Bagian 3

1099 Words
1 Minggu kemudian Setelah kejadian seminggu yang lalu, baik Rumaisha maupun Nukyar samasama saling menghindar. Mereka berdua pun menjauhi tempat-tempat yang memungkinkan untuk mereka berjumpa ataupun berpapasan. Sejak seminggu yang lalu, Rumaisha lebih sering berada di kelas atau di perpustakaan, sementara Nukyar lebih sering berada di kantin atau musholla sekolah. Seperti sekarang, Nukyar berada di kantin bersama kedua teman nya. Mereka baru saja melaksanakan sholat Zhuhur. "Serius? lo beneran putus sama Icha?" tanya Adit, dirinya masih tidak menyangka. Rumaisha dan Nukyar yang sama-sama bucin memilih berpisah. "Bisa diem gak sih, Dit. Lo udah nanya berkali-kali, sumpah!" sambung Haikal, Nukyar yang terus-terusan ditanya oleh Adit, tapi dirinya yang merasa kesal. "Bukannya gitu, Kal. Gue masih gak nyangka aja, lo kan juga tau segimana bucinnya mereka. Nukyar ditinggal Icha ke toilet aja kecarian kayak anak kucing kehilangan induknya, mana mungkin putus." Jawab Adit meyakinkan, perkiraan nya Rumaisha dan Nukyar hanya bertengkar biasa. "Ya mau gimana lagi, mereka berdua juga kan udah ngomong baik-baik. Lagian nih ya," "Iya, gue putus beneran sama Rumaisha." Nukyar memotong ucapan Haikal. Dirinya mulai bosan, pertanyaan Adit itu-itu saja dari mereka sebelum sholat Zhuhur tadi. Masalahnya, kalau di bahas terus Nukyar takut tidak bisa menahan diri dan menemui Rumaisha sekarang juga. Karna rasa rindunya pada mantan kekasihnya itu sudah tidak kira-kira. Haikal menghela napas, iba dengan kisah cinta Nukyar," sabar ya, bro. Keputusan lo hebat banget, lo berani ninggalin Icha karna taat sama Allah." "Lo juga sih, Yar! terlalu masukin hati omongan pak ustad kemaren, masak gegara itu doang lo mutusin Icha sih." Pletak!! "Aw!" ringis Adit, sendok makan Haikal mendarat di jidatnya dengan keras. "Ngomong kira-kira dong , lo. Gak takut azab Allah lo? Islam bukan sih?" ucap Haikal kesal dengan ucapan Adit, begitupun dengan Nukyar. Tapi, dia lebih memilih diam, karna dia hafal betul mulut Adit ini. Lemes. Adit mengelus jidatnya bekas pukulan Haikal. "Bukannya gitu, kan mereka ini pacarannya wajar-wajar aja. Bisa dibilang pacaran sehat, lo gak pernah apa-apain Icha kan, Yar?" tanya Adit. "Random banget pertanyaan lo." Jawab Nukyar, kesal campur geli. "Mau sehat kek, mau sakit kek. Pokoknya di Islam gak boleh pacaran. Dan janganlah kamu mendekati zina. Lo gatau kata-kata itu? makanya, banyak-banyakin nonton ceramahnya UAS." Jelas Haikal. "Apaan tuh UAS?" tanya Adit, Nukyar pun ikutan kepo. Dirinya tidak tau singkatan itu. "Ustad Abdul Shomad." "Oooh." Jawab Nukyar dan Adit bersamaan. " Gue lebih suka dengerin ceramah ustad Hidayat sih." Jawab Adit. "Siapa tuh?" tanya Haikal, lagi-lagi Nukyar ikut kepo. Dia benar-benar tidak pernah menonton atau mendengarkan ceramah, kecuali khotbah di sholat Jumat. Itupun tidak pernah Nukyar dengarkan dengan seksama. Baginya, yang penting adalah bagian sholat nya. " Itu loh, yang pake kacamata. Ada janggutnya dikit, ganteng orangnya." Jelas Adit. "Oooooh." Jawab Nukyar dan Haikal bersamaan. " Kalau Lo? suka dengerin Ustad mana?" tanya Adit tiba-tiba pada Nukyar. "Ha? gue?" Haikal dan Adit mengangguk bersamaan. "Yaitulah, yang kemaren." Jawab Nukyar singkat. "Yang mana?" tanya Adit makin kepo. "Yang kemaren, waktu ada ceramah di pembukaan mesjid seminggu yang lalu." "Ustad Faisal?" tanya Haikal dan Adit bersamaan. Nukyar mengangguk cepat, dirinya tidak tau siapa nama ustad yang sudah memberikannya hidayah untuk berada di jalan Allah dan meninggalkan kekasihnya, Rumaisha. Yang di lakukan nya sekarang adalah menghindari rasa malu dari kedua temannya. Karna kalau mereka tau dirinya tidak pernah mendengarkan atau menonton ceramah, mereka pasti akan mengolok-olok nya dan mengatakan dirinya seorang Islam KTP. "Ooooh." Jawab Haikal dan Adit bersamaan. Nukyar menghela napas lega. "Tapi menurut gue lo masih keterlaluan sih, gak ada masalah tiba-tiba lo mutusin Icha. Gue jadi dia sih pasti marah dan sedih banget." Lagi-lagi Adit mengompori Nukyar. Nukyar malas meladeni, dirinya beranjak dari meja mereka dan menuju kasir kantin  dan meninggalkan kedua temannya. "Gak punya opini yang lain apa sih lo, dit? Omongan lo ga ngotak banget. Durhaka banget lo sama agama lo sendiri." Kata Haikal sedikit emosi. "Bukan nya gitu, Kal. Menurut gue," "Berisik lo. Lo kalau mau pacaran mikir-mikir deh, Mak lo dah matikan? kasian dia di kuburan." Sarkas Haikal sambil berlalu meninggalkan Adit. "Woy, Kal. Kok lo bawa-bawa Mak gue sih? gak asik bercanda lo! Woy taik!" teriak Adit, bukannya merasa bersalah dirinya malah menyalahkan Haikal di dalam hatinya. ———————— "Ichaaaaaa, udah dong. Dari tadi lo nangis terus, mending lo diem sebelum Buk Hikmah dateng. Mata lo juga udah bengkak banget, Cha." Pujuk Siti, sahabat satu-satunya Rumaisha. Sekaligus saksi cinta dan kebucinan Rumaisha dan Nukyar selain Adit dan Haikal. Rumaisha tidak peduli, dirinya tetap menangis dalam diam. Bersembunyi di balik tas sekolah nya. "Chaaaa, tolonglaaaaa." Lanjut Siti, dirinya bingung harus kesal atau kasihan pada sahabatnya tersebut. "Lo nangis darah juga, Nukyar gak bakalan balik sama lo, keputusan yang dia ambil pun udah bener, dan gue setuju sama dia." Rumaisha menyeka air matanya,"tapi gue kangen Nukyar, Siti. Kangen banget." "Udah seminggu ini gue ngejauhin dia, gue gak sanggup lagi. Gue pengen sama dia terus." Tangisan Rumaisha semakin menjadi-jadi, sebagian teman sekelas mereka mulai mempertanyakan keadaan Rumaisha. "Cha, gue paham. Tapi lo gak boleh egois gitu dong, kalau Nukyar tau keadaan Lo begini dia pasti sedih banget. Dia juga pasti berjuang buat lupain lo, Cha." Ucap Siti, dirinya sudah mulai bingung bagaimana cara membujuk Rumaisha. "Apa mendingan gue terima aja ya semalam lamaran dia, Ti? biar kami nikah aja." "Emang lo mau masuk ke agama Islam?" tanya Siti, Rumaisha terdiam. Tidak tau harus menjawab apa, pikirannya bukan lagi ke perbedaan agamanya dengan Nukyar. Melainkan perasaannya yang tidak bisa hilang untuk pria itu, yang ada perasaannya semakin hari semakin kuat. "Gue setuju aja kalau lo nikah sama dia, bukan dosa jugak. Tapi nikah gak gampang, Cha. Dan kalau di Islam, banyak prosesnya. Ta'aruf namanya." Jelas Siti, dirinya sudah pasti lebih paham dari pada Rumaisha, karna memang Islam adalah agamanya. Rumaisha tetap diam tapi menyimak ucapan Siti. "Udah ya, gak usah terlalu dipikirin." Lanjut Siti, Rumaisha mengangguk pelan. Kepalanya sakit kebanyakan menangis seminggu terakhir ini. "Lo gue anter ke UKS aja yaa, badan lo juga panas. Ntar gue ijinin ke ibu Hikmah, lo istirahat dulu aja." Rumaisha mengangguk lagi, yang diinginkannya sekarang hanya berjumpa Nukyar. Tapi karena tidak mungkin, lebih baik dirinya tidur di UKS. Siti mengantar Rumaisha ke UKS setelah meminta ijin kepala ketua kelas. "Lo istirahat ya, ntar jam pulang gue jemput. Oke?" "Oke, makasih ya, Ti." Jawab Rumaisha lesu, masih mencoba tersenyum pada Siti. Siti mengangguk dan tersenyum. Menepuk pelan bahu Rumaisha sebelum meninggalkan Rumaisha. Rumaisha berbaring di kasur UKS, kenangannya bersama Nukyar mulai beterbangan di pikirannya. Tanpa suara dan isakan air mata Rumaisha kembali mengalir, menjadi pengantar tidur Rumaisha siang ini. Rumaisha tertidur dengan perasaan rindu untuk mantan kekasihnya, Nukyar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD