TRLWC | 4. Mengawali Pagi Bersama Sang CEO

1809 Words
    Cynthia mengerjabkan matanya ketika bunyi alarm memekakkan telinganya, gadis itu mengeliat pelan kemudian matanya terbuka dengan sempurna dan mematikan alarm yang ada di nakasnya, Cynthia adalah orang yang terbiasa bangun pagi, hidup gadis itu benar-benar sangat teratur. Cynthia beranjak turun dari tempat tidurnya, hal yang pertama Cynthia lakukan adalah mencuci wajah dan mengosok gigi kemudian berolahraga, memasak sarapan dan bersiap untuk berangkat kerja.    Setelah selesai dan menganti pakaiannya dengan pakaian olahraga, Cynthia langsung keluar dari kamarnya, langkah gadis itu tiba-tiba terhenti ketika melihat seseorang yang sangat dia kenal tertidur di sofa dengan posisi yang jelas tidak nyaman sama sekali. Otak Cynthia bekerja lebih keras kemudian mata gadis itu mengerjab perlahan seolah dia baru saja mendapatkan semua ingatannya kembali.     Seingat Cynthia semalam Jack memeluknya di sofabed itu tanpa mau melepaskannya dan Cynthia sepertiya juga berakhir tertidur di sofa itu namun pagi ini tiba-tiba dia sudah terbangun di tempat tidurnya, mungkinkah Jack yang memindakannya? Sepertinya opsi itu yang paling masuk akal.     Cynthia melangkah ke arah sofabad itu, dia bahkan meringis saat menyadari Jack tidak tidur dengan bantal atau selimut sepanjang malam, jika penghuni Hilton Hotels & Resort mengetahui ini, Cynthia pasti sudah di kutuk habis-habisan karena membiarkan pewaris tunggal Hilton Hotels & Resort tidur dengan mengenaskan sepanjang malam.     “Jack,” ucap Cynthia sembari menepuk lengan Jack dengan perlahan, Cynthia duduk di pinggiran sofa itu. Jack tidak melakukan pergerakan apapun, Cynthia langsung melihat ke arah perut pria itu, masih bernapas dengan teratur hal itu jelas langsung membuat Cynthia merasa begitu lega, setidaknya pria itu masih bernapas dengan baik.     “Jack pindah ke kamarku dan mulai istirahat dengan benar di sana,” ucap Cynthia, tangannya masih menepuk lengan Jack dengan perlahan, kali ini Cynthia bisa melihat mata Jack mengerjab perlahah kemudian terbuka dengan sempurna. Mata pria itu langsung bertemu dengan Cynthia yang pagi ini memakai kaus crop seperti semalam namun bawahannya sudah berganti legging soprt, sepertinya gadis itu akan bersiap untuk berolahraga.     “Morning, Thia,” sapa Jack, pria itu beranjak duduk namun meringis perlahan, sepertinya tubuh pria itu benar-benar remuk sekarang.     “Pindah ke kamarku dan beristirahatlah dengan benar di sana, kita masih memiliki dua jam sebelum berangkat ke kantor, aku akan menghabiskan setengah jam untuk berolahraga,” ucap Cynthia, gadis kemudian mengulurkan tangannya pada Jack dan membantu pria itu beranjak dari sofa.     “Aku sudah mengatakan padamu semalam untuk kembali ke hotel, kalau kau mendengarkanku, kau tidak akan mendapatkan tubuhmu pegal-pegar di pagi hari seperti ini,” ucap Cynthia. Jack menatap Cynthia dengan begitu lekat, senyumnya terukir begitu saja sembari mememeluk bahu Cynthia.     “Antar aku ke kamar Thia, aku tidak kuat berjalan dengan benar,” ucap Jack sembari mengesekkan rambutnya ke rambut Cynthia membuat gadis itu mengedus namun dia tetap melakukan apa yang di inginkan oleh sang CEO yang lama-lama tingkahnya semakin ngelunjak menurut Cynthia.     “Lanjutkan tidurmu di sini, aku ada di ruangan sebelah untuk berolahraga, aku akan menghubungi dan meminta orangmu supaya mengirim pakaian kerja untukmu,” ucap Cynthia setelah Jack duduk di pinggiran kasurnya. Pria itu masih menggenggam tangan Cynthia dengan erat, menatap Cynthia lekat-lekat.     “Kau benar-benar yang terbaik,” ucap Jack, “aku juga berharap, aku adalah pria pertama yang tidur di kasurmu,” lanjutnya, dia mengambil posisi tidur, tersenyum pada Cynthia. Gadis itu hanya menggeleng melihat tingkah seorang Jack Hilton, Cynthia tidak percaya pria itu akan bersikap senarnis ini karena seingat Cynthia dulu Jack adalah pria yang cukup dingin dan hidup dengan sangat bebas namun pria itu adalah orang yang tahu apa tujuannya.     “Selamat melanjutkan waktu istirahat anda Mr. Hilton,” ucap Cynthia, gadis itu menunduk hormat dan kemudian meninggalkan kamar tidur itu, membiarkan pertinggi Hilton Hotels & Resort itu istirahat dengan benar, Cynthia tidak ingin pria itu mengeluh badannya pegal-pegal saat mereka sudah bekerja nanti.     ***     “Memasak apa?” Cynthia tersentak dan menoleh ke belakang, di sana Jack Hilton berdiri dengan rambut acak-acakkannya, khas sekali orang yang baru saja terbangun dari tidurnya.     “Salad sayur dan juga omlet, kau suka yang mana?” tanya Cynthia, gadis itu masih menggunakan pakaian olahraganya. Dia mengambilkan segelas air mineral dan memberikannya pada Jack.     “Terimakasi Thia,” ucap Jack sembari menerima air mineral dari Cynthia kemudian meneguknya sembari melangkah ke arah Cynthia yang sedang menata sarapan di atas piring.     “Aku menyukai keduanya, aku sepertinya melewatkan banyak hal, perkembangan memasakmu sangat bagus sekali,” ucap Jack sembari menatap sarapan yang sudah jadi.     “Kau tidak melewatkan apapun karena memang kita tidak sampai sedekat itu di masa lalu,” ucap Cynthia, dia membawa piring itu ke meja makan.     “Orang yang pernah berciuman di masa lalu itu di sebut tidak dekat?” tanya Jack dengan satu alis terangkat. Cynthia tiba-tiba terdiam, gadis itu memalingkan wajahnya kemudian menatap Jack dengan lekat.     “Itu adalah hal yang tidak sengaja terjadi Mr. Hilton, just accident!” seru Cynthia.     “Tidak ada accident yang saling memangut dan menikmati Cynthia,” ucap Jack, dia menarik piring sarapannya dan tersenyum miring pada Cynthia yang kini hanya dian dan menyantap sarapannya dengan santai.     “Aku menemukan rokok di kamarmu, you smoking, Thia?” tanya Jack, Cynthia mengangguk perlahan.     “Tapi bukan aktif, aku membutuhkannya di waktu-waktu tertentu,” jawab Cynthia dengan sangat santai, Jack mengangguk paham tanpa menghakimi, tidak ada salahnya dengan rokok menurutnya terkadang beberapa orang memang membutuhkannya untuk penghilang stres, Cynthia sepertinya adalah salah satunya, di bandingkan Cynthia, Jack jauh lebih aktif merokok tapi rokok bukan hal wajib yang harus dia bawa ke mana-mana.     “Cynthia, how are you?” tanya Jack, dia  menatap Cynthia dnegan lekat, sejak semalam Jack sudah ingin tahu bagaimana keadaan gadis ini sekarang, bertahun-tahun telah berlalu sejak mereka menempuh pendidikan S2 bersama.     “Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja dan menjalankan hari-hari sebagai karyawan di perusahanmu,” jawab Cynthia dengan sangat santai. Bukannya memang begitu? Cynthia sudah selesai dengan sarapannya.     “Apa terjadi sesuatu yang buruk?” tanya Jack, Cynthia terdiam kemudian menggeleng. Gadis itu beranjak dari kursinya.     “Pergi bersihkan diri anda Mr. Hilton kita harus segera berangkat bekerja dan pembahasan tentang hal pribadi tidak di lakukan oleh atasan dan bawahannya,” ucap Cynthia dengan tegas, sungguh sejak kemarin Cynthia merasa Jack sudah berusaha dengan keras untuk menerobos privasinya.     “Perlengkapanmu ada di sofabed,” ucap Cynthia kemudian dia beranjak untuk mencuci piring kotor, Jack menarik napasnya kemudian melakukan apa yang di perintahkan oleh Cynthia, dia rasa memang butuh waktu untuk bisa kembali berteman dengan gadis ini. Mungkin di masa lalu ada sebuah kesalahan yang tidak sengaja Jack lakukan sehingga membuat sikap Cynthia berubah padanya. Dulu gadis itu memang menghilang begitu saja dan saat itu Jack juga tidak berniat mencari Cynthia namun ketika sudah di pertemukan seperti ini, Jack berpikir mereka bisa berteman kembali seperti dulu.     Cynthia menghembuskan napasnya pelan ketika mendengar langkah Jack sudah menjauh dari meja makan, Cynthia benar-benar tidak ingin terjebak dalam pesona pria itu untuk kedua kalinya, cukup dulu saja. Jack itu adalah orang yang sangat mudah untuk di cintai tapi bukan orang yang mudah untuk di raih. Pemikiran pria itu sungguh sebenarnya sangat pelik sekali dan terkadang sulit di mengerti. Jadi Cynthia benar-benar berharap waktu tiga bulan benar-benar cepat berlalu dan selama itu Cynthia berharap dia tidak terpengaruh oleh pesona pri itu.     ***     “Selamat pagi Mr. Hilton,” suara berat itu menyambut Jack ketika melangkah di lobi tower D, di mana pusat kantor Hilton Hotels & Resort berada. Jack langsung menyambut dua orang pria dengan tubuh tegap itu dengan senyumnya, bahkan mereka bertos ria ala pria pada umumnya.     Cynthia berusaha keras untuk bersikap biasa saja karena sejak tadi dia sangat-sangat menyadari tatapan menggoga dua sahabat super mengesalkannya itu, Stephen dan Raynard sudah seperti dua kakak laki-laki yang baru saja menciduk adik perempuannya berkencan.     “Bagaimana Indonesia di hari pertama?” tanya Stephen dengan sangat santai pada Jack, sepertinya ucapan dua pria itu kemarin siang bukan omong kosong belaka, mereka memang berteman baik dengan Jack Hilton.     Cynthia berjalan di belakang tiga orang dengan tubuh tinggi itu, gadis itu melambaikan tangannya sembari tersenyum ketika melihat Flora dan Milka melangkah ke arahnya dengan santai.  Tiga gadis itu pada akhirnya melangkah di belakang tiga pria dengan tubuh tinggi itu.     “Sangat menyenangkan,” jawab Jack, Flora dan Mikla langsung menatap Cynthia dengan mata menyipit, tidak jauh berbeda dengan tatapan Stephen dan Reynard tadi.     “Jangan mikir yang iya-iya,” ucap Cynthia mengingatkan dua sahabat perempuannya itu, Flora dan Milka terkekeh, pasti dua gadis ini sudah mendapatkan informasi yang iya-iya dari Stephen atau Reynard.     “Selamat pagi Mr. Hilton,” ucap Flora dan Milka dengan kompak ketika mereka ingin menasuki lift. Tiga pria itu jelas sudah masuk terlebih dahulu, Jack terlihat mengangguk.     “Pak Stephen-nya nggak di sapa Flo?!” celetuk Reynard dengan nada menggoda, kebiasaan memang si Reynard itu. Flora hanya tersenyum menanggapi ucapan Reynard. Lift yang mereka naiki kemudian beranjak ke lantai atas di mana semua aktivitas mereka akan berlangsung sepanjang hari.     Mereka terpisah ketika melangkah menuju ruangan masing-masing. Cynthia tentu saja mengekori Stephen setelah Jack Hilton melangkah ke ruangannya bersama dengan beberapa orang yang datang dari Manhattan sana bersama dengan Jack.     “Kenapa Jack bisa datang sama lo pagi ini?” tanya Stephen ketika Cynthia sudah duduk di hadapan pria itu, siap untuk melakukan pekerjaanya.     “Pak Stephen Huarliman , kekepoannya bisa di tunda dulu nggak?” tanya Cynthia dnegan sinis. Stephen terkekeh.     “Gue serius nanya Thia, lo sama Jack nggak nginep bareng kan semalam?” tanya Stephen dengan memicingkan matanya, Cynthia menarik napasnya, sumpah demi apapun, Stephen dan Reynard itu akan berubah seperti emak-emak rumpi ketika melihat Cynthia dekat dengan seroang pria, dua orang pria itu akan mewawancarai Cynthia sampai tuntas kemudian akan mulai mencari latar belakang pria-pria yang dekat dengan Cynthia, banyak yang gagal karena menurut Reynard sang buaya, pria itu tidak cocok dengan Cynthia dan sialnya Cynthia percaya-percaya aja dengan apa yang di katakan oleh dua pria ini karena apa yang mereka katakan memang benar adanya. Cynthia pada akhirnya merasa tidak cocok dengan pria-pria itu.     “Dia menginap di Apartemen gue semalam,” jawab Cynthia dengan santai, lagian sangat-sangat percuma berbohong pada pria ini, Stephen tidak akan berhenti bertanya padanya sebelum pria itu mendapatkan jawaban yang dia harapkan. Keterkejutan tergambar dengan bergitu nyata di wajah Stephen bahkan pria itu memicingkan matanya dan menatap Cynthia lekat-lekat.     "Gue nggak melakukan apapun seperti apa yang ada di dalam otak kotor lo itu!" seru Cynthia sebelum pertanyaan berikutnya keluar dari mulut Stephen.     “Demi apa lo?” tanya Stephen, "maksudny demi apa Jack menginap di Apartemen lo? Tidur di kamar yang sama?" tanya Stephen. Cynthia menarik napasnya, menaruh iPad-nya di atas meja lalu membalas menatap Stephen.     "Demi lo yang geraknya macam siput ketika mendekati Flora, dia tidur di sofa!" seru Cynthia, gadis itu kemudian memilih beranjak dari kursinya dan meninggalkan Stephen yang terdengar meneriaki namanya dari dalam ruangan. Kalau sudah seperti ini, Cynthia lebih baik bekerja di ruangannya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD