Moerae 5

3816 Words
Ratu Nana yang sedang berkeliling Istana menatap bingung Putra nya yang turun daru mobilnya seorang diri. Pasalnya Pangeran Xavier sudah meminta izin pada Ratu Nana untuk mengajak tamunya untuk berkeliling tadi pagi. “Pangeran Xavier.” Panggil Ratu Nana. “Ya bunda.” Jawab Pangeran Xavier sambil berhenti dan menatap Ratu Nana hormat. “Kau sudah kembali?” tanay Ratu Nana sambil memperhatikan mobil Pangeran Xavier dan juga Jonny asisten Pangeran Xavier. “Sudah bunda.” “Dimana Putri Moerae? Bukankah kau mengajaknya berkeliling aston?” tanya Ratu Nana membuat Pangeran Xavier membelalak kaget. “Kenapa aku bisa melupakan Putri itu.” Batin Pangeran Xavier menyesali ingatannya. “Pangeran Xavier.” Panggil Ratu Nana dengan nada yang semakin membuat Pangeran terintimidasi. “Hmm bunda. Sepertinya aku ketinggalan sesuatu, aku pergi dulu yaa..” ujar Pangeran Xavier mulai mengambil ancang-ancang untuk pergi dari hadapan Bundanya. “Apa maksud mu ketinggalan? Jangan bilang kau?” ujar Ratu Nana dengan menatap Pangeran Xavier menyelidik. “Aku pergi bunda.” Ujar Pangeran Xavier sebelum akhirnya berlari ke mobilnya dengan cepat agar tidak ditahan oleh Bundanya tersebut. “Jangan bilang dia meninggalkan Putri Moerae?” tanya Ratu Nana sambil membelalak lebar menatap Putranya yang kalang kabut pergi dari hadapannya. “Dasar anak itu. Awas saja jika dia benar-benar meninggalkan Putri Moerae. Akan ku hukum dia dipenjara ayahnya selama 3 hari.” Ujar Ratu Nana saat Mobil Pangeran xavaier melaju cepat keluar dari Istana Aston. Setelah sampai di restoran dimana dia meninggalkan Putri Moerae sebelumnya Pangeran Xavier langsung memperhatikan sekeliling restoran, mencari keberadaaan Putri keci; itu. Namun Putri Moerae sama sekali tidak ada disana. “Dimana dia? Aku yakin aku sudah menyuruh nya untuk menunggu disini.” Ujar Pangeran Xavier yakin. “Benar-benar Putri kabur.” Sambung Pangeran Xavier sembari mengusap kasar mukanya “Jonny.” Panggil Pangeran Xavier dengan nada kalut. “Ya Pangeran.” “Minta bantuan dari istana untuk mencari Putri Moerae. Tapi jangan sampai raja atau Ratu tau jika Putri Moerae hilang.” Perintah Pangeran Xavier. “Baik Pangeran.” “Sekarang! Aku ingin Putri Moerae ditemukan dalam 30 menit..” ujar Pangeran Xavier. “Baik Pangeran.” Ujar Jonny lagi. Jonny langsung meminta bantuan dari istana untuk mencari Putri Moerae seperti yang di perintahkan oleh Pangeran Xavier. “Apa dia sudah pulang?” tanya Pangeran Xavier dalam hati. “Tidak mungkin.. Dia tidak tau jalan pulang.” Sambung Pangeran Xavier. Sepuluh menit sudah berlalu, dan Pangeran Xavier belum mendapatkan kabar dari Jonny tentang keberadaan Putri Moerae. “Dimana kau berada Putri? Kuharap kau baik-baik saja. Aku masih ingin hidup dengan tenang.” Batin Pangeran Xavier khawatir. “Pangeran..” panggil Jonny setelah hampir 20 menit sejak Pangeran Xavier memberinya perintah. “Kau sudah mengetahui dimana Putri Moerae?” tanya Pangeran Xavier. “Sudah Pangeran..” ujar Jonny. “Dimana dia? Dia baik-baik saja kan?” tanya Pangeran Xavier dengan nada khawatir. “Hmm soal itu Pangeran..” “Apa? Dia kenapa?” tanay Pangeran Xavier cepat. “Putri sekarang berada dirumah sakit tidak jauh dari istana..” ujar Jonny dengan nada ragu. “Apa?!” pekik Pangeran Xavier dengan wajah kaget. “Dia kenapa? Apa dia terluka?!” tanya Pangeran Xavier lagi dnegan wajah yang benar-benar menunjukkan kekhawatirannya. “Put----.” “Bawa aku kesana sekarang!” perintah Pangeran Xavier yang tak bisa menyembunyikan rasa khaawatirnya. “Mob---.” “Tinggalkan mobil mu, bawa aku kerumah sakit sekarang!” perintah Pangeran Xavier sambil berjalan dan diikuti oleh Jonny. “Baik Pangeran..” Pangeran Xavier pergi kerumah sakit dimana Putri Moerae berada. Selama diperjalanan Pangeran Xavier tidak bisa menutupi kekhawatiran nya “Putri!” panggil Pangeran Xavier sambil berlari ke arah Putri Moerae. “Hmm Pangeran Xavier? Kenapa kau bisa disini?” tanya Putri Moerae dnegan wajah bingung. “Kau----.” Pangeran Xavier ingin meledak marah pada Putri Moerae yang tidak mengindahkan perintahnya begitu saja. Putri Moerae hanya diam sambil mengedipkan matanya melihat eajah marah Pangeran Xavier. “Apa kau terluka?” tanya Pangeran Xavier melunak pada Putri Moerae. “Kaki ku..” ujar Putri Moerae sambil menunjuk kakinya yang kini sudah terperban. Pangeran Xavier menoleh pada Kakai Putri Moerae. “Apa yang terjadi? Mengapa kaki mu bisa terluka?” tanya angeran Xavier dnegan nada khawatir melihat Kaki Moerae yang terperban cukup besar. “Tadi aku berjalan terus aku tidak nampak ada batu besar didepan nya lalu aku tersandung dan begini lah kaki ku jadinya..” ujar Putri Moerae. “Mengapa kau tidak di restoran itu saja, aku kan sudah bil----.” “Aku sudah menunggumu lebih dari 2 jam..” ujar Putri Moerae memotong ucapan Pangeran Xavier. Pangeran Xavier terdiam, dia tau dia yang bersalah disini. “Aku bosan menunggu disitu, makanya aku keluar.” Sambung Putri Moerae menjelaskan mengapa dia keluar dan tidak menunggu di restoran. “Maafkan aku.. Seharusnya aku kembali lebih cepat..” ujar Pangeran Xavier terlihat  menyesali perbuatannya barusan. Putri Moaerae hanya terseyum.  “Tidak Pangeran.. Seharusnya aku yang lebih hati-hati. Kalau aku hati-hati mungkin aku sudah di istana sekarang.” Ujar Putri Moerae. Pangeran Xavier menghela nafas.  “Kau membuat ku semakin bersalah..” ujar Pangeran Xavier sambil menatap Putri Moerae. “Hmm maksudku----.” “Aku tau..” ujar Pangeran Xavier cepat. “Apa kaki mu sudah selesai diobati?” tanya Pangeran Xavier. “Sudah..” “Kau ingin kemana?” tanya Pangeran Xavier. “Aku ingin pulang, sepertinya aku harus istirahat Kaki ku sangat sakit saat ini.” Ujar Putri Moerae dnegan wajah sedihnya. “Baiklah ayo kita pulang..” ujar Pangeran Xavier Putri Moerae mengangguk mengiyakan ucapan Pangeran Xavier. Detik selanjutnya Putri Moerae menurunkan kakinya untuk turun dari tempat tidur. “Ahhh.” Aduh Putri Moerae kesakitan. “Kenapa? Apa kaki mu sakit lagi?” tanya Pangeran Xavier khawatir. Putri Moerae menganggukkan kepalanya dengan manja. “Astaga bagaimana bisa dia selucu itu hanya dengan menganggukkan kepala.” Batin Pangeran Xavier. “Pelan-pelan saja turun nya..” ujar Pangeran Xavier setelahnya. “Bolehkah aku pakai kursi roda saja?” tanya Putri Moerae. “Apa kau tidak sanggup jalan?” tanya Pangeran Xavier. “Tidak tau.. Tapi rasanya sangat sakit.” “Cobalah Putri..” “Baiklah..” ujar Putri Moerae. Pangeran Xavier mengulurkan tangannya untuk menjadi pegangan Putri Moerae. Putri Moerae mencoba berdiri dengan memegang tangan Pangeran Xavier. “Aahhh.” Adu Putri Moerae lagi dengan wajah yang seperti ingin menangis. “Tidak sanggup?” tanya Pangeran Xavier. Putri Moerae menggelangkan kepalanya dengan mata sendunya. “Bahkan untuk berdiri saja sakit. Aku ingin memakai kursi roda.” Ujar Putri Moerae benra-benra kan menangis jika dia berjalan satu atau dua langkah dengan kaki sakitnya itu. Melihat itu Pangeran Xavier langsung menggendong Putri Moerae ala bridal style. “Tidak masalah bukan jika aku menggendong mu?” tanya Pangeran Xavier setelahnya. “Tap-----.” “Aku sangat malas mendorong kursi.” Ujar Pangeran Xavier memotong ucapan Putri Moerae yang hendak mengatakan hal yang tak seharusnya dia katakan. “Kalau kau tidak keberatan menggendong ku.” Ujar Putri Moerae. “Sejujurnya kau sangat berat. Apa kau memakan semua yang ada di restoran tadi?” tanya Pangeran Xavier menggoda Putri Moerae. “Turun kan aku!” “Apa kau bisa jalan?” tanya Pangeran Xavier membuat Putri Moerae ciut. “Tidak?” “Kalau begitu diam lah.” Ujar Pangeran Xavier membuat Putri Moerae mengendus keal. “Dan maaf karna kau tidak bisa jalan.” Ujar Pnageran Xavier setelahnya. Putri Moerae hanya diam tak menjawab ucapan maaf dari Pangeran Xavier.  Pangeran Xavier melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit dengan Putri Moerae yang berada di gendongannya. “Jonny..” panggil Pangeran Xavier. “Ya Pangeran.” “Antar aku pulang ke istana, lalu panggil dokter istana yang terbaik..” ujar Pangeran Xavier memberi perintah. “Baik Pangeran..” “Untuk apa dokter?” tanay Putri Moerae bingung. “Diamlah Putri, kau bertambah berat jika berbicara.” Ujar Pangeran Xavier. “Kau menyebalkan!!” kesal Putri Moerae. “Terserah apa katamu.” Ujar Pangeran Xavier. Pangeran Xavier masuk ke dalam mobil begitu pintu di buka, lalu mereka pergi kembali ke istana. === == = Setelah sampai di Istana, Pangeran Xavier dan Putri Moerae disambut dnegan Raja Alexander dan Ratu Nana di pintu masuk Istana, tak lupa Pangeran Felix dan Lusinta. “Jonny apa kau memberi tau mereka?” tanya Pangeran Xavier. “Tidak Pangeran..” “Lalu bagaimana bisa mereka tau?!” tanay Pangeran Xavier dnegan nada membentak. “Saya tidak tau Pangeran..” “Aku sudah bilang jangan sampai mereka tau!!” bentak Pangeran Xavier lagi. “Kau tidak boleh membentaknya Pangeran..” ujar Putri Moerae dengan wajah polos. “Aku bukan kau. Jangan sama kan sistem kita!” ujar Pangeran Xavier menjawab udcapan Putri Moerae dengan nada yang sama. Putri Moerae menunduk sambil memainkan jarinya. Pangeran Xavier yang sadar atas apa yang dilakukannya memejamkan matanya singkat sambil menghela nafas panjang. “Maaf Putri, aku tidak bermaksud membentak mu.” Ujar Pangeran Xavier mearasa bersalah. Putri Moerae hanya mengangguk kecil.  “Aku mengerti..” ujar Putri Moerae tanpa metapa Pangeran Xavier. “Buka kan pintu untukku jonny.” Pinta Pangeran Xavier. “Baik Pangeran..” ujar Jonny sembari membukakan pintu untuk Pangeran Xavier. Pangeran Xavier keluar lalu kembali menggendong Putri Moerae ala bridal style.  Ratu langsung menghampiri mereka begitu mereka turun “Putri Moerae. Apa kau tidak pa-pa?” tanya Ratu Nana khawatir. “Tid---.” “Kaki mu terluka Putri. Pangeran bawa Putri Moerae ke kamarnya dan panggilkan dokter yang paling terbaik untuk menangani luka Putri Moerae..” ujar Ratu Nana semakin khawatir melihat kaki Putri Moerae yang terperban cukup besar. “Baik bunda..” “Aku sedang marah Pangeran.” Ujar Ratu Nana mengingatkan Pangeran Xavier. “Baik Ratu..” ujar Pangeran Xavier lagi. “Aku tidak pa-pa Ratu, luka ku sudah diobati..” ujar Putri Moerae. “Tidak Putri, kita akan memeriksa nya lagi. Dirumah sakit terlalu banyak pasien, bisa saja dokter yang menangani mu tadi tidak sungguh-sungguh.” Ujar Ratu Nana. “Bunda..” “Bawa Putri Moerae kekamarnya Pangeran..” perintah Ratu Nana pada Pangeran Xavier. “Baik bunda baik..” “Biar aku saja Pangeran Xavier.” Ujar Pangeran Felix saat menghampiri Putri Moerae dan Pangeran Xavier. “Hai Felix..” sapa Putri Moerae. Pangeran Felix menatap tajam Putri Moerae. “Muka khawatir yang dibalut galak. Aku sudah hafal itu putra mahkota ethiopia. Kau tidak bisa jual mahal pada ku Felix.” Batin Putri Moerae sambil menatap Pangeran Felix. “Tidak Pangeran Felix. Biar aku saja, Putri Moerae terluka saat bersama ku. Jadi aku saja yang membawanya untuk bertanggung jawab karna telah membiarkan nya terluka.” Ujar Pangeran Xavier. “Tapi aku ingin digendong Felix..” ujar Putri Moerae pelan. “Baiklah Pangeran Xavier.” Ujar Pangeran Felix. “Felix.” Panggil Putri Moerae dengan wajah berharap. “Nanti ku temui di kamarmu Moerae. Siap kan telinga mu, mungkin kali ini pidato ku lebih panjang.” Ujar Pangeran Felix pada Putri Moerae sambil tersenyum. “Aku sangat membenci mu..” ujar Putri Moerae sambil menatap kesal Abang keduanya itu. “Dan aku sangat menyayangimu..” jawab Pangeran Felix semakin membuat Putri Moerae kesal. “Kau menyebalkan Felix!” “Diam lah Putri, kau akan bertambah berat jika kau bicara.” Ujar Pangeran Xavier yang tidak tahan mendengar Putri Moerae bertengkar karna kekesalannya pada Pangeran Felix. “Apa itu benar?” tanay Putri Moerae polos. “Yaa.” “Aku baru tau itu..” ujar Putri Moerae dengan wajah berpikirnya. “Berterima kasih lah kalau begitu.” “Tapi aku tidak bodoh putra mahkota aston!” ujar Putri Moerae menatap tajam Pangeran Xavier. “Tidak mungkin seseorang berat nya bertambah hanya karna berbicara.” Sambungnya lagi. “Walau begitu tetaplah diam.” “Aku kasihan dengan rakyat aston dan ethiopia pasti mereka sedih memiliki calon raja yang cerewet seperti kalian.” Ujar Putri Moerae sambil menatap Pangeran Felix dan Pangeran Xavier bergantian. “Tapi mereka bersyukur karna calon raja mereka tampan.” Ujar Pangeran Xavier. “Bagiku kalian calon raja yang buruk rupa.” “Hanya bagimu, penilaian satu orang tidak terlalu berarti Putri..” ujar Pangeran Xavier. “Terserah, aku capek berdebat dengan mu!” “Kalau begitu diam lah.” “Ya aku akan diam.” “Bagus kalau begitu.” “Dasar menyebalkan!!”   === == = Di kamar Putri Moerae, Dokter sedang memeriksa kaki Putri Moerae yanng terluka. Meski Putri Moerae mengatakan jika dia baik-baik saja, namun Ratu Nana tetap meminta Dokter terbaik kerajaan untuk memeriksa kakinya. “Apa Putri Moerae tidak pa-pa dokter?” tanya Ratu Nana. “Tidak Ratu, kaki Putri Moerae hanya cedera ringan. Karna hantaman nya sedikit keras, mengakibatkan adanya sedikit pembengkakan pada sekitar luka..” uajr Dokter tersebut menjelaskan. “Tapi Ratu tenang saja, luka yang ada tidak dalam sehingga tidak di perlu kan jahitan.” Sambung Dokter tersebut. Ratu nana menghela nafas lega “Aku sudah mendengar ini dirumah sakit.” Batin Putri Moerae sambil menatap Ratu Nana dan Dokter kerajaan yang sedang berbicara mengenai lukanya itu. “Syukurlah kalau begitu.” “Hmm Putri, saya akan memberi obat untuk penghilang rasa sakit. Jika kaki masih bengkak ada baiknya Putri istirahat untuk sementara waktu Karna jika dipaksa dikhawatir kan pembengkakan nya semakin parah..” ujar Dokter kerajaan menjelaskan pada Putri Moerae. Putri Moerae mengangguk singkat. “Baik Dokter.” Ujar Putri Moerae menurut. “Hmm Ratu, saya permisi terlebih dahulu..” pamit Dokter kerajaan. “Terima kasih dokter..” ujar Ratu Nana. Dokter tersbut mengangguk dan tersebyum ramah sebelum akhirnya pergi keluar dari kamar Putri Moarae. “Apa kakimu terasa sakit sekali Putri?” tanya Ratu Nana. “Tidak terlalu Ratu..” ujar Putri Moerae. “Jangan kau tutupi Putri, aku tau itu rasanya pasti sakit. Aku sangat tidak enak pada raja dan Ratu ethiopia. Bagaimana bisa Putri nya pulang dari aston membawa luka.” Ujar Ratu Nana merasa tidak enak. “Tidak Ratu, aku tidak pa-pa, lagi pula ini kesalahan ku, aku tidak hati-hati saat berjalan.” Ujar utri Moerae sambil tersenyum. “Apa Pangeran Xavier tidak menjaga mu dengan benar Putri?” tanya Ratu Nana menyelidiki. Putri Moerae diam, dia tdak tau harus menjawab apa pertanyaan Ratu Aston tersebut. Dia takut jika dia akan salah bicara jika menjawabnya dengan jujur. “Apa kau jatuh saat dia pergi?” tanya Ratu Nana. “Bagaimana Ratu tau Pangeran pergi?” tanya Putri Moerae kaget. “Jadi dia tadi benar-benar meninggalkan mu Putri?” tanya Ratu Nana tak kalah kaget dengan kenyataan yang didapatnya itu. “Hmm ti---.” “Bagaimana bisa dia meninggal kan mu, dia sungguh keterlaluan Akan ku hukum dia dipenjara ayahnya..” ujar Ratu Nana menunjukkan kekesalannya pada Pangeran Xavier. Putri Moerae diam sejenak sebelum kembali berucap. “Ratu tidak perlu menghukum nya..” ujar Putri Moerae. “Kenapa Putri? Apa kau mencintainya?” tanay Ratu Nana asal. “Cinta? Tidak mungkin.” Batin Putri Moerae mantap. “Hmm bukan begitu Ratu..” ujar Putri Moerae bingung harus menjawab apa pertanyaan aneh Ratu Nana. “Kalau begitu aku akan menghukum nya. Dia sudah tega meninggalkan sendiri sampai membuatmu terluka seperti ini.” Ujar Ratu Nana. “Tapi Ratu aku terluka karna aku tidak hati-hati.” Uajr Putri Moerae menjelaskan. “Aku tau. Tapi tetap saja ini salah Pangeran bodoh itu, jika dia tidak meninggalkan mu pasti kau masih baik-baik saja..” ujar Ratu Nana lagi. “Pangeran bodoh? Bahkan Ratu juga menyebut nya Pangeran bodoh.” Batin Putri Moerae kaget. Tak lama Pangeran Xavier masuk.. “Bunda..” panggil Pangeran Xavier. “Kau temui aku diruangan ayah mu sebentar lagi..” ujar Ratu Nana tegas. “Pasti bunda marah.” Batin Pangeran Xavier. “Baik bunda..” “Putri, aku pergi dulu. Jika kau perlu apapun minta saja pada pelayan. Jangan sungkan.” Ujar Ratu Nana berpamitan. “Baik Ratu.. Terima kasih karna sudah datang Ratu..” ujar Putri Moerae sopan. “Tentu Putri..” “Bunda keliatan suka pada Putri aneh ini.” Batin Pangeran Xavier mengamati Bundanya dan Putri Moerae. “Ingat Pangeran Xavier!” tegas Ratu Nana. “Iya bunda.” Ujar Pangeran Xavier. Ratu nana segera keluar dari ruangan tersebut, tinggallah Pangeran Xavier dan Putri Moerae. “Apa dokter bilang luka mu parah?” tanya Pangeran Xavier. Putri Moerae menggelengkan kepalanya. “Hanya cedera ringan..” ujar Putri Moerae. “Syukurlah..” “Hmm..” “Tapi ini akan jadi penghalang izin dari ayah, pasti dia tidak mengizinkan ku ke bumi sepulang dari sini.” Batin Putri Moerae dengan wajah sedihnya. “Tapi mengapa wajah mu terlihat sedih?” tanay Pangeran Xavier. Putri Moerae menatap Pangeran Xavier dengan tatapan sendu. “Aku sedih pasti ayah ku tidak mengizinkan ku ke bumi..” ujar Putri Moerae. “Kau akan ke bumi?” tanay Pangeran Xavier. Putri Moerae menganggukkan kepalanya. “Aku selalu ke bumi sebulan sekali.” Ujar Putri Moerae. “Dalam rangka apa?” tanya Pangeran Xavier. “Menenangkan diri..” “Apa ethiopia tidak cukup menenangkan?” tanya Pangeran Xavier. “Tidak bagiku..” “Ya kau aneh..” Putri Moerae hanya diam dan mengendus kesal pada Pangeran Xavier. Sejurus dengan hal itu, Pangeran Felix masuk kedalam ruangan tersebut. “Moerae!” panggil Pangeran Felix. “Felix.” Panggil Putri Moerae dengan wajah sedeihnya. “Muka mu tidak cukup untuk mengurangi----.” “Kata dokter aku harus istirahat penuh. Jika kau menggangu, kakiku akan semakin bengkak.” Ujar Putri Moerae dengan nada sedih. Pangeran Felix menghela nafs panjang.  “Apa sakit?” tanay Pangeran Felix. Putri Moerae mengangguk dnegan manjanya. “Kenapa kau bisa jatuh?” tanay Pangeran Felix ingin tau detail kejadian. “Aku tidak hati-hati..” “Kau Putri yang ceroboh..” kesal Pangeran Felix. “Maafkan aku..” ujar Putri Moerae tulus. “Tidak pa-pa, kau sudah dapat luka itu, kuharap itu tidak akan terulang..” ujar Pangeran Felix sambil mengelus kepala Putri Moerae. “Ku pasti kan itu tidak akan terulang Felix..” ujar Putri Moerae dnegan nada yang mantap dan yakin. “Dia Putri yang lucu.” Puji Pangeran Xavier dalam hati. “Walaupun dia bertolak belakang dengan saudaranya. Tapi dia Putri yang baik dan hangat. Siapapun pria pasti akan jatuh cinta pada nya.” Sambung Pangeran Xavier. Pangeran Xavier tersenyum melihat interaksi kedua saudara itu. “Hmm Pangeran Felix.” Panggil Pangeran Xavier. “Ya Pangeran Xavier..” “Aku minta maaf karna tidak bisa menjaga Putri Moerae dengan baik..” ujar Pangeran Xavier tulus. “Tidak pa-pa itu karna dia terlalu ceroboh. “ ujar Pangeran Felix. “Hmm baiklah. Aku pamit dulu, Ratu menunggu ku di ruangan nya..” ujar Pangeran Xavier. “Ohh baik lah. Terima kasih sudah membawa Moerae pulang..” ujar Pangeran Felix. “Sekali lagi maaf atas lukanya..” ujar Pangeran Xavier. Pangeran Felix menganggukkan kepalanya, detik selanjutnya Pangeran Xavier keluar dari kamar Putri Moerae. Setelah Pangeran Xavier keluar, Putri Moerae merentangkan tangannya pada Pangeran Felix minta ingin di peluk oleh Pangeran Felix. “Moerae..” “Aku sudah melewati hari yang berat Felix.” Ujar Putri Moerae. “Baiklah.” Ujar Pangeran Felix sambil mendekat pada Putri Moerae dan memeluk adik bungsunya itu. “Sudah jera main diluar istana?” tanya Pangeran Felix sambil mengelus rambut Putri Moerae. “Tentu saja belum..” ujar Putri Moerae sambil tersenyum lebar. “Kau sangat keras kepala..” “Maka dari itu aku lahir sebagai Putri bukan putra mahkota..” ujar Putri Moerae. “Ya dan kau tidak akan bertahan dengan sifat itu jika menjadi b***k. Jadi bersyukurlah kau lahir sebagai Putri..” ujar Pangeran Felix. “Felix!!!” “Istirahat lah. Kita harus kembali besok siang..” ujar Pangeran Felix sambil melepaskan pelukannya pada Putri Moerae. “Baik Felix.” Ujar Pangeran Xavier menurut pada ucapan Pangeran Felix. Pangeran Felix membantu Putri Moerae berbaring dan menyelimuti tubuh Putri Moerae. “Selamat istirahat Putri keras kepala..” ujar Pangeran Xavier sambil mencium kening Putri Moerae. Putri Moerae tersneyum dan memejamkan matanya setelah Pangeran Felix keluar dari kamar Putri Moerae. === == = Setelah keluar dari kamar Putri Moerae, Pangeran Xavier melangkahkan kakinya menuju ruang kerja raja. Saat masuk Pangeran Xavier disambut oleh orang tuanya. “Bunda..” sapa Pangeran Xavier begitu sudah berada di depan Ratu Nana. “Mengapa kau cepat sekali kesini?” tanya Ratu Nana. “Jadi bunda ingin bagaimana?” tanya Pangeran Xavier jengah. Ratu Nana hanya terdiam. “Duduk lah..” ujar Ratu Nana setelahnya. Pangeran Xavier duduk dengan malasnya, dia tau  jika saat ini dia akan disidang oleh Bundanya. “Ada apa bun?” tanya Pangeran Xavier. “Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Ratu Nana. “Maksud bunda?” tanay Pangeran Xavier bingung. “Mengapa kau pulang tanpa Putri Moerae sebelumnya? Lalu mengapa tiba-tiba ada permintaan pencarian Putri Moerae? Dan terakhir kau kembali menggendong Putri Moerae dengan luka di kaki nya. Apa yang terjadi sebelumnya?” tanya Ratu Nana beruntun. Pangeran Xavier terdiam. “Sebelum aku menjawab. Aku ingin bertanya, dari mana bunda tau?” tanya Pangeran Xavier pada Bundanya. “Saat ini kau hanya putra mahkota nak, kau belum menjadi raja. Walaupun kau bisa memerintah apapun di aston, tetap saja ayah mu lebih berkuasa dari pada kau.  Untuk mencari tau itu tidak susah nak..” ujar Ratu Nana menjelaskan. “Ahhh aku melupakan itu tadi..” ujar Pangeran Xavier sarkas. “Jadi apa yang terjadi?” tanay Ratu Nana lagi. “Apa bunda tidak bisa mencari tau sendiri?” tanay Pangeran Xavier meanntang Bundanya. “Xavier! Kau ingin keluarga lady----.” “Berhenti mengancam ku bunda..” ujar Pangeran Xavier memotong ucapan Pangeran Xavier. “Ceritakan apa yang terjadi!” perintah Ratu Nana tegas. Pangeran Xavier menarik nafas dalam “Aku mengajak Putri Moerae keliling aston, aku membawanya ke puncak aston. Tidak lama disana karna dia mengeluh lapar, jadi aku membawanya ke restoran.” Ujar Pangeran Xavier menjelskan. “Di restoran aku bertemu lady alicia, aku niat ingin bicara sebentar.” Sambung Pangeran Xavier setelah diam sejenak. “Tapi dia mengajakmu pergi dan kau melupakan Putri Moerae yang sedang makan di restoran.” Tebak Ratu Nana. Pangeran Xavier menganggukkan kepalanya. “Kau sungguh keterlaluan Xavier.” Ujar Ratu Nana dengan tatapan tak percaya. “Aku sudah minta maaf bunda..” ujar Pangeran Xavier. “Apa maaf mu bisa menghilang kan luka pada kaki Putri Moerae? Sekarang aku merasa tidak enak pada raja dan Ratu ethiopia.. Bagaimana bisa Putrinya kembali ke ethiopia dengan luka di kaki nya .” kesal Ratu Nana sambil menatap Pangeran Xavier tajam. “Bunda..” “Berapa lama hukuman apa yang kau inginkan?” tanya Ratu Nana. “Bunda, hanya luka dikaki. Kau ingin mengurungku di penjara ayah?” tanya Pangeran Xavier tak percaya pada pertanyaan Bundanya. Ratu Nana mengangguk pelan. “Kurasa itu cukup pantas.” Ujar Pangeran Xavier. “Kau terlalu kejam bunda..” ujar Pangeran Xavier. “Apa kau sedang berkaca?” tanya Ratu Nana. “Bunda..” “Kalau begitu nikahi Putri Moerae!” ujar Ratu Nana. === Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD