Chapter 5

2167 Words
Merasa tidurnya terusik, pria tampan itu mengerjap-ngerjapkan matanya. Sinar matahari yang sepertinya bukan sinar matahari pagi lagi membuatnya cukup enggan untuk membuka matanya. “Om bim, angun.” Merasa makin diusik, pria tampan yang tak lain adalah Bima itu langsung membuka matanya. Bima tersenyum kecil saat matanya terbuka langsung mendapati Nana, keponakannya sedang menduduki perutnya sembari memainkan rambutnya di wajah Bima. Ternyata ini lah yang sedari tadi mengusik tidurnya. “Nana kok gangguin om bim tidur? Om bim kan masih ngantuk,” ucap Bima sembari memperlihatkan wajah memelasnya. Nana yang sedari tadi memainkan rambutnya di wajah Bima langsung menghentikan aksinya dan beralih menatap Bima. “Maaf om bim,” ucap Nana lembut. Bima tersenyum sembari menggigit bibir bawahnya menahan gemas melihat tingkah lucu keponakannya yang sangat ia rindukan. Bima langsung duduk dari tidurnya dan memeluk Nana erat, diciumnya Nana berulang kali membuat bocah berumur 3 tahun itu tertawa geli. “Udah kangen-kangenannya? Mandi dulu sana baru cium-cium anak kakak,” ucapan seseorang itu membuat Bima menghentikan aksinya dan langsung menoleh ke ambang pintu. Senyum Bima kembali mengembang melihat sang kakak yang sedang berdiri di ambang pintu, sepertinya kakaknya sudah sejak tadi ada disitu, namun karna Bima yang terlalu asyik membuat ia tak sadar. “Kakak kapan sampai?” Tanya Bima. “Baru kok, kemarin bunda telefon katanya kamu udah pulang,” balas Alya kakak satu-satunya Bima. “Bang Aldo mana?” “Ada dibawa sama bunda sama Kevin juga,” balas Alya lagi. Alya berjalan menghampiri Bima dan putrinya. “I miss you brother,” ucap Alya sembari mengacak-acak pelan rambut adiknya itu. “Miss you too sist,” balas Bima pula. “Kamu mandi sana, abis itu turun sarapan. Kamu sih kelamaan bangunnya, jadi kakak sama bunda udah makan duluan,” ucap Alya. “Yaudah aku mandi dulu. Nana, om bim mandi dulu ya, nanti om bim bakal kasih Nana oleh-oleh dari om bim,” ucap Bima pada Nana yang sedari tadi hanya diam dalam pelukan Bima. “Oleh-oleh, mau,” pekik Nana. Bima dan Alya sama-sama tertawa melihat Nana yang begitu antusias.  Alya mengambil alih putrinya dalam gendongannya dan membiarkan Bima berlalu menuju kamar mandi. Alya tersenyum melihat kepergian adiknya. Adiknya itu tak pernah berubah. Perasaan bangga langsung mengalir dalam perasaan Alya mengingat kesuksesan adiknya sekarang namun sama sekali tak mengubah sikapnya. Alya pun akhirnya mengajak Nana untuk keluar dari kamar Bima dan bergabung dengan yang lainnya. *** Bima berjalan menuruni anak tangga. Ia kini sudah terlihat lebih segar. Walaupun hanya menggunakan kaos polos dan celana sebatas lutut sama sekali tak mengurangi ketampanannya. Bima tersenyum saat melihat keluarganya yang tampak bercanda gurau di ruang keluarga. Mata Bima terfokus pada seorang wanita yang sangat ia cintai. Bima menatap sebuah kotak hitam di tangannya kemudian mengeluarkan isinya. Bima berdiri di belakang wanita yang ia cintai itu. Alya, Aldo dan Kevin yang menyadari kehadiran Bima hanya tersenyum saat Bima menempelkan jari telunjuknya di bibirnya pertanda bahwa mereka harus diam. Bima dengan hati-hati langsung memakaikan benda berkilau yang tadi ia ambil dari dalam kotak itu ke leher wanita yang ia cintai