Kang Min Jae berjalan menyusuri gang-gang sempit menuju Daesung Flats. Ia mempercepat langkah kakinya sambil menahan rasa panas yang masih terasa di tenggorokannya.
Min Jae menaiki tangga, lalu berhenti di depan pintu Unit 222 miliknya. Ia mengambil kunci, lalu masuk ke dalam.
Begitu pintu tertutup rapat, ia langsung menyandarkan tubuhnya ke dinding. Min Jae memejamkan mata sejenak.
Pangkal tenggorokannya masih menyisakan rasa hangat yang mendadak muncul saat ia menatap Kim Na Rin di galeri seni beberapa jam lalu.
Min Jae melangkah menuju wastafel. Ia mengulurkan tangan untuk mengambil gelas plastik di dekat keran. Tangannya bergetar hebat. Gelas plastik itu jatuh dari genggamannya, membentur bak cuci piring dengan bunyi nyaring.
Min Jae mengangkat telapak tangannya, memperhatikan jari-jarinya yang terus gemetar tanpa bisa ia kendalikan. Ia mencoba mengepalkan tangannya kuat-kuat untuk menghentikannya, tetapi begitu kepalan dibuka, getaran itu belum juga mereda.
Min Jae mengambil gelas yang terjatuh, mengisinya dengan air keran, lalu meminumnya. Rasa dingin sedikit meredam denyutan hangat di balik pita suaranya.
Bzzzt. Bzzzt.
Ponselnya bergetar, sebuah panggilan masuk.
Min Jae melirik layar yang menyala. Nama Seo Hye Rin berkedip di sana. Ia membiarkan panggilan itu mati dengan sendirinya.
Deretan notifikasi pesan singkat memenuhi bagian atas layar ponselnya. Ia membaca pesan-pesan itu.
"Min Jae. Apa Anda sudah di rumah?"
"Bagaimana kondisi Anda sekarang?"
"Kalau Anda membutuhkan obat atau bantuan, saya bisa datang ke tempat Anda sekarang."
"Min Jae, tolong balas pesan saya."
Min Jae membalikkan ponselnya ke atas meja, menyembunyikan layar yang terus menyala.
Tok. Tok. Tok.
Min Jae menoleh, menatap pintu unitnya yang diketuk dari luar. Ia melangkah mendekat, memutar kunci gerendel, lalu membuka pintunya.
Pak Choi berdiri di luar koridor. Pria tua itu mengenakan jaket kain tebal dan topi fedora tua yang sudah pudar warnanya. Tidak ada bau alkohol. Wajahnya terlihat segar. Sorot matanya terlihat jernih, meski ekspresinya tampak canggung saat melihat Min Jae.
"Ada apa, Pak Choi?" ucap Min Jae.
Pak Choi menundukkan kepalanya. "Saya minta maaf soal kejadian malam sebelumnya, Min Jae. Saya benar-benar mabuk berat waktu itu."
Min Jae memperhatikan gerak-gerik tetangganya. "Soal payung Anda?"
Pak Choi menggaruk bagian belakang lehernya, tersenyum kecut. "Ternyata payung itu ada di dalam lemari baju saya sendiri. Saya lupa menyimpannya di sana. Saya juga sudah menuduh Anda. Saya benar-benar minta maaf."
Min Jae mengamati Pak Choi. Matanya tampak normal, penuh dengan kesadaran. Tidak terlihat kosong seperti malam itu.
"Tidak apa-apa, Pak Choi. Jangan dipikirkan," jawab Min Jae datar.
"Terima kasih. Kalau begitu, saya pergi kerja dulu," kata Pak Choi sambil membungkuk sekali lagi, lalu berjalan menuju arah tangga.
Min Jae menutup kembali pintu unitnya. Ia berdiri diam di balik pintu. Ia mencoba mencerna fakta baru yang ia saksikan.
Pengaruh suaranya terhadap pria, sepertinya hanya bersifat sementara. Dan akan hilang begitu korbannya mendapatkan kesadaran penuh.
Min Jae langsung beralih pada sosok Seo Hye Rin. Wanita itu justru... Ah entahlah. Ia begitu sulit mendeskripsikannya.
Pintu unitnya kembali digedor dari luar. Min Jae memutar kunci dan membuka pintu dengan sentakan cepat.
"Pak Choi, saya sudah bilang..."
Kalimat Min Jae terputus. Seo Hye Rin berdiri tepat di depan pintu. Napasnya terengah-engah dengan rambut pendeknya yang berantakan terkena angin malam.
Seo Hye Rin nampak begitu lega begitu melihat Min Jae.
"Syukurlah... Anda benar-benar sudah ada di rumah."
"Manajer Seo. Ada apa Anda datang ke sini?"
"Saya menghubungi Anda puluhan kali, tapi tidak ada jawaban. Saya sangat mengkhawatirkan kondisi Anda." Kata Seo Hye Rin, menatap Min Jae dari ujung kepala hingga kaki.
"Saya hanya sedang ingin beristirahat." Jawab Min Jae datar.
"Saya tahu. Tapi saya tidak bisa tenang jika tidak melihat Anda secara langsung." Balas Seo Hye Rin tanpa ragu.
Suara langkah sepatu terdengar mendekat dari arah koridor kiri. Seorang pria bertubuh besar dengan kaos hitam ketat, membawa sebuah map. Berhenti tepat di depan Unit Min Jae.
Pria itu menatap Min Jae dengan pandangan tidak bersahabat. "Unit 222. Kang Min Jae?"
"Iya. Benar."
"Uang sewa anda sudah menunggak satu minggu. Pemilik apartemen tidak mau tahu, besok adalah batas akhir. Jika uangnya belum masuk ke rekening, seluruh barang di dalam ruangan ini akan dikeluarkan secara paksa."
"Saya baru akan mulai bekerja minggu depan. Bisakah saya meminta kelonggaran beberapa hari lagi?"
"Tidak bisa. Peraturannya..."
"Berapa total tunggakannya?" Potong Seo Hye Rin.
Hye Rin mendekat, memposisikan dirinya di depan Min Jae. Lalu membuka ritsleting tas.
Pria penagih itu melirik penampilan Seo Hye Rin dari atas ke bawah, lalu menyebutkan angka nominalnya.
Seo Hye Rin menarik beberapa lembar uang kertas pecahan besar dari dalam dompetnya, menyodorkannya langsung ke d**a pria tersebut.
"Ambil. Ini untuk seluruh tunggakan dan biaya sewa bulan depan."
Pria itu mengambil uang tersebut, menghitung jumlahnya, lalu membubuhkan tanda silang di atas kertas dokumennya. "Beres. Kamar ini aman sampai bulan depan."
Ia langsung berbalik pergi meninggalkan koridor tanpa mempedulikan mereka berdua.
Min Jae menatap pria itu yang menjauh, beralih menatap Seo Hye Rin yang sedang merapikan kembali tas tangannya.
"Saya tidak pernah meminta Anda untuk membayarkan uang sewa saya, Manajer Seo."
Seo Hye Rin menatap Min Jae dengan ekspresi wajah yang tampak bingung. "Anda sedang berada dalam situasi yang sulit, Min Jae. Sudah menjadi kewajiban saya untuk menyelesaikan masalah Anda."
Min Jae membuka mulutnya untuk mengembalikan akal sehatnya seperti semula. Tapi kata-kata itu tertahan di ujung lidahnya.
Min Jae melirik ruang apartemennya. Ia berpikir, jika ia mengembalikan Seo Hye Rin menjadi normal sekarang, maka ia akan kembali menjadi Kang Min Jae yang miskin dan tidak dianggap.
Min Jae menarik napas, menggeser tubuhnya memberi jalan. "Silakan masuk, Manajer Seo."
Seo Hye Rin tersenyum hangat, melangkah masuk ke dalam unit apartemen tersebut.
---
Kim Na Rin duduk di dekat jendela kaca sebuah kafe, kedua tangannya melingkari cangkir keramik berisi kopi yang sudah mulai mendingin. Seorang teman perempuannya sedang sibuk memainkan ponselnya.
Na Rin menatap keluar jendela, pikirannya terus berputar pada wajah Kang Min Jae sebelum pria itu berlari keluar dari galerinya sore tadi.
"Kenapa kamu terus melihat ke luar jendela, Na Rin?" tanya temannya tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel.
"Tidak ada apa-apa."
"Apa kamu sedang memikirkan konsep lukisan barumu?" Tanya temannya lagi.
Na Rin terdiam, menggelengkan kepala. "Bukan. Aku hanya sedang memikirkan seorang pengunjung yang datang ke galeri tadi sore."
Temannya melirik Na Rin. "Seorang pria?"
"Iya," jawab Na Rin pelan.
"Apa kalian saling mengobrol tadi?" Ucap temannya lagi.
Na Rin mengangguk pelan.
Ia kemudian mengambil buku sketsa kecil dari dalam tasnya, membuka halaman kosong.
Tangannya mulai menggoreskan pensil hitam di atas kertas, membentuk sketsa kasar dari struktur wajah Kang Min Jae.
"Sepertinya... ada sesuatu yang aneh dengan pria itu."