Ana gadis yang cukup cantik, banyak dari anggota Tim SAR yang menaruh hati padanya.
Namun Ana lebih tertarik dengan Arya Sena seorang pemuda yang telah menawan hatinya.
"Ana kalau jadi pacar aku saja gimana ?" Goda Tikno.
"Mbak Ririn mau dikemanakan Mas Tikno?" Jawab Ana.
"Berarti kalau gak ada Ririn kamu mau sama aku ya?" Kata Tikno.
"Eee sembarangan, bukan begitu maksud Ana." Protes Ana.
"Lah tadi bilang sendiri, Ririn mau dikemanakan?" Kata Tikno.
"Bodo ah, maksud Ana gak begitu Juga keles." Gerutu Ana sambil melangkah pergi.
Diam diam Handoko yang menaruh hati pada Ana. Mengikuti kemana Ana melangkah.
Dan ketika Ana kemudian duduk memandang ke arah Merapi yang sesekali memperlihatkan pijaran Lava panasnya. Handoko duduk di sebelah Ana.
"Mikirin siapa Ana?" Tanya Handoko.
"Gak mikirin siapa siapa kok, lihat gunung saja. Kasihan warga di atas, harus mengungsi dan kehilangan mata pencaharian." Jawab Ana.
"Kamu Naksir Arya Sena kan? Kelihatan dari sorot mata kamu kok." Kata Handoko.
"Kata siapa, lagian kalau aku Naksir dia apa keberatan kamu?" Jawab Ana.
"Gak ada sih, justru aku mau bantu kamu kalau kamu suka sama Arya Sena." Jawab Handoko sok perduli dengan Ana. Padahal hanya sekedar PDKT saja. Tujuan Handoko adalah mendekati dan merebut hati Ana. Dengan menunjukkan kepedulian kepada Ana.
"Memang kamu bisa bantu gimana?" Tanya Ana yang mulai terbujuk omongan Handoko.
"Arya Sena kan masih baru di sini, mungkin aku bisa bantu Selidiki latar belakangnya." Jawab Handoko.
"Terus apa yang kamu harapkan dari membantuku begitu?" Tanya Ana.
"Gak ada, sebagai teman sesama Relawan aku hanya ingin lihat kamu senang." Kata Handoko.
"Yakin,,,? Secara kamu sendiri juga masih Jomblo. Ngapain bantu Ana, kenapa gak cari pasangan buat kamu sendiri saja Han?" kata Ana.
"Iya dih, memang aku juga masih jomblo. Tapi siapa tahu dengan membantu kamu nanti justru dikasih pasangan." Jawab Handoko Berdiplomasi.
"Kamu serius mau bantu Ana? Atau minta bayaran nih jangan jangan?" Kata Ana.
"Gak mungkin lah minta bayaran, nolongin orang kena musibah menempuh bahaya saja gak berharap apapun kok. Masa bantuin teman begitu saja minta bayaran." Jawab Handoko modus.
Ana pun akhirnya percaya dengan ucapan Handoko. Sehingga malam itu tanpa terasa Ana ngobrol hingga larut malam dengan Handoko sebelum mereka masuk ke kamar masing masing untuk istirahat.
Handoko berhasil mendekati Ana, dengan sedikit perhatian kecil yang dilakukan Handoko.
Dan tanpa disadari oleh Ana, jika saat ngobrol dengan Handoko banyak mata yang menyaksikan. Dan menganggap Ana ada sesuatu dengan Handoko. Termasuk juga Arya Sena yang melihat Handoko dan Ana asik ngobrol berdua. Tanpa sadar jika Ana sedang membicarakan dirinya.
.....
Malam berlalu, sang fajar pun datang menggantikan malam. Semua anggota Tim SAR yang bertugas malam pun kembali ke aktifitas rutin mereka masing masing.
Termasuk juga dengan Arya Sena, sepulang dari Posko dia langsung berangkat kerja di sebuah Perusahaan Swasta yang bergerak di bidang Konstruksi bangunan dan Property. Arya Sena adalah seorang arsitek yang baru saja lulus kuliah dan bekerja ikut sebuah Perusahaan Property.
Arya Sena diminta mendatangi sebuah Universitas untuk menyerahkan Proposal pengajuan tender pembangunan Gedung baru.
Dan tanpa sengaja berpapasan dengan Dewi. Gadis yang semalam marah marah padanya, karena dibujuk untuk mengungsi.
"Hei ngapain kamu di sini, mau nyuruh kita ngungsi dari sini juga?" Kata Dewi.
"Gak kok Mbak, ini urusan pekerjaan saya nau ketemu dengan Panitia Pembangunan Gedung Baru." Jawab Arya Sena.
"Bohong kamu, pasti sengaja mengikuti aku kan?" Kata Dewi.
"Jangan begitu Mbak, saya serius sedang menjalankan pekerjaan saja. Urusan pribadi jangan dibawa bawa ke sini." Jawab Arya Sena agak jengkel dengan Dewi.
"Hah urusan Pribadi? Sejak kapan kita punya urusan Pribadi, urusan kamu sendiri saja kali...!" Jawab Dewi ketus.
"Iya maaf, Maksudnya urusan antara Relawan dengan warga yang bandel." Kata Arya Sena sambil berjalan meninggalkan Dewi yang mengumpat dibilang Bandel.
"Dasar cowok resek, asal aja kalau bicara." Teriak Dewi pada Arya Sena yang semakin jauh.
.....