Bab 6 Ketika Dunia Berhenti Berputar

1898 Words
"Nadinya lemah tapi stabil." Suara dokter jaga itu terdengar dari balik tirai putih, tenang dan terukur seperti yang memang dilatihkan namun bagi Stefan Wiranata yang berdiri di luar ruang IGD dengan tangan mengepal di sisi tubuhnya, setiap kata itu terasa seperti pukulan yang berbeda-beda beratnya. "Kami sudah tangani. Untuk saat ini kondisinya sudah aman." Seraphina menunduk. Tangannya menutupi mulutnya. Bahunya bergetar, namun tidak ada suara yang keluar. Tangisan yang terlalu dalam untuk memiliki suara. "Tapi kami sangat menyarankan untuk rawat inap," lanjut dokter itu, menatap keduanya bergantian. "Bukan hanya untuk pemantauan fisik. Putri Bapak dan Ibu membutuhkan evaluasi lebih lanjut." Stefan mengangguk pelan. Rahangnya mengeras. "Berapa lama putri kami harus dirawat, Dok?" "Itu tergantung perkembangannya. Tapi malam ini, sebaiknya pasien tetap disini." Ray yang memberikan keterangan kepada dokter. Ia duduk di kursi plastik di sudut ruangan, berbicara dengan suara rendah dan teratur. Suara dokter yang terlatih menyampaikan informasi secara faktual, meskipun informasi yang ia sampaikan kali ini bukan tentang pasiennya, melainkan tentang kakak perempuannya sendiri. Ia menceritakan segalanya. Tiga hari tanpa tidur yang berarti. Penolakan makan. Kekosongan di mata Alessa yang sejak awal sudah mengkhawatirkannya. Gaun pengantin yang dikeluarkan lagi dari lemari. Bisikan-bisikan di malam hari yang ia dengar samar melalui dinding. "Apa ada riwayat sebelumnya?" tanya dokter jaga. "Tidak." Ray menggeleng. "Kakak saya tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ini pertama kali." Dokter mencatat sesuatu. "Baik. Saya akan membuat rujukan untuk poli psikiater secepatnya." Ray mengangguk. Namun di dalam dadanya, ada sesuatu yang terasa seperti batu. Berat, dingin, dan tidak mau pergi. Menjelang jam empat subuh, Alessa dipindahkan ke kamar rawat inap VVIP yang berada di lantai enam. Ruangan itu bersih, putih, dan sunyi namun bukan sunyi yang biasa. Ini adalah sunyi yang mahal, yang sengaja dijaga. Kamar rawat inap VVIP di lantai paling atas rumah sakit itu terasa lebih menyerupai suite hotel bintang lima daripada tempat orang sakit, dinding dilapisi cat krem hangat, sofa beludru abu-abu di sudut ruangan, jendela lebar dari lantai hingga langit-langit yang menghadap panorama kota. Namun tetap saja, bau antiseptik tidak bisa sepenuhnya disembunyikan, suara monitor berdenyut teratur tanpa jeda, dan selang infus yang menghubungkan lengan kiri Alessa ke kantong cairan bening di atas kepalanya tetaplah selang infus, apa pun nama ruangan ini. Tidak ada yang berbicara untuk waktu yang lama. "Ma." Suara Alessa akhirnya keluar, serak dan kecil. Seraphina langsung menegakkan tubuhnya. "Mama di sini, sayang." "Aku ingin pulang." Ibunya menggenggam tangannya lebih erat. "Nanti ya. Kamu istirahat di sini dulu." Alessa menutup matanya. Tidak membantah, namun dari cara rahangnya mengeras, jelas ia menelan sesuatu yang ingin ia katakan. Psikiater datang keesokan paginya. Perempuan paruh baya dengan kacamata tipis dan suara yang tenang, ia masuk dengan senyum yang tidak terasa dibuat-buat dan menarik kursi untuk duduk di sisi ranjang Alessa dengan cara yang terasa seperti percakapan, bukan pemeriksaan. "Alessa, namaku Dr. Madeleine. Aku hanya ingin mengobrol sebentar." Alessa menatapnya dari balik selimut rumah sakit yang ia tarik hingga ke d**a. "Aku tidak butuh psikiater." "Tidak ada yang bilang kamu butuh," jawab Dr. Madeleine dengan nada yang tidak berubah. "Aku hanya ingin mengobrol." "Aku tahu cara kerja ini." Suara Alessa datar. "Aku Sarjana Hukum. Aku bisa membaca situasi." "Bagus." Dokter itu tersenyum tipis. "Lalu kamu pasti juga tahu bahwa menolak bantuan bukan tanda kekuatan." Alessa tidak menjawab. Ia berbalik menghadap dinding. Setelah beberapa menit dalam keheningan, Dr. Madeleine berdiri, meninggalkan kartu namanya di meja samping ranjang, dan keluar tanpa memaksa. Di luar kamar, ia berbicara pelan dengan Ray dan kedua orang tua Alessa. "Penolakan ini wajar," ucapnya. "Jangan ditekan. Tapi kondisinya perlu dipantau secara ketat. Kalau dalam dua hari tidak ada perbaikan dari sisi kemauan untuk makan dan minum, kita perlu bicara tentang langkah selanjutnya." Hana tiba siang itu, setengah berlari dari parkiran rumah sakit dengan kantong plastik berisi buah-buahan yang mungkin tidak akan dimakan siapa pun dan mata yang sudah merah bahkan sebelum ia masuk ke dalam kamar. Ia berdiri di ambang pintu, menatap Alessa yang berbaring menghadap jendela, dan untuk beberapa detik ia tidak bergerak. "Al." Suaranya pecah di suku kata pertama. Alessa tidak berbalik. "Kamu tidak perlu ke sini, Han." "Gak." Hana masuk, meletakkan kantongnya sembarangan di kursi, dan duduk di tepi ranjang. Tangannya meraih tangan Alessa yang tergeletak di atas selimut. "Aku ke sini karena aku mau, bukan karena kamu izinkan." Keheningan. Lalu, tanpa peringatan, Hana menangis. Bukan isak yang tertahan. Melainkan tangisan yang sudah ia tahan sejak mendapat telepon dari Ray tadi malam, yang akhirnya keluar dalam satu gelombang yang tidak bisa lagi ia bendung. "Hana…" "Jangan bilang aku tidak perlu nangis." Hana mengusap matanya dengan punggung tangan, namun air matanya tidak berhenti. "Kamu hampir tidak ada, Kak. Kamu hampir meninggal dan aku bahkan tidak tahu sampai Ray telepon aku semalam.” Alessa menatap sahabatnya itu. Ada sesuatu yang bergerak di balik matanya yang kosong, sesuatu yang kecil namun nyata. Ia tidak berkata apa-apa tapi ia membalikkan tangannya, menggenggam jari-jari Hana. Dan itu sudah cukup untuk membuat Hana menangis lebih keras. Hari kedua di rumah sakit tidak membawa banyak perubahan. Alessa menolak obat pagi itu tanpa penjelasan, menatap langit-langit dengan ekspresi yang sudah terlalu akrab bagi semua orang di ruangan itu. Makan siang datang dan pergi hampir tidak tersentuh. Minum pun harus dipaksa seteguk demi seteguk oleh ibunya yang duduk di sisinya dengan kesabaran yang tampak utuh dari luar, namun di dalamnya mungkin sudah retak di banyak tempat. "Al. Satu teguk lagi." Alessa menggeleng, “aku sudah tidak haus, Han.” "Kak, makan dulu." Nada Ray lebih ke arah memohon daripada memerintah. "Sedikit saja." "Tidak lapar." "Kakak bilang itu dari kemarin." "Karena kakak memang tidak lapar." Ray menghela napas. Ia meletakkan tabletnya. "Kalau Kakak tidak makan, dokter akan pasang NGT. Kakak mau?" Alessa tidak menjawab. Tapi matanya bergerak sebentar ke arah Ray, sangat sekilas sebelum kembali ke langit-langit. Seraphina Wiranata duduk di koridor rumah sakit sendirian. Stefan sedang di kantin bawah, membeli kopi yang mungkin tidak akan ia minum. Hana sudah pulang sejak sore tadi. Ray sedang berbicara dengan dokter jaga di stasiun perawat. Seraphina duduk dengan tangan terlipat di pangkuannya sambil menatap ubin putih. Memikirkan putrinya yang berbaring di balik pintu itu, putrinya yang pintar, yang selalu terlalu keras pada dirinya sendiri, yang jatuh cinta dengan cara paling tulus dan paling menyakitkan. Dan memikirkan satu rencana yang sudah berputar di kepalanya sejak malam pertama, namun terus ia tahan karena tahu suaminya pasti tidak akan setuju. Ketika Stefan kembali dengan dua cangkir kopi, Seraphina menatapnya langsung. "Aku ingin pergi ke rumah Xavier." Stefan berhenti. Cangkir di tangannya tidak bergerak. "Tidak." "Stefan…" "Tidak." Suaranya rendah namun tegas, dengan nada yang tidak sering ia gunakan bahkan dalam ruang sidang sekalipun. "Kita sudah cukup dipermalukan. Kita tidak akan memohon kepada mereka." "Ini bukan soal harga diri kita." Seraphina berdiri, menghadap suaminya langsung. Matanya lelah namun tidak goyah. "Ini soal putri kita yang ada di balik pintu itu dan tidak mau makan, tidak mau minum, tidak mau minum obat. Kita hampir saja kehilangan putri kita, Stefan." Suaminya terdiam. "Aku tidak peduli harus merendahkan diri," lanjut Seraphina, suaranya mulai bergetar namun tidak pecah. "Kalau ada satu hal yang bisa membantu Alessa, aku akan melakukannya. Apa pun itu." Stefan Wiranata menatap istrinya untuk waktu yang lama. Di matanya ada pertarungan yang tidak membutuhkan kata-kata untuk terlihat antara harga diri seorang ayah yang terluka dan cinta seorang pria yang tidak sanggup melihat anaknya seperti ini. Akhirnya ia menghela napas panjang. Berat sekali. "Aku yang mengemudi," ucapnya. Kediaman keluarga Cakrawala di Kawasan Perada terasa berbeda di malam hari. Lampu-lampu taman menyala di sepanjang jalan setapak, pohon-pohon besar mengayunkan dahan-dahannya dalam angin malam, dan gerbang besi tinggi itu berdiri seolah menjaga sesuatu yang tidak ingin diganggu. Stefan memarkirkan mobil. Tidak ada yang bergerak selama beberapa detik. "Kamu yakin?" tanyanya pelan. Seraphina sudah membuka pintu mobilnya. "Aku tidak punya pilihan lain." Mereka diterima oleh asisten rumah tangga yang terlihat terkejut melihat tamu di jam seperti ini, namun mengantar keduanya masuk setelah menelepon ke dalam. Christian dan Vivienne Cakrawala turun dengan wajah yang menyimpan rasa bersalah yang tidak mereka ucapkan, rasa bersalah yang sudah ada sejak hari pernikahan yang tidak pernah terjadi itu. "Seraphina, Stefan…" Vivienne memulai. "Kami ingin bertemu Xavier. Apa dia ada?" Seraphina memotong, sopan namun langsung. Xavier turun beberapa menit kemudian. Ia berdiri di tangga, menatap dua orang yang berdiri di ruang tamu rumahnya. Ibu Alessa dengan mata lelah namun tegak, ayah Alessa dengan rahang mengeras dan tangan yang mengepal di sisi tubuhnya. Di belakang mereka, orang tuanya sendiri berdiri dalam diam yang tidak nyaman. "Tante Seraphina. Om Stefan." Suaranya terkendali. "Ada apa?" "Alessa di rawat di rumah sakit." Seraphina berbicara langsung, tanpa basa-basi, karena malam sudah terlalu larut dan hatinya sudah terlalu lelah untuk berbasa-basi. "Ia dilarikan ke IGD dua hari lalu. Kondisinya mengkhawatirkan. Ia tidak mau makan, tidak mau minum, menolak obat." Ia berhenti sejenak. "Aku datang bukan untuk memaksamu kembali ke perjodohan itu. Aku hanya memohon agar kamu bersedia datang menjenguknya. Satu kali saja." Xavier tidak bergerak dari tempatnya berdiri. "Xavier." Ibunya, Vivienne, bergerak mendekat, menyentuh lengan anaknya. "Mama mohon…" "Maaf, aku tidak bisa melakukan itu." Suaranya pelan, namun jelas. "Xav." Ayahnya kali ini, dengan nada yang jarang Christian Cakrawala gunakan kepada anaknya. "Alessa hampir kehilangan nyawanya." "Aku tahu." Xavier menatap lantai sebentar, lalu kembali menatap ke depan. Ada sesuatu yang melintas di wajahnya, sesuatu yang menyerupai rasa sakit namun dikunci rapat di balik ekspresi yang ia pertahankan. "Dan aku menyesal. Sungguh. Tapi kalau aku datang, itu tidak akan membantunya." "Bagaimana kamu bisa tahu?" suara Seraphina mulai retak di ujungnya. "Karena kalau aku datang," Xavier menjawab pelan, "ia akan berharap lagi. Dan harapan itu yang menghancurkannya sejak awal. Aku tidak mau menjadi alasan ia semakin sulit untuk melepaskan." Keheningan menguasai ruangan. Stefan Wiranata yang dari tadi berdiri diam akhirnya bergerak. Satu langkah ke depan, menatap Xavier langsung, dengan tatapan yang dalam karier hukumnya selama tiga puluh tahun telah membuat banyak orang mundur. "Kamu bicara seolah keputusanmu ini untuk kebaikannya." Suaranya rendah dan terkontrol. Terlalu terkontrol. "Tapi Alessa ada di rumah sakit karena kamu. Jadi saya rasa kamu tidak punya hak untuk bicara tentang kebaikan kepada putri saya." Xavier tidak menjawab. Vivienne memegang tangan Seraphina dengan dua tangannya, matanya merah. "Seraphina, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf atas semua ini…" "Aku tidak butuh maaf." Seraphina menarik tangannya perlahan, tidak kasar, namun tegas. Ia menatap Xavier sekali lagi, dan kali ini di matanya tidak ada kemarahan. Hanya kelelahan seorang ibu yang sudah kehabisan segalanya kecuali cintanya pada anaknya. "Aku tidak memohon untukku," ucapnya. "Aku memohon untuk anak perempuanku yang bahkan tidak punya keinginan lagi untuk tetap hidup." Xavier menatap perempuan di hadapannya. Tangannya mengepal, namun ia tidak bergerak dari tempatnya. Dan dengan itu, semua jawaban sudah diberikan tanpa perlu kata-kata lagi. Perjalanan pulang berlangsung dalam diam yang berbeda dari perjalanan berangkat. Di perjalanan berangkat, masih ada harapan tipis yang menggantung. Kini tidak ada lagi. Stefan mengemudi dengan mata lurus ke depan, rahangnya tidak pernah mengendur sejak meninggalkan rumah Cakrawala. Seraphina menatap keluar jendela, menyaksikan lampu-lampu kota J-City yang terus menyala tanpa peduli ada hati yang hancur di balik setiap jendelanya. "Bukankah sudah aku katakan sejak awal, tidak ada gunanya." ujar Stefan akhirnya, dengan suara yang untuk pertama kalinya malam ini terdengar seperti suara seorang pria yang tampak putus asa. Seraphina tidak langsung menjawab. Ia menatap tangannya sendiri di pangkuannya. "Ternyata aku salah," ucapnya akhirnya. "Dia manusia yang tidak punya hati." Stefan mengangguk. Di luar, kota terus bergerak. Terus hidup. Seperti tidak ada yang terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD