Scent of Petrichor 14b

1052 Words
Keteguhan Rocky memang patut diacungi jempol. Ia berhasil menyelesaikan tugas berat itu dan kini hanya tinggal memakaikan pakaian tidur untuk Ivy. Belum lagi pakaian itu menyentuh kepala Ivy, gadis itu kembali mengucapkan sesuatu yang membuat Rocky shock. “Aku tidak pernah tidur dengan menggunakan bra. Tolong bukakan dulu sebelum kau memakaikan bajuku,” pinta Ivy tanpa sungkan. “Dammit …!” umpat Rocky lirih. Ujian berikutnya akan semakin berat saja. Dengan kepala tertunduk, ia menjangkau ke belakang tubuh Ivy dan membuka kait pakaian dalam gadis itu. Setelah pakaian dalam milik Ivy tanggal, Rocky langsung menyambar pakaian tidur gadis itu. Namun lagi-lagi gerakannya terhenti ketika melihat Ivy berusaha menarik-narik celana panjang yang gadis itu kenakan. “Kau mau apa lagi?!” tanya Rocky galak. "Aku ingin buang air kecil," sahut Ivy panik sambil menarik turun ritsleting celananya. “Hentikan!” Cepat-cepat ditahannya tangan Ivy. “Jangan buka celanamu di sini!" "Aku sudah tidak tahan! Aku bisa mengompol!" “Argh!” Erangan frustasi kembali terdengar dari mulut Rocky malam ini, entah untuk yang ke berapa kalinya. Khawatir Ivy benar-benar akan mengompol, Rocky langsung menggendong gadis itu ke kamar mandi, lalu mendudukkannya di closet. "Kau bisa melakukannya sendiri?" tanya Rocky dengan perasaan cemas. Jika ia harus membantunya juga, Rocky benar-benar bisa gila. "Bisa." Mendengar jawaban Ivy, Rocky langsung mengembuskan napas lega. Cepat-cepat ia berbalik  untuk meninggalkan kamar mandi. Namun langkahnya terhenti sebelum mencapai pintu akibat seruan panik Ivy. "Jangan keluar!" Rocky menunduk sambil mengacak kepalanya. "Apa lagi?" "Aku tidak bisa menemukan di mana kancing celanaku." "Astaga!" Rasanya Rocky ingin membenturkan kepalanya ke pintu saat ini juga. "Bantu aku," pinta Ivy manja. Rocky kembali berbalik dan menghampiri Ivy. Dibantunya gadis itu berdiri sambil berusaha sebisa mungkin agar tidak sampai menyentuh tubuh bagian atas Ivy yang polos. Sambil membantu membuka kancing celana Ivy, Rocky bergumam kecil, "semoga kau tidak akan mengingat semua bagian ini saat bangun nanti." Lain halnya dengan Rocky yang terlihat salah tingkah sejak tadi, Ivy benar-benar terlihat santai dan tidak peduli. Entah gadis itu memang sudah terlalu terbiasa dengan para lelaki, ataukah Ivy hanya sedang mabuk berat? "Kancingnya sudah terbuka," ujar Rocky memberitahu. "Turunkan." Kali ini Rocky sudah tidak mendebat lagi. Semakin cepat siksaan ini berakhir, akan lebih baik. Begitu celana panjang Ivy beserta celana dalamnya sudah diturunkan, Rocky langsung memunggungi gadis itu. "Jangan pergi!" Lagi-lagi Ivy mencegah Rocky pergi. Bahkan kali ini ia menahan tangan Rocky dan menggenggamnya erat-erat. "Apa kau ingin aku menemanimu selama buang air kecil?" tanya Rocky tidak percaya.  "Ya," jawab Ivy mantap. "Apa kau tidak malu?" "Kenapa juga aku harus malu? Kau kakakku. Kau sudah biasa melihatku sejak kecil." "Ya, ya, bicaralah sesukamu!" Ke mana perginya gadis ketus itu yang selalu menatapnya seperti lalat pengganggu? Kini rasanya Rocky seperti kembali berhadapan dengan Ivy kecil yang manis dan manja, hanya saja dalam versi wanita dewasa. "Aku sudah selesai," ujar Ivy setelah menuntaskan urusannya. "Berdirilah!" sahut Rocky tanpa mau melihat ke belakang. "Tidak bisa. Bantu aku." Ivy menarik-narik tangan Rocky agar pria itu membalik tubuhnya. "Pakai dulu celanamu!" perintah Rocky. "Mana bisa? Aku harus berdiri dulu baru bisa menaikkan celanaku." Benar juga! "Ivy, kau benar-benar mengujiku malam ini," desah Rocky putus asa. "Apa?" "Lupakan!" sahut Rocky galak. Ia membalik tubuh dengan kasar dan langsung menunduk untuk menghindari pemandangan indah di atas sana, namun sialnya gadis itu malah ikut menunduk bersamanya. "Jangan menunduk!” larang Rocky spontan. “Berdiri tegak saja dan diamlah! Biar aku pakaikan sekalian." Ketika Rocky akan menaikkan celana panjang Ivy, gadis itu malah menendangnya hingga terlepas. Kini yang tersisa tinggal celana dalamnya saja. “Aku tidak perlu celana panjang saat tidur,” ujar Ivy sebelum Rocky protes. Rocky benar-benar diam seribu bahasa. Rasanya ia tidak memiliki tenaga lagi untuk menjawab atau menanggapi kata-kata Ivy. Tubuhnya sudah terlalu lelah menahan gejolak yang sejak tadi melandanya. Ia hanya lelaki normal yang bisa bereaksi melihat pemandangan indah, apalagi jika sang pemilik keindahan adalah sosok yang selama ini menguasai hatinya. Begitu Rocky berdiri setelah selesai membantu Ivy mengenakan celana dalamnya, gadis itu langsung berjinjit, merangkul leher Rocky, lalu mengecup pipinya. "Kau memang kakak terbaik!"  "Hei!" seru Rocky terkejut lalu cepat-cepat membebaskan diri dari Ivy. Untunglah gadis itu tidak melakukan hal-hal aneh lainnya saat kembali dari kamar mandi ke tempat tidur. Rocky juga berhasil memakaikan pakaian untuk Ivy tanpa ada hambatan lagi dari gadis itu. Bahkan Ivy dengan sangat manis menuruti perintah Rocky untuk segera naik ke tempat tidur dan berbaring. Ketika Rocky tengah menyelimuti Ivy, gadis itu menendang selimut yang baru dibentangkan lalu menarik tubuh pria itu hingga terjatuh dan hampir menimpa tubuhnya sendiri. "Sekarang apa lagi, Ivy?" tanya Rocky lelah. “Aku hanya ingin memelukmu,” ujar gadis itu dengan senyumnya yang manis. Setelah mengatakan itu, Ivy langsung meletakkan kepalanya di d**a Rocky dan memeluk pinggang pria itu. “Ivy …,” ujar Rocky lirih. Sekarang ia sudah nyaris kehilangan kontrol. Kapan saja Rocky bisa menyerang Ivy di atas tempat tidur ini. “Tidurlah di sini, jangan tinggalkan aku,” bisik Ivy dengan matanya yang mulai terpejam. Lalu setelahnya, senyap. Tidak ada lagi ocehan ngawur yang terdengar dari bibir Ivy, berganti dengan embusan napasnya yang teratur. Rocky mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Ivy lalu bertanya pelan. "Kau sudah tidur?" Tidak ada balasan. Ivy benar-benar sudah terlelap. "Hah! Benar-benar!” dengkus Rocky antara kesal dan lelah, namun sekaligus lega juga. Jika Ivy masih melanjutkan aksi gilanya lagi, Rocky mungkin akan benar-benar menerjangnya dan melakukan hal gila yang selama ini bahkan tidak pernah berani ia bayangkan. Perlahan Rocky beringsut untuk memperbaiki posisi tidurnya karena tadi ia ditarik paksa dan jatuh begitu saja ke atas tempat tidur. Jika sepanjang malam Ivy akan memeluknya seerat ini, Rocky perlu memastikan dirinya dan gadis itu berbaring dalam posisi yang nyaman. Berbaring seperti ini dalam keadaan yang tenang, membuat Rocky terkenang akan masa kecil mereka. Ingatan itu nyatanya mampu meredam hasrat Rocky pada Ivy. Tanpa sadar, ia terkekeh geli. “Setelah mengerjaiku sedemikian rupa, kau kembali tidur begitu saja. Bersyukurlah karena malam ini aku dalam keadaan sadar penuh, Gadis Nakal! Kalau aku dalam pengaruh alkohol juga, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan padamu." Menjelang pagi barulah Rocky meninggalkan kamar Ivy. Rocky tidak bisa membiarkan Ivy terbangun dan mendapati dirinya tidur di sisi gadis itu. Ivy bisa mati karena malu. Rocky hanya berharap, Ivy tidak mengingat kejadian gila semalam, karena ia juga akan berusaha melupakannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD