Guru Baru 1

1862 Words
Dalila menggeliat, merasa jika posisinya saat ini terasa sangat tidak nyaman. Selain itu, Dalila juga merasa sangat kegerahan. Hal yang rasanya sangat mustahil dirasakan oleh Dalila di cuaca ini. Namun, Dalila masih enggan untuk membuka guna memeriksa apa yang sebenarnya tengah terjadi saat ini. Hanya saja, setelah sepuluh menit bertahan di situasi yang terasa sangat tidak nyaman tersebut, pada akhirnya Dalila pun membuka matanya, dan sadar jika kini suaminya tengah memeluknya dengan erat. Tidak hanya memeluknya, Max malah seperti tengah melilit tubuhnya bak seekor python yang tengah melilit mangsanya agar tidak kabur dari jeratannya. Dalila pun menatap Max dengan kening mengernyit dalam. Dalila yakin jika kini ada bulir-bulir keringat yang membasahi keningnya. Karena kini Dalila benar-benar merasa kegerahan dengan posisi ini. “Max?” panggil Dalila pada suaminya. Dalila lebih dari yakin jika sebenarnya Max sudah bangun sejak tadi. Dalila berusaha untuk mencubit perut Max, tetapi karena otot perut suaminya itu terbentuk dengan sempurna, Dalila sama sekali tidak bisa mencubitnya. Rasanya, Dalila benar-benar jengkel dengan tingkah suaminya itu. “Astaga, Max! Aku kepanasan!” seru Dalila. Namun, Max masih tidak bereaksi. Hal yang gila adalah, Max malah mengeratkan pelukannya seakan-akan ingin menegaskan jika dirinya sama sekali tidak akan melepaskan pelukannya. Dalila menghela napas panjang dan berkata, “Jika terus seperti ini, aku akan segera mati. Entah karena kepansan, atau kehabisan napas.” Setelah mendengar perkataan tersebut, Max pun membuka matanya. Netra keemasannya terlihat berkilau saat diterpa cahaya matahari pagi yang hangat. Meskipun baru terbangun tidur, dan belum membersihkan diri, tetapi Max masih memiliki ketampanan yang melekat pada wajah sempurnanya itu. Jika dilihat-lihat, Max seperti anak kucing yang malas. Agak menggemaskan, tetapi Dalila sadar jika saat ini dirinya tidak boleh terlarut dalam rasa gemas tersebut. “Sekarang lepas,” ucap Dalila. Max menggeleng dan malah merangsek untuk menyembunyikan wajahnya pada lekukan leher sang istrinya. Mengecupinya dengan bertubi-tubi membuat Dalila kegelian karena sentuhan lembut yang meninggalkan jejak basah di sepanjang lehernya. Dalila benar-benar tidak menyukai Max jika sudah melakukan hal seperti ini. Karena jujur saja, Dalila sama sekali tidak bisa menahan hatinya mulai merasakan sensasi yang tidak seharusnya. “Astaga, Max! Jangan lakukan itu, aku benar-benar membencinya!” seru Dalila penuh peringatan. Sayangnya, peringatan tersebut sama sekali tidak akan bisa menghentikan Max. Karena selanjutnya, Max malah menggigiti pelan leher kekasih hatinya itu. Tentu saja Dalila sadar jika apa yang dilakukan oleh suaminya itu akan meninggalkan jejak kemerahan yang akan terlihat jelas di kulit putih pucatnya. Membayangkannya saja sudah terasa memalukan. Dalila pun menjambak dan mencubit Max, berupaya untuk menghentikan tingkah sang suami. Namun, entah apa yang terjadi dengan Max, pria itu sama sekali tidak mengindahkan apa yang dilakukan oleh Dalila. Semua upaya Dalila untuk melepaskan diri dari Max menjadi sia-sia karena suaminya itu memang tidak ingin melepaskannya. Pada akhirnya, Dalila pun menyerah untuk berusaha melepaskan diri dari Max. Tentu saja, Max masih melanjutkan pelukannya terhadap Dalila. Sama sekali tidak ingin melepaskan istri manisnya itu. Dalila tidak habis pikir. Karena jelas Max tidak pernah bertindak seperti ini. Sesekali, Max memang tertangkap basah mencuri ciuman pagi. Namun, Max selalu melakukan hal itu secara sembunyi-sembunyi, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Max kali ini. Dalila menghela napas untuk kesekian kali, sebelum berntanya, “Sebenarnya apa yang kau inginkan?” Mendengar pertanyaan itu, barulah Max sedikit merenggangkan pelukannya dan berkata, “Aku tidak ingin kau bertemu dengan Bajinga*n itu.” “Bajinga*n? Siapa sebenarnya yang tengah kau maksud?” tanya Dalila tidak mengerti siapa yang sebenarnya dimaksud oleh suaminya ini. Max mengangguk. “Memangnya siapa lagi Bajinga*n selain Julion? Ah salah, di dunia ini memang banyak sekali bajinga*n. Semua pria selain diriku, ayah kandungmu, dan ayah angkatmu hanyalah bajinga*n. Namun, Julion adalah bajinga*n dari para bajinga*n yang ada. Aku tidak ingin kau menemuinya lagi,” ucap Max membuat Dalila benar-benar tidak memahami apa yang sebenarnya dimaksud oleh Max. Setahu Dalila, para kaum immortal terutama kaum manusia serigala, sangat menjaga territorial atau daerah kekuasaan mereka. Tidak mudah bagi orang di luar kaum yang bisa memasuki daerah kekuasaan ini. Terlebih orang yang terbilang menjadi musuh mereka, rasanya sudah pasti mustahil bagi mereka bisa masuk ke dalam daerah kekuasaan tersebut. Jadi, Julion tentu saja tidak bisa masuk ke dalam daerah kekuasaan Max, karena keduanya jelas-jelas saling memusuhi. Selain itu, dari yang Dalila dengar, Julion sudah bertahun-tahun tinggal di dunia manusia untuk memimpin pasukan yang bertugas untuk memburu kaum pembelot. Dalila juga bertemu dengan pria itu ketika dirinya tengah berada di luar daerah perlindungan. Tepatnya ketika Dalila dan Max tengah berkencan. Ya, kencan yang pada akhirnya berakhir dengan cukup buruk sebab perdebatan mereka. “Tunggu, aku tidak mengerti. Mengapa aku akan bertemu dengan Julion lagi? Bukankah kaum lain, terutama kaum vampire tidak bisa dengan mudah memasuki daerah kekuasaanmu? Lalu kenapa kini kau berkata aku dan Julion akan bertemu?” tanya Dalila mempertanyakan rasa bingungnya. Mendengar hal itu, Max pun mengusap puncak kepala Dalila dengan lembut dan berkata, “Ternyata kau sudah belajar banyak hal.” Dalila pun menampilkan ekspresi bangga, seakan-akan dirinya senang sudah mendapatkan pujian itu. Namun, sorot mata Max terlihat seakan-akan geli akan apa yang ia lihat. Melihat hal itu, Dalila pun merasa jengkel. Merasa jika Max tengah mengolok-olok dirinya. Dalila pun kembali berusaha untuk melepaskan diri dari Max. Namun, untuk kesekian kalinya, Max bisa mempertahankan keberadaan istri mungilnya itu di dalam pelukannya. “Ya, seharusnya dia memang tidak boleh mengijakkan kakinya di daerah kekuasaanku. Apalagi bertemu denganmu secara pribadi. Namun, aku terpaksa untuk memberikan pengecualian, dan mengenyampingkan kebencianku padanya,” ucap Max dengan nada dingin. “Sebenarnya apa yang terjadi? Jika kau terus berkata seperti itu, aku tidak akan memahami apa yang sebenarnya telah terjadi. Sekarang katakan, alasan apa yang mengharuskan diriku bertemu dengan Julion secara pribadi?” tanya Dalila. Max menghela napas sebelum menjawab, “Mulai saat ini, kau akan memiliki guru baru.” “Guru baru? Berarti kau tidak akan melatih atau mengajariku lagi?” tanya Dalila memotong perkataan Max membuat Max sendiri merasa gemas. Ia mencubit pipi Dalila dengan gemas. “Tidak. Aku tetap akan melatihmu secara pribadi. Namun, mulai saat ini kau memiliki guru tambahan, yang tak lain adalah Julion. Dia, akan membantuku mengajarimu di bagian yang tidak bisa kuraih sebagai manusia serigala. Baji—maksudku, Julion akan memmbantumu untuk melatih kemampuan vampire yang kau miliki,” ucap Max dengan nada tidak senang yang begitu kental dalam perkataannya. Jika Max terlihat tidak senang, maka Dalila terlihat cukup antusias. Jujur saja, Dalila merasa sangat penasaran. Sebelumnya, ia memang sudah bertemu dengan vampire lain. Yaitu Nich dan Arfel, tetapi Dalila belum pernah melihat keunikan atau kekuatan mereka. Saat Nich menggunakan kekuatannya, Dalila jelas-jelas tengah dalam tekanan dan tengah berusaha untuk berjuang hidup. Jelas Dalila tidak memiliki waktu untuk menganalisis kekuatannya. Hal yang Dalila bisa nilai hanyalah fakta bahwa Nich memang bukan manusia, dan memiliki kekuatan yang luar biasa. Melihat binar antusias pada netra Dalila, Max pun meraih wajah istrinya dan menangkupnya dengan lembut. Max menatap mata istrinya dengan lekat-lekat, sama sekali tidak membiarkan Dalila mengalihkan pandangannya sedikit pun. Hal itu agaknya membuat Dalila gugup dan salah tingkah dibuatnya. Memang hanya Max yang bisa membuat Dalila seperti ini, begitu pun sebaliknya. Hanya Dalila yang bisa membuat Max sama sekali tidak bisa tenang. “Jangan pernah berpikir jika bajinga*n itu lebih mengagumkan daripada diriku, Dalila. Aku bisa dengan mudah mengalahkannya dalam pertarungan dekat dan tanpa menggunakan sihir. Dia bukan apa-apanya jika dibandingkan diriku. Jadi, jangan pernah merasa kagum terhadapnya,” ucap Max penuh dengan penekanan. Dalila yang mendengarnya jelas merasa Max sangat aneh. Namun, untuk segera mengkahiri pembicaraan itu, Dalila pun memilih berkata, "Iya, aku tidak akan mengaguminya. Kau puas? Sekarang lepaskan pelukanmu. Aku ingin mandi.” “Kalau begitu, kita mandi bersama saja,” ucap Max membuat Dalila melotot. “Tidak mau. Itu memalukan!” seru Dalila. “Kenapa memalukan? Toh kita sudah saling melihat tubuh kita satu sama lain. Sebelum itu pun, kita sudah sering mandi bersama, ketika aku masih menjadi Winter,” ucap Max penuh goda. Namun, Dalila pun menyeringai dan berkata, “Ah, apa kau rindu kumandikan seperti Winter? Kau ingin kumandikan, dan kupukul pantatmu karena bertingkah saat mandi? Jika memang benar, ayo mandi bersama. Akan kuulang kenangan yang kau rindukan itu.”         **          Dalila terkejut saat tiba-tiba Julio sudah meraih salah satu tangannya dan mencium punggung tangannya dengan jentel. Ternyata gerakan Julio tersebut juga di luar dari perkiraan Max. Saat Max akan memisahkan keduanya—tentu saja dengan cara yang sangat kasar—Julio sudah lebih dulu melepaskan tangan Dalila dengan lembut lalu kembali ke kursi yang sudah disediakan untuknya. Dalila terlihat masih ling-lung dengan apa yang terjadi. Sementara Max segera meminta tissue basah pada Sia, lalu menggunakannya untuk menyeka punggung tangan Dalila. Seakan-akan tidak ingin menyisakan jejak Julion di sana. Tentu saja sikap Max tersebut terasa sangat berlebihan. Dalila hanya bisa menghela napas pelan, melihat sikap suaminya itu. Karena Dalila sendiri tidak bisa melarang atau menghentikannya. Karena Dalila sadar hal itu hanya hal yang percuma. Memangnya siapa yang bisa menolak keinginan pria ini? Dalila rasa tidak. “Kenapa kau bertindak berlebihan seperti itu, Max? Seperti aku membawa penyakit menular saja,” ucap Julion berkata begitu santai atas perlakuan Max yang sebenarnya bisa terasa sangat menyinggung itu. Max selesai menyeka punggung tangan Dalila, lalu berkata pada Max, “Kau lebih berbahaya dari penyakit menular. Karena itulah, aku sejak awal sama sekali tidak mau mengizinkan kau menjadi guru dari istriku.” “Kemampuanku tentu saja terbaik di antara kaum vampire lainnya. Jika mengingat kondisi yang mendesak kali ini, tentu saja aku yang paling tepat untuk menjadi guru dari istri cantikmu itu. Aku pun dengan senang hati mengajarinya. Aku rasa, kami akan menjadi teman yang baik,” ucap Julion benar-benar membuat Max ingin melemparkan gelas kristal di hadapannya ke wajah pria itu saat ini juga. Saat ini, Max, Dalila, Julion, memang berada di ruang tamu. Max mempertemukan keduanya untuk memperkenalkan dan menjelaskan jadwal latihan yang sudah ia buat. Dante dan Sia juga sebenarnya ada di sana, tetapi keduanya sama sekali tidak terlibat dalam pembicaraan tersebut. Keduanya hanya mengamati dalam diam, dan baru mendekat jika memang ada yang dibutuhkan oleh tuan atau nyonya mereka. “Jangan bermimpi. Memangnya siapa yang akan berteman dengan mayat hidup sepertimu? Bisa-bisa istriku nanti akan berbau busuk sepertimu,” ucap Max penuh celaan. “Sayang sekali. Padahal Dalila adalah perempuan yang cantik dan penuh pesona. Namun, ia bernasib buruk karena berjodoh dengan seseorang yang sering menggonggong,” balas Julion sengit. “Wah, lihat siapa yang menuduh siapa yang pintar menggoggong? Bukankah itu keahlianmu? Menggonggong dan menghasut seseorang, Julion?” tanya Max dengan seringai mengerikan. “Betapa kasarnya,” cela Julion lalu menatap Dalila sebelum berkata, “Aku turut prihatin karena kau berjodoh dengan pria sepertinya. Semoga umurmu panjang Dalila.” “Sialan, ke luar dari mansionku sekarang juga dasar Bajinga*n!” maki William. Keduanya pun melanjutkan aksi saling mencela dan menjatuhkan tersebut. Kata-kata yang mereka gunakan terasa sangat menusuk dan membuat telinga Dalila terasa sangat sakit. Namun, Dante dan Sia terlihat tenang. Seakan-akan hal tersebut adalah hal yang sangat wajar ketika keduanya dipertemukan. Dalila pada akhirnya memejamkan matanya. Merasa sangat lelah. Dalila sama sekali tidak bisa membayangkan, akan seperti apa hari-hari selanjutnya. Dalila hanya berharap, semoga tidak ada pertengkaran seperti ini lagi. Karena ini jelas-jelas hanya akan membuat Dalila merasa sangat stress.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD