Setelah mengalami penolakan dari Misha, Aldrich untuk memacu mobilnya menuju tempat milik temannya, Niko. Rengga yang mengetahui arah tujuan Aldrich dengan cepat meminta Aldrich menurunkannya di halte terdekat dengan alasan Kakaknya akan menjenguknya malam ini dan Ia ingin segera pulang. Rengga tidak ingin dirinya terjerat semakin dalam dengan hobi bos nya yang sangat sensitif ini. Tentu saja Aldrich langsung menyetujuinya, toh jam kerja Rengga sudah selesai pukul 20.00 tadi. Dalam hati, Aldrich memuji kepekaan sekretarisnya yang cakap dalam membaca situasi. Karena itulah Aldrich lebih memilih memiliki sekretaris laki-laki ketimbang sekretaris perempuan. Menurut Aldrich laki-laki cenderung lebih logis dan cepat dalam berfikir.
Aldrich melangkahkan kakinya ke dalam sebuah club malam dengan keadaan ‘adiknya‘ yang sudah berdenyut ratusan kali, meminta untuk segera mendapatkan mangsa. Aldrich disambut dengan lampu remang-remang beserta hiruk piruk manusia di dalamnya yang terasa sangat menyenangkan. Setidaknya, menyenangkan bagi Aldrich. Wanita-wanita berbaju minimalis dan ketat siap membukakan selangkangannya menyambut kedatangan Aldrich demi beberapa lembar uang seratus ribuan.
Club malam bertuliskan My Booster Club merupakan club malam milik teman Aldrich bernama Niko. Niko adalah seorang pria bertubuh jangkung, sedikit kekar dengan tato kupu-kupu kecil di leher kirinya. Sama halnya dengan Aldrich, Niko memiliki gairah seks yang tinggi. Ia tidak bisa hidup tanpa wanita-wanita di sebelahnya. Dari sana lah Niko terinspirasi untuk membuat club malam ini dengan sokongan dana pribadi dari Aldrich.
"Hei bro, tumben baru dateng?"
Niko menepuk bahu Aldrich, menyambut kedatangan Aldrich dengan penuh senyuman.
"Yoi, kemarin-kemarin gue banyak kerjaan, biasa lah, masalah ibu gue,"
Aldrich menarik satu kursi di sebelah Niko, mendaratkan pantatnya di kursi, tubuhnya menghadap ke depan meja bar panjang yang dipenuhi berbagai jenis minuman yang tentu saja memabukkan.
"Lagi butuh berapa, bro?"
Tanpa basa-basi Niko melayangkan pertanyaan yang memang sudah biasa dilayangkannya pada Aldrich.
"Lo punya berapa malem ini?"
Aldrich menerima segelas Belverde Vodka kesukaannya dari tangan bartender wanita di depannya. Bartender bernama Carla itu memang sudah sangat hafal dengan pesanan Aldrich hingga setiap Aldrich datang, Carla dengan cekatan menyiapkan minuman kesukaan pria berkantong tebal itu.
"Empat belas, lo mau berapa?"
"Lagi pada free semua? "
"Yang tiga lagi kerja sii, lo bisa pake sebelas kalo mau"
Aldrich meneguk vodka di tangannya. Rasa citrus halus yang unik mengalir di kerongkongannya.
"Gue sembilan aja, yang dua buat jaga-jaga kalo ada tamu lo."
Tegukan vodka terakhir di gelasnya membuat pening Aldrich sedikit berkurang. Toleransinya terhadap alkohol begitu tinggi, hingga vodka dengan kadar alkohol 40% itu tidak dapat meruntuhkannya.
"Oke. Lantai tiga ya, yang kamar biasanya,"
Niko memberikan sebuah acess card bertuliskan My Booster Club VIP kepada Aldrich.
"Oke, gue ke atas dulu, thanks bro"
Niko memandangi Aldrich yang melangkahkan kaki menjauh dari Niko, meninggalkan Niko sendirian dengan sebotol wishkey di depannya. Niko memang sudah berteman dengan Aldrich lima tahun lalu, namun kelakuan Aldrich masih sering membuat Niko menggelengkan kepala.
……………………………..
Aldrich merebahkan tubuhnya di spring bed berukuran king size berbalutkan sprey berwarna putih lengkap dengan bed covernya. Di sinilah Ia, di sebuah ruangan VIP di club milik Niko, menunggu wanita-wanita penghiburnya mendatanginya.
Pikiran Aldrich mulai terbayang bibir manis Misha yang diciumnya beberapa jam yang lalu. Aldrich yakin tadi adalah ciuman pertama Misha. Aldrich memang sangat pandai membaca reaksi tubuh dari wanita. Ia merasa bibir Misha terasa manis dan seperti belum pernah dijamah oleh lelaki.
Saat Aldrich masih sibuk dengan pikirannya tentang Misha, lima wanita dengan pakaian minim yang menampakkan belahan dadanya mendatangi Aldrich. Tanpa seizin Aldrich wanita-wanita itu meraba tubuh Aldrich. Salah satu tangan dari wanita-wanita itu bahkan sudah meremas kejantanan Aldrich yang masih berbalutkan celana panjang hitam senada dengan warna jasnya.
KONTEN 21+
Harap pembaca dibawah umur untuk melanjutkan cerita ke bab selanjutnya. Jalan cerita tidak akan terpengaruh jika tidak membaca bagian ini.
Kejantanan Aldrich semakin meronta-ronta ketika wanita-wanita itu membuka resleting celananya. Meskipun bagian bawahnya sudah memanas sendari tadi namun pikirannya masih terpaku dengan bayangan tubuh indah Misha. Aldrich semakin merasa murka dengan bayang-bayang Misha dipikirannya. Dicekalnya tangan dari wanita yang meraba daerah kejantanannya, dan Aldrich membanting wanita itu di kasur dengan kasar.
"You know I wont stop, baby! You really deserve it!"
Aldrich membuka celana yang dikenakannya dan dibuangnya sembarangan. Salah satu wanita yang dibantingnya tadi dengan cepat melepaskan celana dalam dan bra yang dikenakannya dan membuka selangkangannya lebar-lebar seakan Ia sudah sangat siap untuk dimangsa Aldrich.
Aldrich memukul p****t wanita itu keras-keras, segera wanita itu membalikkan tubuhnya dan menungging untuk Aldrich.
Aldrich memukul daerah intim wanita itu dengan telapak tangannya, tanpa berkata-kata wanita itu paham maksud Aldrich. Wanita itu melebarkan tumpuan kakinya, memberikan daerah intimnya terekspos lebih untuk Aldrich.
Hanya dengan sedikit sentuhan sensual dari jari-jari Aldrich, memainkannya sebentar dan wanita itu mengerang kenikmatan. s**********n wanita itu dibukanya lebar-lebar, Aldrich memasukkan dua jarinya ke v****a wanita itu dan menggerakannya hingga jarinya menyentuh daerah k******s wanita itu. Seketika wanita itu mengejang dan menyemburkan cairan kenikmatan di jari-jari Aldrich.
"Nice try baby, lo terlalu mudah keluar,"
Empat wanita lainnya dengan cekatan menyentuh dan meraba tubuh Aldrich. Dua wanita sudah berlutut di depannya untuk menghisap kejantanan Aldrich yang tergolong berukuran besar dan panjang. Melihat ukuran kejantanan Aldrich, satu wnita yang berlutut didepannya terlihat tertegun dan membeku selama beberapa detik. Wanita itu membayangkan betapa sakit dan sekaligus nikmat jika tongkat panjang berukuran besar itu mengobrak-abrik daerah wanitanya.
Dua wanita yang masih berdiri di belakang Aldrich dengan cepat melepaskan jas dan kemeja yang dikenakan Aldrich. Salah satu wanita yang berlutut di depannya sudah memasukkan kejantanan Aldrich di mulutnya, menghisapnya, dan memainkannya dengan lidahnya. Tak puas dengan sentuhan-sentuhan itu, Aldrich membanting dua wanita yang berlutut di depannya di kasur, membuka s**********n wanita itu dengan kasar dan memasukkan miliknya pada daerah intim wanita itu.
"Aaaaahhhhhh… Oh my God! Shittttt! Youre so biggg!"
Tanpa membalas perkataan wanita itu, Aldrich mulai menggoyangkan pinggulnya dengan kasar. Seperti singa kelaparan yang tidak makan tiga hari, Aldrich mendorong miliknya dengan keras ke dalam v****a wanita itu. Aldrich menyodoknya dengan brutal dan keras hingga seluruh kasur king size itu bergetar senada dengan gerakannya.
Permainan kasar yang Aldrich lakukan membuat wanita itu melayang begitu jauh. Kata nikmat saja sudah jauh tidak bisa mendeskripsikan rasa sangat nikmat yang dirasakan wanita itu. Tubuh wanita itu menggelinjang dan menggeliat, gelombang kenikmatan akan datang padanya untuk ketiga kalinya. Dinding vaginanya mulai mengeras, meremas kejantanan Aldrich yang berada di dalamnya, namun Aldrich masih belum merasakan kenikmatan apapun.
Saat wanita dibawahnya itu hendak merasakan gelombang kenikmatan yang ke tiga kalinya, Aldrich justru menghentikan permainannya dan menarik kejantanan miliknya. Rasa kehilangan yang dirasakan wanita itu tidak membuatnya menyerah. Tubuhnya dengan sigap merubah posisi tubuhnya menjadi menungging, tangan kirinya meraih kejantanan Aldrich dan berusaha memasukkannya pada lubang miliknya.
Aldrich segera menyodokkan miliknya dalam-dalam pada lubang milik wanita itu. Memainkan permainannya dengan cepat, hingga tumpuan lulut wanita itu tidak dapat mengimbangi gerakan Aldrich.
Empat wanita yang baru datang di kamar itu merasa terangsang melihat permainan Aldrich yang begitu menggairahkan. Keempat wanita itu kemudian melepaskan seluruh pakaian yang dikenakannya hingga bertelanjang bulat. Mereka menghampiri Aldrich dan secara bergantian Aldrich menyodokkan miliknya pada wanita-wanita itu.
"AAAAAKKKHHH"
Aldrich begitu geram karena hingga wanita ke delapan yang sudah Ia jamah, Ia masih belum merasa puas. Ia masih begitu menginginkan tubuh Misha. Hanya Misha yang saat ini begitu Ia inginkan. Aldrich berfikir bahwa Ia harus mendapatkan Misha bagaimanapun caranya.
Kedelapan wanita itu sudah loyo dan menyerah dengan libido Aldrich dan permainannya yang begitu gila. Aldrich mendorong wanita terakhir yang belum dijamahnya ke tembok dengan keras. Sambil berdiri menghimpit tubuh wanita itu, Aldrich menyodok s**********n wanita itu dengan lututnya, dengan cepat wanita itu melebarkan selangkangannya. Aldrich meraih paha kiri wanita itu dan melingkarkannya pada pingangnya. Aldrich merasakan kejantanannya yang masih berdiri tegak menyentuh daerah intim wanita itu. Dengan cepat Aldrich memasukkan kejantanannya ke lubang milik wanita itu. Kejantanannya terlalu panjang hingga wanita itu menjerit kesakitan saat Aldrich menyodokkan miliknya lebih dalam.
Wanita itu melingkarkan kedua kakinya pada pinggul Aldrich, merasakan milik Aldrich yang begitu besar mengoyak lubang miliknya. Aldrich menggerakan panggulnya dengan cepat hingga wanita itu mendesah begitu keras.
Sudah tiga ronde Aldrich bermain dengan wanita yang ke sembilan itu hingga wanita itu tergeletak tak berdaya di lantai. Tubuh wanita itu sudah terlalu lelah untuk menghadapi milik Aldrich yang begitu memabukkan.
Aldrich merebahkan tubuhnya di samping wanita itu, membayangkan jika wanita itu adalah Misha. Dengan cepat Aldrich menepis pikirannya itu, segera Ia mengambil baju-baju dan celananya yang dibuangnya sembarangan, mengambil jam tangan Rolex nya di nakas dan memakainya.
Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 4 pagi, Aldrich menuruni tangga dan bertemu dengan Niko, temannya.
"Lho Drich, udah selesai? "
Niko melihatnya dengan tatapan heran. Aldrich hanya tersenyum sedikit dan menganggukkan kepala.
"Ga mau nginep sekalian, Drich? "
"Besok gue ada acara pagi, Nik. Gue pulang dulu ya, thanks sebelumnya,"
"Oke, Drich. Gue yang makasih sama lo Drich."
Aldrich menyerahkan acess card nya kepada Niko.
Niko menepuk lengan Aldrich. "Hati-hati di jalan, Drich."
"Yoi, thanks."
Aldrich memacu mobilnya menuju apartemen miliknya yang berjarak kurang lebih 30 menit dari tempat club malam milik Niko.
To be continued......