6. Pertemuan Miranti dan Haris

1484 Words
Sesungguhnya Abrina tidak sudi bersalaman dengan Livia yang ia ketahui sebagai adiknya Lusi. Namun, gadis itu tidak mau mengumbar masalah pribadinya di hadapan Gibran dan Gavin. Karena itulah dirinya lebih berpura-pura tidak mengenali Livia. Sama halnya dengan Livia. Gadis itu pun sebenarnya tahu jika remaja yang ada di hadapannya adalah anak dari suami kakaknya. Karena foto Abrina masih terpajang di ruang tamu Haris. Bahkan kemarin Haris cukup marah ke Lusi karena sudah lancang menyuruh Livia menempati kamar pribadinya Abrina. Sampai saat ini Haris masih berharap Abrina akan pulang. Kendati gadis itu sudah bersumpah untuk tidak lagi menginjakkan kakinya di rumah masa kecilnya. "Abrina." Abrina menyebut namanya dengan lirih. Dia yang enggan bersentuhan kulit dengan Livia hanya menempelkan telapak tangannya sebentar. "Gimana kamu sudah siap untuk pulang?" tanya Gibran usai Abrina dan Livia bersalaman. Abrina hanya mengangguk. Entah mengapa tiba-tiba semangatnya menurun saat tahu Gibran berhubungan dengan saudaranya Lusi. "Ya udah kita pulang sekarang," ajak Gibran kemudian, "tadi sebelum masuk ke kamar ini, kakak udah membayar tagihan biaya perawatan kamu." "Terima kasih banyak, Kak," ucap Abrina pelan. "Vin, kamu beresin barangnya Abrina?" tanya Gibran pada sang adik. "Apanya yang mau dibereskan? Orang Abrina gak bawa apa-apa," terang Gavin santai, "noh cuma ada satu stel baju kotor tuh," tunjuknya pada sebuah kantong plastik di atas meja. "Bang, pesanan aku semalam mana?" tagih Gavin kemudian. "Astaga! Abang lupa, Vin," sahut Gibran seraya menepuk dahinya. "Ya sudah nanti di jalan kita mampir beli baju buat Abrina," putusnya kemudian. "Iya, kesian dari kemarin piyamanya gak ganti-ganti. Sampe bau asem gitu," canda Gavin seraya melirik ke arah Abrina. Pemuda itu berharap Abrina akan kesal seperti biasanya. Sayang kali ini respon Abrina tidak sesuai ekspektasi. Wajah Gadis itu terlihat datar tanpa berniat untuk menanggapi. "Ya udah yuk keluar!" ajak Gibran lagi. Pemuda itu melangkah beriringan dengan Livia. Sementara di belakang Gavin menyamakan langkahnya dengan Abrina. Keempat anak muda itu menyusuri koridor rumah sakit menuju lobi. Kaki Abrina yang masih terasa sakit saat dibawa jalan. Tak heran jika langkahnya tertinggal. Beruntung Gavin menyadari. Pemuda itu berinisiatif mengambilkan kursi roda yang tersedia untuk Abrina. Sehingga gadis itu tidak perlu terseok-seok lagi untuk berjalan. Gavin sendiri merasa senang bisa mendorongkan kursi rodanya Abrina. Pandangan Abrina lurus ke depan. Tampak Gibran dan Livia melangkah sambil mengobrol. Dilihat dari gerak-geriknya terlihat jika Livia sangat mengagumi Gibran. Itu tampak dari sorot matanya. Serta bibirnya yang selalu menipis setiap kali pertanyaan dibalas oleh Gibran. Tiba-tiba Abrina teringat sesuatu. Dia yakin Livia pasti mengenal ibunya. Mantan istri kakak iparnya. Abrina tidak mau ibunya bertemu dengan Livia. Dia tidak ingin kehidupan susahnya diketahui oleh gadis itu. Pastinya akan jadi bahan ejekan Lusi nantinya. "Kak Gibran," panggil Abrina kemudian. Gibran yang tengah menanggapi obrolan Livia segera menoleh. "Ya Abrina, ada apa?" tanyanya kalem. "Eum ini kan sebentar lagi waktu makan siang sudah selesai, sebaiknya Kakak gak usah nganter saya ke rumah sakit tempat ibu saya dirawat." Dahi Gibran berkerut mendengar permintaan Abrina. "Kenapa?" "Aku biar pulang sendiri aja, Kak. Daripada Kakak telat masuk kantornya." Gibran tersenyum kalem. "Kakak kerja di kantor sendiri, Abrina. Jadi nggak kalau telat masuknya." "Iya, Kak, tapi saya gak mau merepotkan Kak Gibran terus-menerus," dalih Abrina serius, "terima kasih banyak untuk bantuan Kakak selama ini." Gibran yang masih bingung dengan jalan pikirannya Abrina hanya bisa terdiam. "Sepertinya Abrina ini anak yang pengertian," puji Livia sambil tersenyum. "Tapi dia jalan saja masih sakit, Vi," tanggap Gibran pada Livia. "Iya, tapi kita tidak boleh memaksa kemauan dia," sahut Livia santai, "Abrina benar sebentar lagi waktu makan siang udah mau lewat. Kita bahkan belum makan siang, jadi bagaimana kalo Gavin yang nganterin Abrina saja," usulnya terdengar bijak. "Ide yang bagus tuh," sahut Gavin semringah, "lagian ngapain juga kamu ngorbanin waktu buat Abrina ini, Bang?" "Ck!" Gibran berdecak, "Abang kan udah nabrak dia. Makanya abang harus tangung jawab." "Ya gimana orangnya aja gak mau," tukas Gavin sembari melipat tangan. Gifan terlihat menarik napas. "Ya sudah kalau itu keinginan kamu, Abrina. Tapi kamu harus tetap diantar sama Gavin, ya?" Abrina mengangguk lemah. Meski sebenarnya dia juga risih terus berdekatan dengan Gavin. Namun, itu pilihan yang harus ia ambil. Daripada nanti ibunya bertemu dengan Livia yang parasnya sebelas dua belas dengan Lusi. Abrina tidak mau ibunya drop kembali karena mengingat Lusi. Masih jelas di ingatan betapa Miranti terpukul hatinya saat tahu sang ayah akan menikahi Lusi. Orang yang sudah Miranti anggap sebagai saudara sendiri. "Vin, sini abang mau ngomong," ujar Gibran pada sang adik. Gavin menurut. Pemuda itu mengikuti langkah sang kakak melangkah menjauhi Abrina dan Livia. Entah pesan apa yang Gibran sampaikan untuk Gavin, Abrina tidak bisa mendengar karena letaknya cukup jauh. Selang lima menit kemudian, kedua pemuda bergaris wajah mirip itu mendekat kembali. "Ya udah Abrina kamu hati-hati di jalan, ya," pesan Gibran sebelum pamit pergi. Dirinya berlalu begitu mendapatkan anggukan setuju dari Abrina. Pemuda itu melangkah menuju parkiran tempat mobilnya menepi bersama Livia. Sementara itu Gavin dengan sikap memesan taksi online. Selama menunggu jemputan datang pemuda itu terus mengajak Abrina berbicara. Sayangnya si gadis lebih banyak diam seperti biasa. Bahkan lelucon konyol yang Gavin lontarkan sama sekali tidak menarik minat Abrina untuk tersenyum. Lima belas menit kemudian, taksi yang dinanti pun datang. Gavin dan Abrina memasuki kendaraan tersebut. Tadinya Gavin ingin duduk di belakang mendampingi Abrina. Namun, sang gadis menolak dan menyuruhnya untuk duduk di depan bersama Pak sopir. Malas berdebat Gavin pun mengalah. Sesuai permintaan sang kakak, di tengah jalan Gavin menyuruh sopir taksi untuk menepikan kendaraannya di halaman toko baju. Sebenarnya Abrina mengganggu karena tidak mau terlalu berhutang budi pada Gavin. Namun, ia merasa risih saat pemuda itu beberapa kali mengoloknya dengan kata bau asam. Ogah-ogahan gadis itu turun dari taksi. Di dalam dirinya hanya memilih sebuah kaos kasual dan celana panjang. "Selera berpakaian kamu payah!" olok Gavin begitu melihat Abrina ke luar dari ruang ganti. Abrina enggan menanggapi. Gadis itu hanya menuju meja kasir. Gavin pun menyusul untuk membayarkan. Perjalanan dilanjutkan kembali. Lagi selama dalam perjalanan Abrina memilih untuk banyak diam. Sehingga Gavin terpaksa mengobrol dengan Pak sopir saja. Dua puluh menit berkendara tibalah mereka di rumah sakit tempat ibu Abrina dirawat. Miranti sendiri cukup terkaget melihat kedatangan Abrina dengan seorang cowok. Karena di usianya yang akan menginjak tujuh belas tahun, Abrina jarang berteman dengan cowok. Miranti bahkan ingat setahun yang lalu sang putri sering mengeluh karena diusilin oleh teman lelakinya. Pada pengambilan rapot kenaikan kelas kemarin, Anggini memberi tahu pemuda yang suka menggangu Abrina. Gavin sendiri cukup senang bertemu dengan Miranti. Sayang raut Abrina yang jutek membuatnya tidak bisa berlama-lama di situ. Terlebih dia pun sudah merasa lelah karena dari kemarin sore sudah menjaga Abrina. "Kalau begitu saya permisi pulang, Tante," pamit Gavin pada Miranti. "Terima kasih banyak ya sudah mau menjaga Bina," ucap Miranti tulus. "Sama-sama, Tante." Setelah meraih tangan Miranti untuk disalim, Gavin pun meninggalkan ruang perawatan tersebut. "Kok kamu bisa diantar sama Gavin? Bukannya dia musuh kamu?" tegur Miranti pada sang putri ketika Gavin sudah menghilang di balik pintu. Abrina menarik napasnya pelan. Lalu duduk di kursi plastik yang tersedia. "Dia itu adiknya Kak Gibran, Mah. Orang yang sudah berbaik hati membantu biaya perawatan Mamah," terangnya serius. "Oh pantesan mukanya mirip." Abrina hanya menipiskan bibirnya. Dalam hati gadis itu bersyukur melihat wajah ibunya tidak sepucat terakhir dia bertemu. "Dokter bilang besok mama sudah boleh pulang," tutur Miranti memberi tahu. "Alhamdulillah," ucap Abrina bersyukur. Bahagia membuat gadis itu memeluk ibunya dengan sayang. *** Keesokan paginya Miranti mendapatkan kunjungan dari Gibran. Pemuda itu datang dengan membawa buah tangan. Selain membayar biaya perawatan Miranti, pemuda itu juga menyerahkan sejumlah uang untuk Abrina. "Terima kasih, Kakak baik sekali," ucap Abrina cukup terharu. Gibran tersenyum kalem. "Sebagai sesama makhluk sudah sewajarnya kita saling tolong-menolong." "Semoga aku bisa segera membalas baik budinya, Kakak Gibran." Entah mengapa tangan Gibran merasa gatal. Pemuda itu mengusap pucuk rambut Abrina dengan sayang. "Kamu temannya Gavin, sudah kakak anggap seperti adik sendiri." Hati Abrina menghangat saat diperlakukan demikian. Namun, dia sedikit merasa kecewa saat Gibran menganggapnya sebagai adik. Gibran sendiri lantas berpamitan pada Abrina dan Miranti. Dia harus segera masuk kantor. Namun, dirinya berjanji akan menyuruh Pak Min untuk mengantar Abrina dan Miranti saat diperbolehkan pulang siang nanti. Sayangnya baik Miranti dan Abrina menolak. Keduanya sama-sama merasa tidak nyaman terlalu merepotkan. Apalagi mereka merasa kondisinya sudah pulih. Pukul sebelas siang, Abrina dan Miranti meninggalkan kamar perawatan. Keduanya berjalan beriringan. Abrina dengan pengertian membawa tas besar berisi pakaian kotor sang ibu selama dirawat. Keduanya menyusuri koridor rumah sakit sembari mengobrol. Karena asyik berbincang dengan anaknya, Miranti merasa ada seseorang yang menabraknya dari arah berlawanan. "Awww!" Miranti terkaget. Dia yang jatuh tersungkur. Namun, si penabrak yang justru mengerang. "Aduuh sakit banget, Mas." Miranti mengenal suara itu. Dirinya langsung mendongak. "Mi-Miranti?" Haris tampak terkejut melihat sang mantan istri yang masih terduduk di lantai. "Ohhh ... pantesan!" Di sampingnya Lusi dengan perut besarnya langsung mendelik, "sepertinya mantan istri kamu sengaja ingin membuat aku celaka Mas dengan nabrak aku," fitnahnya keji. Jangan lupa subscribe untuk update bab selanjutnya ?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD