Rubsyantara

1097 Words
Menjelang senja harusnya beberapa orang sudah bersantai di kediaman mereka masing-masing, tapi berbeda halnya dengan Arunika. Di saat teman-teman sebayanya sudah pulang sekolah sejak tadi siang, dia sendiri justru masi bergegas kembali kerumahnya “ duh sampe rumah bakal kena omel lagi nih. Mentalku pasti udah nggak baik-baik aja” ujarnya Seraya mengayuh sepedanya lebih kuat dari sebelumnya, setelah beberapa menit berlalu akhirnya dia sampai di kediaman yang paling bagus di antara jejeran rumah di lingkungan kampungnya Ketika memasuki pekarangan rumah dia sedikit di buat heran dengan adanya mobil BMW berwarna putih di depan rumah, Arunika hanya terus memperhatikan Tampa menambah kecepatan langkahnya. Setelah sampai dia memarkirkan sepedanya baik-baik dan melangkah masuk ke dalam rumah “Assalamualaikum" ujarnya memberikan salam sedikit agak lemas karena energinya sudah banyak terkuras untuk menjalani kegiatan hari ini “waalaikumsalam" budhe Tina langsung menjawab salam dari keponakannya itu begitu berseri-seri selayaknya seorang ibu yang sedang menyambut kedatangan anaknya dari Medan perang, dia bahkan terburu-buru menghampiri Aru yang masi berdiri di dekat pintu Aru menyipitkan matanya curiga “kenapa nih orang?" Dia tentu saja bertanya-tanya, wanita paru baya yang biasanya sudah seperti gerandong itu tiba-tiba ramah kepadanya. Rasanya sangat mustahil pasti budhenya itu salah makan sesuatu Walaupun terlihat aneh tapi pokus Aru langsung teralih ketika melihat tubuh tegap seorang pria yang baru saja bangkit dari duduknya “ Pandhu rubsyantara” ingatannya langsung kembali ke kejadian 3 tahun lalu tapi dia langsung berusaha mengenyahkannya seolah-olah itu tidak pernah terjadi di dalam hidupnya Pria yang Arunika yakini adalah Pandu itu berjalan menghampirinya, pandangan Aru refleks melihat ke bawah jantungnya juga rasanya semakin berdegup tidak normal. Perasaan ini muncul bukan karena dia ada hati ke Pandu, tapi dia sangat menyegani pria itu Pandu semakin mendekat, dia keliatan penasaran tak kala gadis yang berdiri dengan kepala menunduk itu tak kunjung mengangkat pandangannya. Dia kemudian menepuk-nepuk pelan puncak kepala Aru “Ini Arunika?” dia menoleh dan bertanya ke budhe Tina “iya Tuan” jawab Tina begitu sopan Pandu kembali menoleh ke Arunika seraya mengulas senyum tipis “sudah gadis kamu rupanya...” ucapnya seraya berganti mengusap bahu Arunika, setiap kali dia berkunjung kerumah ini selalu saja tidak mendapati keberadaan Arunika makanya ketika mendapat kesempatan bertemu kembali dia kelihatan kaget melihat perubahan fisik dari gadis di hadapannya Arunika tidak nyaman makanya secara perlahan dia memilih mundur satu langkah dengan pandangan yang masi menunduk “permisi tuan...” setelah mengatakan itu dia segera buru-buru melangkah ke belakang Budhe Tina lantas melotot melihat kelakuan anak dari almarhum adik lelakinya itu, sial sekali dia harus membiayai hidup anak itu di saat hidupnya saja sudah melarat setengah mati “maaf tuan, nduk Arunika mungkin capek. Kegiatannya banyak sekali karena Sudah kelas 12 juga. Sebentar lagi dia kan mau lulus SMA” ujarnya Pandhu tersenyum tipis lalu mengganguk ringan “...saya mau istirahat" pintanya, dia kelihatan begitu lelah setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu hampir seharian “iya silahkan tuan" Tina mempersilahkan pandu untuk pergi beristirahat Setelah tau kalau pandu akan datang tentu saja Tina merasa tidak senang, dia tidak bisa lagi seenaknya di rumah ini. Walaupun semua orang kampung tau kalau dia hanya berkerja sebagai pembantu tapi tetap saja banyak yang iri padanya karena bisa menepati rumah yang majikannya tinggal di kota Setelah sampai di kamarnya Aru segera melepaskan seragam sekolahnya dan buru-buru pergi mandi, setelah selesai dia berbaring di tempat tidur. Tidak lagi memperdulikan perutnya yang sudah menahan lapar sejak tadi “nggak apa-apa, semuanya bakal baik-baik aja. Lagipula ada pakde Harto, budhe Tina Sama Mutia juga, tenang Ru tenang. Ini nggak seberapa, masa depan lebih nakutin dari pada ini” dia mencoba menenangkan dirinya sendiri Tok tok tok Aru terperanjat kaget saat tiba-tiba ada suara ketukan pintu “Aru, ngapain sih di kamar terus. Ayo bantuin budhe masak!” geram Tina dari luar Tadinya dia sedikit takut tapi setelah mendengar seruan budhenya, Aru segera keluar dari dalam kamar “budhe masak?...kayaknya malam ini bakal hujan deras” ujarnya pura-pura kaget, lalu melangkah mendahului budhenya. Itu aneh pikirnya pasalnya selama beberapa tahun terkahir Aru sudah seperti babu di, sedang budhe dan anak gadisnya hanya bersantai seperti majikan. Di rumah ini yang baik hanya pakdenya saja “makin gede kamu makin nggak tau diri ya Ru, kamu pikir kamu bisa hidup sampe detik ini tampa uang dari budhe" sindir Tina Arunika berhenti melangkah lalu berbalik dan menatap malas budhenya “budhe yakin bisa hidup sampe sebesar itu kalau nggak aku masakin setiap hari.."dia balik mencibir “oh bocah sodron, percuma ngomong sama kamu. Anak besar Tampa orang tua itu memang kurang ajar" ejek Tina lalu berjalan mendahului Arunika, tapi dia tetap kepikiran soal berat badannya. Jadi ketika Pandu pergi dari sini dia sudah memantapkan diri akan memulai diet ketatnya “ya jangan salahin aku..” balas Arunika, memangnya kalau kedua orang tuanya meninggal itu salahnya, lagipula dia merasa bahwa seluruh hidupnya yang yatim piatu ini tangung jawab dari kakak dari bapaknya itu Pergerakan Tina terlalu lambat jadi tetap Arunika yang menyelesaikan banyak masakan, setelah siap dia meletakkannya di atas meja untuk di makan oleh pemilik rumah Aru menatap tidak habis, ketika melihat anak perempuan kesayangan budhenya itu berlari dari depan menuju dapur dengan hanya mengenakan hotpants dan tanktop “Ibu nggak bilang kalau Mas Pandu datang, aku kaget tadi pas aku keluar dari kamar eh malah ketemu dia" ucapnya, dia pernah melihat pria itu datang kerumah ini beberapa kali “iya, kamu mesti jaga sikap. Walaupun dia kelihatannya ramah tapi sekali marah dia nggak bakal segan-segan ngusir kita dari rumah ini” ujar Tina memperingati Anak gadisnya yang masi berusia 16 tahun itu Mendengar itu Aru lantas menunjukkan ekspresi prihatin, pantas saja mak grandong di rumah ini langsung jinak ketika kedatangan tuan rumah “kamu harus sopan sama tuan Pandu, manggilnya jangan mos mas mos panggil dia pak Pandu...jangan kurang ajar kayak si keras kepala Arunika" lagi-lagi Tina menyindir Aru “apa.. aku dari tadi diem aja loh, bibir budhe rasanya pahit ya. Kalau nggak ngejek aku sehari aja, masak juga nggak bisa sat set sat set...bukannya bantu malah nyerocos mulu" ”apasih mbak, kurang ajar banget sama ibu. Kalau bukan karena rasa belas kasihan ibu mbak mungkin udah jadi gembel di pasar" balas Mutia Arunika menoleh dan lagi-lagi melayangkan tatapan malasnya “bela aja terus itu kan tugasmu.." ucapnya, setelah menyelesaikan tugasnya dia kemudian pergi menuju beranda rumah Dia baru ingin keluar menuju beranda samping rumah tapi saat di pintu matanya langsung menangkap postur tubuh tegap pandu yang sedang duduk sembari pokus ke layar tabletnya Aru mundur perlahan dia lebih memilih menghindar, perutnya juga sudah berbunyi terus dia harusnya segera makan
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD