Part 23 - Jabatan

1903 Words

Sebujur tubuh itu tergeletak bersama beberapa buku yang berserakan di lantai. Fadli terenyuh hatinya. Melihat kondisi yang sangat mengiris. “Wafa, bangun nak.” Wafa pun yang mendengar suara memanggilnya. Dia membuka matanya dan menatap sosok laki-laki yang tak lain adalah bapaknya. Sayangnya, Wafa sama sekali tak bergeming dengan kehadiran Fadli di kamarnya. Fadli yang berusaha keras untuk kembali mendudukkan Wafa ke kursi rodanya. Namun, Wafa tetap saja dengan bungkaman mulutnya. Dia sama sekali tak peduli dengan kehadiran Fadli. Setelah itu, Wafa memilih untuk berbaring di tempat tidurnya. Menyibakkan selimut dan seketika membuat setengah dari tubuhnya itu tertutup. Wafa segera memejamkan matanya. Lagi-lagi Fadli merasa sangat terpukul dengan sikap Wafa yang semakin mengunci mulutnya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD