018. Malu (?)

1066 Words
Dava mengerutkan dahinya saat di rasa isterinya tidak muncul di balik gerbang sekolah pada pagi ini, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 06:57 menit dan bel sekolah tepat pukul 07:00. Sekali lagi Dava melirik jalan, tidak ada tanda-tanda ke munculan isterinya. Semua murid bahkan sudah masuk ke ruang kelas masing-masing, lorong-lorong sekolah mereka sudah semakin sepi murid yang berlalu lalang. "Dav, ini di tutup atau enggak pintunya?" Dava mengangguk mengiyakan dengan menghembuskan nafas kasar, tidak berharap sesuatu yang buruk terjadi pada Dea. Saat gerbang benar-benar akan menutup seseorang menahannya. "Tunggu!" teriaknya. Dava memutar badannya ketika suara familiar itu merangsak masuk ke indra pendengarannya saat Dia akan meninggalkan pintu gerbang untuk kembali ke kelas. "Ke napa Kamu telat?" tanya Jordan ketua Osis sekarang pangganti Dava dengan wajah yang sangat menyebalkan bagi Dea. "Maaf tadi macet." Dava menaikkan satu alisnya dengan alasan Dea, isterinya itu terkenal dengan sifat tertibnya dan macet? Alasan yang tidak masuk akal bagi Dava, Dava tahu semua jalanan yang di lalui oleh Dea saat berangkat ke sekolah dan macet harusnya adalah alasan terakhir Dea jika berhadapan dengan Dava. "Biarin Dia masuk, Lo tutup gerbangnya!" ucap Dava, Dea melirik Dava sekilas lalu berjalan mendahului Dava. Dava tidak tinggal diam, Ia mencekal tangan Dea. Namun segera Dea lepaskan dengan halus, tidak ingin menyinggung suaminya juga. "Ke napa telat?" bukannya menjawab. Dea malah menggeleng lalu pipinya merona, ada yang aneh dari isterinya! Pikir Dava. "Aku ke kelas dulu.". "De!" Dea menggeleng lalu berjalan cepat menyusuri kelas dan berbelok ke kelasnya hingga Dava tidak dapat melihatnya. Dava tidak berhenti berpikir ke napa Dea bisa terlambat ke sekolah. Apalagi pagi ini Dava tidak menjahili wanita itu dan malah berangkat sangat pagi dari biasanya. Dava terus mengerutkan dahinya dalam karena tingkah aneh Dea, padahal tadi pagi Dea bersikap seperti biasa. Bukan marah atau hal lainnya, sifat Dea lebih ke kesan malu. Tapi malu karena apa? Dava juga tidak memergoki wanita itu ganti baju atau lainnya. Dava membuang nafas panjang, mungkin nanti Ia akan menanyakan langsung pada Dea. Hingga pelajaran pertama usai Dava tidak dapat berkonsentrasi fokusnya tetap pada ke jadian pagi tadi. Semua isi otaknya hanya penuh oleh isterinya dan ingatan-ingatan kejadian tadi pagi yang mungkin membuat Dea bersikap aneh begitu. "Dav, Lo ke napa?" tanya Bintang dengan suara berbisik dari belakang Dava, melihat tingkah Dava yang tidak bisa fokus pada pelajaran juga membuat Bintang tahu bahwa Dava sedang memikirkan banyak hal. Dava diam tidak menanggapi pertanyaan Bintang, Ia memaksa untuk tetap fokus pada pelajaran ke duanya. Pelajaran yang paling Dava sukai, matematika. Guru pembimbingnya yang lugas menambah Dava suka dengan pelajaran tersebut. Hingga bel istirahat berbunyi, Dava dengan segera beranjak dari duduknya. Hal pertama yang akan Ia tuju adalah ruang kelas isterinya, Dea. Setibanya di ruang kelas Dea, Dava menjadi pusat perhatian. Karena pria itu tidak biasanya masuk kelas lain, saat Dava berjalan ke arah meja Dea pandangan semua orang tertuju pada pria tinggi itu. Dea yang saat itu masih berkutat dengan buku dan juga penanya tidak mengetahui kalau Dava sudah berada di sampingnya. Suara berisik semua orang tidak membuat Dea juga ingin tahu ada apa sebenarnya. "De!" panggil Sinta menyenggol lengan Dea. "Hm!" dehem Dea sebagai jawaban namun bergeming dari fokusnya pada buku dan mencoret-coret di sana. Suara bising di luar maupun di dalam kelas seperti angin lalu bagi Dea, wanita itu dengan buku seperti magnet. Dava bersidekap d**a memandang lurus ke arah Dea dengan pandangan dinginnya. "De!" sungguh Sinta merasa geram dengan Dea yang malah terlalu fokus pada bukunya di saat seperti ini. "Apa sih Ta?" kesal Dea. "Ck kena marah sama suami Lo pasti!" bisik Sinta yang membuat dahi Dea mengerut-ngerut, kini pandangan Dea mengarah pada Sinta. "Suami?" balas Dea dengan berbisik juga. Sinta menunjuk Dava dengan dagunya, Dea mengikuti petunjuk Sinta. "Astaga!" kaget Dea saat menoleh wajah tampan Dava sudah siap di baliknya. Dengan jarak yang tidak sampai sejengkal juga bisa di katakan hidung mereka yang saling bersentuhan pada puncaknya. Jantung Dea rasanya mau copot, bukan hanya karena itu Dava tapi karena Ia merasa sangat terkejut dengan ke hadiran Dava di kelasnya. "Ck!" decak Dava, Dava kembali berdiri lalu tangannya menengadah pada Dea. Sebenarnya Dava sendiri juga sedang menetralkan detak jantungnya yang seperti maraton saat ini dengan jarak sedekat itu meski hampir setiap harinya mereka bersama, nyatanya perasaan gugup terus saja muncul. Benar-benar cinta yang Dava rasakan pada Dea luar biasa adanya. Dea menaikkan alisnya sambil menetralkan detak jantungnya, tidak paham dengan maksud Dava. Dava memutar matanya, lalu ke dua tangannya bertumpu pada meja dan sandaran kursi Dea. Mengapit Dea di kungkungan lengannya, Dea menelan salivanya susah payah dengan apa yang di lakukan Dava kali ini dengan memundurkan sedikit badannya. "Ap-apa yang Kamu lakukan?" rasanya Dava ingin tertawa dengan nada gugup Dea. Dava mendekatkan wajahnya pada telinga Dea, tidak peduli bisik-bisik dari teman kelas Dea. Di luar juga banyak melihat bagaimana Dava bersikap manis pada wanita. Tidak terkecuali Fani dan teman-temannya. "Bekalku Yang, Kamu mau makan sendiri?" bisik Dava tepat di telinga Dea dengan nada sepelan mungkin. 'Glek' Dea menelan salivanya secara kasar karena hembusan nafas Dava yang menggelitik bulu kuduknya. "Oh ya, Kamu lupa memberiku alasan tadi pagi.". Dea mendengus kali ini, moment romantis Dava tiba-tiba buyar karena ucapan Dava barusan penuh penekanan. Dea mendelik ke arah Dava tidak terima dengan nada menuntut dari Dava padanya. "Minggir!". Dava menurut karena ucapan ketus Dea, Dava ingin sekali tertawa tapi banyak orang yang menyaksikannya. Dea membuka tas ranselnya lalu di ambilnya sekotak bekal untuk suami tampannya yang menyebalkan. "Ini!" Dea menyodorkan bekal Dava lalu kembali ke bukunya, tidak hiraukan Dava yang masih menatapnya. "Apa lagi?" ketus Dea yang membuat semua yang melihatnya melotot tidak percaya, Sinta berdecak. "Lo ketus amat sih De!" komen Sinta, Dea menatap Sinta sinis. Dava tahu isteri cantiknya itu dalam mode badmoodnya tapi rasa penasarannya muncul saat Dea berusaha lebih menyembunyikan alasan ke terlambatannya pagi tadi. Dava mengusap kepala Dea sayang di iringi kekehannya. "Kamu makin cantik kalau marah." Dea menepis tangan Dava, semua mata melongo tertuju pada tingkah Dava yang manis pada Dea saat ini. Banyak juga yang menatap ke arah Fani dengan kasihan, bahkan mereka tidak segan membandingkan hubungan Dava Fani dengan Dava Dea yang jauh lebih manis, dan mereka merasa Dava banyak berubah ketika bersama dengan Dea. "Pergi!" Dava mengangkat tangannya tanda menyerah. "Pasti ada alasan ke napa pipi Kamu merona!" ungkap Dava dengan suara lantang saat di ambang pintu lalu berlalu tanpa dosa dengan suara tawanya, Dea yang sudah mati-matian menahan malu langsung menyembunyikan wajahnya di antara ke dua lengannya yang berada di atas meja. "Davaa!" teriak Dea kesal, semuanya hampir menganga karena ulah Dava pada Dea. **** Madiun, 12 September 2020 Ya Ampun, yang Like kok dikit amat ya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD