Bab 5
Menuntut
Dalam lelah selepas bekerja Fuji bukan semakin lelap dan lena dalam tidurnya. Tapi justru semakin sulit untuk tidur, memikirkan ketidak adilan dunia.
"Kenapa Thoriq yang b******n di ciptakan punya keluarga yang bahagia tapi masih mempermainkan hati wanita? Sedangkan aku, wanita yang di anggap hina di dunia ini karena profesi ku, harus membanting tulang untuk tetap bisa bertahan hidup, tanpa sedikitpun kasih sayang tulus yang ku dapatkan." Keluh Fuji
"Bahkan sudah segini hebat derita ku, tanpa kasih sayang, harus membanting tulang, di tambah lagi pandangan hina masyarakat terhadap profesi ku. Sedangkan keluarga yang harus ku nafkahi sekian banyaknya, bagaimana mencukupi dengan gaji UMR? Sedangkan yang hidupnya sudah enak sama sekali tidak bersyukur bahkan memandang rendah terhadap kami yang berprofesi seperti ini tanpa tau bagaimana rasa nya menjadi kami, yang harus berpura pura bahagia dan ceria walau terkadang hati ini jijik terhadap laki laki hidung belang yang mencari pelampiasan sesaat." Fuji menerawang memandang langit langit kamar yang sudah di penuhi sarang laba laba karena jarang di bersihkan semenjak mabuk dengan Thoriq
"Ah, ini ga adil!! Percuma gue mengharapkan cinta Thoriq, apa lagi sampai dia menikahi gue supaya ada yamg menafkahi. Dari sekarang aja udah terlihat perhitungan nya sama gue." Bathin Fuji
"Bener kata Aurel, kerja ya kerja, brarti dia harus bayar sesuai tarif, walaupun sebenarnya pekerjaan gue bukan itu, tapi daripada gue di jadikan b***k cinta yang lebih hina dari seseorang pelac*r, tanpa bayaran, tanpa cinta bahkan masa depan. Karena ga mungkin rasa nya untuk menjadi istri nya yang di nafkahi walau sederhana dalam kelimpahan nya, sedangkan sekarang aja sudah terlihat perhitungan nya. Sebaik nya gue chat aja dia minta bayaran gue, dan lupakan semua yang terjadi, daripada gue sakit hati terus." Fuji mengambil ponsel dan menghubungi Thoriq malam itu juga
"Bang, ternyata selama ini Abang bohong sama aku. Abang ga tinggal di Nareh di kampung Abang, yang dekat dari tempat tinggal aku tapi di Cipadu.Tega Abang membohongi ku." Fuji mulai tak terima
"Sabar sayang, Abang cuma sebentar di Cipadu ada urusan. Nanti juga balik lagi kok." Thoriq berdalih walau dia tidak tau bagaimana Fuji bisa mengetahui bahwa dia sebenarnya bertempat tinggal di Cipadu bukan di kampungnya di Nareh sana.
"Abang cukup PHP aku!! Aku udah tau Abang tinggal di Cipadu, sama Chika istri Abang." Fuji mulai berontak karena merasa tak ada harapan lagi bersama Thoriq.
"Darimana kamu tau tentang Chika?" Thoriq terkejut. Was was juga dia kalau sampai istrinya tau kelakuannya.
"Dia temen lama aku. Maka nya aku tau Abang tinggal di Cipadu." Bohong Fuji. Padahal dia sama sekali tidak mengenal Chika. Dia tau Chika dari aplikasi biru, sebuah aplikasi yang bisa menganalisis nomor ponsel, dan menyelidiki nya melalui aplikasi merah dengan lebih detail.
Fuji tak menyadari bahwa kebohongan nya justru membuat Thoriq berfikir untuk menjauhinya. Tapi Fuji pun sudah tak peduli. Harapan nya sudah mati untuk bisa di nafkahi Thoriq dan keluar dari dunia malam.
"Oke lah sayang, besok kita sambung lagi. Sekarang sudah malam, takut istri Abang kebangun." Thoriq ketakutan karena dia heran bagaimana bisa Fuji mengenal istri nya apa lagi kalau benar mereka adalah teman lama.
Fuji semakin dongkol dengan ketakutan Thoriq. Yang dia tau saat ini hanya lah meminta bayaran selama mereka bersama selayaknya dia adalah seorang pelac*r. Walau sebenarnya selama Fuji bekerja di dunia malam, di tempat karaoke, Fuji tidak pernah menjajakan diri seberapapun mahal tarifnya. Tapi sekarang nasi telah menjadi bubur. Dari pada tidak mendapatkan apa apa, cinta tidak, di nikahi apa lagi, setidak nya dia bisa mendapat bayaran untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.
"Untuk apa Abang berbohong padaku? Supaya bisa ng*nt*t gratis hah?!" Fuji makin histeris dengan ketakutan Thoriq yang seperti ingin menghindar di balik ketiak istrinya
Tak ada balasan ...
Dan Fuji pun tertidur dalam lelah fisik setelah begadang setiap malam karena bekerja, di tambah lelah bathin karena beban perasaan yang di pikul selama ini. Dia sudah sangat muak dengan dunia malam yang di jalaninya