25 "Maksudmu, Mas? Tentang....?" Arga mengangguk. Wajahnya selintas memerah saat tatapannya jatuh di wajah Anindira. "Kamu lupa bahwa meski pernikahan kita mungkin pernah terhalang kebencian, tapi aku pernah menyentuhmu." Anindira menghela nafas, mengusap perutnya yang rata. Arga kini berpindah tempat membuat paras Anindira menjadi panas karena malu, beruntung letak duduk mereka agak pojok sehingga tidak begitu kentara dan karyawan lainnya banyak yang fokus makan sambil sesekali ngobrol sama rekannya. Biasanya jam istirahat siang ini cukup ramai, namun karena sebagian telah selesai dan banyak yang makan di luar, jadi suasana cukup kondusif. Hembusan angin dari AC yang dipasang di atas kepala terasa sejuk, namun lebih sejuk saat Arga melihat gerakan refleks Anindira yang mengusap perut.

