Azam Lainnya

1333 Words
Masih dalam perasaan kesal dan penuh amarah. Azam membawa Maya pulang ke rumah. Ini pertama kalinya, Azam merasa sangat membenci dan ingin menghabisi seseorang. Setibanya di rumah, Azam langsung membawa Maya ke kamar. "Istirahat dulu, Maya!" pinta Azam sembari melepas jilbab Maya. Maya menatap Azam yang sangat terlihat khawatir kepadanya. Ia begitu perhatian dan setiap sentuhannya, seakan bisa menjadi obat untuk Maya. "Apa yang kamu lakukan Maya dan kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Azzam sambil tersenyum dan memegang pipi kiri Maya dengan tangan kirinya. "Tidak, aku hanya masih terbayang saat kamu memanggilku dengan kata sayang waktu di ruang kemahasiswaan tadi. Suaramu terngiang dan berulang-ulang di telingaku, Azam," ucap Maya sambil tersenyum menatap suaminya. Azam tersenyum, lalu ia mengatakan pada Maya tentang sesuatu. "Kalau hal itu bisa membuat kamu bahagia, maka sejak saat ini aku akan memanggilmu dengan kata sayang." "Azam, apa kamu tidak malu jika di kampus ada teman-teman yang mendengarkannya?" tanya Maya sambil terus menatap Azam. Tapi ketika Azam mengangkat kepalanya dan membalas menatapan Maya, Maya langsung tertunduk. Ternyata, aku belum biasa menerima tatapan mata Azam. Ucap Maya tanpa suara dalam posisi wajah yang masih tertunduk. "Kenapa harus malu? Kamu adalah tulang rusukku, kamu adalah wanita halalku, kamu adalah wanita yang aku inginkan dan kamu adalah ibu dari anak-anakku." "Azam ... ." "Iya, Maya. Aku disini dan aku akan selalu menjagamu. Aku berjanji dengan sepenuh hatiku, bahwa aku akan berusaha untuk melindungimu dengan sekuat tenagaku. Aku tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi untuk yang kedua kalinya. Cukup, penderitaanmu selama ini sudah cukup! Sekarang tinggal kebahagiaanmu, walaupun hal itu harus ditukar dengan kebahagiaanku. Aku rela, Maya," tukas Azam panjang lebar. "Azam ... ." ucap Maya yang kali ini dengan mata berair dan hidung yang terasa perih. Ucapnya mampu menyentuh dan membasahi jiwa Maya yang hampir mati kekeringan. "Iya. Kenapa, Maya?" "Kamu adalah obat untukku dan kamu adalah cahaya dalam gelapku. Aku yakin, kamu akan membawaku ke tempat yang terang karena kamu adalah jodoh yang dipilihkan Allah untukku, Azam," kata Maya dengan bulir-bulir air mata yang akhirnya menetes. "InsyaAllah, Maya. Sebab kamu adalah nyawa yang aku cari selama ini," ucap Azam sembari menghapus air mata Maya dengan ibu jari tangannya. "Bersamamu, aku yakin. Aku akan kuat menjalani hidupku yang berat." "Terima kasih, Azam." "Kamu tahu, Maya? Aku sangat menyayangimu dan mencintaimu." Setelah pengakuan tersebut, Azam mencium punggung tangan kanan Maya dan tersenyum. "Aku juga sangat mencintai kamu, Azam." "Aku akan mengobati lukamu. Ini agak sedikit sakit, tapi kamu harus sabar dan menikmatinya, Maya!" "Baiklah ... aku sudah iklas dengan rasa sakitnya, Azam." Setelah Azam mengobati luka di wajah dan memberikan cream untuk mengempiskan tangan Maya yang bengkak, Azam langsung memintanya untuk makan dan minum obat, kemudian ia meminta Maya untuk beristirahat. Selama Maya beristirahat, Azam terus menemaninya. Ia berbaring di samping tubuh Maya dan terus mengelus-elus kecil pipi kiri Maya yang lukanya agak besar, hingga Maya bisa tertidur dengan pulas. Pukul 16.40 WIB. Maya terbangun dari tidur siang yang sangat menyenangkan. Tapi Azam tidak ada di sisinya lagi. Dengan cepat, Maya bangun dari tempat tidur dan mencari Azam ke seluruh bagian rumah, tapi Azam benar-benar tidak ada. Maya terdiam di tengah rumah sembari berpikir kemana Azam dan dimana ia saat ini. Tak lama, Maya mendengar suara antara tanah dan sapu lidi yang terus-menerus beradu tanpa henti. Maya berlari ke luar, ternyata itu memang suara sapu lidi. Rupanya, Azam sedang membersihkan pekarangan mini rumah mereka. Tanpa rasa segan, ia berusaha meringankan pekerjaan rumah yang biasa Maya lakukan. "Azam, biar aku saja yang melakukannya," ucap Maya sambil berdiri di ujung pintu luar. "Tidak, biar aku saja. Ini bukan pekerjaan yang berat. Sebaiknya kamu bersih-bersih, Sayang!" ucap Azam dan kata sayang darinya membuat hati Maya kembali bahagia. "Iya, Azam." Maya tidak membantah. Sekitar pukul 17.50 WIB. Azam masuk ke dalam rumah dengan wajahnya yang diselimuti peluh. "Mau langsung mandi?" "Iya, soalnya aku ingin shalat magrib di mesjid. Bolehkan, Sayang?" "Tentu saja. Lagipula aku sedang datang bulan, jadi kamu tidak bisa shalat berjamaah di rumah bersamaku." "Iya, Sayang." "Setelah mandi, mau aku buatkan teh manis?" "Tidak perlu, Sayang. Aku minum air es yang ada di dalam kulkas saja. Kamu harus banyak istirahat agar tidak sakit. Aku mandi dulu." "Iya, Azam." Waktu hampir memasuki shalat magrib. Azam pun segera berangkat ke mesjid dengan pakaian yang sudah Maya persiapkan. Setelah mengantarkannya ke depan pintu depan rumah, Maya segera masuk ke dalam kamar. Selang beberapa menit, setelah suara azan berkumandang. Maya mendengar suara ketukan halus dan lamban di pintu kamarnya. Heran, siapa yang datang? Tanya Maya di dalam hati, sambil bergerak dan membuka pintu kamarnya. "Azam ... kamu sudah pulang? Bukannya baru saja azan dan komat di mesjid," tanya Maya tanpa henti, tapi tidak mendapat jawaban langsung dari Azam. Tidak seperti biasanya, kali ini Azam hanya diam dan melihat jauh ke dalam kamar dengan tatapan kosong. Maya cemas dengan sikap Azam yang tiba-tiba berubah. Ditambah lagi dengan aroma daun pandan yang tercium cukup semerbak dari tubuhnya. Seketika perasaan Maya menjadi tidak enak dan hatinya pun membimbing untuk mengatur jarak dengan Azam saat ini. Kenapa? Tidak biasanya hatiku menolak untuk mendekati suamiku. Ucap Maya di dalam hati, sambil terus memperhatikan bagian samping kiri tubuh Azam yang semakin lama semakin meninggalkan Maya untuk masuk ke dalam kamar mereka. 'Tak lama setelah Azam sudah masuk ke dalam kamar, tiba-tiba Maya mendengar suara ketukan pintu yang kuat dari pintu luar rumah. Siapa? Tanya Maya tanpa suara, sambil terus bergerak ke arah pintu luar. Sesampainya di pintu luar, Maya sangat terkejut karena melihat pintu rumah mereka terkunci dari dalam dengan slot. Lalu bagaimana Azam bisa masuk ke dalam rumah tadi? Pikir Maya sambil melihat ke arah kamar. "Assalamu'alaikum, Sayang." Suara Azam terdengar dari luar. "Wa-waalaikum sa-lam ... Azam," sahut Maya dengan perasaan yang bingung, tapi hatinya begitu yakin bahwa Azam suaminya berada di luar. Tanpa berpikir dua kali, dengan cepat dan tangan yang gemetaran, Maya segera membuka pintu rumah dan memastikan bahwa yang sedang berada di luar sana adalah Azam suaminya, bukan makhluk lain. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Azam yang heran dengan wajah Maya yang tiba-tiba saja tampak pucat. "Kenapa kamu sudah pulang, Azam?" "Iya, Sayang. Tiba-tiba saja, sebelum mengangkat takbir tadi, hatiku menjadi tidak enak dan aku berpikir untuk pulang. Lagipula aku masih bisa shalat di rumah kan?" "Iya, Sayang," sahut Maya sembari memeluk tubuh Azam dan menangis. Saat ini perasaan Maya bercampur aduk, antara senang, sedih, takut, bahagia dan Maya tidak tahu lagi apa rasanya. Semua itu karena ternyata suaminya bisa mengetahui kondisi saat Maya dalam keadaan bahaya atau ketika batin Maya memanggil namanya. "Ada apa?" tanya Azam sambil membalas pelukan dari Maya. "Azam, tolong aku!" pinta Maya yang mulai memelas dan Azam terus memperhatikan istrinya yang terlihat ketakutan. "Bacakan do'a perlindungan untukku, Azam!" Tanpa banyak bertanya, Azam langsung membaca ayat-ayat pendek dan do'a perlindungan dengan suaranya yang lantang dan merdu sambil berjalan mengelilingi rumah. أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ اَلتِي لاَ يُجَاوِزُهُنَ بِرٌّ وَلاَ فَاجِرٌ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ وَذَرَأَ وَبَرَأَ وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنْ السَّمَاءِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيهَا وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلَّا طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنُ A’uzu bikalimatillahit tammatil lati la yujawizuhunna birrun wala fajirun min syarri ma kholaqa wa zaro-a wa baro-a wamin syarri ma yanzilu minas sama-i wamin syarri ma ya’ruju fihaa wamin syarri fitanil lail wan nahaari wamin syarri kulli thoriqin illa thoriqoy yathruqu bikhoirin ya rohman. “Aku berlindung dengan tanda-tanda kekuasaan Allah yang Maha Sempurna, yang tidak melebihi batas antara kebaikan dan keburukan dari kejahatan apa yang telah Dia ciptakan, dari kejahatan apa-apa yang turun dan naik ke langit, dari kejahatan apa-apa yang tumbuh dan keluar dari bumi, dari kejahatan ujian malam dan siang, dan dari kejahatan setiap yang berjalan kecuali dia berjalan membawa kebaikan, wahai Maha Pengasih.” Seketika, jiwa Maya yang ketakutan dan tubuh yang gemetaran, menjadi sangat tenang. Lalu Azam melanjutkan shalat magrib nya yang tertunda, di dalam kamar mereka yang telah kosong (tanpa Azam yang lainnya). Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD