah berada di depan gerbang. Namun langkah buru-buru Sam dihentikan saat ada yang menariknya dan membuatnya bersandar didinding. Dua buah lengan mengurung Sam. "K–Kak Jo?" Sam terlihat takut, ini adalah hal yang ia hindari selama ini. "Ka–Kakak mau apa?" Jo menatap Sam dengan smirknya, "mau kamu." Sam semakin takut menatap Jo. "Kamu selama ini menjauhi kakak, kamu tau ngga kakak itu suka banget sama kamu Sam dan kakak yakin kamu juga demikian jadi kakak mau menyadarkanmu akan perasaanmu." Perlahan Jo mendekatkan wajahnya pada Sam, Sam memejamkan erat matanya lalu memberanikan diri menginjak kuat kaki Jo. "Argh!" Jo melepas lengannya karena nyeri yang menjalar dikakinya, Sam mengambil kesempatan untuk kabur. "s**t!" Umpat Jo lalu mengejar Sam. Koridor sudah nampak sepi hingga sampai ke gerbang. Namun Sam tidak melihat siapapun ada di gerbang. Gawat! Apa kak Zio belum dateng?! Sam mempercepat larinya namun Jo berhasil menyusul dan meraih pergelangan tangan Sam. "Jangan kak! Sam mohon jangan apa-apain Sam!" Sam merasakan matanya memanas, rasa takut semakin menghinggapinya. "Kakak ngga akan apa-apain kamu kok, kakak cuma––" BUGH! Sam terkejut, Jo tersungkur dihadapannya. "Udah gue bilang buat jauhin Sam kan?!" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD