Isabella berkedip lambat. Tangannya sudah terkulai meski masih menggenggam pistol. Matanya tak lepas dari sosok yang kini terbaring jauh. Mati karena ulahnya. Ia benar-benar sudah menjadi pembunuh. Orang itu sudah mati. Ya Tuhan, ia benar-benar menjadi pendosa. Jantungnya berdebar begitu keras seolah ingin pecah di dalam sana. Kepalanya sakit dan dadanya sesak dalam tarikan napas yang memburu. Bagaimana ini … ia tidak ingin menjadi pembunuh. Kotor … tangannya sudah dikotori oleh darah manusia. Isabella masih memandangi tangannya yang bergetar saat Tobias berlutut di hadapannya. Pria itu menatapnya masih dengan ekspresi datar. Namun, tatapan mata hijau zamrud itu kini tampak sangat lembut. “Kau sudah melakukannya dengan baik, Claire,” bisiknya pelan. “Kau menyelamatkanku.” Tangan pria itu

