Bangunan itu nampak asri selaras dengan kebun sekitar. Di tengah perkebunan wortel yang agak menjorok dari jalan raya. Jalan setapak menuju bangunan itu dibuat dari bebatuan. Alami dan menyatu dengan alam.
Dindingnya hanya setengah, sebatas pinggang orang dewasa. Bagian atas semua adalah jendela kaca yang bisa dibuka. Ada papan tulis besar di depan ruangan. Tawa anak-anak berderai sementara Alinea berdiri di depan mereka untuk mengajar.
Dengan fasih dan tenang dia mengajar bahasa inggris pada anak-anak desa. Sebagian mereka bahkan datang tanpa alas kaki. Mereka duduk di lantai beralas karpet anti air. Sementara beberapa orang tua mereka bekerja di kebun milik Tia sambil melihat anak-anak mereka belajar.
Sesekali Alinea menyeringai ketika anak-anak yang dia ajar tidak bisa menjawab pertanyaan meski telah dijelaskan panjang lebar.
Dari kejauhan Alinea melihat sebuah mobil Alphard hitam berhenti di ujung jalan setapak. Para petani yang bekerja semua juga sejenak tertegun melihat siapa yang datang. Maklum tempat ini boleh dibilang tersembunyi. Dan perkebunan pribadi, tidak semua orang punya akses dan tahu untuk datang kemari.
Seorang pria tampan berusia sekitar empat puluh tahun. Dengan kemeja putih dan celana jeans yang serasi membalut tubuh gagahnya, turun dari kursi belakang. Memakai kaca mata hitam diantara hidungnya yang tinggi menjulang. Dia menatap ke arah Alinea mengajar dan melihat Alinea yang sedang memperhatikannya.
Putrinya telah begitu dewasa sekarang. Empat belas tahun lalu dia begitu bodoh melakukan kesalahan. Namun sekarang masih ada waktu untuk mengucapkan maaf dan memberikan apa yang Alinea butuhkan.
Pria itu melepas kaca matanya dan berjalan mendekati bangunan tempat Alinea sedang sibuk mengajar. Alinea tidak menunggu sampai pria itu masuk. Dia melangkah ke pintu setelah memberikan beberapa tugas pada anak-anak yang dia ajar.
“Dad!”
“Hai! Ellen, apa kabar?”
Alinea seakan tidak percaya setelah sekian lama. Terakhir mereka bertemu setahun lalu. Meski pun ayahnya tinggal di kota yang dekat yaitu Jakarta, namun entah kenapa mereka sulit untuk bersua.
“Kenapa Dad kesini?” tanya Alinea curiga.
Arman melihat Alinea tajam.
“Aku ayahmu, tentu aku datang untuk menemuimu. Kau keberatan?”
Alinea mengangkat bahu dan berjalan di sebuah kursi yang ada di luar ruangan. Satu kursi lainnya ditempati Arman.
“Setelah setahun berlalu? Aku pikir ayah sudah lupa padaku!” Alinea berkata ketus pada Arman.
Meski dengan kepribadian yang ceria dan ramah, namun dalam banyak hal Alinea sangat tegas. Sifat yang dia pelajari dari Tia. Menjadi tegas dan berani. Satu-satunya yang berbeda antara Alinea dan Tia adalah tentang hubungan. Alinea senang memiliki banyak teman dan bergaul dengan lingkungan. Sementara Tia lebih senang sendiri dan memiliki sedikit pertemanan.
Arman memijat kulit diantara dua mata. Berusaha mengerti kenapa Alinea bersikap tajam. Semua memang salahnya. Tapi kali ini dia datang untuk memperbaiki.
“Mamahmu ada di rumah?” tanya Arman lembut.
“Ada, Mamah selalu ada untukku!” lagi-lagi Alinea berkata ketus.
“Jangan terlalu keras, aku adalah ayahmu,” ujar Arman lagi.
“Mamah selalu mengajarkanku tentang hak dan kewajiban. Hanya orang yang menunaikan kewajiban bisa memiliki hak setelahnya. Dan aku setuju dengan kata-kata ini.”
Arman mulai memijat kepalanya. Tia memang luar biasa, bahkan dalam mendidik anak. Satu hal yang membuatnya merasa tidak nyaman di dekat Tia. Dia terlalu cerdas, menganalisa dan terhormat. Bagi Arman itu membosankan. Dia ingin wanita yang manja, menyenangkan dengan berbagai imajinasi yang mampu membuatnya tergoda.
Arman menarik nafas sebelum lanjut berbicara dengan Alinea.
“Aku datang untuk menawarkan sesuatu padamu dan hanya jika Mamahmu setuju. Boleh aku menemuinya?”
“Aku rasa Mamah tidak ingin bertemu dengan Dad. Katakan saja, apa tawaran Dad dan aku akan sampaikan pada Mamah nanti.”
Arman menggeser kursi dan berhadapan dengan Alinea. Gadis di hadapannya ini sungguh mewarisi wajahnya. Dengan kulit coklat seperti Tia, namun wajah dan perawakan Alinea lebih seperti German. Seperti dirinya karena Alinea adalah darah dagingnya. Selain didikan Tia, ternyata Alinea mewarisi sedikit cara berpikirnya. Terbuka, berani dan apa adanya.
“Kamu tahu kan, dari pernikahan yang baru Dad punya dua anak. Tapi kau tetap anakku juga. Sekarang, ayah punya beberapa perusahaan. Dan ayah ingin setengah dari perusahaan itu menjadi milikmu.”
Aline melihat tajam pada pria di hadapannya. Sulit dipercaya, selama ini dia hampir tidak peduli dengan kehidupan Alinea. Entah apa yang membuatnya kini berubah pikiran.
“Aku belum cukup usia untuk semua yang Dad akan berikan!” nada ketus terus mengiring semua ucapan Alinea.
“Tapi kau bisa mulai mendapat bagi hasil keuntungan perusahaan. Kita akan membuat perjanjian di kantor pengacara dan kau bisa dapat semuanya segera. Tiga tahun lagi kau siap mengambil alih dan mewarisi. Aku akan mendidikmu menjadi pebisnis yang cerdas dan tangguh.”
Tawaran Arman membuat Alinea sedikit ragu untuk berkeras. Dia lalu berdiri,
“Kelasku menunggu. Aku akan sampaikan semua pada Mamah dan biarkan dia memutuskan untukku. Uang memang penting untuk mewujudkan semuanya, tapi Mamah bilang yang berharta tidak lebih baik dari yang berasa. Aku permisi.”
Tanpa menunggu jawaban, Alinea segera berlalu masuk ke dalam ruangan dan meninggalkan Arman yang masih duduk di tempatnya. Arman sungguh kagum dengan kecerdasan dan keberanian putrinya. Terlihat jelas ukiran Tia dalam diri Alinea. Sesuatu yang dia tidak suka dari Tia tapi justru menjadi hal yang dia banggakan dari Alinea.
Sekarang dia disini, seorang Arman Sanjaya! Pengusaha sukses dengan kekayaan melimpah, yang sedang mengemis kasih sayang dan pengakuan dari putrinya. Butiran bening menggelayut di sudut mata Arman. Segera dia usap dan tidak izinkan untuk jatuh.
Gerakan yang dilihat oleh Alinea dari depan kelasnya. Lalu dia melihat Arman berdiri, menoleh ke arahnya. Namun Alinea memilih untuk pura-pura tidak melihat Arman.
Arman memakai kaca mata hitamnya dan segera melangkah kembali menuju mobil Alphard yang terparkir di ujung jalan dan berlalu meninggalkan perkebunan Wortel itu.
Tidak hanya Arman, perasaan campur aduk juga dirasakan oleh Alinea. Dia bahkan ragu untuk meyampaikan pada Tia. Selama ini dia telah memiliki kehidupan yang sangat baik bersama Tia. Mereka puya lebih dari cukup. Dia bahagia bersama ibunya. Dan Tia telah berjanji, siapa pun yang nanti akan masuk ke dalam hidupnya hanya jika Alinea setuju.
Tia selalu mengajarkan Alinea untuk berbagi dan bersyukur dengan apa yang mereka miliki. Meski dia tahu, Arman memiliki kekayaan dan hidup berlimpah tidak sedikit pun terbersit dalam benak Tia untuk meminta. Ketika Arman melepaskan semua tanggung jawab dan melupakan mereka maka, Tia berjuang untuk hidupnya. Inilah yang selalu membuat Alinea menyayangi Tia dan tidak lagi berharap pada Arman.
Namun sekarang Arman datang dengan sebuah tawaran.