Bersitegang

1191 Words
Tok Tok Kaylana tersentak kaget dengan ketukan pelan di meja kerjanya. Ia mendongkak melihat Karel yang menatapnya datar. Ia menyergit seakan bertanya, ada apa? “Belum selesai?” tanya pria itu pada Kaylana. ‘Apa kau buta?’ ingin sekali Kaylana mengatakan itu namun sayangnya ia masih cukup waras untuk tidak mengucapkan kalimat itu. Kaylana tersenyum ramah dan berkata, “Ya belum, namun akan segera saya selesaikan hari ini Pak.” “Pulang.” titah pria itu. “Hah?” Kaylana menyergit bingung, apa yang dimaksud pria ini. ‘Apa dia berpamitan dengan ku?’ pikirnya ragu. “Kamu pulang saja.” Jelas Karel. Bukankah tadi pria itu yang menyuruhnya menyelesaikannya hari ini, kenapa malah menyuruhnya pulang. “Bapak pulang duluan saja, saya bisa selesaikan ini di sini.” ucapnya sopan. Karel yang mendengar itu mendengus tidak suka, “Pukul berapa sekarang?” tanya pria itu. Kaylana melihat jam tangannya dan menjawab, “Pukul 8:30 malam Pak.” “Hm lalu?” ucap Karel. Kaylana menyergit, “La-lalu, apa pak?” memiringkan kepala bingung. Karel melihat tingkah gadis itu berdehem sebentar. Saat ini tingkah gadis itu terlihat sedikit menggemaskan, hanya sedikit. “Kau harus pulang, perusahaan tidak mengizinkan karyawan bekerja selama itu. Berkas itu dapat kau selesaikan besok pagi saja.” dan lagi ia berbicara panjang karena gadis ini. Kaylana mengganguk paham, “Baik Pak.” Kaylana pikir Karel akan menindasnya lagi tetapi ternyata masih memiliki hati nurani juga. “Kenapa diam?” tanya Karel. Karel menghela nafas pelan, “Segera kemasi barang-barangmu. Saya tunggu di mobil lobby depan.” berlalu pergi meninggalkan Kaylana yang terdiam. Kaylana masih mencerna yang disampaikan oleh Karel, “Pria itu menungguku di lobby depan? Tapi untuk apa?” ucapnya heran. Kaylana memijit keningnya pelan, sungguh ia tidak menyangka bekerja dengan Karel akan sesulit ini. Pria itu sangat irit bicara dan menjengkelkan. Padahal hari ini baru hari pertama ia bekerja, dan ia tidak sanggup memikirkan 5 bulan kedepan waktunya bekerja bersama pria itu. Kaylana mengemaskan barang-barangnya, setelah itu beranjak pergi keluar ruangan. Gadis itu memasuki lift kantor menuju lantai satu. Ia menatap pantulan dirinya pada cermin lift, memeriksa penampilannya dengan merapikan baju yang ia kenakkan agar terlihat lebih rapi. Kaylana selalu begitu, di manapun berada jika melihat cermin ia akan secara natural memeriksa penampilannya. Getaran pada ponsel-nya membuatnya mengalihkan fokus, tertera nama Liam melakukan panggilan suara dan beberapa pesan masuk dari pria itu. Ia sama sekali tidak berminat untuk membalasnya dan berbicara dengannya. Kaylana memilih mengabaikan panggilan itu dan memasukkan kembali ponsel miliknya pada saku jas putih yang ia kenakkan. Saat sampai di lantai satu, Kaylana berjalan menuju lobby kantor. Ia tiba-tiba berhenti melihat Karel bersandar di pintu mobil miliknya. Ia sejenak terpesona dengan penampilan pria itu bagaimana tidak, jas hitam yang tadi ia kenakkan telah berganti dengan kemeja hitam miliknya. Tidak lupa dua kancing atas dari kemeja itu terbuka dengan bebas seolah ingin memperkenalkan isi dari balik kemeja itu. “Naik.” titah Karel mempersilahkan gadis itu masuk di sebelah pintu kemudi. “Maaf Pak, saya pulang naik taksi online saja.” tolak Kaylana sopan. Ia tidak sanggup jika harus berada satu mobil dengan pria itu. Sudah dipastikan mereka akan merasa akward. “Jangan membantah. Keselamatan karyawan adalah yang utama.” alibi Karel. Kaylana mengalah dan mengangguk patuh. Kaylana dengan pelan memasuki pintu mobil yang telah pria itu bukakan, tindakan ini terlalu berlebihan. Karel melangkah memutari mobil dan memasuki pintu kemudi. “Gunakan seat belt mu.” ucap Karel sembari menyalakan mesin mobil dan memadunya keluar menuju jalan raya. Mengengar itu, Kaylana melakukannya dengan patuh. Seperti yang Kaylana duga, suasana menjadi akward dan ia tidak menyukai situasi ini. Ia berharap dapat sampai di kediamannya dalam waktu yang cepat. Berbeda dengan Karel yang duduk diam fokus mengemudi tidak merasa terganggu sama sekali. Kaylana menyergit melihat arah laju mobil menuju jalan apartemennya dengan benar. “Bagaimana kau bisa tahu arah jalan menuju apartemen ku?” tanya Kaylana sedikit curiga. “Di laporan identitas mu.” jawab pria itu tenang. Kaylana mengangguk paham, ya ia telah melupakan itu. Karel pasti sudah membaca biodata miliknya sebelum menyetujui kontrak kerja itu. Tunggu, jadi….. “Saya telah mengetahui tentangmu sebelumnya.” ucap Karel. Kaylana menatap pria itu horror, apa pria ini bisa membaca pikirannya? “Wajahmu mengataknnya dengan jelas.” timpal pria itu lagi. Kaylana mengalihkan pandangannya ke arah lain, baik setelah ini ia harus waspada pada pria ini. Mobil mereka sampai di lobby apartemen Kaylana. Gadis itu dengan pelan keluar dari mobil dan tidak lupa mengucapkan terima kasih pada pria itu. Setelah ia menutup pintu mobil, Kaylana dikagetkan oleh tarikan kuat pada pergelangan tangannya. Gadis itu menoleh dan terkejut melihat pelaku tindakan itu. “Sakit Liam, lepaskan tanganku.” ucap Kaylana menahan sakit. Namun pria itu seakan tuli, malah semakin kuat menarik tangannya menjauh dari mobil. Karel yang melihat itu mengepalkan tangannya, lalu dengan tegas melangkah keluar dari pintu mobil. Ia membanting pintu mobil itu dengan keras hingga mengalihkan fokus keduanya. “Kau akan menyesal jika tidak melepaskan tangannya.” ucap Karel dingin, ia menatap pria yang menarik tangan Kaylana dengan tajam. Seperti ingin menguliti pria itu. Liam yang melihat tatapan pria itu bergidik ngeri namun ia tidak ingin memperlihatkan kelemahannya di depan Kaylana. “Siapa kau ikut campur urusan kami?” tantangnya pada pria itu. Karel yang melihat itu terkekeh pelan. Ia dengan langkah tegas berjalan menuju ke arah keduanya. Setiap langkah yang pria itu lakukan dapat mengantarkan aura mengerikan. Kaylana menunduk takut, tidak berani melihat Karel yang marah seperti ini. Karel mengeluarkan Business Card miliknya, lalu memberikannya pada pria itu, “Dia salah satu karyawan saya. Jika terjadi hal yang berbahaya padanya, itu artinya kau berurusan dengan saya.” tekan pria itu dingin. Liam yang membaca kartu yang diberikan pria itu mendadak ciut, ternyata pria ini dari keluarga Mercues. Ia tidak mengenal pria ini dengan benar, namun yang ia tahu keluarga Mercues itu memiliki PH besar Mercues Pictures yang telah ia incar untuk tergabung menjadi salah satu aktor terlibat pada project filmnya. Liam menatap pria itu dan tersenyum ramah, ini kesempatan yang baik untuknya. “Perkenalkan saya Liam pacar Kaylana. Tenang saja, saya tidak pernah menyakiti Kaylana karena saya sangat mencintainya. Saya kagum dengan bapak yang tetap mementingkan keselamatan karyawan, sangat dermawan.” ucapnya sembari merangkul Kaylana dengan semangat. Sedangkan gadis itu terkejut dengan tindakan Liam yang tiba-tiba, ia dengan gelisah bergerak pelan melepaskan diri. Pria itu salah, tindakannya kali ini memicu amarah Karel. Pertama pria itu dengan lancang mengaku sebagai pacar gadis miliknya, kedua ia juga dengan kurang ajarnya menyentuh gadis kesayangannya. “Lepaskan tanganmu padanya.” ucapnya Karel menahan amarah. Liam yang mendengar itu refleks melepaskan rangkulannya hingga membuat Kaylana bernafas lega. Karel menatap Kaylana, saat mata mereka bertemu pandang, “Masuk ke dalam” titahnya pada gadis itu. Kaylana mengangguk patuh dan berlari masuk ke apartemennya. Tatapan tajam Karel berpindah pada Liam yang dengan kesal menatap kepergian Kaylana, “ Dan kau, silahkan pergi dari sini!” usir pria itu. Liam hendak protes namun melihat tatapan menyeramkan dari pria itu membuat ia mengurungkan niatnya, lalu berlalu pergi. Karel terus menatap kepergian pria itu dengan tajam hingga hilang dari pandangannya. ‘Hama seperti itu perlu disingkirkan’ **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD