Bab 8 Tersesat dengan Tobias

2034 Words
Hampir pukul satu siang. Isabella membayangkan banyak hal, tapi ia benar-benar tidak menyangka bahwa perjalanan akan menjadi seperti ini. Dari sekian banyak kendaraan yang bisa mereka gunakan, Tobias malah berniat menggunakan sepeda motor besar. Gadis itu semakin melongo saat Tobias memberikan kunci sepeda motor itu padanya. “P-Pak!” panggilnya saat Tobias sudah menuju motor besar itu. “Ada apa lagi?” Isabella mengerut di tempat. Apalagi di saat mereka hanya bisa saling berdiri diam di samping sepeda motor. “Saya … pernah mengendarai sepeda motor … tiga kali, mungkin?” Suara Isabella semakin mengecil. Ia memberanikan diri membalas tatapan Tobias yang kini menatapnya seolah ia makhluk paling tidak berguna. “… apa?” “Saya … seingat saya seumur hidup saya tidak pernah membonceng orang. Kalau Bapak ingin menjadi yang pertama, maka—” “Berikan padaku.” Tanpa banyak kata Tobias langsung mengambil kunci dari tangan Isabella. Jelas tidak sudi menjadi tikus percobaan Isabella dalam hal mengemudi. Maaf saja, nyawanya lebih berharga daripada apa pun. “Kenapa kita tidak pakai mobil saja, Pak?” Isabella memberanikan diri bertanya saat Tobias mulai menaiki motor dan mengenakan helm. “Kau tidak memercayai keputusanku?” “Bukan begitu, Pak.” “Kita tidak bisa pakai mobil karena akan lewat jalan pintas. Cepat, naik.” Masih separuh bingung, Isabella akhirnya menaiki sepeda motor dan duduk dengan agak tidak mantap di belakang Tobias. “Aku tidak keberatan kalau kau terjungkal di tengah jalan, tapi setidaknya jangan terjatuh saat kontrak ini belum berakhir. Kau sudah menerima gaji untuk bekerja sebulan penuh.” “Baik, Pak,” jawab Isabella pelan. “Lakukan apa pun agar tidak jatuh.” Dengan peringatan kasar itu akhirnya sepeda motor mulai melaju. Membuat Isabella terpaksa memegangi jaket Tobias karena hampir saja terjungkal. *** Sudah lebih dari setengah jam perjalanan. Mereka berbelok ke jalan yang lebih kecil dibandingkan jalan utama. Isabella mengamati sekeliling yang kini terasa lebih sepi. Untungnya, Tobias tidak mengemudikan sepeda motor dengan terlalu kencang, sehingga ia punya waktu yang cukup untuk mengamati sekitar. Dan perasaannya tidak enak karena jalanan ini terasa lebih sepi dengan hanya ada mereka dan sebuah sepeda motor lain di belakang mereka. Isabella melirik lagi ke belakang. Benar juga. Ia juga melihat motor itu saat mereka tak jauh dari hotel. Apakah mungkin orang itu sudah mengikuti mereka selama beberapa saat, bahkan hingga mereka berbelok ke jalan ini? “Pak.” Isabella memanggil agak keras untuk mengalahkan bunyi sepeda motor. “Hmm.” Tobias membalas singkat. “Sepertinya ada yang mengikuti kita. Apakah mungkin itu adalah kenalan Bapak?” Tobias melirik sedikit. “Yah, kenalan, mungkin benar. Tapi bukan kenalan yang ramah.” “Apa?” Isabella memajukan tubuh agar bisa mendengarkan lebih baik karena tidak bisa menangkap jawaban Tobias sebelumnya. “Pegangan lebih erat.” Setelah perintah itu, motor mereka melaju lebih kencang. Isabella refleks memegang pinggang Tobias erat-erat dan merapatkan tubuh. Untuk lima belas menit yang paling menegangkan bagi Isabella, mereka benar-benar mengebut di jalan dengan kecepatan mengerikan. Tobias tampak sangat mengingat jalan ini saat mereka melewati persimpangan ataupun jalan dengan banyak gang. Isabella bahkan sulit untuk melihat apakah orang itu masih di belakang mereka karena kini motor melaju terlalu cepat. “Claire.” Meskipun tidak yakin apakah pendengarannya benar saat menangkap suara Tobias yang beradu dengan bunyi motor, Isabella tetap mendekatkan wajah ke depan untuk mendengar lebih baik. Lebih baik menjawab tetapi salah dengar, daripada tidak menjawab tetapi betulan dipanggil. “Ya, Pak?” “Pilih, kau ingin mengendarai sepeda motor ini atau menembak mereka?” Isabella menganga hebat. Kali ini benar-benar yakin kalau mungkin ia salah dengar. Namun, karena dekatnya jarak mereka, suara Tobias terlalu jelas untuk dianggap ngawur. “Menembak?” Gadis itu membeo bodoh. “Ya. Ada revolver di pinggang belakangku.” Tobias mengedik ke tubuh belakangnya. Isabella refleks meraba pinggang pria itu, menegang saat merasakan benda keras di sana, revolver mini. DEMI TUHAN, KENAPA ATASANNYA MEMBAWA SENJATA API SAAT JALAN-JALAN? “Claire?!” Suara Tobias naik karena tidak kunjung mendapat jawaban. Isabella panik bukan main. Ia memang pernah beberapa kali ikut latihan menembak karena diajak Sofia tetapi ia tidak pernah membidik manusia sungguhan. Dan ia juga tidak mau. “Motor! Sepeda motor saja, Pak.” Gadis itu menjawab buru-buru. Lebih baik ia mengebut dan berakhir menabrak sesuatu daripada harus menembak seseorang. Tobias berbelok di gang kecil, lalu berhenti. Pria itu bergeser ke belakang, dengan luwes memberi tempat supaya Isabella bisa mengemudi. “Kita harus tetap melanjutkan perjalanan. Ikuti saja jalan ini, setelah bertemu jalan utama, ambil ke kanan.” Isabella masih separuh bingung, tetapi akhirnya mulai menaiki motor dengan canggung. Benda ini lebih besar dari sepeda motor yang pernah ia gunakan. Namun, karena postur tubuhnya yang tinggi, ia tidak kesulitan. Tak butuh waktu lama, mereka sudah kembali melaju. Tangan Isabella berkeringat dingin selagi matanya melirik spion, memastikan atasannya. Ya Tuhan, tolong jangan sampai ia menabrak sesuatu. “Pastikan saja kau tidak membuat kita kecelakaan,” ancam Tobias menambah ketakutan Isabella. “Dan fokus saja ke jalanan. Kita masih dikejar.” Tobias mengingatkan setelah merasa sekretarisnya itu meliriknya melalui spion. Saat itu juga motor pengejar itu muncul di belokan belakang mereka, kembali berusaha memburu. Meskipun dengan jantung berdebar kencang, Isabella menambah laju kecepatan. Ia tidak ingin menghadapi Tobias yang mengamuk jika mereka malah tertangkap. Di ujung jalan, Isabella melihat pertigaan jalan utama. Ia hanya perlu berbelok di sini. “Jangan melambat!” Setelah diperintah demikian, Isabella terpaksa menaikkan kecepatan lagi. Mereka nyaris diserempet mobil saat keluar ke jalan utama, tetapi untungnya tidak ada tabrakan. Jantung Isabella terasa sudah jatuh ke tanah, tetapi ia tetap berkonsentrasi penuh, menambah kecepatan lagi. Matanya melirik spion. Kali ini pengejar itu bertambah, mereka dikuntit oleh dua sepeda motor. Orang-orang sialan ini. Aku hanya ingin bekerja dengan benar. Pergi kalian! Hal yang diam-diam disyukuri Isabella adalah bahwa jalanan kini sepi. Lebar jalan itu sendiri juga tidak besar. Isabella tidak yakin apakah ini benar, tetapi Tobias tidak mengatakan apa-apa, jadi mereka pasti tidak salah jalan. DOR! Isabella nyaris membanting stang motor saat mendengar bunyi tembakan. Jantungnya bergemuruh dan tangannya mengepal erat. Motor bergoyang sedikit saat Tobias memutar tubuhnya sedikit dan menghadap ke kanan. “Jangan melambat, Claire.” Dengan peringatan itu lagi, Isabella memutuskan untuk tidak mengintip ke belakang bahunya untuk melihat. Saat melihat spion, satu motor sudah tumbang dan terseret di jalanan. DOR! Bunyi tembakan meletus lagi. Kali ini Isabella menggigit bibirnya kuat-kuat. Napasnya sudah tidak karuan. Gelombang rasa takut membanjiri tubuhnya. Ia nyaris terlompat saat tangan Tobias menepuk bahunya. “Menepi.” Isabella menepi dengan patuh. Ia sama sekali tidak berani menoleh ke belakang. Keduanya turun, lalu Tobias berpindah ke depan, menarik Isabella agar kembali duduk di belakang. Tobias melirik gadis itu yang kini sangat diam. Hal yang tidak biasa karena normalnya Isabella pasti sudah bertanya macam-macam. “Tidak ada yang mati, Claire.” Setelah mendengar itu barulah Isabella mendongak. Ketakutannya masih memuncak. Ia tidak bisa membayangkan kalau atasannya ini baru saja menembak seseorang. Ia tidak bisa menerima kalau orang yang ditemuinya sehari-hari ini baru saja menyakiti orang lain. Ekspresi Tobias masih tidak jauh berbeda, tapi kini, mata hijau zamrud itu tampak tenang. Ia tidak bisa mengartikan banyak dari tatapan itu. “Aku hanya menembak sepeda motor mereka untuk memastikannya tidak bisa memburu kita lagi. Jadi, lebih baik kita segera pergi dari sini.” Mendengar penjelasan itu Isabella mengembuskan napas perlahan. Ia berbalik ke belakang, masih bisa melihat sisa kecelakaan dari motor yg terseret dan tergeletak di jalanan. Namun, setidaknya ia bisa melihat ada pergerakan di sana. Yang artinya, orang-orang itu masih hidup. “Baiklah.” Sambil menarik napas, Isabella naik kembali ke motor. Berpegangan pada pinggang Tobias, sebelum akhirnya kembali melaju. *** “Pak … apakah Bapak yakin ini jalan yang benar?” Isabella bertanya dengan agak takut, sedikit mengeraskan suara agar bisa mengalahkan bunyi mesin. Tobias membawanya melewati jalan yang dikelilingi hutan. Wajar saja ia bilang bahwa mereka tidak bisa menggunakan mobil, karena jalanan bahkan masih terdiri dari tanah keras. Mereka sudah berkendara hingga dua jam. Isabella tidak yakin di bagian mana Madrid kini ia dan Tobias berada. “Diamlah.” Isabella nyaris terantuk helm Tobias saat jalan yang dilewati mereka penuh lubang. “Setidaknya izinkan saya melihat petanya, Pak.” Isabella mencoba lagi. Punggung Isabella terasa seolah terbakar. Suhu Madrid siang itu benar-benar tinggi hingga ia merasa nyawanya ikut menguap. Prakiraan memang mengatakan bahwa hari ini gelombang panas akan melanda Spanyol hingga suhu mencapai 45 derajat celcius. Isabella yakin Tobias tahu soal ini—atau mungin atasannya itu benar-benar tidak tahu? Jadi, ia benar-benar tidak habis pikir bisa-bisanya mereka berkeliaran di siang hari bolong seperti ini. “Apakah Bapak pernah lewat jalan ini?” Tobias diam sejenak. “Satu kali. Di malam hari.” Kali ini Isabella tidak menahan desahan napas gusarnya. “Ada masalah, Claire?” tantang Tobias penuh peringatan. Seperti biasa, baru menyebut namanya hanya jika ingin memarahi dan saat Isabella dianggap melakukan kesalahan besar. “Tidak, Pak,” sahut Isabella cepat. Isabella mencoba melihat ujung jalan. Kemudian melihat jalan di belakang mereka. Sama sekali tidak ada orang. Bagaimana bisa Tobias memilih jalan ini jika penampakannya bahkan tidak meyakinkan? Seolah keadaan mereka belum cukup buruk, kini sepeda motor yang mereka tumpangi perlahan berhenti. Isabella terpaksa segera turun dari kendaraan. “Bahan bakarnya habis.” Tobias mengonfirmasi dengan enteng. Isabella menganga. APA MAKSUDNYA INI SEMUA? LALU BAGAIMANA MEREKA KELUAR DARI JALAN TAK BERUJUNG INI?! “Bagaimana kalau kita telepon Hugo saja, Pak? Saya akan meneleponnya.” Isabella berinisiatif. Menyarankan untuk menghubungi orang yang tadi meminjamkan sepeda motor dan tampak seperti teman Tobias. “Tidak ada gunanya.” Isabella mendelik gemas saat Tobias langsung memupuskan harapannya. Ia bergegas mengutak-atik ponsel. Namun, sialnya, ponselnya sama sekali tidak memperoleh koneksi jaringan. “Sudah kubilang, tidak akan ada gunanya.” Tobias berucap datar. Pria itu lalu menepikan kendaraan. Isabella melepas helm. Langsung merasa sakit kepala karena pancaran terik matahari. “Jadi, sekarang bagaimana?” “Tidak ada pilihan. Ayo, berjalan kaki.” Isabella lagi-lagi menganga melihat Tobias yang benar-benar mulai berjalan kaki sambil menuntun sepeda motornya. “Pak.” Isabella memanggil dengan gelisah. Demi Tuhan, mereka harus berjalan kaki di cuaca gila seperti ini? Baru setengah jam saja ia sudah merasa ingin pingsan. Namun, Tobias seolah tidak mendengarnya. “Pak ….” “Apa lagi, Claire? Apakah kau punya solusi yang lebih baik?” Gadis itu langsung bungkam. Dengan langkah terseok akhirnya ia mengekor di samping Tobias. Mereka sudah berjalan satu jam lebih, tapi tujuan sama sekali tidak terlihat. “Apakah pihak pertambangan tahu bahwa Bapak akan berkunjung?” tanya Isabella akhirnya. Mereka kini memang akan mengunjungi pertambangan emas yang akan direncanakan oleh Olympus. Tobias memintanya ikut serta dalam peninjauan ini sebelum nantinya kerja sama dibuat. “Tahu.” “Kalau begitu, tidak bisakah kita menunggu mereka menjemput kita?” “Mereka tidak tahu aku lewat jalan ini.” Isabella diam lagi. Ia akhirnya menyerah menebak isi kepala Tobias. Pandangannya mulai mengabur. Keringat sudah membasahi punggung. Kakinya bahkan sudah mulai gemetaran. Ini tidak baik. Kondisinya benar-benar tidak bagus. Seharusnya ia sarapan lebih banyak tadi. “Ada apa? Kau tampak … tidak baik.” Tobias tampaknya menyadari perubahan Isabella. Selain karena sekretarisnya itu tidak berbicara lebih banyak, gestur tubuhnya juga membuatnya ragu. Perasaan tidak enak kini menjalari dadanya. “Tidak apa-apa. Saya hanya … agak pusing,” tampik Isabella. Tidak ingin membuat situasi lebih buruk. Tobias berhenti. Ia memandangi jalanan, depan dan belakang. “Seharusnya pasar itu tidak jauh dari sini,” gumamnya. “Maaf, Pak. Bisakah … kita istirahat sebentar?” Akhirnya Isabella menyerah. Pandangannya benar-benar sudah menghitam, sementara keringat dingin sudah membasahi tubuh. “Jangan berani-beraninya kau pingsan di sini, Claire. Bertahanlah sampai kita mencapai pasar. Aku tidak akan memaafkanmu kalau—” Belum selesai kalimat Tobias, Isabella sudah meluruh ke tanah, benar-benar jatuh pingsan. “Sial!” maki Tobias saat itu juga. Pria itu menegakkan motor dengan standarnya. Dengan kesal berjalan memutar untuk mendekati gadis itu. “Hei! Claire! Bangun.” Tobias mengguncang tubuh Isabella, tapi gadis itu tidak merespons sama sekali. Tobias mendesah napas gusar. Setelah panggilan dan guncangan sama sekali tidak menggerakkan Isabella, akhirnya pria itu mendesah lagi. “Kau benar-benar menyusahkan!” Dengan terpaksa akhirnya Tobias menyelipkan tangannya ke belakang lutut dan leher Isabella. Membawanya ke dalam gendongan dengan masih memaki di dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD