10. Creeping in the Dark (4)

1199 Words
Chapter 10 : Creeping in the Dark (4) ****** ZOYA dan Inez tersentak. Mereka berdua spontan menoleh ke asal suara; mereka mendongak… …dan menemukan Elias. Pemuda itu berdiri di dekat mereka—di dekat Zoya, lebih tepatnya—entah sejak kapan. Dari kata-katanya, agaknya dia sudah menguping sejak tadi. Apakah dia menguping dari posisi yang agak jauh? Soalnya, kalau menguping dari dekat…bukankah seharusnya Zoya dan Inez menyadari keberadaannya?! Mata Zoya melebar. Melihat wajah Elias membuat jantungnya berdebar lagi. Ia juga ingat kejadian semalam di mana…Elias hampir mencium bibirnya. Pipi Zoya memerah. Tubuhnya mematung. Sementara itu, Inez langsung menganga dan berkata, “Sejak kapan kau ada di sini, Elias?!” Elias, pemuda tampan itu, mulai tersenyum lembut. A breathy smile. …and then he spoke. “Barusan. Aku tahu karena tadi aku menguping dari posisi yang agak jauh.” Napas Zoya tertahan. Elias menguping? Dari posisi yang agak jauh? Bukannya tadi dia duduk di dekat Hayes di ujung sana? Sejak kapan dia melangkah pelan-pelan ke dekat sini…sambil membawa makanan dan minumannya? “Apa saja…yang kau dengar?” tanya Inez. Dialah yang angkat suara karena Zoya tampaknya jadi diam akibat kehadiran Elias. Elias mulai duduk di sebelah Zoya; dia langsung mengambil posisi di tengah-tengah Zoya dan Inez setelah meletakkan makanan dan minumannya. “Hmm…” Elias berpikir sebentar, lalu tersenyum miring kepada mereka berdua. “…Semuanya?” Zoya dan Inez hampir tersedak. This guy is kinda…terrifying. …in a hot way. “Itu terdengar agak aneh, tetapi…” Inez menganga. “Oke. Terserahmu saja.” Elias tertawa kecil. Pemuda itu pun kemudian menatap Zoya. Tatapannya sangat lembut…lalu dia tersenyum. “Jadi, Zoe…mengapa kau tidak memintaku untuk menemanimu? Pada dasarnya, kau keluar sendirian, malam-malam, di tengah hutan. Seharusnya kau memanggilku kalau memang tak ingin membangunkan Inez. Aku bisa menemanimu.” Zoya kembali tersentak. Jantungnya berdegup kencang; ia langsung buang muka dan tak mau melihat wajah tampan Elias, terutama tatapan lembutnya…senyumannya… Semua itu membuka ribuan memori yang tak ingin ia ingat saat ini. “Mengapa aku harus memanggilmu?” ujar Zoya dengan ketus. Elias memiringkan kepalanya. “Memangnya salah kalau memanggilku?” Zoya terdiam. Dia jadi bingung mau menjawab apa. Kalau menjawab ‘salah’, salahnya di mana? Kalau menjawab ‘tidak salah’, nanti harga dirinya jatuh. Sial. Elias pasti sengaja menjebaknya. Ya. Benar. Inezlah yang melihat seluruh adegan itu seraya menggeleng. Zoya yang masih gengsi…dan Elias yang tersenyum miring karena berhasil menjebak Zoya. Dasar para mantan yang belum bisa move on, pikir Inez. Beberapa detik kemudian, Elias pun mulai bertanya. Namun, kali ini, tidak ada senyuman di wajah pemuda itu. Ia menatap Zoya dengan serius. “Jadi, Zoe, mengapa Mr. Parker tiba-tiba ada di belakangmu tadi malam?” Zoya pun akhirnya menatap Elias. Meski tatapan itu sedikit bertahan lebih lama daripada seharusnya, Zoya tetap mencoba untuk menghela napas dan menjawab dengan benar. Inez dan Elias langsung menyimak Zoya. “Aku tidak tahu kenapa. Aku juga tidak menanyakan alasannya padanya. Setelah dia menepuk pundakku dan menegurku karena ingin tahu apa yang kulakukan, aku pun menjawabnya; kubilang aku hanya ingin buang air kecil,” jawab Zoya. Inez mengangguk. “Lalu?” Zoya mengedikkan bahu. “Yah…karena penasaran, aku pun menanyakan soal siluet hitam itu.” “What did he say?” tanya Elias. “Dia bilang…itu hanyalah warga desa yang ingin pergi ke peternakan mereka. Katanya, warga-warga desa itu memang biasa pergi ke peternakan mereka malam-malam,” jawab Zoya. Elias mengernyitkan dahi. “Ke peternakan…malam-malam?” Elias menggeleng. “Untuk apa? Kalau karena ingin mengurus peternakan mereka, bukankah itu justru tidak efektif?” Zoya mengedikkan bahu. “Entahlah. Mungkin sudah jadi kebiasaan warga sini.” Elias masih merasa heran. “Mereka bisa mengurusnya saat masih terang. Dari pagi sampai sore.” “Mungkin…mereka kerja di tempat lain dari pagi sampai sore?” kata Inez. “Suami istri kerja di tempat lain semua?” tanya Elias, dia menatap Inez seraya mengangkat alis. “Kalau begitu, seharusnya mereka mempekerjakan seseorang untuk mengurus peternakan mereka.” “Mungkin uang mereka tidak cukup untuk membayar pekerja?” Inez masih mencoba untuk berpikir positif. “Jangan punya peternakan, kalau begitu,” jawab Elias langsung. “Jual saja peternakannya.” Inez spontan tertawa kencang. Zoya pun diam-diam tertawa kecil karena perdebatan itu terdengar sungguh menggelikan baginya. Akan tetapi, Zoya tak mau tertawa lepas karena tak ingin Elias melihat tawanya. Ia masih gengsi. Ia tak mau tertawa ‘karena’ kelakuan Elias. Ia tak mau terlihat seperti ‘memaafkan’ Elias. Akhirnya, mereka pun jadi berhenti berpikir negatif tentang siluet hitam itu—meskipun jelas-jelas siluet itu agak aneh—dan membicarakan hal lain sambil makan. Zoya berkali-kali memberi kode kepada Inez agar mereka pergi saja menjauhi Elias (karena ia merasa tidak nyaman), tetapi Inez malah tertawa kecil, diam-diam mengejek Zoya yang masih sangat terganggu dengan keberadaan Elias. Like, girl. Jujur sajalah. Bukan hanya Elias yang belum bisa move on. Kau juga masih sangat memikirkannya, pikir Inez. Meskipun Inez pada dasarnya jadi seperti obat nyamuk di antara mereka, Inez tetap menikmati momen itu…karena Zoya dan Elias orangnya sama-sama baik. Inez juga terbiasa dengan kehadiran Elias karena pemuda itu sudah cukup lama pacaran dengan Zoya. ****** Mereka telah selesai makan sejak dua jam yang lalu. Sekarang sudah jam 10 pagi dan kesepuluh dari mereka mulai melakukan aktivitas mereka masing-masing. Ada yang mandi di danau, ada yang memainkan ponsel sambil memakan snack di dalam tenda, ada yang berkeliling hutan, ada yang melihat peternakan warga, ada yang mencuci piring atau baju mereka, dan ada juga yang bermain gitar di depan tenda. Semua itu berjalan lancar-lancar saja. Keanehan yang mereka bicarakan saat sarapan tadi juga seolah-olah mereka tepis dan lupakan. Mereka ingin berpikir positif karena mereka datang ke sini untuk bersenang-senang. Menghabiskan waktu bersama sebelum fokus ke hidup masing-masing. Zoya, Inez, dan Sophia ada di dalam tenda mereka. Memainkan ponsel, menghidupkan lagu…sambil memakan snack. Mereka baru saja selesai mandi (menumpang mandi di rumah-rumah warga). Seharusnya hari ini akan terlewati dengan lancar. Gembira. Lebih bisa bonding daripada kemarin. Namun, agaknya dunia belum mengizinkan itu… …karena dua menit kemudian, tiba-tiba saja July berteriak. Teriakannya sangat kencang. “TOLONG!!!! EVERYONE, PLEASE!!! HELP!!” Zoya, Inez, dan Sophia jelas terperanjat. Mereka langsung duduk tegap, saling menatap satu sama lain dengan mata membulat, lalu refleks berdiri dengan panik. Mereka langsung berlari ke luar tenda dan bertanya-tanya, “Apa?! Ada apa?!!” Semua orang juga yang ada di sekitar juga langsung berlari mendekat. Mereka mendengar kalau teriakan July itu berasal dari belakang tendanya, jadi mereka langsung pergi ke sana. Sesampainya di sana, mereka semua (termasuk Zoya, Inez, dan Sophia) menyaksikan sesuatu yang membuat alis mereka menyatu. Mulut mereka menganga. Soalnya, di sana mereka melihat Miller yang sedang dalam posisi merangkak; pemuda itu muntah-muntah. Muntahannya sangat banyak; itu mungkin mengandung seluruh makanan dan minuman yang ada di perutnya. July dan Becca ada di sebelah pemuda itu, tengah memegangi dan mengusap-usap punggungnya. Ekspresi mereka berdua terlihat panik. “Dia—dia tidak berhenti muntah. Dia terus muntah sejak tadi! Tolong—seseorang harus minta tolong kepada warga setempat!” teriak Becca. Jack langsung mengangkat tangannya. Ia terlihat cemas. “Aku. Aku akan pergi. Tunggu sebentar.” Namun, sebelum Jack sempat melangkahkan kakinya pergi dari sana… …tiba-tiba Miller ambruk. Pemuda itu pingsan di tempat. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD