Sejak keguguran tahun lalu, mereka tidak pernah lagi membahas untuk memiliki anak. Entah kenapa, Naya ragu. Dia suka dengan sentuhan itu. Namun untuk kembali memiliki anak, rasanya dia belum yakin. Walau keraguan masih ada karena sikap Revan yang sering kali berubah, Naya tetap melayani suaminya itu dengan baik. Revan menyentuhnya, memperlakukannya dengan lembut dan Naya menyukainya.
Naya tertidur meringkuk, sesekali meringis karena punggungnya terasa nyeri. Isak tangisnya sudah berhenti, namun matanya tetap tampak bengkak karena terlalu banyak menangis malam itu. Di sampingnya, Revan yang masih terjaga, bangun perlahan karena mendengar isak tangis yang tertahan.
“Nay?” Tangan itu masih menjadi bantalan, tidak berani ditarik meski mulai terasa pegal. “Kenapa? Sakit? Semalam aku terlalu kasar, ya?” Revan memeluk tubuh Naya dari belakang.
Kepala Naya menggeleng kecil. “Enggak, kok.”
Revan mendekatkan tubuhnya sambil dadanya menempel ke punggung Naya. Tubuh Naya diputar perlahan hingga mereka saling berhadapan. Revan menutupi tubuh mereka dengan selimut, kemudian menggenggam tangan Naya dengan lembut tapi erat.
Tanpa meminta izin, Revan memejamkan matanya lalu mencium Naya perlahan. Dia memposisikan tubuhnya diatas Naya. Sambil menahan rasa nyeri di punggungnya, Naya mencoba mengikuti permainan sang suami.
Ciuman itu berakhir dengan pelukan lama. Tubuh kembali direbahkan, masih dalam dekapan. Selimut ditarik lebih rapat, Tak ada kata lagi. Hanya napas yang perlahan menyatu, hingga akhirnya rasa lelah menang.
“Mas, sudah?” tanya Naya dengan napas yang masih memburu.
“Kenapa?” Revan balik tanya dan malah langsung mencium Naya sekali lagi. “Kamu masih mau?”
“Kamu harus kerja. Biar aku siapin air hangat dulu buat kamu mandi, ya?”
“Enggak usah. Kamu tidur lagi aja. Aku bisa sendiri.”
Revan bangkit perlahan, meninggalkan Naya yang kembali memejamkan matanya. Bukan karena kantuk, tapi karena masih menahan nyeri yang membuatnya bingung kenapa bisa sesakit itu?
Setelah mandi, Revan melihat Naya yang tertidur lagi. Kemudian, langkah ringan membawanya ke ruang kerja yang terhubung langsung dengan kamar mereka. Revan duduk di depan meja kerjanya, membuka laci yang selama ini selalu terkunci. Revan mengambil sebuah kotak hitam dan membukanya perlahan.
Tumpukan kertas surat, foto-foto lama, tiket bioskop, pita rambut, dan sepucuk kartu ucapan ulang tahun dengan tulisan tangan rapi tertumpuk di dalamnya. Semua tentang wanita yang pernah begitu dia cintai. Tentang kenangan yang tidak pernah sepenuhnya mati, bahkan setelah kematian memisahkan mereka.
Tangannya gemetar saat mengambil sebuah gelang kecil berwarna hitam. “Selama ini aku sudah berusaha lupain kamu, tapi kenapa kamu harus kembali di saat aku sudah menikah? Aku mencintai Naya. Tapi kenapa hati aku masih sesak tiap kali ingat kamu? Apa selama ini, tanpa sadar aku cuma jadikan Naya pelampiasan?”
Revan menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit ruangan dengan mata yang berkaca. Tiba-tiba, dering ponsel memecah keheningan. Dia meraih ponselnya yang tergeletak di meja.
“Halo?”
***
Matahari bahkan belum sepenuhnya naik, tapi Naya terbangun karena rasa nyeri di punggungnya yang semakin menusuk. Dia meringis pelan, menahan sakit sambil mengatur napas. Ketika membuka mata, tidak ada Revan di sampingnya.
“Mas?”
Naya mencarinya di kamar mandi, tapi tidak ada. Lampu di ruang kerja masih menyala, tapi tidak ada siapa pun di sana. Dia duduk di kursi kerja, kemudian membuka laci berkat kunci yang masih menggantung di sana.
Klik. Laci terbuka. Matanya membelalak saat melihat isi di dalamnya.
“Kotak apa, ini?”
Dengan ragu, Naya mengeluarkan kotak hitam itu dan meletakkannya di atas meja. Isi kotak itu membuatnya diam membeku. Naya mengambil dan membaca salah satu surat paling atas yang terlihat seperti baru ditulis.
“Aku mencintai Naya. Lalu untuk kembali bersama kamu, apa itu keputusan yang baik?”
Air mata mengalir deras karena sesak di hatinya. Namun, Naya masih terus menyusuri isi kotak itu. Mulai dari surat, foto, dan barang-barang kenangannya Revan dengan Feli yang lainnya. Naya menutup mulutnya dengan kedua tangan. Rasanya begitu menyakitkan hingga dia sulit bernapas. Tangisnya pecah, memenuhi ruangan yang sunyi.
Pintu kamar terbuka pelan, menampilkan seorang pria dengan tubuh tinggi, bahu lebar, d**a bidang, dan otot-otot lengan yang tampak jelas meski tertutup kaos yang kusut. Revan membelalak melihat sosok Naya yang berada di meja kerjanya. Kotak hitam itu terbuka lebar di atas meja dan tangan Naya menggenggam erat secarik kertas.
“Nayara?” Revan terpaku di ambang pintu.
Naya mendongak pelan. Mata mereka bertemu. Revan melangkah cepat ke ruang kerjanya dan berdiri sedikit jauh dari Naya yang menangis. “Ngapain kamu di sini?”
Naya tidak menjawab. Tatapannya kosong, namun ada luka yang menyala terang di matanya. Tangannya gemetar sambil menggenggam surat itu. Revan mendekat, namun Naya perlahan mundur.
“Kamu mau kembali sama dia? Maksudnya apa, Mas? Kamu masih berhubungan sama Feli? Bukannya kamu bilang dia sudah meninggal?”
“Apa, sih, maksud kamu, Nay?”
“Apa yang kamu sembunyikan dari aku?!”
Revan tak mampu menjawab lagi. Dia terduduk di lantai, menyandarkan punggung ke dinding, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Revan mengangkat wajahnya, menatap Naya dengan mata merah. “Dia bukan meninggal, tapi dia pergi sembunyi dari aku.”
“Apa?”
“Aku enggak tau apa pun tentang rencana dia ini, Nay. Sumpah. Aku enggak bohong sama kamu. Aku baru tau beberapa minggu lalu.”
“Kalau aku enggak temui kotak ini, apa kamu akan jujur tentang ini ke aku?”
“Sama sekali aku enggak bermaksud rahasiakan dari kamu. Aku cuma cari waktu yang tepat, Nay.”
“Dari awal, kalau memang kamu belum selesai sama masa lalu kamu, kenapa kamu ajak aku membangun masa depan?”
Hening lagi. Revan tidak mampu menjawabnya.
“Aku sama dia sudah selesai, Nay, karena aku pikir dia sudah meninggal.”
“Jadi, aku cuma pelampiasan kamu?!”
“Nay ….”
“Terus, kalau sekarang dia datang lagi, kamu mau kembali ke dia gitu?!”
“Aku ….”
“Kalau kamu belum bisa lupakan dia, kenapa kamu nikahi aku, Mas?!”
“Karena aku cinta sama kamu!”
“Terus kenapa kamu masih simpan semua itu?! Kenapa kamu bingung memilih bertahan sama aku atau kembali ke dia?! Kenapa?!”
“Nayara, cukup!”
“Kenapa?! Apa itu pilihan yang sulit, Mas?!”
Tubuh Nayara gemetar hebat. Napasnya memburu, dadanya naik turun tidak beraturan. Revan langsung berdiri mendekatinya. “Nay, kita tenangin diri dulu. Aku bakal jelaskan semuanya ke kamu. Aku bakal jujur tentang apa pun yang kamu mau tau.”
Nayara malah mundur selangkah, kedua tangannya meremas sisi meja. Tubuhnya goyah, napasnya semakin berat, dan akhirnya dia terjatuh ke belakang. Tubuhnya membentur sudut meja di belakangnya.
Buk!
“Argh!”
“Nayara!”
***