3. Pesta Pernikahan

1264 Words
Setelah membaca tulisan tangan yang terdapat pada bagian belakang foto tersebut, Aileen bungkam seribu bahasa. Sementara pikirannya dipenuhi bisikan-bisikan pertanyaan, seperti … ‘Bagaimana perasaan Oliver jika mengetahui kekasih yang selalu dipuja-pujanya telah melakukan pengkhianatan dengan Ayahnya sendiri? ‘Dan bagaimana bisa Om Gabriel melakukan pengkhianatan di belakang Istrinya. Padahal selama ini pasangan tersebut terlihat selalu harmonis.’ Demi apapun, ini lebih buruk dari apa yang dialami oleh Aileen beberapa tahun silam. Dulu saja, begitu mengetahui sang kekasih berselingkuh dengan Caroline, Aileen hampir gila dan kehilangan akal sehatnya hingga tidak berani lagi memercayai segala sesuatu yang berhubungan dengan cinta. Imbasnya Aileen jadi membenci keluarganya juga, dan menganggap mereka hanya saling mencintai untuk formalitas. Beruntungnya, seiring berjalannya waktu, luka dan semua kekecewaan itu sembuh dengan sendirinya. Hanya satu yang tidak kembali. Kepercayaannya akan cinta. Bahkan jika ditakdirkan untuk tidak menikah sekalipun, sepertinya Aileen akan baik-baik saja selama hidupnya. Lalu bagaimana dengan Oliver nanti? Akankah Ia mengalami trauma yang lebih dalam, dan berujung dengan membenci Ayah kandungnya? Tidak. Sepertinya Aileen tidak akan membiarkannya. Ia akan melakukan segala cara, agar semua foto-foto ini tidak sampai ke tangan Oliver. Aileen memang sangat membencinya, namun Ia tidak akan tega membiarkan keluarga itu hancur hanya karena wanita gatal sejenis Caroline. Hanya ada satu cara yang mungkin dapat dilakukan Aileen melindungi keluarga Oliver. Yap. Mau tidak mau Ia harus menikah dengan musuh bebuyutannya. Setidaknya itu lebih baik, daripada harus melihat Oliver hancur. Lagipula, itu juga yang diinginkan oleh Danial. Aileen yakin, pasti Kakaknya itu akan menjadi orang paling bahagia dengan pernikahannya nanti. Meski tidak dapat memercayai cinta, setidaknya Aileen bisa memercayai keinginan Danial, bukan? “Rencana pernikahan dadakan kalian, Papi sudah mendengar semuanya dari Mamimu.” Aileen terperanjat, mendapati William yang sudah masuk ke dalam kamarnya entah sejak kapan. “Eh. Apa itu?” Papi Aileen itu bertanya kembali. Tatapannya tertuju pada sesuatu yang berserakan di atas seprai. “Bukan apa-apa. Aku hanya sedang menganang masa-masa kuliah dulu.” Sesegera mungkin Aileen masukkan kembali foto-foto tadi pada kotak, kemudian disimpan rapi di balik bad cover. “Papi ada perlu apa tadi?” Aileen sebenarnya ingat dengan pertanyaan William sebelumnya, Ia bertanya kembali hanya untuk mengalihkan rasa penasaran Papinya saja. “Mami bilang kamu sama Oliver—“ “Ya. Mami benar. Aku sama Oliver mau menikah besok,” potong Aileen seraya berjalan mendekati sang Papi. “Loh. Tapi kata Mami, kamu gak mau. Makanya Papi kesini untuk mastiin.” “Sengaja itu, mah. Untuk nakut-nakutin Mami doang. Padahal aku sama Oliver sudah saling sepakat kok, makanya dia berani minta izin. Mana mau dia kesini, kalau aku gak setuju. Papi juga tahu sendiri, aku sama dia gak pernah akur tiap ketemu. Kan?” Aileen menjelaskan seakan tidak ada keraguan didalamnya. Lelaki paruh baya yang terlihat masih berkharisma itu mengangguk. “Iya sih. Tapi Papi benar-benar serius sayang, kalau kamu gak siap, Papi sama Mami gak akan memaksa. Papi bisa berbicara pada Oliver untuk mencari pengantin pengganti lain.” “Enggak Pi, aku benar-benar siap kok. Kalau tidak menikah sekarang, memangnya mau kapan lagi coba? Papi mau ya kalau aku jadi perawan tua?” William mendesah. “Entahlah. Papi hanya merasa ada yang tidak beres. Takut kamu kenapa-napa nantinya.” Papinya memang benar, dan firasat orang tua memang tidak pernah salah. Tetapi Aileen bisa apa? Selain berbohong kepada keluarganya. Lagiula ada tujuan baik dibalik kebohongan ini, ya semoga saja semuanya berakhir baik juga. Dan hanya ini satu-satunya cara untuk mengapresiasi kerja keras Danial. “Udah, Papi tenang aja. Aku akan baik-baik saja kok.” Saat itu juga Aileen memeluk William untuk menyembunyikan kesedihan yang bisa saja terbaca dari wajahnya. “Oke, deh. Papi percaya kalau Putri Papi ini sudah dewasa.” William membalas pelukan dengan sebelah tangan yang mengusappucuk kepala Aileen. “Sekarang ayo, kita makan malam. Mami sudah menunggu di bawah.” Aileen mengurai pelukan, untuk mengangguki ajakan sang Papi. Kemudian keduanya berjalan dengan tangan saling bergandengan. “Bagaimana sosok Oliver dalam pandangan Papi?” tanya Aileen dengan kepala mendongak. “Mungkin … Pekerja keras. Tampan. Setia. Tegas. Sempurna sih kalau untuk jadi menantu di keluarga kita ini.” “Meski dengan kenyataan aku yang selalu bertengkar dengannya?” “Percaya deh sama Papi, pertengkaranmu sama Oliver itu hanya sebagian kecil dari bentuk cinta kalian yang terpendam.” “Siapa juga yang cinta sama dia?” Aileen mencebik lucu. “Pernikahanku sama dia itu, hanya untuk menyelamatkannya dari rasa malu dan memperluas bisnis keluarga kita juga.” Perempuan itu tersenyum menggoda dengan menaik turunkan alisnya. “Hey, kata-kata itu harusnya diucapkan oleh Papi.” “Gapapa. Aku hanya mewakili Papi saja.” Aileen mengedikan bahu dan berjalan menuruni tangga. Mendahului William hanya untuk menyembunyikan senyum kemenangannya. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Aileen tadi sebenarnya hanya untuk sedikit mencairkan keraguan yang sempat tertanam dalam pikiran William. Lihatlah sekarang, sepertinya Laki-laki itu sudah bisa percaya jika Aileen benar-benar siap untuk menikah. *** Pesta pernikahan itu sangat meriah, dengan dihadiri ribuan orang dari berbagai kalangan. Dari para pekerja di kantor Oliver, termasuk satpam sekalipun. Kemudian artis-artis papan atas, sampai para petinggi-penting dari luar Negeri. Tidak tanggung-tanggung, orang-orang yang hadir pun kebanyakan dari kolega bisnis Oliver. Mungkin ini akan jadi pesta pernikahan termewah yang mereka hadiri. Sementara sang mempelai wanita, sama sekali tidak peduli dengan semua itu. Yang Ia inginkan hanya dua hal. Berhenti memasang senyum palsu dan melepaskan heels yang sudah menyiksa kedua kakinya sejak beberapa jam yang lalu ini. Memasuki waktu tengah malam, para tamu undangan sudah mulai berkurang. Membuat Aileen dapat sedikit bernapas lega. Ditambah kemunculan seseorang yang sudah sangat Ia rindukan kehadirannya. “Kak Danial!” Aileen tersenyum lebar. Senyuman paling tulus jika dibanding senyum-senyum sebelumnya. Tangannya juga terlentang, bersiap menyambut sang Kakak dengan pelukan. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Danial lebih mendahulukan memeluk Oliver, ketimbang dirinya. Apa-apaan? “Kak Dan—“ “Thanks! Aku tahu, kamu sahabatku yang paling bisa diandalkan.” Danial memeluk Oliver dengan sedikit mengguncangnya. Sementara Oliver yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa membalas pelukan dengan bergumam. “Iya. Sama-sama.” Tidakkah Danial mengalami kecelakaan dalam penerbangannya dari Singapura tadi? Lalu amnesia, dan seketika lupa bahwa Oliver musuh bebuyutan dari adik kesayangannya. Bukankah seharusnya Laki-laki ini juga marah? karena Oliver telah lancang menarik adiknya dalam sebuah hubungan yang cukup sakral? Jika tahu respons Danial akan sebaik ini, mungkin Oliver akan dengan senang hati mengabari Danial tentang pernikahannya ini. “Begitu membaca artikel yang memuat pernikahan kalian, aku langsung mengambil penerbangan pertama. Dan segera kesini, jadi tahan saja ya jika ada aroma tidak sedap yang masuk ke hidung kalian.” Danial mengurai pelukan untuk mamerkan cengiran kudanya. Di sebelahnya Aileen meringis, merasa kasihan pada Danial yang mungkin saja mengira bahwa pernikahan ini terjadi karena Oliver melakukan perintahnya. Padahal tidak. Semua terjadi karena kekeras kepalaan Oliver, dan niat baik Aileen. Tidak apa. Nanti akan Aileen jelaskan pada Danial, mengenai alasannya melakukan semua ini. “Selamat jadi Nyonya Oliver adik kecilku, dan jangan lupa bertengkar setiap waktu. Biar rumah tangga kalian jauh dari kata harmonis, tentram dan damai. Gak papa belum bisa saling cinta, yang penting udah bisa saling benci kan?” goda Danial dengan manik turunkan alisnya. Tetapi Aileen tidak terpancing, Ia justru menatap wajah tampan nan dewasa sang Kakak dengan begitu sendu. Danial mengerutkan dahi, seakan bertanya ‘Ada apa?’ lewat gerakan matanya. Begitu Aileen menggeleng kecil, barulah Ia menarik sang adik ke dalam pelukan. “Maafin Kakak, karena telah melibatkanmu dalam semua ini,” bisiknya kemudian. Dalam pelukan itu, kepala Aileen menggeleng. Lalu berbisik dengan suara yang lebih pelan. “Justru aku yang harusnya minta maaf, karena telah lancang membuka kado pernikahan Kakak untuk Oliver?” “Apa?!” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD