Arman hanya mengantarku sampai ke TK dan daycare Mutiara, tempat aku menitipkan Rania, lalu pulang. Sengaja aku memintanya langsung pulang. Selain karena masih sebal dengan percakapan di mobil tadi, aku juga ingin mengobrol dulu dengan Erna. Lagipula jarak TK tak terlalu jauh dari rumahku, hanya lima menit jika ditempuh dengan berjalan kaki. Beruntung bagiku sehingga aku bisa menitipkan Rania jika ada keperluan. Apalagi Erna itu kawan baikku sejak SMA.
TK ini milik ibunya Erna. Selepas SMA, Erna mengikuti pendidikan guru TK kemudian ikut mengajar dan membantu ibunya mengelola TK.
“Nad, gimana wawancara kerjanya tadi?” tanya Erna antusias. Matanya berbinar-binar dan senyum merekah di wajahnya.
“Langsung saja tanya, gimana tadi Galang? Nggak usah sok peduli gitu, deh,” kataku sambil membukakan bungkus es krim untuk Rania. Erna termasuk penggemar sinetron terutama yang sedang naik daun. Ia seringkali heboh ngobrolin aktor ini dan itu, yang aku tak paham itu siapa. Aku yakin, pasti dia juga salah satu penggemar Galang.
“Jangan lupa baca apa sebelum makan, Rania?” tanyaku saat memberi es krim pada Rania.
“Bismillahirrohmanirrohiiim,” ucap Rania dengan aksen cadelnya.
“Pinteeer.”
“Ih, suuzon aja!” Erna cemberut. Ia mengambil selembar tisu dan mengusap pipi Rania yang belepotan es krim.
“Mau dengar kabar baik dulu apa kabar buruk dulu, nih?”
Erna terlihat berpikir ketika mendengar pertanyaanku. “Emm apa, ya, baik dulu aja, deh.”
“Oke kabar baiknya, aku keterima kerja, aaaak!” Aku histeris lalu kami berpelukan lebay.
“Terus kabar buruknya?” Erna melepaskan pelukanku dan raut mukanya berubah agak serius.
“Kayaknya Galang nggak suka aku diterima kerja di sana, deh.”
“Hah, kok, bisa?”
Aku pun bercerita panjang lebar pada Erna, mulai dari kejadian di taksi sampai wawancara.
“Kamu, sih, kubilang juga apa, sesekali nonton infotainment, biar nggak kudet! Bisa-bisanya kamu nggak mengenali artis seterkenal Galang, apalagi dia bos kamu!” Erna menggeleng prihatin. "Jadi, tadi nggak minta foto bareng?"
Aku menjawab dengan gelengan.
Sahabatku itu berdecak. "Nggak minta tanda tangan juga?"
"Ya nggak lah, buat apa coba? Kalau bisa buat mencairkan cek ratusan juta, boleh deh kuminta."
"Dasar, matre! Padahal kalau kamu posting foto bareng dia, kan lumayan tuh bisa pamer, nambah-nambah follower!"
Bener juga, ya. Eh!
“Nih, kamu harus baca informasi tentang Galang mulai sekarang. Mampus aja kalau sampai dia kesel lagi kaya tadi, terus kamu dipecat.” Erna menyodorkan ponselnya. Kulihat layarnya menampilkan laman winipedia bertuliskan nama Galang. Galang Arnaldo Rizki nama lengkapnya. Usianya dua puluh lima tahun, tiga tahun lebih muda dariku. Tak cukup sampai di situ, ia juga menunjukkan semua akun media sosial milik Galang.
“Cewek itu siapa?” Aku menunjuk salah satu foto Galang bersama perempuan di akun inst*gramnya
“Hah, kamu nggak tahu?”
Aku menggeleng dengan polosnya.
“Itu Amalya, lawan mainnya si Galang di Aroma Cinta. Ada gosip mereka pacaran beneran. Tapi nggak tahu, sih, soalnya belum ada kabar juga si Galang putus sama Marini.”
“Marini? Marini itu siapa?” tanyaku lagi.
“Nggak tahu juga?” Erna mulai terlihat kesal, nada suaranya meninggi. “Marini itu pacarnya Galang. Dia artis juga. Ya, ampuuun, bener-bener, deh, kamu!” Erna mencubit pipiku.
Aku meringis seraya mengelus pipi. Setelah itu Erna masih memberiku tebak-tebakkan mengenai orang yang dekat dengan Galang, mulai dari manajer, kakak perempuan, sampai tiga ponakannya yang lucu-lucu. Semuanya kujawab dengan gelengan kepala. Tentu saja aku tidak mengenal. Sebelum ini aku bahkan tak pernah tahu ada artis yang namanya Galang Arnaldo Rezki.
Ketika kulihat Rania telah selesai makan es krim, kuputuskan untuk pulang. Nanti biar kucari-cari sendiri info tentang Galang di rumah.
“Udah, ah, serem di sini jadi korban keganasan fansnya Galang,” candaku. “Yuk, Ran, kita pulang!” Aku berdiri dan menggandeng tangan Rania. Kalau aku tidak pulang, mungkin Erna akan memperkenalkan orang tua Galang, om, paman, sampai ke nenek buyutnya. Kalau per;u satpam kompleknya sekalian. Emang fans sejati, nih. Daebak!
“Ngapa, sih, buru-buru amat?” Erna ikut beranjak dari tempat duduknya dan mengantarku sampai gerbang TK. "Banyak yang masih harus kamu ketahui tentang Galang, lho. Tentang sinetron yang dibintanginya, ibunya, ayahnya terus ... " Tuh, kan!
"Sebagai pegawai yang baik, kita harus mengenali tempat di mana kita bekerja, termasuk mengenali sedalam-dalamnya tentang bos kita," cerocos Erna.
"Iya-iya, tapi untuk sekarang cukup. Kalau diibaratkan kuliah, pengenalan silsilah keluarga Galang yang tadi kamu beberkan itu udah tiga setengah SKS. Udah ngebul nih, kepala."
Erna tertawa. "Oke, okee. Ohya, jangan lupa besok Minggu kita ada reuni SMA, ya!”
Ya ampuun. Hampir aku lupa karena fokus sama wawancara kerja hari ini. SMA kami memang rutin menggelar reuni tiap tahun dan seringkali ada reuni dadakan ketika salah seorang teman yang tinggal di luar kota atau luar negeri mudik. Aku tak pernah melewatkannya sama sekali. Bagiku, bertemu teman lama adalah salah satu mood booster terbaikku.
“Mau berangkat bareng ke reuni?” tanyaku.
“Aku berangkat dari rumah Nenek, Nad. Ketemu di sana aja, ya, Darling.”
“Oke, deeh. Ayo, Ran, pamit sama Tante Erna. Pulang dulu, Tante.”
Rania menirukan ucapanku dan mengulurkan tangan pada Erna. Erna berjongkok, menyamakan tinggi dengan Rania. “Iya, Sayang. Besok main lagi, ya.”
☕☕☕
Hari Minggu, aku sudah berpenampilan rapi mau pergi ke reuni. Begitu pun Rania. Ia memakai dress sebawah lutut berwarna tosca dan legging berwarna hitam, manis sekali.
Baru saja hendak memesan taksi online, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Aku mengintip ke jendela. Sebuah mobil minivan putih terparkir di sana.
Kugandeng Rania keluar rumah.
“Pamaaan!!” Rania menghambur ke pelukan pamannya yang sudah berada di depan pagar rumah. Lelaki itu lalu mengendong Rania berjalan ke arahku yang sedang mengunci pintu.
“Ada perlu apa? Aku mau pergi!” tanyaku jutek. Masih teringat dia memarahiku tempo hari di mobil karena aku meninggalkan Rania untuk wawancara kerja. Lancang sekali!
“Naik ke mobil!” perintah Arman yang langsung ngeloyor menuju mobil sambil menggendong Rania. Terlalu!
Aku membuang napas kasar. Kesal rasanya, tetapi tetap berjalan mengikutinya.
“Mau ke mana, sih?” tanyaku saat ia membukakan pintu mobil.
Arman memandangku, diam beberapa detik lalu bertanya, “Aku yang tanya ke kamu, mau ke mana? Aku antar.”