Chapter 19

636 Words
Hal yang pertama kali Vika lakukan saat kedua matanya terbuka adalah tersenyum. Vika membalikkan tubuhnya menatap Zio yang masih terlelap sambil memeluknya. Jemari lentik Vika mulai mengusap lembut pipi Zio dengan seulas senyum yang terus tercetak di bibirnya. "Pagi." Sapa Vika terlebih dahulu ketika Zio terbangun. Zio tersenyum. "Baru bangun juga?" Tanya Zio dengan suara yang cukup berat dan serak karena ia baru saja bangun. Vika mengangguk. Vika memegang tangan Zio menuntun tangan suaminya pada perutnya. "Pasti bentar lagi ada." Zio tersenyum menarik tangannya karena ia lebih memilih untuk memeluk Vika daripada harus membiarkan tangannya berlama-lama di perut istrinya. "Masuk jam berapa?" Tanya Zio. "Siang. Kamu hari ini gak kemana-mana?" "Ke kantor." "Udah mulai kerja, ya?" "Hmm." Zio mengangguk menjauhkan tangannya dari pinggang Vika. "Aku mandi dulu ya." Vika tersenyum seraya mengangguk. Saat Zio sudah masuk ke dalam kamar mandi Vika kembali menyentuh perutnya dan sedikit memberi usapan lembut. ️ "Kamu mau makan apa?" Vika melihat-lihat buku menu yang sedang ia pegang. "Salad aja." Zio mengalihkan mata dari buku menu ke arah Vika. "I want this, and this." Zio menunjuk menu pesanannya. Seorang pelayan yang sedang berdiri di dekat Zio mengangguk. "Aku besok ada tugas kelompok, mungkin pulangnya malem." "Aku tungguin." "Ngapain? Aku lama dari sore sampe malem. Kamu di rumah aja." "Gak enak di rumah sendirian." Kata Zio sambil menoleh ke arah dinding kaca yang memperlihatkan keadaan luar dimana dipenuhi oleh cahaya-cahaya lampu yang terlihat sangat cantik. "Dulu juga kamu selalu sendirian di rumah." Zio menatap Vika. "Semenjak ada kamu di rumah aku jadi gak terbiasa sendiri lagi." Entah itu ucapan jujur atau sekedar gombalan, Vika tersenyum. "Iya deh kamu temenin aku ya besok." Zio mengangguk diselingi senyuman. Saat sedang adu pandang antara Zio dan Vika keduanya menoleh ke arah sepasang suami istri yang baru saja datang dan duduk di meja yang ada di dekat mereka. Mata Vika tertuju ke arah wanita yang sedang hamil besar dimana wanita itu duduk dengan hati-hati dibantu oleh suaminya. "Ntar kayak gitu ya kalo aku hamil." Zio tersenyum. "Kamu jangan senyum-senyum mulu, iyain." "Excuse me, Mr and Mrs." Kata seorang pelayan yang baru saja datang sambil membawakan makanan mereka. "Lho, kan aku bilang nya salad. Kenapa ada daging sama nasi kayak gini?" "Sssttt, dimakan aja." Zio memegang tangan Vika untuk memberikan Vika sendok dan garpu. Ketika Zio dan Vika baru makan mereka dikejutkan dengan wanita hamil yang tiba-tiba saja meringis kesakitan sambil memegang perutnya. Melihat itu kunyahan Zio langsung terhenti sedangkan Vika masih mengunyah dengan lambat. "Sakiiittt!" Kata wanita tersebut dengan napas yang sudah tersengal-sengal. Melihat wanita itu sedang kesakitan entah mengapa Zio juga merasa sakit melihatnya. Mendengar rintihan wanita itu langsung mengingatkan Zio pada bagaimana perjuangan ibunya dulu. "Ayo pulang." Vika terkejut saat Zio menarik tangannya untuk pergi dari restoran yang mereka datangi. ️ Vika berbaring menghadap Zio yang sedang duduk dan berkutat dengan laptopnya. "Kenapa tadi kita langsung pulang?" "Gak papa." "Risih kamu liat yang hamil tadi mau melahirkan?" "Gak juga sih, tiba-tiba aja selera makan aku hilang." Vika menatap jemarinya yang sedang memainkan ujung baju Zio. "Kamu jujur ya, kalo ntar aku hamil kamu bakal seneng atau enggak?" Zio menatap Vika. "Aku emang pengen kita gak punya anak, tapi kalo kamu emang hamil gak mungkin aku ninggalin kamu. Aku pasti tanggung jawab sebagai suami kamu." Vika tersenyum. "Sekaligus sebagai orang tua." Zio tidak merespon ucapan Vika. "Aku bener-bener gak sabar banget pengen hamil." Vika mendongak menatap Zio. "Aku harap bulan ini bisa." "Kalo gak bisa jangan bahas-bahas soal anak lagi ya. Itu kan kesepakatan kita." Vika hanya tersenyum tipis menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan. "Aku tidur duluan, ya." "Good night." Balas Zio sambil mengelus puncak kepala Vika dengan mata yang tertuju ke arah layar laptop. Vika tersenyum berbalik membelakangi Zio. Vika menarik selimut sampai menutupi hidungnya meremas ujung selimut yang ia pegang ketika air matanya keluar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD