Bab 3

1227 Words
Orang itu adalah Langit. Ya, Cinta tidak salah. Sudut bibirnya ikut naik saat mengingat senyum yang diarahkan kepadanya. Setelah pertunjukan semalam, sebenarnya Langit terlihat ingin menghampiri Cinta, tapi sebuah telepon mengusiknya dan membuat laki-laki itu segera beranjak dari sana.  Ah, apa aku terlalu geer? Cinta menggeleng pelan, mencoba menghalau pikiran yang tidak-tidak. Fokus kuliah! Fokus! Cinta menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Kembali fokus pada bacaannya. Jam kuliahnya baru dimulai setengah jam lagi, tetapi kebiasaan gadis itu memang selalu datang lebih awal dari anak-anak yang lain. Sepi, dia suka suasana sepi yang membuatnya lebih mudah berkonsentrasi dengan pikirannya sendiri. Saat yang lain sedang asyik nongkrong di kantin, dia justru lebih memilih menunggu di kelas, berteman dengan lagu yang teralun di earphone dan buku yang tak pernah lepas dari perhatiannya. "Pagi-pagi udah menyendiri aja, Cin? Didatengin penunggu gedung ini baru tau rasa." Mendadak sebuah suara menginterupsi Cinta untuk mendongak ke arah sumber suara, Langit, lelaki itu datang menghampirinya, dan tanpa permisi langsung duduk persis di sebelah tempatnya berdiam diri. Langit terlihat sangat tampan pagi ini, rambut warna brown yang dipotong simetris di atas telinga masih terlihat basah dan acak-acakan, tak lupa senyum cerah mengembang indah dari bibirnya.  "Iya, iya. Gue emang ganteng," goda Langit dengan logat anak ibukota yang menjadi ciri khasnya. Langit memang lebih lama tinggal di sana, kira-kira baru setahun ini dia pindah ke Semarang, lebih tepatnya saat memilih untuk berkuliah di kota Atlas ini. Godaan Langit tentu saja langsung membuat pipi Cinta lagi-lagi bersemu dan memilih untuk menatap lantai. "Yeeee ... malah nunduk. Gue mau tanya sesuatu nih, Cin." Mata Cinta mengerjap, ia kembali mendongak dan menatap Langit dengan dahi berkerut. Memang aneh bila hari ini Langit ke kelasnya kalau tidak ada sesuatu. "Ya?"  "Yang semalem itu, lo kenal sama mereka?" tanya Langit akhirnya dan mendapatkan jawaban anggukan dari Cinta  "Cewek berambut keriting gantung yang jadi vokalis itu sepupuku," jawab gadis itu lagi. "Oh iya?" "He'em." Perasaan Cinta mendadak tidak enak. Jujur, ini bukan kali pertama dia mengalami kejadian seperti ini. Semua seolah dejavu. "Sebenarnya gue pernah lihat sepupu Lo sebelumnya." Alis Cinta naik, mencoba melontarkan pertanyaan dengan ekspresi itu. "Dia anak musik, kan?" Gadis itu mengangguk pelan. "Pernah lihat dia manggung?" "Yups, anaknya cantik, suaranya keren. Eh, kemarin malah lihat dia ngobrol sama lo." Tawa Cinta menguar hambar. "Oh ya?" Sepertinya dia mulai tahu pembicaraan ini akan bermuara ke mana. "Kenalin gue sama dia dong," ucap Langit akhirnya. Cinta tertawa garing, hal ini mudah sekali ditebak. Apa lagi alasan seorang cowok mendekatinya kalau bukan untuk meminta diperkenalkan dengan Nadia. Sudah beberapa kali ia mengalami hal ini. Nadia yang cantik, Nadia yang berbakat, Nadia yang supel. Siapa juga yang tidak suka? "Malah ngelamun. Lo tuh emang kayak gini ya, Cin?" Mata gadis itu membulat. "Hah? Apa?" "Nunduk, diem, nunduk, diem. Gitu aja terus sampe monyet bertelur." Tanpa sadar tawa Cinta terumbar dan disusul oleh Langit. Tanpa sadar fokus lelaki itu terpecah ke arah buku di depan Cinta. "Lagi baca buku apa sih?" "Oh, ini." Gadis itu menunjukan cover buku yang ia pegang. "Novel Rindu Dendam." Ia manggut-manggut tanda mengerti. "Karya Age Airlangga dan Racky Rachman, kan?" "Eh? Kok tahu?" "Tau lah." Langit memiringkan bibirnya. "Purnama yang bulat sempurna. Gambarkan kisahku di wajahmu. Bahwa rindu bukanlah suatu yang indah. Namun sebuah rasa yang membuat resah ...." Cinta mendelik kaget, dia ternyata hafal sebuah puisi yang ada di dalam buku ini. "Purnama yang bulat sempurna. Gambarkan amarahku di bayanganmu. Bahwa dendam bukanlah suatu hal yang kejam. Namun sebuah rasa dan gairah untuk menempuh hidup." Gadis itu pun melanjutkan bait puisi yang ia lantunkan. "Gue paling suka puisi itu," kata Langit kemudian. "Wah ... aku gak nyangka kamu tau kayak ginian juga." "Lo ngomong gitu seolah gue ini anak pemales banget yang nggak pernah baca buku, ya?" Tangan Cinta bergerak tak tentu arah. "Eh, bukan gitu maksudnya." Seringai usil keluar dari bibir Langit. "Gue dijejelin terus sama kakak gue, ya lama-lama jadi suka juga." "Kakak kamu suka baca novel?" "Lumayan, suka nulis juga." "Wah ... keren." Mata Cinta berbinar cerah. "Mau aku kenalin sama dia?" Cinta mengangguk semangat, seperti anak kecil yang diiming-imingi permen oleh orang tuanya. "Kenalin gue dulu sama sepupu lo." Cinta berdecak malas, membuat Langit semakin tertawa keras. **** Tatapan lelaki itu fokus ke sebuah rumah bercat pink yang terlihat paling mencolok di antara rumah yang lain. Dari sini, dari kafe langganannya, ia dapat melihat bangunan sederhana itu berdiri kokoh. Jaraknya memang agak jauh. Posisi kafe yang berada di ujung bukit pegunungan gunung pati, memberikan efek landscape pemandangan perumahan di kawasan yang ada di bawah.  Sesekali laki-laki itu menyesap kopi yang ada di depannya. Masih dengan tatapan yang belum terlepas dari sana, ia menyandarkan punggung ke kursi dan bersedekap. Ada banyak cerita di sana, tapi sayang ia tak pernah berani untuk kembali. Ia hanya bisa menjadi pengecut yang melihat dari kejauhan. Ya, hanya itu.  Sebuah bunyi lonceng mengalihkan perhatiannya. Sosok perempuan dengan jilbab abu-abu masuk ke dalam cafe, berjalan pelan, tersenyum simpul dan memesan makanan dan minuman yang sama. Tidak kreatif sama sekali. Apa dia tidak bosan dengan menu yang itu-itu saja.  Cinta, ya, gadis itu adalah Cinta.  Sesaat netra mereka bertemu, namun hanya sekejap, masing-masing mereka memutus pandangan.  Biru beranjak dari duduknya, beralih ke bar, di mana Cinta masih berdiri. Dalam diam Cinta mencuri pandang ke arah lelaki itu.  Pikirnya, Biru memang terlihat tampan, tapi sifatnya yang menyebalkan membuat kenyataan itu tidak berguna. Cinta masih tidak terlalu menyukai Biru.  "Apa?" tanya Biru dengan nada dingin, menangkap basah Cinya yang masih melihatnya.  Mata Cinta mengerjap, membawa dirinya kembali ke alam nyata. "Enggak." Ia segera menundukkan pandangan lagi. Ah, s**l. Sudah berapa kali hari ini aku salah tingkah hanya gara-gara cowok. Come on, Cin. Ini bukan saatnya kamu main-main dengan cinta semu, cinta yang cuma datang sekejap saja dan hilang seiring berjalannya waktu.  Kamu harus tahu bahwa ketika hati belum sanggup mencintai dalam tangkupan janji suci, maka lebih baik menjaga hati, hingga halal mengakhiri.  Ya, aku pernah membaca quote seperti ini, dan memang itulah yang seharusnya, memfokuskan pada study saat ini mungkin jauh lebih baik daripada mengurusi permasalahan klise anak remaja. "Mbak Cinta, ini pesenannya. Dan ini bill-nya." Cinta tersadar lagi dari pikirannya sendiri lalu mengambil sebungkus paper bag yang berisi pesanannya. Lalu, tangannya meliar ke dalam tas, mencari uang untuk membayar tagihan yang diberikan Mas Satya. Dan sialnya ia susah menemukan dompetnya di dalam tas yang sama dengan buku-buku perkuliahan dan beberapa novel yang baru saja ia pinjam dari perpustakaan sebelum ke sini. Cinta berniat menaruh tasnya di meja bar, agar ia lebih mudah untuk mencari dompetnya. Namun, bersamaan dengan itu, Mas Satya baru saja mengangsurkan segelas Moccachino panas ke sana, pesanan tambahan yanh baru diminta Biru, dan tasnya membuat masalah dengan menyenggol cangkir itu hingga tumpah dan mengenai seorang lelaki yang ada di sampingnya. Oh tidak, apa lagi ini. Aku mengumpat dalam hati.  Cinta mendengar decakan pelan dari mulut Biru. "Eh ... sorry, nggak sengaja," katanya kemudian. Tatapan mata yang semula tanpa ekspresi mendadak berubah menjadi sangat tajam mengarah kepadanya. Cinta benar-benar menyesali kejadian ini, kejadian yang biasa menjadi sebuah awal dari perkenalan dua insan di sebuah drama korea, yang akhirnya berlanjut dalam kisah asmara. Tapi, hei! Itu hanya dalam sebuah drama, bukan dalam kehidupan nyata. Kalian tak akan menyetujui hal itu jika mengalaminya secara langsung seperti yang ia alami saat ini.  Tatapan mata itu seperti siap menerkamnya kapan saja.  Ibu ... tolong aku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD