POV ELOISE "Halo, Eloise," sapa Adam. Astaga, suaranya beresonansi hingga ke tulang-tulangku. "Ha-hai, eh, kau sibuk?" "Sedikit. Masih ada beberapa hal yang harus kuurus," bisiknya. "Urusan pekerjaan?" "Ya, aku sedang meninjau proposal yang dikirimkan produser-produserku." "Oh." Aku menggigit bibir bawahku. Sedikit ragu untuk memulai obrolan. "Kita bisa bicara nanti saja kalau begitu." "Tidak, tidak apa-apa. Ini masih bisa ditunda. Ada apa? Apa kabar?” “Hmmmm, sangat melelahkan.” Adam terkekeh pelan. “Jadi kau pikir meneleponku bisa membuatmu rileks?” Aku tertawa. Ya, Tuhan. Dia benar-benar membuatku merasa lebih baik setelah hari yang melelahkan. “Itu bukan hanya sekedar kata-kata, ‘kan?” “Tentu saja. Aku memang sedang menunggu teleponmu.” Aku berbaring di tempat tid

