Ran si Bocah m***m belum ada tujuan mau ke mana, sedangkan aku harus berangkat ke tempat kursus.
Pagi ini dia sudah menguras uang jatah sarapanku. Bikin bangkrut saja.
Lihat jam tangan, sudah jam delapan lebih. Harus segera berangkat ke tempat kursus, supaya bisa ke tempat kerja lebih awal. Tahu sendiri, 'kan, Jakarta macet. Perjalanan yang harusnya cuma lima belas menit, bisa jadi satu jam.
"Aku harus pergi," kataku pada Ran yang sedang mengelap mulutnya dengan tisyu.
"Umh ...." Dia tampak bingung mau aku tinggal. "Kok, aku ditinggal?"
Andaikan aku kejam, pasti sudah kubalas 'Siape, elu?'
Mendesah dulu, biar relax. "Aku harus kerja, cari uang."
Dia mengernyit. "Kalau gitu, aku harus ke mana?"
Pakai tanya segala, dasar aneh. Aku mengangkat bahu tinggi-tinggi. "Mana aku tau. Aku saranin, kamu pulang aja. Oke!"
"Giman akalau aku ikut kamu aja?"
"Hah?" Mataku ini rasanya mau lompat keluar dari kelopaknya. "Aku ini mau kerja ya, bukan piknik.Mana mungkin bawa kamu."
"Barang kali aku bisa dimanfaatin jadi apa, gitu?"
"Nggakk ada!" Mana ada gunaya ini orang, yang ada malah nyusahin.
Kuambil tas kecil yang ada di meja.
Sebelum beranjak, bayar dulu, lima piring nasi uduk, lima gorengan dan dua gelas teh pada pemilik warung.
"Udah mau pergi, Nak Yasmin?" Bu Maemunah yang baru saja menyerahkan uang kembalian, kelihatan tidak iklas kami mau meninggalkan warungnya.
"Iya, Bu." Sepertinya, memang harus segera pergi. Lama-lama di sini, tambah terus gorengan si Bocah m***m.
Lirik Ran, dia sedang melamun. Biar sajalah, aku harus segera pergi. Bukan bersikap kejam, tapi aku memang sibuk. Sibuk banget, malah.
Selesai bayar, aku segera pergi tanpa permisi. Kebetulan tempat kursusku nggak jauh-jauh amat, bisa jalan kaki ke sena. Lumayan, hemat pengeluaran.
Selangkah, aku menoleh ke belakang.
Ya, Rabb! Pas banget, si Ran legi menoleh juga. Jadilah kita tatap-tatapan selama beberapa detik. Duh! Yang di dalam d**a jadi berdebar. Kenapa pula, jantung ini?
His! Aku geleng-geleng.
Balik badan, lanjutkan lagi. Harus tega! Aku harus tega!
Percepat langkah, saking cepatnya sampai lebih mirip orang lari.
Terserah, deh, kalau dianggap aneh atau gila. Terpenting sekarang, harus buang jauh-jauh rasa kasihan dan tidak tega dari Ran.
Selama dalam perjalanan, aku sesekali menoleh ke belakang. Lega, karena si Mahaprana Sultan tidak mengikuti. Tapi, di sisi lain, aku merasa khawatir.
Dia itu polos banget. Dari caranya menceritakan apa yang dia miliki, semua terlalu blak-blakan. Dia tidak memikirkan, meski ceritanya bohong, itu bisa memancing orang untuk menculiknya.
Bayangkan, dia diculik, terus penculiknya minta tebusan dan ternyata keluarganya tidak punya uang buat menebus.Terus Ran dianiaya sampai babak belur.
Mengerikan. Imajinasiku bermain.
Hah! Jadi, bagaimana ini?
Aku menggigit bibir, sambil berpikir
Balik lagi atau lanjut pergi, nih?
Jadi galau di tengah jalan begini. Untungnya, tidak banyak kendaraan bermotor yang lewat. Coba kalau ramai, bisa ketabrak motor.
Tunggu!
Tarik napas ... buang. Lakukan berulang.
Semua pasti baik-baik aja. Dia bisa kabur dari Kalimantan sampai ke sini. Bertahan satu hari, masa tidak bisa?
Lagipula, kenapa aku harus sibuk memikirkan dia?
Teman, bukan. Saudara juga bukan. Dia, cuma orang asing yang kesusahan dan sudah kutolong. Lanjut jalan, tidak usah pikirkan Mahaprana Sultan
Sampai di tempat kursus. Seperti biasa, aku langsung duduk di depan mesin jahit yang sering kugunakan. Lanjut kerjaanku sebelumnya--membuat long dress. Pakai bahan ceruti kualitas tinggi, tidak kebeli kalau sutra. Terlalu mahal, untuk rakyat jelata sepertiku.
Tadinya, aku mau pakai baju ini untuk acara penting bersama Dandi. Sengaja dijahit dengan detail khusus dan model yang elegant, supaya bisa membuat Dandi kagum. Ternyata ... aku ditinggalkan sebelum gaun ini selesai dijahit.
Nyesek!
"Gaunmu sudah hampir jadi, Yas?" tanya Mbak Nadia, sambil memperhatikan kerjaanku.
Aku tersenyum simpul, sambil memikirkan, mau diapakan gaunnya. Seandainya aku jual, laku tidak, ya?
"Jas hitam yang kamu jahit waktu itu, untuk siapa?" Mbak Nadia kembali bertanya.
Aduh, kenapa coba, tingkat kekepoan mentor jahitku satu ini makin hari makin meningkat?
"Waaah, Yasmin!" godanya padaku.
"Hehe ...." Tertawa perih, demi pura-pura tegar. Aku tahu apa yang ada di pikiran Mbak Nadia. Pasti dia mengira, aku lagi buat baju couple. Padahal?
Memang!
Sekarang aku merasa rugi besar. Aku memang mencintai Dandi dengan tulus. Tapi, waktu tahu dia melamar perempuan lain, aku merasa rugi besar sudah menjahit baju untuknya. Untung belum aku kasih. Kalau tidak, makin rugi.
"Sudah bagus." Mbak Nadia memuji. "Terusin jahitnya, ya!"
Mengangguk sebelum dia pergi. "Makasih, Mbak Nad." Untunglah, aku merasa lega. Dari tadi d**a rasanya kembang kempis lantaran dia bertanya soal mantan yang berkhianat seperti setan.
Ya Allah, pikiranku suka kejam. Biar bagaimanapun jahatnya dia sekarang, dulu kami saling mencintai. Harusnya, aku tidak boleh julid.
Satu jam setelahnya, aku berangkat kerja. Hanya perlu naik angkutan umum satu kali untuk bisa sampai ke sana.
Di dalam angkot, aku melihat pengamen di lampu merah. Ajaib, tampang mereka langsung berubah jadi mirip Bocah m***m.
Kucak-kucak mata, masih saja terlihat sama. Bayangan Ran tampak jelas di segala penjuru.
Astaghfirullah! Aku geleng-geleng. Dosa apa aku ini, sampai kena kutuk jadi melihat Ran di mana-mana. Ekspresiku barusan, membuat penumpang di depan menatap. Bikin malu aja, deh. Auto acting, pura-pura gatal di kepala, lanjut garuk tengkuk.
Masih diperhatikan.
Duh, bisa dikira burikan pula, aku ini. Garuk-garuk melulu.
Setelah melewati drama di dalam angkot, aku sampai di Kafe tempatku bekerja.
"Pagi, Mbak Yas!" sapa Mas Oji--OB plus-plus di tempat kerja. Eits! Jangan punya pikiran kotor lebih dulu. Jadi, selain profesinya sebagai OB, dia juga merangkap menjual kaos murah dari Bandung, hobinya melawak, setiap karyawan baru datang dia yang paling duluan menyapa.
Plus-plus, 'kan?
"Pagi, Mas Oji!" balasku disertai senyuman.
Aku masuk ke dapur, menyimpan tas dan langsung mulai bekerja.
Kafe kami ini sangat terkenal, menunya juga enak. Setiap hari, kalau ada cake yang sisa, kita bisa bawa pulang. Lumayan untuk anak kos, macam aku ini.
Semua pekerja di sini menyenangkan, termasuk Mas Oji tadi. Aku bersahabat dengan Lolita--perempuan cantik idola
karyawan pria. Untung dia sudah punya calon suami. Kalau tidak, bisa baku hantam karyawan cowok di sini.
Ada karyawan lainnya juga, seperti Chef Widyo, beserta timnya, Mas Agung, Mili dan Bela.
Cuma satu orang yang kurang menyenangkan lantaran terlalu genit. Ah, malas menyebut siapa sosoknya.
Waktunya untuk bekerja.
"Udah denger kabar belum?" bisik Lolita padaku, di tengah kesibukannya membenahi uang receh dari mesin kasir.
Aku meliriknya. "Apaan?"
"Si Pak Eros, kumat lagi. Masa, dia nyuruh aku nyomblangin dia sama kamu."
Aku menarik salah satu sudut bibir. "Minta dimusnahkan, tuh orang!"
Lolita tertawa mendengarnya, padahal aku serius. Berani dia macam-macam, siap-siap kena jurus macan mengamuk.
Pak Eros adalah Manager Kafe di tempatku bekerja. Dia satu-satunya orang yang paling menyebalkan di sini. Lelaki genit,
yang hobinya lihat ukuran b****g sama d**a perempuan. Aku muak dengannya, oleh karena itu aku menyebutnya Pak Eror.
Belum semenit kami membicarakannya, dia muncul di hadapan. Rambutnya kelihatan klimis, hitam mengkilap. Pasti baru dicat ulang.
"Layanin tamu yang bener, Yas!" katanya saat berada di depanku, sambil senyam-senyum genit.
"Iya, Pak," jawabku.
Selagi bersiap, aku sempatkan mata untuk mengawasinya. Aku memang sedang mengincar lelaki kaya, tapi bukan yang
sudah punya istri. Dari sinetron yang bertemakan pelakor, aku tahu kalau menjadi pelakor itu tidak enak. Apalagi korban pelakor.
Oleh karena itu, say no to pelakor!
Bel pintu berbunyi, itu tanda ada pembeli yang datang. Syukurlah, karena Pak Eros, akhirnya kembali ke ruangan.
"Andre?" Aku melihat anak pemilik kos datang. Dia berjalan dengan satu tangan masuk ke kantung celana. Serius, dia datang ke kafe?
"Hai!" sapanya.
"Mau pesen?" tanyaku ragu.
Dia mengangguk diiringi senyum. "Tiramissu latte, size besar."
"Cake?" tawarku.
"Boleh." Dia setuju. "Aku mau lemon cake."
"Tunggu bentar." Aku mencatat pesanannya. "Kamu nggak praktik?" tanyaku di sela-sela mencatat. Aku penasaran sekali, dia mau mampir ke kafe.
"Lagi istirahat."
Aku mengangguk setelah mendengar jawabannya.
"Duduk, Dre, nanti aku antar."
Dia menyetujui.
Saat Andre sudah duduk di meja pengunjung.
"Siapa?" bisik Lolita
"Anak yang punya kos," jawabku.
Lolita tidak percaya denganku.
"Manisnya ...." Dia melihat Andre. "Dia mampir, cuma untuk mengunjungimu."
Aku menggeleng. "Dia beli minum, bukan yang lain."
Lima menit kemudian, bel dibunyikan. Tandanya pesanan Andre sudah siap. Aku mengangkat nampan yang berisi pesanan Andre. Mumpung masih sepi, aku saja yang bawa pesanan ke mejanya.
"Semangat!" Lolita mendesiskan kata itu untukku.
Aku merotasi mata. Dia kira mau ke medan perang, apa?
Sampai di meja Andre, aku langsung meletakkan pesanannya.
"Sibuk nggak hari ini?" tanyanya.
Hah! Pertanyaan yang mengejutkan. Bukan bermaksud percaya diri berlebihan, tapi aku menebak Andre mau ajak jalan, deh.
"Nggak terlalu, sih," jawabku. "Kenapa?"
Dia menggeleng. "Nggak ada apa-apa."
"Pulang jam berapa?" tanyanya lagi.
"Sekitar jam tujuh, kenapa?" Sumpah, aku merasa kaku banget ngobrol sama Andre.
Andre baru saja mau buka mulut, tapi pelanggan lain sudah datang. Aku terpaksa mengabaikannya.
"Nanti aku chat aja, ya," katanya saat aku melangkah pergi.
Aku melingkarkan jari, pertanda setuju.
Beberapa menit berlalu. Aku melihat Andre keluar, dan jadi bertanya sendiri. Tumben, dia mau basa-basi.
◆○◆
Sekitar jam tujuh malam, pekerjaanku selesai. OTW pulang. Tapi, bukan mau kembali ke kosan, melainkan menemui Andre di restoran sekitar tempat kerja.
Kata Andre, sih, ada hal penting yang mau diobrolin. Semoga saja bukan soal kenaikan harga kos. Kalau harganya naik, bisa-bisa satu bulan aku cuma sanggup makan nasi sama garam.
Masuk ke dalam restoran yang ditunjuk Andre, aku melihatnya sedang duduk. Dia mengenakan kemeja denim berwarna abu-abu, sedang menikmati minumannya.
Baru sadar, Andre ternyata ganteng juga, kalau diperhatikan.
"Dre?" Aku memanggilnya.
Dia menoleh dan menyuruhku duduk.
Aku duduk di depan Andre
"Mau makan apa?" tanyanya, setelah kutempelkan bokkng ke kursi. Belum juga dijawab, dia tanya lagi. "Nggak lagi diet, 'kan?"
Diet cuma untuk orang yang banyak uang--yang sudah keseringan makan enak. Nah, kalau aku tidak usah diet juga sudah pasti jarang makan enak.
"Nggak usah repot-repot, makasih," kataku, berbasa-basi. Aslinya, dalam hati ngarep ditraktir.
"Aku pesenin, steak, ya. karbonhidratnya cuma kentang, jadi nggak bikin gemuk."
Aku mengangguk. Akhirnya, bisa makan enak juga. Terimakasih ya, Allah ....
Sekitar sepuluh menit, makanan datang. Aku menyantap steak bersama Andre.
Serius ini, kalau kata kids zaman now 'Wagelasih, enak parah!'
Seandainya saja, makan enak begini bisa setiap hari, halu kumat lagi.
Kapan-kapan, kalau ada uang, kelauargaku bakal aku traktir steak juga. Bakalan merem-melek gitu, tidak ya? Secara, mereka belum pernah makan yang beginian. Paling elite cuma satai. Itu pun beli sepuluh tusuk, dapat jatahnya satu-satu. Terus, makannya pakai nasi sepiring. Miris.
Andre memperhatikan aku yang sedang makan.
Diperhatikan begitu, aku merasa kikuk.
"Hubunganmu dengan Dandi, gimana?" tanyanya.
Aku langsung tersedak ketika Andre bertanya demikian. Padahal itu sudah suapan terakhir. Mubazir, deh. Mana mitosnya, yang paling akhir itu yang paling enak, 'kan?
"Pelan-pelan." Andre menyodorkan minuman.
"Makasih," jawabku usai meneguk minum.
Aku menghela napas setelahnya. "Kenapa tiba-tiba bahas dia?"
Andre merapatkan kedua tangannya, malu-malu menatapku.
"Kamu nghak punya hubungan apa pun dengannya, bukan?"
"Nggak ada. Aku bukan siapa-siapanya lagi."
Andre mengulum senyum. "Aku menunggu lama untuk saat ini."
"Maksudnya?" Prediksiku, bakal ada pernyataan cinta, nih.
"Yasmin ...."
Aduh, logat Andre kenapa jadi lembut mendayu gini? Jadi salah tingkah. Untung ketutupan meja. Kalau tidak, bisa ketahuan kakiku melintir-lintir tidak jelas.
Andre menatapku lamat-lamat.
"Aku menyukaimu, sejak awal kamu masuk ke dalam hidupku. Tapi, di awal pertemuan kita, kamu bersama Dandi. Maka dari itu, aku memendam perasaan ini."
Bengong beberapa saat, itu yang kulakukan setelah mendengar kalimat barusan. Sekarang kaki malah jadi lemas.
Dilihat-lihat, Andre ini hampir tidak punya kekurangan. Dia baik, dokter dan apalagi dia anak yang punya kos. Barang kali saja, aku dapat jatah tinggal gratis.
Tapi, masih ada masalah. Meskipun terlihat tegar di luar, sebetulnya aku masih menangisi Dandi. Banyak hal yang aku pikirkan. Tentangnya, tentang Bapak dengan Ibu yang sudah aku kecewakan. Apalagi targetku sekarang adalah lelaki kaya.
Andre memang jauh lebih kaya dariku. Tapi, dia temanku, orang yang baik padaku juga. Masa iya, mau dimanfaatkan?
"Apa aku punya kesempatan untuk-"
Belum selesai Andre bicara, petir besar menyambar. Tampaknya, para malaikat mencatat bisikan hatiku yang jahat ini. Sampai-sampai ada petir tiba-tiba.
"Mau hujan." Andre kelihatan panik. "Kita pulang sekarang, ya, takut nanti kamu kehujanan."
Nggh ... kepala mengangguk, tapi hati meronta. Yang tadi gimana? Nggak dilanjut?
Cuma berani tanya dalam hati.
Andre permisi sebentar untuk membayar. Selagi dia pergi, aku merogoh tas mencari handphone. Sebelum kutemukan
ponsel, tanpa sengaja aku menyentuh sesuatu.
Aku mengambil benda yang kusentuh tadi. Ternyata, kalung milik Ran.
Melihat kalung itu, aku baru ingat kalau dia belum punya tempat tinggal. Bocah m***m dan sinting, sekarang bagaimana, ya?
Kalau hujan turun lebat, dia ke mana?
Haish! Aku mengkhawatirkannya.