010. First or More Kiss

1153 Words
"Sayang, mungkin Aku buta karena tidak pernah melihat keberadaanmu dulu. Aku tidak memintamu untuk memaafkan Aku, Aku pantas menerima kebencianmu dan juga kepercayaan cintamu padaku. Tapi please De, kasih Aku kesempatan sekali lagi untuk Aku berusaha memperjuangkanmu. Memberimu cinta yang sama besarnya padamu seperti cintamu padaku dulu." Dava tersenyum, ya Dia tidak ingin lagi di tinggalkan orang dengan cinta yang besar itu darinya. Ia akan egois sekali lagi, bukan untuk membenci takdirnya karena menikah muda tapi untuk memperjuangkan takdir yang berusaha Ia abaikan. Ia tidak akan menjadi orang bodoh lagi, membiarkan Dea menangis sendiri. Merasakan cintanya sendiri tanpa terbalaskan. Dava akan sekali lagi meyakinkan Dea bagaimana Dava juga telah benar-benar jatuh cinta pada Dea seperti seharusnya takdir itu berjalan. Takdir  yang sebenarnya sangat indah dan di inginkan oleh semua orang, takdir yang tidak ingin Ia abaikan untuk ke dua kali dan takdir yang sebenarnya Ia inginkan. Benar-benar Ia inginkan terjadi dalam hidupnya. Dava mengecup punggung tangan Dea berkali-kali, betapa benar Dia merasakan perasaan itu pada Dea. Dia tidak akan ragu lagi, memperjuangkan apa yang seharusnya Ia perjuangkan. Dea berhenti menangis, mencerna setiap ucapan Dava. Dea menundukkan badannya, mengecup kepala Dava dengan sayang saat Dava terus mengecup punggung tangannya. "Aku tidak mungkin tidak memaafkanmu Sayang, Aku juga tidak akan mampu membencimu. Aku percaya padamu sama halnya Aku percaya pada cintaku, bahwa cintaku hanya untukmu. Bukan Kamu atau Aku yang berjuang tapi Kita, Kita yang berjuang untuk cinta Kita. Cintaku tidak hilang padamu hanya saja Aku terlalu takut akan penolakan meski Kamu sudah mengatakan Kamu mencintaiku. Tapi kali ini hanya ada cinta yang Aku ungkapkan dan itu hanya untukmu. Bukan kesempatan sekali untukmu tapi hanya di hatiku tempatmu kembali dan Kamu pasti tahu jawaban atas berapa banyak kesempatan dirimu untuk masuk ke dalam hidupku." Dea tersenyum membelai rahang tegas Dava, meski umur Dava seumuran dengan Dea. Tapi laki-laki itu memiliki fisik yang hampir di katakan perfect. Rahang tegas hidung mancung alis tebal dan juga bola mata nash jernih. Dea bahkan tidak menyangka jika laki-laki yang Ia cintai adalah suaminya sekarang, Dea lebih dari cukup bersyukur dengan kenyataan itu. Dava? Pria itu lagi-lagi tidak mampu bersuara, hanya rasa syukur yang Ia panjatkan untuk Tuhan telah di kirimkan angel yang selain cantik fisik juga cantik hatinya. Kepala Dava sudah berputar-putar dengan indah bagaimana kehidupan yang akan jalani dengan Dea ke depannya setelah ini. Dava akan membuat Dea hanya melihat padanya, hanya di dekapannya, hanya di genggamannya jari-jari Dea bertaut dan hanya hatinya pemilik hati Dea. Dava mendekap erat Dea dengan posisi yang masih sama, di depan Dea. Tidak peduli jika kakinya sudah mati rasa karena terlalu lama menumpu beban tubuhnya. Ia akan mencoba merasakan perasaan ini, menyelami apa yang akan Ia buat untuk isterinya ini. "I love You wifey." ucapnya tepat di telinga Dea. "I love You too Hubby." Dava merasa beribu kupu-kupu terbang di dalam perutnya atas balasan pernyataan cintanya, Dava mempererat pelukannya. "I love You." berulang kali Dava mengulang kata cintanya yang membuat Dea terkikik geli. Sungguh Ia tidak menyangka akan hadir perasaan seperti ini, begitu cepat dan membuatnya shock tapi Ia suka akan perasaan ini. "Ehm Ehm." deheman empat orang yang menyaksikan kebersamaan mereka membuat Dava mengurai pelukannya. Sekali lagi Ia tersenyum dengan bahagia pada wanitanya, ya wanitanya. "Kaya lihat drama live Kita." celetuk Bintang. "Jadi happy ending nih cerita." tambah Sinta dengan tawanya di ikuti yang lainnya. Dava menatap tajam Bintang. "Kalian jadian saja!" ucapnya membuat Bintang menoyor kepalanya, Dava meringis mengusap kepalanya seolah mengadu pada Dea. Dea hanya menatap geli suaminya itu tapi tetap mengusap kepala Dava menggantikan tangan empunya. "Ck yang sudah nikah mah bebas." sindir Zacky. "Eh Dav, Lo belajar dari mana kata-kata bermulut manis itu?" imbuh Zack, sungguh Zack begitu penasaran dengan kata-kata yang di ungkapkan Dava pada Dea. Dava tidak hiraukan ocehan sahabatnya dan memeluk pinggang Dea posesif dengan berkali-kali mencium pipi dan puncak kepala Dea. Dava tidak tahu dari mana Ia belajar kata-kata itu,  itu yang di pikirkan otaknya secara reflek. "Dav, Kita nginep ya?" izin Bintang. Dava menatap Bintang skiptis. "Enggak ada!" tolak Dea tegas. "Yahh, ini sudah malem tahu Va. Lo tega nyuruh Kita pulang?" Dava menaikkan satu alisnya mendengar nada lebay Bintang. "De, Lo juga tega sama Kita?" tanya Rara mendramatisir ucapannya, Dea tersenyum ke arah Dava. "Izinin mereka nginep ya Yang?" izinnya pada Dava, tapi bagi Dava itu adalah pernyataan mutlak wajib di turuti. Dengan tarikan nafas panjang dan menghembuskan nafas kasar, Dava mengangguk. Dea membalas pelukan Dava membuat empunya menegang. "Kalian tidur di mana?" tanya Dava. "Lo punya kamar duakan?" Dava mengangguk tapi juga curiga akan pertanyaan itu. "Malam ini Lo bisakan pisah ranjang sama Dea?" tuhkan, apa Dava pikirkan memang bener. Sahabat-sahabatnya itu memang tidak tahu diri. "Enggak, enggak bisa!" tolak Dava mentah-mentah, baru saja Dia mau melewati moment berdua sama isterinya apa-apaan mereka mau ganggu. "De, suami Lo pelit nih sama Kita." Dea tahu kekesalan Dava tapi Ia juga tidak tega melihat sahabat-sahabatnya tidur di sofa. "Yang, cuma sehari saja. Please!" Dea menampilkan puppy eyesnya dan lagi Dava hanya mampu mendesah pasrah lalu dengan tidak rela mengangguk. Dea tersenyum lalu mengusap lengan Dava agar Dava sedikit menghilangkan emosinya. "Lo punya bajukan Dav?" Dava berdecak, Bintang Zacky Rara dan Sinta tertawa dalam hati. Kapan lagi bisa ngerjain Dava selain di depan Dea? Dan ini kesempatan mereka mengerjai Dava habis-habisan. "Yang-." Dea tahu apa yang harus Ia lakukan, sebelum Dava berucap Dea sudah berdiri. Dea mengulurkan tangannya pada Dava, Dava menaikkan satu alisnya. "Kalian tunggu di sini, Aku sama Dava ambil baju buat kalian.". Dava dengan langkah lunglai mengikuti langkah Dea, tapi wajah di tekuknya berubah secerah matahari baru saja terbit di ufuk timur. Dea membuka pintu kamarnya, belum sempat Dea jauh dari pintu. Dava sudah menariknya hingga Dea menabrak d**a bidang Dava, tidak hanya itu Dava mendekapnya sangat erat dengan lengannya berada di punggung dan pinggangnya. "Yang-." belum sempat Dea memprotes bibir Dea sudah di bungkam oleh benda kenyal. Dea melotot karena benda kenyal yang ada di bibirnya adalah bibir suaminya. Dea masih shock, mata Dava tepat menatap manik matanya. Dava tersenyum lalu menutup matanya, Dea yang tidak tahu harus berbuat apa hanya ikut menutup mata. Dea merasa bibir Dava bergerak di atas bibirnya, Dea tidak tahu harus bagaimana hingga Ia merasa bibir bawahnya sengaja di gigit Dava, memang ini bukan yang pertama. Dan Dea belum juga menjadi pencium yang baik hingga kini. Lidah Dava bergerilya saat bibir Dea terbuka karena ulahnya. Ia tersenyum kemenangan, memang Dea bukan pencium yang baik dan mungkin ini baru pertama kali bagi Dea berciuman panas dengan pria karena nyatanya Dea tidak pernah memiliki kekasih sebelum menikah dengan Dava, tapi Dava malah bersyukur karena hal itu. Dava mengabsen gigi-gigi Dea yang rapi tanpa tertinggal satu buahpun. Dava memperdalam ciumannya dengan menekan tengkuk Dea dan memiringkan kepalanya. Dea merasa kakinya lemas, mungkin jika tangan Dava tidak menahannya Dia akan tergeletak di lantai. Huh! Malu bukan?. Dea mengalungkan lengannya pada leher Dava, dengan ragu Dea membalas ciuman Dava. Meski Ia tahu Dia bukan pencium yang handal. Dahi mereka saling menyatu saat mereka melepaskan pagutan mereka karena kehabisan nafas. Nafas mereka saling beradu, Dava menatap manik mata Dea. Ibu jarinya menghilangkan jejak ciuman mereka di bibir Dea. "I love You.". "I love You more.". Madiun, 25 Agustus 2020
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD