"Dia itu calon suamimu, Shiren. Hormati dia!" Begitu kata-kata ibunya. Ia sudah lelah menghadapinya. Sudah berkali-kali ia dan ibunya berakhir dengan adu mulut tiap Shiren merengek agar pernikahan dibatalkan. Alasannya? "Shiren sudah punya pilihan sendiri!" "Lelaki yang kamu maksud itu? Yang bukan turunan dari kita? Sudah berapa kali Mama bilang kalau kamu tidak bisa menikah dengan sembarang lelaki!" Tapi ibunya tetap bersikeras. Urusan ini tak bisa dibantah. Apalagi ia adalah anak perempuan. Harus manut dan pasrah pada pilihan orangtuanya. Dan tetap berakhir dalam kekalahan. Ia tak menang melawannya. Apalagi sendirian begini. Ia sudah berupaya merengek pada kakak-kakaknya tapi hasilnya tetap sama. "Udah lah. Turuti aja. Sekarang emang belum mau. Nanti kalo udah nikah kayak Kakak, p

