Sejak pesan pertama beberapa hari lalu, Mas Hanan sering kali menghubungiku. Dia minta waktu untuk bertemu, akan menjelaskan dan menceritakan alasannya sepuluh tahun lalu kenapa menghilang begitu saja. Ah, tapi sepertinya aku sudah mati rasa. Kecewa dan benci yang dulu terpatri dalam d**a rasanya begitu sulit terobati. Dia mengecewakan aku, di saat aku mulai mempercayai semua janji-janjinya. Perih dan sakit. Bahkan mungkin seperti tersayat sembilu. Saat para tetangga tahu kapan dia akan menikah denganku, bukan aku yang cerita. Namun dia sendiri yang menceritakan keinginannya untuk mempersuntingku dengan segera. Tapi apa buktinya? Dia justru menghilang begitu saja tanpa segores kabar berita. Hati perempuan mana yang tak sakit? Hati wanita mana yang tak terluka? Bukannya diberi setiti