membuatnya tersentak kaget dan langsung menoleh ke belakang. “Love you Bun,” ucap Bima lembut. Rosa menatap putranya haru, di tatapnya sebuah kalung cantik yang begitu berkilau yang kini sudah menghiasi lehernya. Bima mencium singkat pipi bundanya kemudian mengambil posisi duduk di sampingnya. “Love you too,” balas Rosa mengelus pipi Bima. “Bunda suka? Maaf ya Bima baru kasih soalnya kemarin sampai di rumah Bima kecapekan jadi langsung tidur deh.” “Suka banget, makasih ya sayang. Sebenarnya kamu gak perlu kasih bunda kayak gini, apalagi bunda tau ini pasti mahal. Kamu pulang dan mau menetap disini aja bunda udah senang banget.” “Apa pun yang Bima laku in selama ini untuk Bunda,” balas Bima membuat Rosa lagi-lagi tersenyum haru. “Oleh-oleh buat gue mana nih?” Sahut Kevin. Bima beralih menatap Kevin. “Iya nih buat kakak mana? Masa bunda doang.” Protes Alya. “Ada juga kok, tapi nanti ya, masih di dalam koper,” balas Bima. “Om bim, untuk Nana ana?” Tanya Nana pula membuat tawa mereka pecah. Ternyata Nana juga menagih oleh-oleh yang Bima janjikan. “Iya nanti om bim ambilin ya.” “Lo jadi pindah kesini kan Bim kerjanya?” Tanya Aldo membuat Bima kini beralih menatap Aldo. “Jadi Bang, kebetulan udah ada tawaran juga.” “Ya iyalah, siapa yang gak mau merima Captain ganteng ini,” sahut Alya menggoda adiknya membuat Bima hanya tersenyum kecil menanggapi. “Terus kenapa lo nunda kepulangan lo waktu itu Bim?” Tanya Kevin. Bima teringat bahwa ia belum menceritakan hal itu.  “Waktu itu gue gak sengaja nabrak cewek di bandara, terus dia jatuh dan kakinya terkilir. Jadi ya udah sebagai pertanggung jawaban gue nunggu kakinya sampai sembuh dulu, kebetulan dia orang Indonesia juga. Jadi kemarin kami sama-sama pulang ke Jakarta,” jelas Bima. “Bener kakinya udah sembuh Bim? Kenapa kamu gak bawa ke dokter aja waktu sampai di Indonesia?” Tanya Rosa. “Udah sembuh kok Bun, jalannya juga udah bisa kayak biasa,” balas Bima. Bercerita tentang Rein membuat Bima menjadi teringat pada wanita itu. Bima tersenyum kecil saat mengingat Rein. Wanita yang begitu unik menurutnya. Apakah ia akan bertemu lagi dengan Rein? Jujur Bima berharap bisa bertemu lagi dengannya. Begitu banyak yang ingin ia tahu tentang wanita yang entah sejak kapan membuatnya penasaran itu. *** “Jangan dipaksa in kali Rein, liat nih kertas pada berserakan,” ucap Lala sembari memunguti kertas-kertas yang berada di lantai akibat ulah Reina. Reina mengusap wajahnya kasar. Di helanya nafasnya panjang. “Sorry ya La, gue bingung banget nih. Kenapa ide gue gak jalan ya buat menggambar,” ucap Reina sambil mencoret kembali gambar yang ia buat. Ini entah sudah ke berapa kalinya. Rein sedang mencari inspirasi yang dapat ia salurkan nanti ke dalam kanvasnya. “Bukan gini caranya cari inspirasi Rein. Masa cuma diam gini aja. Inspirasi itu ada kalau lo cari, setelah lo dapat lo ciptakan deh di atas kanvas lo,” jelas Lala. “Otak gue lagi buntu banget nih La.” “Gimana gak buntu kalau lo cuma berdiam di tempat yang ukurannya gak seberapa ini. Pikiran lo gak bakal nemuin jalan keluarnya. Coba deh lo duduk di balkon, liat pemandangan luar. Biar in imajinasi lo ke mana-mana, setelah imajinasi lo dapat yang lo butuh in, lo langsung tuangi di kanvas itu,” saran Lala. Reina tampak berpikir sejenak memikirkan saran sahabatnya itu. Sesaat kemudian Reina tampak tersenyum. “Lo benar La. Lo memang sahabat gue yang bisa di andalkan,” ucap Reina. Reina bangkit dari duduknya mengangkat segala macam alat melukisnya menuju balkon apartemen. Lala hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu kemudian membantu Rein mengangkat beberapa peralatannya. “Lagian lo kenapa sih sampai segitunya? Bukannya biasanya lo ngelukis kalau lagi ada inspirasi doang?” Tanya Lala. “Gue lagi mengejar target La. Gue baru nitip satu lukisan gue di toko yang baru buka di depan apartemen. Gue rasa satu doang gak cukup deh buat nyewa rumah kontrakan dan buat kebutuhan Zidan nanti. Makanya gue harus bikin lagi,” jelas Reina. Lala menggeleng pelan mendengar ucapan Reina. “Lo apaan sih Rein, lo sama Zidan masih tetap bisa tinggal disini kok. Lo gak harus cari kontrakan.” “Gue udah terlalu lama nyusahin lo La. Lo udah terlalu baik nampung gue saat gue mutusin buat keluar dari rumah itu. Lo udah banyak ngebantu gue La. Tapi ini gak bisa terus-terusan,” ucap Reina lagi. Lala menghela nafas sejenak. Satu hal yang tak pernah ia lupa dari sahabatnya itu bahwa Reina sangat keras kepala. “Ya udah kalau itu keputusan lo. Tapi jangan buru-buru banget. Gue masih belum bisa tinggal sendiri. Gue bakal kangen banget sama lo sama Zidan juga.”  “Gue gak pindah planet kok La, gue cuma pindah rumah. Kita masih tetap bisa ketemu,” balas Rein diiringi tawanya membuat Lala ikut tertawa. “Eh ngomong-ngomong lo belum cerita soal cowok yang sama lo waktu lo di bandara,” ucap Lala dengan nada penuh keingin tahuan. Rein pun mengambil posisi duduk di samping Lala yang sedang duduk di kursi yang terdapat di balkon itu. “Namanya Bima. Gue ketemu sama dia waktu gue lagi di bandara saat gue mau balik ke Indonesia. Waktu itu dia gak sengaja nabrak gue yang bikin kaki gue terkilir. Makanya gue pulangnya telat gak sesuai sama yang gue kasih tau sama elo. Gue nginep di apartemen dia sampai kaki gue sembuh,” jelas Reina membuat Lala mengangguk paham. “Terus kenapa waktu di bandara itu dia biarin Zidan manggil dia daddy?” Tanya Lala lagi. “Itu dia La yang gak gue paham. Katanya dia cuma gak tega liat Zidan yang udah terlanjur senang liat dia,” jelas Reina lagi yang lagi lagi membuat Lala mengangguk paham. “Tapi wajar kok kalau Zidan menganggap Bima daddy nya. Lo kan tau sendiri gue pamit ke Amsterdam sama Zidan buat jemput daddy nya. Tapi gue sama sekali gak nemuin dia disana La. Gue udah nyari-nyari dia,” lirih Reina. Reina menghembuskan nafasnya kasar. Rasanya ia sudah sangat lelah dengan semua ini. “Ya udah lah Rein, gak usah mikirin dia lagi. Sekarang saatnya lo bahagia sama Zidan,” ucap Lala menguatkan sahabatnya itu. Reina mengangguk pelan membenarkan ucapan Lala. “Eh tapi Bima ganteng ya Rein, senyumnya itu loh bikin meleleh. Kayaknya cocok juga jadi daddy Zidan,” Lala menatap sahabatnya dengan tatapan menggoda sementara Reina membalas tatapan Lala dengan tatapan tajam. “Lo udah pernah rasain ketelan kuas gak?” Reina menunjuk Lala dengan kuasnya membuat Lala bergidik ngeri. “Awwww mommy galak, kaburrrr,” Lala langsung berlari memasuki apartement sembari tertawa. “Ih Lala ngeselin!!!!” Reina mendengus kesal melihat tingkah jail sahabatnya itu. “Lala, lihatin Zidan yang lagi tidur dikamar ya. Kalau dia bangun, bilang sama gue,” pekik Reina saat mengingat bahwa Zidan sedang tidur. “Oke,” pekik Lala pula agar Reina dapat mendengar. Reina kembali mengambil buku gambarnya. Reina memang lebih suka menggambar dulu di buku gambar kemudian menuangkannya kembali ke dalam kanvas. Pembicaraannya dengan Lala tadi membuat Reina teringat dengan sosok Bima. Ingatan tentang kebersamaannya dengan Bima dulu membuat senyum kecil terukir di bibir tipisnya. Bima sempat bingung bagaimana di tempat seperti Amsterdam ada orang seperti Bima. Pria yang menghadapi apa pun dengan senyuman termasuk menghadapi sikap ketusnya. ***  “Eh Bima, ya ampun kapan sampai di Jakarta?” Tanya seorang wanita saat melihat seorang pria tampan yang sangat ia kenal walaupun sudah lama tak bertemu memasuki tokonya. “Baru beberapa hari mbak,” balas Bima. “Wah makin ganteng,” puji wanita itu membuat Bima tersenyum. “Bima kira mbak Mira tokonya masih di tempat yang lama, ternyata udah pindah,” ucap Bima sembari melihat ke sekeliling isi toko. Mbak Mira adalah pemilik toko yang menjual berbagai macam pajangan dan pernak-pernik langganan Bima. “Iya mbak baru pindah Bim. Disini tempatnya lebih strategis. Kamu mau cari apa? Baru beli rumah lagi ya?” Tanya mbak Mira. “Bukan mbak, mau cari hiasan atau pajangan gitu buat di rumah mama. Soalnya mama baru renovasi gitu, jadi ada ruangan yang masih kosong belum ada apa-apa,” jelas Bima membuat mbak Mira mengangguk paham. “Ya udah di lihat-lihat aja dulu Bim.” Bima  mengangguk sembari tersenyum kemudian melihat-lihat sesuatu yang menarik baginya. Mbak Mira mengikuti Bima dari belakang. “Kamu sekarang udah sukses ya Bim, padahal dulu waktu mbak pertama ketemu kamu masih kecil banget.” “Ya kan sekarang udah gede mbak gak kecil lagi,” balas Bima diiringi kekehannya. “Lain kali kalau kesini jangan sendiri Bim, bawa calon dong. Ntar mbak kasih yang spesial kalau kamu beli pajangan buat rumah kamu sama calon kamu,” canda mbak Mira. “Belum ada calon mbak, siapa yang mau di bawa.” “Kamu sih kesibukan kerja. Terbang ke sana sini. Gimana mau ketemu cewek, paling yang kelihatan burung,” ledek mbak Mira membuat mereka sama-sama tertawa. Pandangan Bima tiba-tiba terhenti pada sebuah lukisan. Lukisan seorang wanita yang tampak memeluk seorang anak kecil. Lukisan itu tak memiliki banyak warna, hanya berwarna hitam putih dan sedikit warna kuning untuk menggambarkan cahaya. Wanita itu tampak memiliki sayap seperti bidadari, sayapnya itu terlihat seolah-olah membungkus tubuhnya dan seorang anak yang berada di pelukannya. Satu kata yang terlintas di pikiran Bimasaat melihat lukisan itu. Indah “Mbak Bima mau yang itu dong,” ucap Bima sembari menunjuk lukisan itu. “Lukisan itu? Loh tumben kamu mau lukisan. Biasanya lebih milih kayak guci gitu.” “Lukisannya bagus mbak.” “Oh ya udah, mbak ambili kotaknya dulu ya. Harganya tapi itu cukup mahal loh Bim, mbak juga gak tau kenapa yang nitip disini masang harga cukup mahal.” “Gak papa kok mbak.”  “Ya udah mbak ambili dulu kotaknya.” Bima mengangguk kecil kemudian menatap lukisan itu sembari tersenyum. Bima menautkan Alisnya saat melihat ada tulisan kecil di bagian bawah lukisan itu, RL. Mungkin itu adalah inisial pelukis itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD