“BELOK DI DEPAN SANA!” Teriakan terdengar lagi paling tidak untuk kelima kalinya. Isabella menukik tajam. Menyerbu masuk ke sebuah jalan yang agak sempit. Isabella tidak tahu bagaimana Tobias mengetahui seluk beluk Venesia hingga sebaik ini. Namun, setidaknya hal itu benar-benar berguna sekarang. Dengan napas memburu, Isabella mencengkeram setir sambil mengamati jalan. Adrenalinnya sudah mulai mendekati ambang batas. Ia lalu melirik ke spion mobil. Masih terdapat dua mobil yang masih belum menyerah dan mengejar mereka. “Pak, kita—” Perkataan Isabella terhenti saat ia menoleh sejenak dan menatap Tobias yang sedang bersiap mengambil posisi di kursi belakang. Tidak. Yang membuat Isabella terpana bukan bagaimana penampilan pria itu yang masih tampak elegan dan luar biasa tampan. Namun, bend

