-5.2-

1340 Words
“ hahh …” Edwin hanya mampu menghela nafasnya dengan dalam, karena ia merasa bahwa ia tidak bisa tertidur dengan nyenyak, terlebih setelah ia mengetahui bahwa situasi sudah sangat memburuk di sini. Tidak ada yang bisa di lakukan oleh Edwin saat ini selain merebahkan dirinya di sana dan menoleh menatap langit yang gelap tersebut. Tak ada bulan maupun bintang yang meneranginya di sana. Dan itu membuat suasana semakin mencekam di sekitarnya. Dengan diam, Edwin menatap langit-langit di sana, berusaha untuk mencerna apa yang telah terjadi saat itu. Pikirannya melayang kepada orang-orang terdekat yang ia kenal di Jakarta. Bagaimana kabar temannya?? bagaimana juga kabar pak produser ? bagaimana dengan kabar sustradara itu? Dan bagaimana kabar teman-teman yang lainnya ?? tidak ada saudara yang dapat ia khawatirkan, itulah sebabnya mengapa ia lebih mengkawatirkan orang-orang terdekatnya saat itu. Edwin adalah orang yang tidak begitu suka dengan keramaian atau sekedar bersosialisasi dengan iming-iming basa-basi, ia merasa bahwa berbicara dan bercerita mengenai kepribadiannya dengan orang lain merupakan hal yang merugikan dan merepotkan baginya dan ia pun menganggap bahwa sebagian orang itu menyebalkan. Namun, setelah semua ini terjadi, Edwin merasa bahwa ia benar-benar merindukan orang-orang yang menyebalkan itu, dan ia ingin sekali untuk bisa bertemu dengan mereka tanpa merasa was-was terhadap virus dan semacamnya. Detik demi detik, Edwin terus menatap gelapnya malam. Dan ia hanya mampu menutupi kedua telinganya di saat ia mendengar raungan-raungan para zombie yang terdengar di bawah gedung sana. Seolah manusia yang ia temui kini sudah lenyap dan digantikan dengan mayat hidup yang kelaparan. Sebenarnya ia tidak bisa tertidur, namun … entah karena ia sudah terlalu lelah, atau mungkin pada akhirnya ia bisa memejamkan kedua matanya, iapun akhirnya tertidur di sana dengan begitu pulasnya. Dan hal itu ia lakukan setelah ia menutup kedua telinganya dengan rapat. … Di luar kesadarannya, di balik alam bawah sadarnya, Edwin begitu menginginkan keadaan ini sebagai sebuah mimpi buruk baginya, yang nantinya ia bisa terbangun dari mimpi buruk itu dan ia akhirnya bisa bernafas dengan begitu lega setelah menyadari bahwa ini semua merupakan mimpi buruk dalam hidupnya. Namun, ketika ia terbangun dan menyadari bukanlah kasur yang ia tiduri saat ini, melainkan sebuah jaket yang lain dan bukan adalah miliknya, serta ia menyadari bahwa ia tidak berada di kamar kosan nyamannya itu, pada akhirnya ia menyadari bahwa ini bukanlah mimpi buruk yang fana … melainkan mimpi buruk yang nyata yang mampu mencekiknya hingga akhirnya ia menangis karena kesedihan dan rasa takut di sana. Ya… bagi seorang lelaki, menangis merupakan hal yang memalukan, namun … bayangkanlah jika itu terjadi pada kalian para lelaki. Rasa takut pasti ada, putus asa tentu bergejolak, namun … bagaimana cara kalian untuk menghadapinya?. Hanya butuh satu menit untuk akhirnya Edwin bisa mengendalikan diri dan menghentikan tangisannya, dan butuh waktu lima menit untuk akhirnya Edwin memutuskan sesuatu yang selama ini bergejolak di dalam dirinya. Bunuh diri, atau melanjutkan perjalanan untuk pergi ke kota Bandung. Dengan nafas yang ia helakan sebelumnya, akhirnya ia memilih untuk melanjutkan perjalanannya menuju kota Bandung dan berharap bahwa keputusannya benar. Dengan sigap ia meraih tas yang tergeletak di sana, iapun memasukan kaos oblong yang ia jemur di sana, dan kembali melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya ia menyantap sepotong roti dan juga multivitamin yang ia keluarkan dari dalam tas miliknya. Kedua langkah kakinya kini berjalan di atas genting rumah, serta bagian-bagian atap lainnya, seperti pinggiran atap, atap apartement, atap hotel dan bahkan ia sering melompat dari atap ke atap lainnya, ia pun bahkan harus memanjat dengan cepat ke atap gedung yang lebih tinggi ketika ia menyadari bahwa ada beberapa zombie yang berlari mendekatinya. Semua hal itu ia lakukan untuk menghindari para zombie yang kelaparan di bawah sana. Untunglah ia ahli dalam parkour, karenanya ia bisa melindungi dirinya dari para zombie yang menyeramkan di sana dengan cara menghindari mereka semua. Ketika ia mendapati sebuah bangunan yang terdapat sebuah pintu masuk ke dalam gedung di sana, membuat Edwin merasa penasaran dengan gedung tersebut meski ia tahu bahwa ia harus ekstra hati-hati terhadap bangunan serta zombie yang mungkin saja ada di dalamnya. Dengan perlahan ia mendekati pintu gedung tersebut, ia juga tidak lupa dengan pemukul besi yang dibawa olehnya, yang karenanya ia segera menggenggam pemukul tersebut dan berjalan dengan pose sigap untuk memukul siapa saja yang nantinya akan muncul di balik pintu tersebut. “huuuuhhh” deruan nafas yang ia keluarkan terdengar begitu jelas baginya sendiri, bagaimana tidak? Saat ini satu tangannya menggenggam knop pintu tersebu dengan cukup kuat. Ia sangat ingin membukanya, namun di sisi lain ia juga ragu untuk melakukan hal itu. ‘apa yang akan terjadi jika aku membuka pintu ini?’ pertanyaan itulah yang ada di dalam benaknya saat ini, ia sangat ingin untuk mengabaikan pintu tersebut dan kembali berjalan menuju kota Bandung, namun ia juga tidak bisa menolak keinginan yang lainnya, yang memaksa dirinya untuk segera membuka pintu tersebut. Dengan segala pertimbangan, akhirnya Edwin menyerah kepada satu keinginan terbesarnya dan akhirnya ia membuka pintu itu secara perlahan, setelah pintu itu terbuka cukup lebar, ia pun akhirnya memberanikan diri untuk menyembulkan kepalanya ke dalam bangunan tersebut. Kedua matanya menoleh ke arah kanan dan kiri untuk memastikan bahwa tidak ada siapapun atau lebih tepatnya memastikan bahwa tidak ada zombie di sana. Setelah ia merasa bahwa tempat itu aman, ia pun melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam bangunan tersebut, setelah sebelumnya ia mengganjal pintu atap itu dengan pot bunga yang ada di sekitanya. …    Seharian penuh Shiren, Haris dan juga Nauval menghabiskan waktu mereka di dalam mobil jeep itu. Dan seperti dugaan Haris, virus itu menyebar dengan cepat dan para zombie pun bermunculan dimana-mana. Karena Shiren dan Nauval dapat dengan jelas menyaksikan mereka berlari dan berhamburan di mana-mana pagi itu, jeritan dan ledakan dari pom bensin terdekat pun terdengar dan membuat suasana menjadi semakin menegangkan, tidak seperti Nauval yang terus saja menatap mereka para zombie, Shiren memilih untuk berpura-pura tidak tahu seolah mereka adalah manusia yang tengah memakai kostum zombie dan berpawai ria. Dengan sengaja ia pun menutup tirai jendela mobil dan menundukkan pandangannya ke bawah dan memilih untuk membaca buku komik milik Nauval yang sengaja disimpan di dalam mobil itu, hal itu ia lakukan guna menghindari dari rasa depresi yang menyerangnya, belum lagi kondisi jalanan yang begitu sibuk yang membuat Haris harus membanting setirnya berkali-kali tanpa sedikitpun memperlambat laju mobilnya. Beruntunglah mereka karena Haris memiliki skill yang luar biasa dalam mengendarai mobil.  “Ren … Ren … “ panggilan itu terdengar dari mulut Nauval yang kini menoleh menatapnya dari kursi depan itu, dan hal itu membuat Shiren yang tengah membaca buku komik pun tersadar dan menoleh menatap Nauval yang kini memberikan sepotong roti padanya. “makan?” tawarnya kepada Shiren, mendengar tawaran tersebut membuat Shiren mengerutkan dahinya, menoleh menatap Nauval dan kemudian ia menggelengkan kepala dan hal itu membuat Nauval menoleh menatap Haris yang juga meliriknya lewat kaca spion mobilnya. “serius?? kamu belum makan sesuatu loh hari ini” ucap Haris kepadanya, kedua mata Shiren kini menoleh menatapnya setelah mendengar ucapan dari sang kakak. Meskipun begitu, ia tetap menggelengkan kepalanya untuk menolak sepotong roti yang diberikan oleh Nauval padanya, dan hal itu membuat Nauval menghela nafasnya dengan berat ia mengerti bahwa sang kakak pasti tidak berselera untuk makan, dan lagi setelah semua hal mengerikan ini terjadi. “makan, Ren! Jangan sampai sakit!” ucap Nauval padanya yang kini menoleh menatap Nauval yang masih menyodorkan roti itu padanya. Dianggukannya kepala Nauval agar Shiren mau memakan roti tersebut, Nauval tahu bahwa Shiren hanya perlu sedikit di paksa seperti saat ini dan melihat hal itu, serta menyadari bahwa ucapan yang dikatakan oleh Nauval padanya ada benarnya juga, bahwa ia harus tetap sehat agar tidak terpapar Virus Z-I. Hal itulah yang akhirnya membuat Shiren meraih roti yang diberikan oleh Nauval padanya, dan ia pun langsung menyantap roti tersebut dengan pandangan yang ditundukkan dan enggan untuk melihat jalanan yang ada di sisi kanan dan kirinya. karena ia merasa takut dengan apa yang nantinya akan ia lihat, jika ia menyantap seraya melihat pemandangan di sana. Ia takut jika-jika ia bertemu pandang dengan zombie yang mengerikan di sana, itulah sebabnya ia menundukkan kepalanya di sana. …  to be continue. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD