Komitmen Yang Kokoh

1430 Words
Alisha POV on Aku sudah tak berharap lebih pada hubungan ku dengan Mario. Sudahlah... Bahkan saat ini pun dia tak ada, sekedar untuk menunggu waktu pulang, seperti biasa bercengkrama sambil menikmati perjalanan singkat. Ah... Sepertinya mimpiku kemarin terlalu tinggi. Berharap keluar dari duniaku yang gelap, menuju dunia penuh warna, seperti dulu... Berharap Mario bisa menambah warna di dunia ku. Yang bahkan tak jelas warna hitam dan putihnya. Hanya gelap. Tanpa secerca sinar yang mampu membimbingku dalam melangkah. Menangis?! Tidak! Rasanya air mataku sudah kering. Jika dulu Aku kira ungkapan itu adalah bohong belaka. Tapi saat ini aku merasakannya. Lantas apakah kalian fikir aku bahagia? Maka jawabannya adalah 'Tidak'. Hatiku begitu keras. Aku menjadi si tangan besi, dingin, kaku dan merasa tak memerlukan siapapun. Aku asyik dengan duniaku sendiri. Tanpa peduli hingar bingar di sekelilingku. Seolah dinina bobokan dalam sebuah mimpi buruk yang panjang.. Ironi bukan..? Lantas saat ku terjaga dari mimpi buruk itu. Sosok Mario-lah yang ku dapati. Ulurkan tangan, seolah ajak ku mengenal warna lain dunia yang lebih hidup. Hingga mampu perlahan cairkan ke bekuan ku. Perlahan aku dapat berbaur dengan kehidupan di sekitar ku. Namun tanpa ku duga. Ia pun mulai mengabur layaknya oase di padang pasir mempermainkan mata sang musafir yang kehausan. Sudah... Cukup... Mungkin belum saatnya aku kembali menyentuh cinta. Karena sepertinya aku pun belum benar- benar siap. Lebih baik ku fokuskan diri untuk masa depanku. Alisha POV end *** Mario POV on Ku tatap benda yang ku pegang ini. Senyuman tak kunjung pudar dari wajah ku. Membayangkan Alisha mengenakannya. Sungguh aku berharap pagi akan segera menjemput. Aku akan meminta maaf padanya. Karena kebodohan ku, telah membuatnya berfikir, jika aku tak mempercayainya. Padahal itu hanyalah karena ketidak mampuanku mengatasi kekecewaan ku terhadap diri ku sendiri. Berulang kali aku mencari posisi ternyaman. Namun lagi- lagi serasa tidur di atas hamparan paku. 'huhh..., bagaimana keadaan mu di sana?' Mario POV end *** Akhirnya kelelahan akan fikiran masing- masing merengut kesadaran mereka. Kedua anak manusia yang asyik dengan pikirannya masing- masing . Alisha yang nyaris patah hati lagi, sedangkan Mario ingin segera menarik pagi. Meski berbeda tempat, berbeda jalan fikiran, namun rasa yang menyusup ke relung hati mereka menunjukan satu rasa yang sama. Yaitu cinta. Biarlah semua ini jadi rahasia waktu. Untuk lebih mendewasakan mereka. Dan hanya waktu pulalah yang mampu menjawab bahwa segala perbedaan itu mampu membuat kedua insan itu saling melengkapi. Dalam sebuah komitmen yang kokoh. Saat satu persatu halang rintangan yang berhasil di lalui, tak lantas buahkan rasa manis begitu saja. Karena hidup terus berjalan. Dan 'Hidup Bahagia Selamanya'. Nyatanya hanya ada dalam dongeng Disney saja. Jika kau rasa lelah, penat, sakit dan segala rasa tak nyaman lainnya hadir. Maka itulah ciri bahwa Dia masih berikan kita kesempatan untuk berjuang dalam hidup. Karena itulah dunia. Hanya sebuah arena perjuangan, sebelum akhirnya menuju kehidupan yang sebenarnya. Tak ada manusia yang dapat menerka apa yang akan di temuinya esok hari, karena faktanya, bahkan banyak manusia yang tak mampu menerka misteri hidup tengah di jalaninya saat ini. Seperti dua insan ini. Alisha Shanum Bramantyo dan Mario Dewantara... *** Mario POV on Hari ini ku kembali duduk di tempatku. Di samping Alisha. Ia nampak sendu menatap buku di tangannya, seolah fokusnya tertuju di buku itu. Namun aku tahu fikirannya tidak di sini. Dan itu lagi- lagi buat hatiku terasa teriris. Tak seharusnya aku bersikap seperti kemarin. Membiarkan ia sendiri hadapi ujian yang datang kali ini. Bodohnya aku... Aku beranjak menuju mejanya, duduk di tempat biasa ku duduk. Coba menggodanya dengan senyuman termanisku. Namun Ia nampak seolah tak terpengaruh dengan kehadiran ku. Seolah menganggap ku makhluk astral yang kasat mata. 'Ckk.., sabar napa Mario...' "Nah gitu dong baikkan..". Rena memecah kehenigan. Membuat Alisha sedikit merespon ke arahnya. Tersenyum yang nampak sekali di paksakan, karena tak sampai di matanya. Aku, Rena dan Sri asyik dengan pembicaraan ringan, namun Alisha masih tak bergeming. Meski kerap ku ajak berinteraksi. Namun reaksinya tak lebih dari anggukkan ringan tanpa mau menatap ke arah ku. Tak apa. Memang pantas aku diperlakukannya demikian. Mengingat kesalahan ku. Tak lama pelajaran pun dimulai. Mario POV end *** Alisha POV on Mario mulai seperti biasa, tapi aku masih belum bisa bersikap seperti biasa. Kecewa? Tentu saja. Dia lebih percaya dengan hal yang di buat- buat Alan. Aku masih mendiamkannya. Hingga KBM di mulai. --- Saat jam istirahat Erika menemuiku. Setelah satu minggu lebih ia sibuk dengan club KTI. Kami saling berbagi cerita. Namun aku tak bahas apapun tentang apa yang tengah ku alami. Dari kejauhan nampak Mario dan Alan berbincang. Ku perhatikan dalam diam. Hingga Alan menatap ku dan mengangguk. Pertanda pembicaraannya dengan Mario usai. Aku balas anggukkan pula. Sebagai tanda terimakasih. Dan arah pandangan ku tertangkap oleh Erika. "Kenapa si Alan ama Dewantoro?" tanya Erika, heran. Karena ia tahu ada sesuatu yang tidak beres antara kedua pria itu. Alan sama halnya dengan Hendi, yang kerap terang- terangan meguji kesabaran ku. Ah entahlah... Aku tak mengerti. Ada apa sebenarnya... "Entah.." Jawab ku. Acuh. "bener ga ada apa- apa?" Erika memicingkan mata ke arah ku. "Ya meneketehe..". Jawab ku. Berusaha bersikap sewajar mungkin. Akhirnya jam pelajaran kembali di mulai. "Maaf..." bisik Mario saat tiba- tiba berada disamping ku yang mulai bangkit dari teras, selepas Erika pergi. Aku hanya mengedipkan kedua mata bersamaan. Lantas menuju kursi ku. Masih enggan berkomentar apapun. Bahkan hingga jam pelajaran usai. --- "Buat kamu.. Aku mau lihat kamu pakai ini besok". Mario menyerahkan sebuah kotak padaku. Saat satu persatu teman- teman kami keluar kelas. Aku mengernyit. "Hadiah buat kamu...." Lanjutnya. "... Dan aku minta maaf untuk sikap ku kemarin". Lanjutnya. "Aku gak paksa kamu percaya padaku Rio.., dan ini..., gak perlu..." Akhirnya ku buka vokal. "Aku bukan minta maaf atas ketidak percayaanku sama kamu Lis..." kalimat Mario terjeda. Aku heran. "Aku minta maaf karena tidak lebih tau tentang kamu dari Alan.." lanjutnya. "Maksudnya?" Aku makin tak mengerti. "Alan lebih dulu mengucapkan selamat di hari istimewa mu.., sementara aku tak tahu apapun. Itu yang jadi beban pikiran kemarin.." papar Mario. Aku tercengang mendapati isi kepala kami yang ternyata jauh dari bayangan ku. Sungguh bertolak belakang. Kami pun terlibat dalam sebuah pembicaraan panjang lebar pertama. Di mana didalam membahas tuntas ketidak dewasaan kami dalam bersikap. Serta komitmen dalam menjalani hubungan ini. "Kalau kamu fikir jalani semua ini hanya untuk main- main, maka sebaiknya kita akhiri semuanya. Aku gak punya waktu untuk sekedar main- main.." Tutur ku. "Gak Lis. Jangan kamu fikir macan itu. Bahkan aku rela mengesampingkan semua perkataan teman- temanku tentang cara pacaran kita...." Mario menjeda kalimatnya. "Maksudnya...?" Tanya ku. "Gak.., lupain ja..". Mario menggeleng cepat. Seolah baru saja salah bicara. Aku mendesaknya bicara. Hingga akhirnya. Jawabannya buat ku bungkam seribu bahasa. "Menurut mereka..., ehmm..., tapi kamu jangan marah ya...?" Mario nampak ragu. Aku pun mengangguk. "... Mereka bilang..., pacaran tanpa kontak fisik itu gak asyik..." Lanjutnya. Tubuhku membeku seketika. "... Tapi.. Aku bilang ke mereka, kalau kamu bukan pacarku...". Lanjut Mario lagi. Aku makin tak tahu kemana arah pembicaraan itu. Masih membisu dengan segala rasa aneh.. "Aku bilang sama mereka kalau kamu calon istri ku. Dan aku... Gak akan sentuh kamu sebelum aku benar- benar berhak menyentuh mu.. Aku gak mau dan gak akan mau rusak kepercayaan kamu.." Pungkas Mario. Menjawab rasa takut ku dengan hubungan semacam ini dengan segala tuntutannya yang absurd. Lega rasanya setelah pembicaraan itu. Dan ia memang berbeda. " Ya... Walaupun itu rasanya sulit bagiku.. " Mario terkekeh, sembari menggaruk tengkuknya. Buat ku seketika kembali tegang. Takut dia mulai macam- macam. "Tapi, jangan khawatir.. Aku akan berusaha. Untuk saat ini biarkan seperti ini saja.." ujarnya. Diluar prediksiku, Mario menggenggam tangan kanan ku yang sedari tadi diatas meja. Rasa aneh itu menjalar menguasai diri ku. Tremor tak bisa ku sembunyikan. Buat Mario terkekeh. Entah apa yang lucu, hingga ia tertawa segeli itu. Sekilas mengecup tanganku dalam genggamannya, yang sukses buat ku melotot, tegang dan semakin panas dingin. "Mau maafin aku?" tanya Mario lagi. Kembalikan kesadaranku. "De.. Dengan satu syarat..." aku masih dikuasai rasa aneh itu. Gugup.. "Apa?" tanya Mario. "jangan lagi mikir hal konyol macam ini.. Dan ini.. Gak perlu". Jawabku. Mengangkat kado yang diberikannya dengan tangan kiri ku. "Itu hadiah pertama dariku. Ku harap kamu mau pake..." Pungkasnya. Lantas kami beranjak pulang. Dengan tangannya yang masih tak kunjung lepaskan genggamannya. Meskipun berkali- kali aku protes. Dia seolah tak peduli. Ku rasakan pula getaran dari tangan itu. Seperti yang ku rasa. --- Dari kejadian ini akhirnya kita sepakat untuk lebih terbuka dan saling percaya. Tidak lagi memendam pemikiran aneh macam itu lagi. Karena ternyata pondasi hubungan yang kokoh adalah kepercayaan terhadap pasangan, satu dan lainnya, keterbukaan fikiran serta komunikasi yang baik. Alisha POV end ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD