Kebahagiaan dua Keluarga

1813 Words
Bulan masih bertengger dengan ditemani bintang di sekitarnya, pasangan muda yang bernama Rama dan Shinta itu sudah terbangun untuk memulai hari mereka. Jam yang menempel di dinding baru menunjukan pukul 03.00 pagi. Mereka biasa memulai hari di waktu itu.  Pasangan muda yang hidup harmonis walaupun tidak memiliki keturunan yang melengkapi biduk rumah tangga mereka. Mereka sengaja bangun lebih awal dari orang lain, karena di jam seperti itu mereka akan merayu Tuhannya untuk meminta apa yang selama ini mereka inginkan.  Rama dan Shinta menikah pada usia muda. Menjalani rumah tangga hampir 10 tahun, tetapi belum juga diberikan keturunan. Mereka hidup di kawasan yang sedikit penduduknya. Jarak antara rumah ke rumah cukup lumayan jauh sekitar 100 meter. Tetapi mereka hidup bertetangga dengan baik dan saling membantu jika mereka kesulitan dalam hal apapun.  Hampir seluruh masyarakat di daerah tersebut merupakan petani. Termasuk Rama dan Shinta. Pasangan berumur 28 tahun tersebut sehari-hari menggarap sawah dan kebun palawija milik saudagar kaya yang ada di kota.  Ketika Shinta hendak pergi ke belakang rumah untuk berwudhu seperti biasanya, sayup-sayup terdengar seperti suara seorang bayi yang sedang mengoceh. Shinta tipe orang penakut apalagi terhadap hal-hal mistis. Maka dari itu, Shinta kembali menuju kamarnya dan bersembunyi di balik punggung suaminya yang berdzikir sambil menunggunya. Rama yang melihat istrinya ketakutan segera berbalik dan bertanya dengan lembut. "Ada apa? Kenapa Ibu takut seperti itu?"  "Di depan seperti ada suara bayi mengoceh, Ibu takut!" jawabnya dengan menyembunyikan wajah di ketiak suaminya. "Bayi? Itu hanya halusinasi Ibu saja. Hayu Bapak antar untuk wudhu," ajak Rama dengan lembut.  Shinta mengangguk dan berjalan di belakang Rama. Ketika Rama membuka pintu kamar, samar-samar Rama pun mendengar suara bayi yang sedang mengoceh. Rama menoleh pada Shinta yang sudah mengkerut dan menyembunyikan wajahnya kembali di ketiaknya. "Apa Ibu bilang, Bapak dengar, 'kan?" tukasnya dengan tetap menyembunyikan wajahnya. "Kita lihat kedepan," ajak Rama. "Tapi Ibu takut!" tolak Shinta. "Gak bakal ada apa-apa, 'kan ada Bapak."  Rama meyakinkan Shinta untuk mengikutinya. Mereka berdua berjalan untuk melihat keluar, Shinta berjalan perlahan di belakang Rama. Ketika pintu terbuka, betapa terkejutnya Rama ketika melihat ada seorang bayi kecil yang begitu putih sedang mengoceh seperti ada yang mengajaknya bermain. "Astaghfirullah, bayi siapa ini?" tanya Rama dengan menghampiri sang bayi. Shinta yang mendengar ada bayi di rumahnya langsung keluar, menghilangkan rasa takut yang sedari tadi menghantuinya.  "Astaghfirullah, bayi siapa ini, Pak?" tanyanya tak kalah terkejutnya. "Bapak tidak tau, Bu. Tapi sebaiknya kita bawa ke dalam dulu, kasian dia pasti kedinginan." Shinta menggendong dan membawanya ke dalam rumah.  Dalam selimut bayi tersebut terselip sebuah kertas berwarna emas dengan tulisan berwarna hitam, itu adalah tulisan nama bayi tersebut. "Ada kertasnya, Pak!" seru Shinta ketika meletakkan bayi kecil itu di atas kasurnya yang sudah tidak empuk lagi.  Rama mengambil kertas yang sungguh tidak biasa itu. Bukan kertas melainkan lempengan emas dengan sebuah nama. "Saka Sadena Zacob." Rama membaca tulisan yang ada di lempengan emas tersebut dan melirik ke arah istrinya. "Mungkin ini namanya, Bu. Tapi siapa orang tuanya? maksud Bapak, siapa yang tega membuang bayi ini," tanyanya pada Shinta. "Ibu juga tidak tau, Pak. Tapi mungkin ini doa kita yang dikabulkan sama yang Mahakuasa," ujar Shinta dengan tersenyum bahagia. "Ya sudah, besok kita laporkan pada Pak Rt. Semoga anak ini memang rezeki kita," doa Rama yang di amini oleh Shinta.  Setelah itu mereka berdua bergantian melaksanakan sholatnya untuk menjaga sang bayi yang dipanggil Saka. Senyum bahagia terpancar di bibir keduanya. Walaupun bayi Saka berbeda dengan bayi pada umumnya.  "Kita gak punya pakaian bayi, Bu, bagaimana ini?" tanya Rama dengan sedikit panik. "Ya sudah, besok kita beli ya, Pak. Setelah dari rumah Pak Rt," jawab Shinta, Saka yang kembali tertidur ketika Shinta menggendong dan membacakan sholawat, bayi itu nampak tersenyum di dalam tidurnya.  *** Pagi menjelang ketika matahari mulai menampakkan cahayanya. Menggantikan tugas bulan yang sepertinya sudah ingin tidur. Di rumah keluarga konglomerat yang bernama Satria Wibisana dan sang istri Ayesha Mahardika tengah terjadi kehebohan.  Bagaimana tidak, subuh tadi, ketika kedua satpamnya berkeliling rumah untuk memastikan keamanan, Satpam yang bernama Budi dan Boim begitu terkejut dan heboh karena menemukan seorang bayi yang seperti terbakar, yakni gosong bagaikan arang. Hanya mata jernih dan gusi merah mudanya yang bersinar di antara gosongnya kulit sang bayi. Budi menjaga sang bayi, sedangkan Boim berlari ke arah dalam untuk memberitahu sang pembantu dan sang majikan.  "Bi Asih!" panggil Boim dengan dengan napas ngos-ngosan. "Ada apa, mang Boim? Kenapa lari-lari begitu, seperti habis dikejar maling," sahut bi Asih yang aneh melihat kelakuan satpam tersebut. "Ini mah bukan maling lagi Bi, tapi Alien!" jawab Boim mendramatisir. "Ada apa ini?" tanya Sukmi yang melihat pujaan hatinya sedang berbicara dengan pembantu seniornya. "Tau tuh pujaan hati kamu, gak jelas!" tukas Bi Asih berlalu pergi meninggalkan mereka berdua. "Bi! Jangan pergi dulu, itu di taman belakang ada bayi Alien!" ujar Boim kemudian, hal tersebut menghentikan langkah Asih yang akan kembali ke dapur "Ngarang aja kamu tuh, mana ada bayi Alien disini. Sudah saya mau ke dapur. "Saya serius, Bi! Kalau tidak percaya hayu ikut saya."  Boim berjalan terlebih dahulu, Sukmi dan Asih menyusul kemudian. Ketika mereka sudah sampai, Asih dan Sukmi terkejut melihat seorang bayi yang tengah tergeletak di atas bangku taman, bayi itu seperti sedang diajak bicara oleh orang dewasa, mengoceh, tersenyum dan tertawa dengan renyah.  "Apa saya bilang," Boim dengan bangga menunjukkan bayi berkulit arang tersebut. "Kita bawa ke dalam, kasian dia pasti kedinginan. Dan kalian berdua," tunjuknya pada Boim dan Budi. "Nanti jelaskan pada Nyonya dan Tuan."  Asih segera menggendong bayi tersebut. Ketika Asih sampai di dapur ia melihat Ayesha sedang menuruni tangga. Ayesha yang melihat Asih seperti sedang menggendong bayi mempercepat langkahnya, begitu dekat Ayesha langsung membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya.  Ayesha shock melihat Asih yang ternyata benar tengah menggendong seorang bayi, "Selamat pagi, Nyonya." sapanya yang tidak dihiraukan oleh Ayesha. "Bayi siapa ini, Bi?" tanyanya mengambil alih untuk menggendong bayi arang tersebut. "Menurut Budi dan Boim, bayi ini mereka temukan di kursi taman belakang, Nyonya." jelasnya pada Ayesha. "Taman belakang?" tanyanya dengan berpikir, "bagaimana caranya? Apakah mereka tertidur ketika berjaga?"  Ayesha mempertanyakan bagaimana orang tua sang bayi bisa masuk ke rumahnya dengan penjagaan depan yang lumayan ketat. Mereka mempunyai enam satpam yang dibagi menjadi 3 shift.  "Tolong Panggilkan mereka kemari," perintahnya pada Asih.  Setelah Asih pergi, Ayesha memandangi bayi dengan kulit sehitam arang tersebut. Ayesha melihat sebuah lempengan emas dan mengambilnya, di lempengan tersebut tertulis sebuah nama dengan tinta berwarna hitam.  "Arxena Sawen Zaemon," bacanya dalam hati.  Tulisannya tangan yang terukir indah seperti kaligrafi. Ayesha memperhatikan lempengan berwarna emas tersebut, setelah menelitinya Ayesha bisa memastikan bahwa itu emas murni yang terbuat dari logam mulia.  Ayesha berpikir dengan keras siapa orangtua bayi ini. Karena jika diperhatikan bayi ini sepertinya bukan dari kalangan biasa, selain dari warna kulitnya yang tidak biasa. Asih datang bersama Budi dan Boim, mereka langsung menceritakan kronologi penemuan bayi arang tersebut.  "Namanya Arxena Sawen Zaemon. Mulai hari ini dia akan disini dan menjadi anak saya, panggil namanya Xena," tegas Ayesha, membuat semua pegawainya mematung tak percaya.  Mengapa Nyonya mereka mau merawat bayi aneh tersebut. Ayesha kembali menuju kamarnya dengan membawa Xena, melupakan tujuannya turun kebawah. Ayesha memang sangat menginginkan seorang anak, umurnya sudah 35 tahun.  Bukan Ayesha tidak pernah mengandung, hanya saja kandungannya selalu lemah, Menikah di umur 20 tahun bersama Satria, 5 kali mengalami keguguran walaupun dia sudah bedrest total, tetap saja kandungan selalu lemah.  Sampai pada terakhir satu tahun yang lalu Ayesha dan Satria memutuskan menyerah. Toh mereka tidak pernah mendapat paksaan dari kedua keluarga mereka untuk memiliki momongan. Hidup mereka selalu bahagia walaupun tanpa kehadiran anak di dalam rumah tangganya.  Satria yang sedang mengeringkan rambutnya tersentak kaget ketika melihat pantulan istrinya di cermin yang menggendong seorang bayi.  "Bayi siapa, Sayang?" tanyanya sambil berbalik dan semakin kaget ketika melihat bayi itu tertidur, wajahnya tidak terlihat sama sekali, hanya ada bentuk wajah dengan warna hitam seluruhnya.  Xena membuka matanya secara tiba-tiba membuat Satria terjengkang karena kaget melihat pelototan Xena, dan tertawa seolah menertawakan Satria yang kaget karena ulahnya. Ayesha pun tertawa melihat tingkah Xena dan Satria. "Kamu jail banget sih, Sayang? Tuh liat, Papah sampe kaget sama ulah kamu!" ujar Ayesha sambil menciumi pipi gembulnya. "Sayang, ini bayi siapa? Sejak kapan aku jadi Papah?" tanya Satria meminta penjelasan pada istrinya. "Ini bayi kita. Sejak hari ini, entah ini bayi siapa. Yang pasti ini rezeki dari Tuhan untuk kita. Bayi ini ditemukan Budi dan Boim di kursi taman belakang," tutur Ayesha dengan memandang Xena penuh cinta. Ayesha menyerahkan lempengan emas yang terselip di selimuti Xena. "Arxena Sawen Zaemon," bacanya pada tulisan di lempengan tersebut. "Ini emas asli?" Ayesha mengangguk. "Tapi, bagaimana caranya orang tua bayi ini bisa masuk ke taman belakang? Disana tidak ada pintu, dan di depan ada penjaga. Apakah mereka tertidur saat berjaga?" Satria mempertanyakan dengan detail. "Namanya Xena, bukan bayi ini! Apapun alasannya yang penting Xena sekarang anak kita!" tegas Ayesha tidak mau dibantah. "Iya, Sayang. Tapi tetap saja kita harus melaporkannya dulu, sekaligus untuk membuat surat-suratnya." Satria memandang kembali wajah Xena yang tengah tersenyum seolah memperhatikan obrolan mereka.  "Sini, Sayang. Sama Papah." Satria mencoba menggendong Xena. Xena tersenyum dan juga berceloteh seolah bahagia. Pasangan yang sudah lama menantikan kehadiran bayi tersebut tersenyum penuh haru ketika Xena terus berceloteh.  Mereka tidak mempermasalahkan warna kulit Xena yang seperti arang. Mereka berpikir dengan harta yang mereka miliki, warna kulit Xena pasti akan berubah dengan banyaknya perawatan.  "Halo, Xena. Ini Papah, Papah Satria," ujarnya memperkenalkan diri. "Halo, Xena. Ini Mamah. Nama Mamah Ayesha,"  "Nya-nya-nya-nya," celoteh Xena membuat Satria dan Ayesha tertawa. Di balik pintu para pegawainya terharu melihat kebahagian Tuan dan Nyonya nya yang teramat bahagia dengan kehadiran bayi arang tersebut. Saka dan Xena diurus oleh keluarga yang sangat menyayangi mereka, kehangatan perhatian dan semua kasih sayang dilimpahkan pada mereka berdua oleh orang tua angkat mereka.  Entah mengapa tidak ada yang menyadari walaupun warna kulit mereka berbeda, terlebih Xena yang perempuan dengan kulit hitam legamnya, tetapi tidak ada keluarga yang menolak kehadiran Xena di keluarga besar Satria maupun Ayesha.  Mereka semua menyayangi dan menjaga Xena sepenuh hati. Menjadikan Xena anak emas dalam keluarga besarnya. Tingkah lucu pintar dan menggemaskan Xena selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi keluarga besarnya. Warna kulit yang mencolok membuatnya menjadi idola dalam keluarga.  Begitupun dengan Saka, walaupun dititipkan pada keluarga sederhana, tetapi hidupnya sangat bahagia berkat limpahan kasih sayang dari orang tua angkatnya.  Hanya saja Saka harus bekerja keras dalam hidupnya kelak, karena orang tua angkatnya bukan lah orang kaya. Saka menjadi pribadi yang santun, cerdas, pekerja keras dan selalu mementingkan kebahagian orang tuanya di atas kepentingannya sendiri.  Pencarian diri mereka dimulai ketika mereka bertemu di kampus untuk meneruskan pendidikan. Saka dengan bermodalkan otaknya yang cerdas sehingga mendapatkan beasiswa di sebuah universitas ternama yang sama dengan Xena.  Sedangkan Xena, walaupun selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, tidak menjadikannya pribadi yang manja, angkuh dan sombong. Xena tetap gadis berhati lembut, sopan dan cerdas. Xena pun mendapatkan beasiswa di universitas yang sama dengan Saka. Yang mana universitas itu milik keluarga besarnya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD