Part 6 - Kenapa Begini?

1046 Words
"Kau bocah sial! Kaulah pembunuhnya!" pekik Maria dengan sorot matanya yang tajam. Alana dibawa ke sebuah ruangan kosong yang lebih mirip seperti sebuah gudang. Ia terlempar begitu saja ke lantai. Debu pekat kian beterbangan begitu saja. Sontak, alergi debu yang dialami Alana mulai menunjukkan reaksinya. Ia terbatuk seketika. Senyum menyeringai terlihat dari Maria. Entah bagaimana sosoknya bisa berubah sedemikian rupa. Apa yang sebenarnya sedang dialami ibunya itu? Apakah ini semua trauma beratnya? Bagaimana Alana akan keluar dari hal ini? Deretan pertanyaan itu barangkali yang terus berputar di kepala Alana. Gadis sembilan belas tahun itu. "Tinggallah disana! Hahaha!" "Enak? Batuk? Pengap? Disitulah harusnya!" Pekik Maria diiringi suara menyeringai dan tertawa sendirian. Sebuah suara yang baru pernah Alana dengar dari ibunya. Sangat berbeda dari biasanya. "Mom?" gumam Alana sembari menatap ibunya dari kejauhan. Pintu pun ditutup Maria dengan begitu kerasnya. Alana sempat lari dan memegangi gagang pintu—menahan sekuat hati untuk tak mengurungnya di sana. "Mom!! Jangan tinggalin Alana!! Alana butuh mamah!!" pekik Alana memanggil mamahnya dibalik pintu. Sayang sekali, pintu itu telah dikunci. Sebuah senyum kembali tersungging dari bibir Maria. Sebuah senyum yang hakikatnya adalah senyum paling pilu dari dirinya. Bagaimana tidak? Bagaimana seorang Maria yang terkenal begitu lembutnya akan tega mengurung putri satu-satunya itu di ruangan pengap? "Mom! Mamaaaaah! Tolong!! Disini pengap, Mah! Alana takut!" "Maaamaaah!" "Uhuukk... Uhukk." Alana mencoba terus berteriak memanggil ibunya, tapi tak ada tanggapan satu pun darinya. Suara tikus berdecit, kian terdengar dari telinga Alana. Ia terduduk begitu saja dibalik pintu. Sesekali tangannya mengetuk-ngetuk semakin lemah. Berusaha terus memanggil ibunya. "Maaah?! Mamah gabakal ninggalin Alana kan?" "Maaah... Buka, Mah! Alana pengin makan. Alanaa lapar," ucapnya semakin lemah. Ia baru sadar, sejak beberapa hari ia diculik itu, ia belum makan sama sekali. Bagaimana mungkin, Alana akan bertahan? Apakah ia akan mati kelaparan di dalam ruangan pengap? Braaak!! Tanpa terduga, pintu itu kembali dibuka setelah beberapa saat kemudian. Kini, Maria membawa sebuah bungkusan. Alana mulai berbinar melihatnya. "Gantilah! Itu pakaianmu!" Maria melemparkannya plastik berisi baju itu pada Alana. "Mulai sekarang! Ini hukumanmu! Anak pembunuh!" "Maah! Alana bukan pembunuh, Mah?! Jangan tinggalin Alana!!" pekik Alana begitu pintu itu akan kembali ditutup. "Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi dengan Mamah? Kenapa ia sampai berubah seperti ini? Apa yang bisa kulakukan di ruangan ini sendirian?" "Ayah... Aku rindu. Kenapa pergi secepat ini? Alana takut. Alana takut." Alana menundukkan wajahnya. Ia masih terduduk di lantai yang tak jauh dari pintu. Sontak, tangisnya berhenti begitu mendengar perutnya yang berbunyi. "Ayah... Alana lapar. Apa yang harus Alana lakukan? Apakah perlu kabur saja? Tapi ruangan ini? Bagaimana caranya?" gumam Alana. Tak ada yang dapat mengetahui perubahan laku seseorang. Bahkan, orang paling terdekat kita. Mereka pun dapat berubah sewaktu-waktu. Meskipun hal itu terkadang sangat tak bisa diterima begitu saja. Pun, tak ada yang benar-benar mengerti selain diri sendiri. Kesepian barangkali semacam menu yang melekat pada tiap insan. Terutama, mereka yang senantiasa mengejar cahaya. Berpegang teguh di dalamnya. Bersinar karena kebaikan-kebaikan yang ditebar, apapun yang diterimanya. Seorang Soe Hok Gie juga merasakan kesepian dalam menjalani hidupnya. Merasa sepi karena orang-orang tertentu tak mampu memahami jalan pikirnya. Idealisnya. Namun dia tetap fight dengan hal itu. Begitupun Pramoedya Ananta Toer, selaras merasa kesepian—tersebab memang beberapa orang di sekitar kita barangkali memang tercipta bukan untuk memahami, tapi membentuk diri berjalan lebih tenang sendiri—tanpa puja puji. "Bila memang yakin, jalan yang ditempuh adalah kebaikan, lakukan. Toh, kita diciptain biar bermanfaat untuk orang lain 'kan? Itu yang selalu kamu bilang ke aku La!" Alana teringat ucapan itu, entah bagaimana ia pernah mendengar nasihat itu. "Ini pilihan berat buatku. Aku tak tega meninggalkan Mamah. Beliau memiliki riwayat sakit parah. Tapi aku juga tak mungkin berhenti di tempat ini. Menyerah? Cuma aku yang bisa bantu Ibu. Ya, Ibu sakit." Alana mengucapkannya tanpa berkaca-kaca. Seakan tak ada sendu di dalam hatinya. Alana kini teringat momen bersama Ibunya. Ya, kala ia berdua saling dekat, saat ibunya sakit. Kala itu Alana tersenyum. Setelah beberapa saat membantu Ibunya meminum obat. "Maafin Alana ya, Mah. Belum bisa jaga Mamag dengan baik. Alana selalu pergi pagi pulang petang. Tak ada di samping Mamah." "Mamah yang minta maaf, Nak." Alana menggelengkan kepala. Memeluk tangan Ibunya. Erat. "Nak, di bawah laci sana masih ada barang kesukaan Mamah saat usia sepertimu. Nenek yang mengajari Ibu mendongeng, membuat kue, boneka kecil, merajut, dan benda kerajinan lainnya. Siapa tau kamu suka. Mamah titip sama kamu ya, Nak?" Alana mengangguk. "Masih ingat cara merajut?" "Masih, Mah. Tapi perlu waktu lama. Mamah kan tau, Alana pulangnya jam segini. Mungkin agak sulit, tapi Alana akan coba." "Jangan dipaksain, Nak. Di sana ada bahan lain. Kamu bisa coba semaumu. Makasih ya, sayang." Ibunya tersenyum. "Kamu tadi kehujanan 'kan? Bebersih dulu. Biar gak sakit. Jangan lupa ambil di laci Ibu tadi, ya. Mamah simpan di kotak berwarna biru." "Iya, Mah. Ibu istirahat, ya. Kala mau bebersih dulu." Ibunya tersenyum. Terlihat wajahnya yang yang rindu tapi sendu. Sendu tapi rindu. Seakan tak ingin ditinggal pergi anaknya. Meski sebentar saja. "Naak ...," Tangan Ibunya menahan Alana. "Iya, Bu?" "Jaga diri baik, ya." Alana mengangguk. Ada perasaan haru yang tergambar di wajah Alana. Saat kecil, selain mendongeng ada satu hal yang pernah Ibunya ajarkan—tepatnya saat mata Ibunya belum tertanam api dan penuh derai air—ia pernah diajari Ibunya merajut. Menyulam benang, pita, membentuk aneka bunga. Mungkin lewatnya, tak sadar Ibu menanam baju bernama kesabaran. Lewatnya pula, ia berlapis dengan baju ketulusan. Biar bagaimanapun, kebaikan Ibunya selalu berusaha ia ingat. Di luar segala luka masa lalu yang cukup menyakitinya. Mata Ibunya bukan lagi berapi dan berair mata. Tapi seperti mata air yang sejuk—yang dirindukan setiap pengelana. Banyak orang memelas kasih untuk dimengerti. Tapi hati yang tulus, selalu berusaha untuk lebih mengerti—memahami orang lain tanpa tapi. Bukankah dengan itu kita akan lebih mengenal rasanya daun yang jatuh tak pernah membenci angin dan pohonnya? Juga rasanya gerimis dan hujan yang menumbuhkan bunga-bunga tapi meski dicaci maki sebagian manusia? Sejenak, Alana kembali teringat. Bertahun-tahun lamanya Ibunya Kala sudah berusaha. Diluar ia yang belum memiliki telinga yang enak didengar bagi Alana. Namun, sebenarnya ia begitu kuat dan membuatnya bangga. Tak terbayang, berapa rintangan yang telah dilaluinya. "Mah... Mamah masih ingat kenangan itu 'kan? Apa Mamah lupa semuanya? Apakah hanya kebencian yang sekarang Mamah rasakan pada Alana?" Gumam Alana sembari menahan isak tangisnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD