Sam baru saja menyelesaikan makan siangnya, ini hari keduanya di rumah sakit dan menurut ucapan dokter, besok Sam sudah diizinkan meninggalkan rumah sakit.
Luka di pipi Sam sudah membaik namun masih ditutup plester, luka diperutnya juga demikian.
"Hai Sam!" Dara masuk sendirian ke kamar Sam masih mengenakan seragam sekolahnya.
"Lo baru pulang sekolah?" Tanya Sam.
Dara mengangguk dan berdiri di samping Sam.
"Udah makan?"
"Udah kok Sam tadi di sekolah sebelum ke sini," Dara melirik ke meja di seberang tempatnya berdiri, "lo juga baru selesai makan siang?"
Sam mengangguk.
"Kok sepi Sam? Kakak lo mana?"
"Tadi habis bantuin gue makan langsung ke kantin katanya laper."
Dara mengangguk paham.
"Dar, temenin ke taman yuk, gue bosen nih di kamar."
"Emang lo udah boleh jalan-jalan?"
Sam mengangguk, "udah kok."
Dara memicingkan matanya, "ga boleh, lo harus pake ini." Dara mengambil kursi roda yang berada di sudut kamar rawat Sam.
Sam terkekeh pelan, "iya deh."
Dara membantu Sam duduk di kursi roda lalu perlahan mendorongnya keluar dari kamar rawat Sam.
"Besok lo udah boleh pulang kan?" Tanya Dara sambil mendorong kursi roda Sam menyusuri koridor rumah sakit.
"Iya, tadi dokter sih bilangnya gitu."
Dara menghentikan kursi roda Sam setelah sampai di taman dan mengunci rodanya lalu duduk di kursi sebelah Sam.
"Dara."
"Ya?"
"Gue boleh tanya soal Jo?"
Dara terdiam sejenak lalu tersenyum, "tentu! Lo mau gue ceritain semua?"
Sam menatap Dara, "lo yakin?"
Dara mengangguk masih dengan senyuman, "tenang aja, gue mau ceritain semua kok."
Sam ikut tersenyum dan mengangguk.
"Kami ketemu di sekolah yang sama waktu SMP, waktu itu dia kakak kelas gue. Kelas 2 SMP gue ikutan kegiatan cheers dan Jo kapten basket sekolah, sejak aktif gue mulai kenal dia dan makin dekat lalu mulai jadian."
"Kesan pertama lo waktu dekat sama dia?"
"Dia orang yang ramah, baik, perhatian, pokoknya benar-benar seperti cowo yang sempurna, ditambah lagi penampilannya yang keren sebagai kapten basket, ngga sedikit cewe yang mengaguminya termasuk gue waktu itu."
Dara terdiam sejenak dan melanjutkan kembali ceritanya, "singkat cerita tiga bulan setelah kami pacaran, saat itu dia sedang sibuk mempersiapkan ujian akhir, Jo berubah drastis jadi lebih sensitif, gue denger beberapa nilainya ada yang turun karena terlalu aktif di basket sampai lupa membagi waktu padahal pelatih basket udah minta agar dia mulai fokus aja ke ujian."
"Lalu?"
"Dia sering melampiaskan kemarahannya ke gue, bahkan ngga segan buat jadi kasar, gue ngga berani bilang ke kak Sam karena di sisi lain gue masih sangat sayang sama dia tapi--"
Sam masih menyimak cerita Dara.
"Pada akhirnya kak Sam meminta kami putus saat gue sempat harus menginap di rumah sakit, Jo ngga sengaja mendorong gue waktu kita ribut dan kening gue terbentur sudut meja hingga harus menerima beberapa jahitan, tapi bekasnya udah hilang kok," Dara menyentuh keningnya yang ditutupi poni.
"Gue ngga tau seberapa dekat kalian sekarang Sam, tapi gue ngga mau apa yang gue alami akan terjadi sama lo."
Sam terdiam menatap ke depan.
"Lo udah suka sama Jo, Sam?"
Sam kembali menatap Dara dan menggeleng sekilas, "dibanding suka mungkin lebih tepat dikatakan nyaman makanya kemarin gue sempat ngga percaya waktu kak Sam cerita soal kak Jo ke gue."
Dara menyentuh pundak Sam, "gue juga merasakan hal itu kok awal kenal dengan Jo."
Sam tersenyum kecil.
"Yuk Sam balik ke kamar, nanti kak Zio nyariin lo." Ajak Dara.
Sam mengangguk, Dara kembali membawa Sam kembali ke kamar rawatnya.
"Dara." Panggil Sam sebelum meninggalkan taman.
"Bagaimana lo bisa lepas dari kak Jo?"
"Waktu itu kan dia mulai sibuk dengan ujian setelah kami putus, sampai dia pergi ke SMA gue ngga pernah temui dia lagi, bahkan sampai sekarang."
Sam terdiam sambil Dara melanjutkan membawanya kembali ke kamar rawat.
"Kalian dari mana?" Tanya Zio begitu Dara dan Sam masuk ke kamar.
"Tadi Sam minta Dara temenin Sam ke taman kak, bosen banget di kamar."
Zio menggendong adiknya ke tempat tidur dan Dara menggantungkan kembali infus Sam.
"Tadi Sam telpon, nanti malam baru ke sini sekalian jemput Dara, ngga apa?" Tanya Zio setelah membenahi selimut Sam.
"Ngga apa kak, gue bawa baju ganti kok." Sahut Dara dengan senyum sumringah.
Zio tersenyum kecil dan mengangguk.
"Oh iya Sam, tumben hari ini Dewi ngga datang," tanya Dara.
Sam berpikir sebentar, "gue juga ngga tau sih, seharian ini belum ada pegang hp soalnya."
"Hp lo mana memangnya?"
Perlahan Sam membuka laci meja disampingnya dan mengambil sebuah benda pipih, ponsel pintarnya, lalu menyalakannya.
"Jadi seharian ini lo matiin," Sam mengangguk dan memamerkan deretan giginya.
Baru saja dinyalakan, sudah muncul pemberitahuan beberapa pesan baru, salah satunya dari Dewi.
"Oh hari ini memang ngga bisa datang dia soalnya lagi ada tugas kelompok." Jelas Sam setelah membaca pesan dari sahabatnya itu.
Dara mengangguk.
Dara duduk di sisi kosong kasur Sam, asik mengobrol banyak hal dengan Sam, Zio duduk di sofa yang tak jauh dari mereka sambil membaca buku dan mendengarkan musik lewat headsetnya hingga menjelang malam saat Sammy datang.
"Kak Sam bawa apa tuh?" Dara turun dari tempat tidur dan menghampiri kakaknya, mengambil salah satu kantong plastik yang dipegang Sammy.
"Makan malam, kalian belum makan kan?"
Dara menggeleng sambil tersenyum sumringah.
"Nih buat lo Zi." Sammy menyodorkan satu plastik pada Zio.
"Thanks." Terima Zio.
"Sam belum datang makan malamnya?" Tanya Sammy.
Sam menggeleng sekilas, "bentar lagi kali kak."
"Sam udah laper?" Tanya Zio berdiri menghampiri adiknya.
"Belum kok, kalian makan duluan aja kak."
"Mau kakak suapin?"
Sam kembali menggeleng, "nanti kalau Sam makan sekarang, makanan dari rumah sakitnya bisa ngga habis karena Sam udah kenyang duluan."
Dara terkekeh, "penjelasan yang masuk akal."
Zio tersenyum mengangguk dan mengusap rambut dipuncak kepala adiknya.
Beberapa menit setelah mereka makan, seorang perawat membawakan makan malam Sam.
Zio berdiri sejenak menjeda makannya untuk membantu memasang meja kecil yang terpasang di tempat tidur Sam.
"Kakak lanjut makan aja, Sam bisa makan sendiri kok."
"Iya sayang." Zio kembali duduk setelah membukakan makan malam adiknya.
"Selamat makan!!" Ucap Sam lalu memulai menikmati makan malamnya.
Malam semakin larut, Sammy dan Dara berpamitan pulang ke rumah. Malam ini seperti biasa Zio yang menemani Sam. Sang Bunda sebenarnya ingin sekali menemani putrinya namun Sam meminta Bundanya menemani Sang Ayah saja, karena kebetulan saat hari kedua Sam dirawat, Ayahnya mendapat info untuk keluar kota menangani beberapa pekerjaan penting.
Maka dengan berat hati harus meninggalkan anak-anaknya terutama putri bungsu mereka yang sedang opname.
"Kalau gitu sekarang kamu tidur."
"Kakak juga."
Zio mengangguk, mengusap lembut kening Sam lalu membenahi selimut adiknya saat Sam sudah terlelap.
Zio berbaring di sofa dan ikut terlelap.
***