Cynthia bergerak turun dari tempat tidurnya ketika mendengar bel Apartemen-nya berbunyi berkali-kali, gadis itu menguap beberapa kali, mencepol rambutnya asal-asalan. Weekend kali ini Cynthia memanfaatkan waktunya untuk beristirahat secara penuh karena seminggu terakhir jadwalnya sangat padat sekali, Cynthia bahkan menghadari beberapa acara gathering di Singapura.
Tanpa melihat siapa tamunya sore ini, Cynthia langsung membuka pintu Apartemen-nya karena biasanya orang yang datang ke Apartemen-nya saat weekend seperti ini hanya Stephen, Reynard, Flora atau Milka.
“Cynthia, can you help me?” suara berat nan serak itu langsung menerobos masuk ke dalam telinga Cynthia membuat gadis itu tersadar sepenuhnya. Matanya menyorot pria yang berdiri di hadapannya dengan tatapan bingung apalagi ketika melihat Jack Hilton berdiri di hadapannya dengan satu koper yang ukurannya cukup besar. Tidak mungkin kamar president suit Hilton Hotels tiba-tiba mengalami kebanjiran atau masalah lainnya karena kamar yang di tempati oleh Jack Hilton itu benar-benar yang terbaik bahkan fasilitasnya sangat lengkap bahkan keamanannya pun terjamin, jejeran bodyguard pria itu juga masih berada di Hilton Hotel & Resort Jakarta sampai hari ini.
“Bantuan untuk?” tanya Cynthia dengan kening berkerut, selama satu minggu terakhir semenjak Cynthia berbicara pada Jack di mobil saat itu, pria itu menuruti semua ucapan Cynthia, dia tidak lagi mengusik Cynthia dan bersikap profesional, mereka hanya terlibat dalam perbicaraan tentang pekerjaan, Jack juga tidak lagi menggoda Cynthia yang membuat Cynthia mendapatkan berbagai pertanyaan yang tidak-tidak dari Stephen dan Reynard. Sepertinya dua pria itu adalah tim sukses Jack Hilton.
“Menata pakaian,” jawab Jack sembari melirik ke arah kopernya, kening Cynthia semakin berkerut, gadis itu menengok ke kiri dan ke kanan kemudian kembali menatap Jack dari atas sampai bawah.
“Kau datang jauh-jauh ke Apartemenku hanya untuk meminta bantuan menata pakaian? Kau memiliki ratusan pelayan di hotelmu Jack!” seru Cynthia dengan gemas, sungguh kadang Cynthia merasa tidak habis pikir dengan pria yang ada di hadapannya ini dan sekarang Jack sudah seperti manusia kurang kerjaan, jarak Hilton Hotel & Resort Jakarta ke apartemen Cynthia itu cukup jauh.
“Aku hanya ingin kau yang membantuku merapikan pakaian, kau tahu semua pakaianku sangat berharga,” ucap Jack dengan sangat santai. Pria itu meraih tangan Cyhthia kemudian menggenggamnya.
“Aku harus merapikan penampilanku dulu baru aku akan menemanimu kembali ke Hotel dan menata pakaianmu yang berharga itu!” seru Cynthia dengan panik ketika Jack tiba-tiba sudah menutup rapat pintu Apartemen-nya dan melangkah menjauh dari sana, bukan apa-apa, Cynthia sore ini hanya menggunakan hotpans dan kaus overzize belum lagi sandal rumahan yang menempel di kakinya.
“Kau terlihat cantik dengan outfit apapun, Thia,” ucap Jack dengan santai, mereka kemudian berhenti di depan pintu unit tepat di sebelah unit milik Cynthia, seingat Cynthia unit yang ada di samping unit miliknya memang sudah beberapa bulan terakhir kosong karena pemiliknya pindah tempat kerja ke luar negeri.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Cynthia, Jack hanya tersenyum kemudian menekan beberapa digit angka dan detik berikutnya pintu unit itu terbuka.
“Welcome home, Cynthia,” ucap Jack, dia kembali menggenggam tangan Cynthia dan membawa gadis yang sedang menatap bingung itu masuk ke dalam Apartemen yang baru saja Jack beli, untung saja pemilik Apartemen sebelumnya mau menjual unit ini walau Jack harus membayar lebih, tapi tidak masalah yang terpenting sekarang dia menjadi tetangga Cynthia Tanubara.
“Sejak kapan Apertemen ini menjadi milikmu?” tanya Cynthia dengan bingung, dia duduk di sofa yang ada di ruang santai Apartemen itu, dulu seingat Cynthia pemilik Apartemen ini adalah seorang laki-laki dan d******i cat Apartemen ini beserta furniture yang ada di Apartemen ini hitam dan putih, tentu saja sudah sangat cocok dengan selera Jack Hilton, seolah Apartemen ini memang sudah di desain untuk pria itu.
“Beberapa hari yang lalu, bagaimana menururtmu?” tanya Jack, dia duduk di samping Cynthia, menatap Cynthia dengan lekat, sungguh beberapa hari tidak bertemu dengan gadis ini membuat Jack merindukannya. Seminggu belakangan Jack bolak-balik ke Bali untuk melihat perkembangan pembangungan Hilton Hotel & Resort Bali sedangkan Cynthia terbang ke Singapura kemudian tetap stay di Jakarta.
“Cukup nyaman, kenapa membeli Apartemen di kawasan ini sedangkan kau bisa berpindah kamar hotel sesukamu?” tanya Cynthia dengan tatapan bingung, sungguh dia masih tidak habis pikir dengan Jack.
“Ingin suasana yang lebih baru, lagian memiliki tetangga yang cantik jelas adalah sebuah keberuntungan,” jawab Jack dengan satu alis terangkat, tersenyum menggoda pada Cynthia. Gadis tu terlihat menarik napasnya dan berdiri dari sofa kemudian memegang koper Jack.
“Jadi di mana aku harus menata pakaianmu yang berharga ini?” tanya Cynthia dengan nada penuh sindiran tentu saja, Jack terkekeh pelan melihat itu, pria itu ikut berdiri dari sofa kemudian merangkul Cynthia.
“Tentu saja di kamarku, Thia,” ucap Jack. Cynthia pada akhirnya menurut dan mengikuti pria menyebalkan ini masuk ke dalam kamar kemudian mulai membuka koper Jack mulai memisahkan pakaian itu sesuai dengan jenisnya, pipi Cynthia langsung memerah ketika tangannya menyentuh tumpukan celana dalam milik Jack Hilton, gadis itu berdehem beberapa kali namun tetap berusaha bersikap biasa saja seolah tidak terpengaruh sama sekali.
Jack mengamati setiap pergerakan Cynthia dengan sangat lekat bahkan dia hampir terkekeh melihat Cynthia yang tiba-tiba salah tingkah ketika memegang beberapa tumpukan celanaa dalaam miliknya namun jelas sekali gadis itu tetap bersikap professional tanpa menjerit heboh, sungguh tingkat profesionalitas Cynthia Tanubara itu tidak perlu di ragukan kali, Jack juga tidak pernah mendengar Cynthia mengeluh terhadap kesibukan yang dia lalui, bahkan ketika weekend seperti ini gadis itu juga tidak melakukan protes apapun meskipun ini bukan jam kerja.
Ketika Cynthia sudah selesai merapikan lemarinya dan ketika gadis itu menutup koper yang sudah kosong dan ingin melangkah keluar, Jack langsung menahan tangan Cynthia dan menarik gadis itu sampai akhirnya Cynthia berakhir di pangkuan pria itu.
“Jack apa yang kau lakukan?” tanya Cynthia dengan raut wajah panik, dia benar-benar terduduk di pangkuan Jack Hilton dengan kedua pria itu memeluk pinggang rampingnya, hidung mancung Jack bergesekkan dengan lengan Cynthia.
“Sedang memeluk Cynthia Tanubara,” jawab Jack dengan sangat santai, hembusan napas hangat pria itu menerpa lengan Cythia begitu saja membuat Cynthia menahan napasnya, sungguh sekarang dia sedang terjebak dalam bahaya.
“Kenapa bekerja terlalu keras Cynthia?” tanya Jack, dia menatap Chynthia dengan sangat lekat dari samping.
“Aku tidak bekerja terlalu keras, aku hanya mengerjakan apa yang harus aku kerjakan, sekarang aku sudah selesai membantumu menata pakaianmu yang sangat berharga, bisa lepaskan aku Mr. Hilton?” tanya Cynthia, lagi-lagi Cynthia berusaha tidak melakukan pergerakan apapun, Cynthia sangat tahu, apa yang akan terjadi jika dia bergerak, sesuatu yang tidur di bawah sana siap bangun kapan saja.
“Kenapa selalu bersikap sekaku ini, Thia?” tanya Jack, tatapan matanya benar-benar dalam sekali. Cynthia menarik napasnya, lalu membalas tatapan Jack.
“Aku tidak bersikap kaku, aku hanya sedang berusaha menghargai atasanku, jadi Mr. Hilton bisa lepaskan aku, aku akan segera kembali ke unitku dan kau bisa melanjutkan waktu istirahatmu dengan sangat baik,” ucap Cynthia.
“Aku ingin menanyakan beberapa hal padamu dan meminta beberapa hal,” ucap Jack, kali ini tatapan matanya berubah sangat serius, Cynthia menelan ludahnya bulat-bulat kemudian mengangguk.
“Tapi bisakah aku mendapatkan tempat duduk yang nyaman sebelum kau mulai berbicara?” tanya Cynthia, walau terlihat sekali tidak ikhlas namun Jack pada akhirnya mengangguk dan memperbolehkan Cynthia untuk duduk di sampingnya.
“Jadi?” tanya Cynthia, Jack menatap Cynthia dengan sangat lekat bahkan tatapan itu sangat dalam sekali seolah siap menerjang Cynthia kapan saja, bulu kuduk Cynthia bahkan meremang ketika mendapatkan tatapan seperti itu dari Jack.
“Aku harap kau benar-benar menjawab semuanya dengan jujur, aku ingin menciptakan sesuatu yang baru dan aku mohon jangan pernah lari Cynthia,” ucap Jack dengan kesungguhan penuh, Cynthia langsung saja mengangguk.
“Kenapa kau tiba-tiba menghilang saat itu?” tanya Jack, Cynthia menghembuskan napasnya, sepertinya Jack Hilton memang butuh jawaban, ini pertanyaan yang sering di tanyakan oleh Jack saat mereka bersama, Cynthia sepertinya memang harus menjelaskan segalanya.
“Aku tidak pergi, hanya saja saat itu aku sudah menyelesaikan pendidikanku dan aku harus kembali ke negara asalku,” jawab Cynthia dengan cepat, tidak sepenuhnya berbohong, memang saat itu di sudah menyelesaikan pendidikan S2-nya dan harus kembali ke Indonesia.
“Kenapa tidak berpamitan dan semua tentangmu hilang begitu saja?” tanya Jack.
“Aku sudah mencoba berpamitan padamu saat itu namun aku tidak menemukanmu di manapun, aku juga mencoba menghubungimu namun aku sama sekali tidak bisa melakukan itu, semua aksesku tertutup, jadi siapa yang menghilang tiba-tiba Jack Hilton?” tanya Cynthia, nada suaranya masih terkontrol dengan sangat baik, Cynthia sangat tahu mengapa Jack memblokir segala aksesnya pada pria itu saat itu, tentu saja karena alasan pacar baru yang di miliki oleh Jack padahal saat itu kedekatannya dan Jack tidak di ketahui oleh banyak orang.
“Aku mencoba mencarimu setelah itu,” ucap Jack.
“Mencoba mencariku satu kali?” Cynthia terkekeh miris, “kau pasti hanya mencoba mencari sekali kemudian tidak melakukannya lagi, ini adalah alasanku mengatakan padamu bahwa kita tidak pernah sedekat itu di masa lalu, jadi, please, Jack berhenti seolah-olah kita memang pernah terlibat dalam hubungan yang serius di masa lalu,” ucap Cynthia.
“Apa aku melakukan kesalahan yang menyakitimu di masa lalu?” tanya Jack, masih ada tatapan penasaran di matanya, Cynthia terkekeh pelan.
“Kenapa kau justru bertanya apa kau melakukan kesalahan di masa lalu atau tidak kepadaku? Kalau kau merasa tidak pernah melakukan kesalahan di masa lalu yasudah berarti kau memang tidak pernah melakukannya,” ucap Cynthia, alarm bahaya Cynthia sudah mulai berbunyi dengan sangat nyaring di benaknya, penuh dengan peringatan. Cynthia tidak oleh lepas kendali dan merusak segalanya.
“Kenapa kau terus bersikap dingin padaku?” tanya Jack, tangan Cynthia mengepal erat, dia membuang tatapannya, sungguh dia tidak mengerti lagi dengan pria yang duduk di hadapannya ini, entah Jack yang memang tidak pernah peka dengan situasi mereka dulu atau Cynthia-lah yang terlalu terbawa perasaan.
“Kau ingin aku bersikap seperti apa? Aku merasa selama ini tidak ada yang salah dengan sikapku padamu, aku melakukan semua hal yang kau inginkan, bukannya hanya itu tugas seorang assistant Jack?” tanya Cynthia. Jack terdiam, dia kemudian menggeser posisi duduknya ke arah Cynthia, mepersempit jarak sampai pada akhirnya benar-benar tidak ada lagi jarak di antara mereka.
“Bolehkah kita memulainya mulai hari ini?” tanya Jack. Kening Cynthia berkerut, menatap Jack dengan sangat bingung.
“Memulai apa?” tanya Chynthia.
“Memulai hubungan bukan hanya tentang profesionalitas, aku ingin kita lebih dari itu."